Gosip Para Pemain Montenegro di Persib Bandung

Gosip Para Pemain Montenegro di Persib Bandung

Miljan Radovic

Di kota Nikšić, Montenegro, pada tanggal 18 Oktober 1975, lahir seorang anak laki-laki bernama Miljan Radović. Ia tumbuh dengan bola sebagai sahabat terbaiknya, tubuhnya tegap (tinggi 182 cm), dan kakinya punya sihir khusus di bola mati. Orang-orang memanggilnya “The Professor” atau “Raja Freekick” karena tendangan bebasnya yang mematikan, akurat, dan sering jadi penyelamat tim.

Miljan mulai kariernya di klub kesayangannya Sutjeska Nikšić, di mana ia bermain lebih dari 250 laga dan mencetak puluhan gol. Ia juga sempat juara Piala Montenegro bersama FK Mogren. Tapi hatinya gelisah ingin petualangan baru. Pada awal tahun 2011, angin perubahan membawanya ke negeri yang jauh bernama Indonesia. Ia mendarat di Persib Bandung pada putaran kedua Indonesia Super League 2010/2011.

Begitu mengenakan jersey biru-putih Maung Bandung, Miljan langsung menjadi bintang. Ia bermain sebagai gelandang serang yang pintar mengatur ritme permainan. Selama dua musim (2011–2012), ia mencatat 67 pertandingan dan mencetak 24 gol — angka yang luar biasa untuk seorang gelandang! Banyak golnya lahir dari tendangan bebas indah yang melengkung sempurna ke pojok gawang. Bobotoh berteriak kegirangan setiap kali “The Professor” bersiap mengambil freekick. Ia menjadi salah satu gelandang asing terbaik yang pernah dimiliki Persib, pengatur serangan utama, dan pemimpin di lapangan.

Setelah Persib, ia sempat pindah ke Pelita Bandung Raya (2012–2013) dan mencetak 2 gol lagi, tapi hati Miljan selalu dekat dengan Maung Bandung. Bertahun-tahun kemudian, pada Desember 2018, takdir memanggilnya kembali. Persib menunjuknya sebagai pelatih kepala untuk Liga 1 2019, menggantikan Mario Gomez. Miljan menjadi orang asing pertama dalam sejarah Persib yang pernah membela tim sebagai pemain dan kemudian melatihnya. Ia memimpin tim di awal 2019, tapi sayang, cerita ini berakhir cepat — pada Mei 2019 ia mundur karena ada ketidaksepakatan soal cuti panjang.

Kini, di tahun 2026, Miljan Radović sudah berusia 50 tahun. Ia masih aktif sebagai pelatih profesional dengan lisensi UEFA Pro, pernah melatih di Montenegro (OFK Grbalj, Sutjeska, Dečić), India, dan masih sering dikaitkan dengan klub-klub Indonesia seperti Persebaya atau Persis Solo. Tapi di hati Bobotoh, ia tetap abadi sebagai “Raja Freekick” yang dulu membuat Stadion Siliwangi bergemuruh dengan tendangan bebasnya yang indah.

Baca Juga  Gosip Nostalgia Persib : Tragedi 2 Kali Kalah Adu Penalti Lawan PSMS

Dan begitulah dongeng Miljan Radović, si Professor dari Nikšić. Ia datang ke Bandung pertama kali sebagai pemain brilian yang mencetak 24 gol dalam dua musim, lalu kembali sebagai pelatih dengan pengalaman matang. Ia mengajarkan kita bahwa seorang legenda bisa datang dua kali — sekali dengan sepatu bola, sekali dengan papan taktik — dan meninggalkan jejak yang tak pernah pudar di hati Maung Bandung.


Zdravko Dragicevic

Di kota Podgorica, Montenegro, pada tanggal 17 Juni 1986, lahir seorang anak laki-laki bernama Zdravko Dragićević. Ia tumbuh tinggi tegap (183 cm, berat 73 kg), dengan kaki kanan yang kuat dan naluri seorang penyerang tengah (centre-forward) yang haus gol. Orang-orang di tanah kelahirannya mengenalnya sebagai striker muda berbakat dari klub Sutjeska Nikšić dan FK Mogren.

Pada pertengahan tahun 2011, angin petualangan membawa Zdravko menyeberangi lautan ke Indonesia. Persib Bandung sedang mencari pengganti striker asing yang cedera dan ingin menambah daya gedor lini depan di Liga Super Indonesia. Manajemen Maung Bandung pun mendatangkan striker Montenegro ini dengan harapan besar. Ia tiba sebagai salah satu pemain Montenegro pertama yang membela Persib, dan langsung diproyeksikan jadi juru gedor utama.

Begitu mengenakan jersey biru-putih, Zdravko langsung merasakan getaran Stadion Siliwangi yang ramai. Bobotoh memberi sambutan hangat, berharap ia bisa jadi “pembunuh” di kotak penalti. Sayangnya, dongeng ini tidak berjalan seperti yang diimpikan. Selama beberapa bulan di putaran kedua musim 2011, Zdravko bermain dengan semangat, tapi performanya biasa saja. Tendangannya kurang tajam, gerakannya kurang cepat dibandingkan ekspektasi, dan ia kesulitan beradaptasi dengan gaya permainan dan cuaca tropis. Gol yang dihasilkan pun sangat minim, jauh dari harapan sebagai striker utama.

Akhirnya, di bulan Desember 2011, cerita Zdravko di Persib harus berakhir. Manajemen memutuskan untuk mencoretnya dari skuad karena kualitasnya dianggap tidak sesuai dengan standar Maung Bandung. Ia menjadi salah satu striker asing yang paling singkat masa baktinya di Persib — datang dengan mimpi tinggi, tapi pergi tanpa meninggalkan jejak gol yang berkesan.

Baca Juga  Gosip Para Pemain Brazil di Persib Bandung

Setelah itu, Zdravko melanjutkan kariernya di Montenegro bersama klub-klub seperti OFK Grbalj dan FK Budva, lalu sempat mencoba peruntungan di Vietnam bersama HAGL. Ia pensiun sebagai pemain dan beralih menjadi pelatih, menangani tim-tim muda di Montenegro.

Kini, di tahun 2026, Zdravko Dragićević sudah berusia 39 tahun. Ia hidup tenang sebagai pelatih, jauh dari sorotan lampu stadion Indonesia. Tapi di hati Bobotoh yang setia, namanya masih muncul sesekali sebagai pengingat bahwa tidak semua petualangan asing berakhir manis. Ia adalah bagian dari daftar “striker Montenegro di Persib” yang datang penuh harap, tapi pergi terlalu cepat.

Dan begitulah dongeng Zdravko Dragićević, si Penyerang Montenegro yang datang ke Bandung seperti angin musim hujan. Ia tiba dengan ambisi besar untuk menjadi juru selamat, berjuang sebentar di lapangan hijau Siliwangi, tapi akhirnya harus pergi karena takdir yang berbeda. Ia mengajarkan kita bahwa di sepakbola, kadang harapan tinggi tidak selalu bertemu dengan hasil gemilang — yang penting adalah mencoba, belajar, dan meninggalkan cerita, meski ceritanya hanya sebentar.


Vladimir Vujovic

Di kota Budva yang indah di Montenegro, pada tanggal 23 Juli 1982, lahir seorang anak laki-laki bernama Vladimir Vujović. Ia tumbuh tinggi tegap dengan tubuh atletis, dan sejak kecil sudah menunjukkan jiwa seorang bek tengah yang tangguh, disiplin, dan penuh kepemimpinan. Ia bukan tipe bek yang hanya bertahan, tapi juga bisa naik membantu serangan dan mencetak gol dari bola mati atau situasi set-piece.

Vladimir mulai karier profesional di Montenegro dan sempat membela timnas Montenegro sebanyak 3 kali. Tapi takdir membawanya ke negeri yang jauh. Pada Desember 2013, Persib Bandung memanggilnya untuk bergabung di Indonesia Super League. Begitu mengenakan jersey biru-putih Maung Bandung, Vlado langsung menjadi tembok kokoh di lini belakang.

Musim pertamanya luar biasa. Di tahun 2014, Vlado menjadi salah satu pilar utama Persib meraih gelar juara Indonesia Super League — gelar liga pertama Persib setelah sekian lama! Bobotoh langsung jatuh cinta padanya. Ia dipilih sebagai bek terbaik di Indonesia musim itu. Kepemimpinannya di belakang, tackling yang bersih, dan kemampuannya membaca permainan membuat lini belakang Persib seperti benteng yang sulit ditembus.

Baca Juga  Gosip Para Pemain Asing Asal Chile di Maung Bandung

Tidak berhenti di situ, pada Oktober 2015, Vlado ikut membawa Persib juara Piala Presiden — trofi pertama dalam sejarah kompetisi itu. Ia bertahan selama 4 musim penuh (2014–2017) bersama Persib, mencatat lebih dari 120 penampilan dan mencetak 19 gol — angka yang sangat impresif untuk seorang bek tengah! Banyak golnya lahir dari tendangan sudut atau situasi bola mati, membuat Bobotoh sering berteriak “Vlaaadooo!” setiap kali ia naik ke depan.

Setelah kontraknya berakhir pada November 2017, Vlado sempat pindah ke Bhayangkara FC (2018), tapi hatinya selalu dekat dengan Persib. Setelah pensiun sebagai pemain pada 2019, ia banting setir menjadi pelatih. Ia mulai melatih di Indonesia (termasuk PSIM Yogyakarta), lalu melanjutkan karier kepelatihan di Montenegro dan akhirnya ke Thailand. Di tahun 2026, Vlado kini menjadi pelatih (bahkan sempat caretaker) di BG Pathum United, klub besar Liga Thailand yang ikut kompetisi AFC.

Kini, di usia 43 tahun, Vladimir Vujović hidup sebagai pelatih sukses, tapi di hati Bobotoh ia tetap legenda hidup. Ia adalah bek Montenegro yang datang di saat tepat, membantu Persib juara liga setelah 19 tahun, dan meninggalkan kenangan sebagai salah satu bek asing terbaik yang pernah membela Maung Bandung.

Dan begitulah dongeng Vladimir “Vlado” Vujović, si Bek Tangguh dari Budva. Ia datang ke Bandung bukan untuk sementara, tapi untuk menulis sejarah — menjadi benteng pertahanan, mencetak gol-gol penting, membawa trofi, dan akhirnya menjadi bagian abadi dari cerita kejayaan Persib. Ia mengajarkan kita bahwa seorang pahlawan bisa datang dari negeri jauh, bertahan lama dengan kerja keras, dan meninggalkan warisan yang terus dikenang meski sudah lama pergi.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x