Assalamu’alaikum, Akang-Teteh pemirsa Dalam kesempatan kali ini, saya ingin membahas model bisnis yang sudah saya amati sejak tahun 1993: Network Marketing. Dunia network marketing atau MLM sebenarnya sudah mengalami perjalanan yang panjang. Dulu, saat pertama kali saya mengenal bisnis ini, pola bisnisnya relatif sederhana. Seseorang diundang, datang ke sebuah pertemuan, mendengarkan presentasi, lalu diberi pilihan: …
Kategori: Bahas Bisnis
Membangun ASRI dengan Model Network Marketing 2.0: Dari Content hingga Network
Setelah membahas perubahan network marketing dari era 1990-an hingga era digital, muncul pertanyaan yang lebih praktis: Kalau Network Marketing 2.0 memang berbeda dari pola lama, seperti apa penerapannya dalam bisnis nyata? Bagi saya, pertanyaan ini bukan sekadar teori. Saat ini saya sedang merintis ASRI, dan justru di sinilah saya ingin mencoba menerapkan apa yang saya …
Network Marketing 1.5: Ketika Meeting Pindah ke Zoom, Tapi Cara Berbisnis Belum Banyak Berubah
Saya mengenal network marketing ketika dunia masih sangat berbeda dengan sekarang. Tahun 1993. Internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Smartphone belum ada. Media sosial bahkan belum terpikirkan. Belum ada YouTube, Instagram, TikTok, WhatsApp, webinar, landing page, marketing automation, apalagi AI. Kalau ingin membangun jaringan, ya harus bertemu manusia secara langsung. Saya pernah menjalani masa …
Dari DBS ke VSI, PayTren, dan BEST: Kisah Panjang di Balik Lahirnya Eco Racing
Ada sebuah mata rantai dalam sejarah network marketing Indonesia yang menarik, tetapi jarang diceritakan secara utuh: DBS, VSI, Yusuf Mansur, PayTren, PT BEST, hingga Eco Racing. Di permukaan, semuanya terlihat seperti cerita tentang perusahaan yang berbeda. Tetapi jika ditarik ke belakang, terdapat satu nama yang terus muncul: Febrian Agung. Dan semakin jauh ditelusuri, semakin menarik …
Seri 16 — Sales Funnel: Mengubah Traffic Menjadi Leads, Leads Menjadi Pelanggan, dan Pelanggan Menjadi Pelanggan Setia
Bayangkan Anda mempunyai toko. Setiap hari ada: 1.000 orang lewat di depan toko. Tetapi hanya: 50 orang masuk. Dari 50 orang yang masuk, hanya: 10 orang bertanya. Dari 10 orang yang bertanya, hanya: 3 orang membeli. Apakah berarti 990 orang yang lewat itu sia-sia? Tidak. Mereka mungkin belum: tertarik. percaya. membutuhkan. atau siap membeli. Masalahnya …
Seri 15 — Autoresponder & Follow-Up: Mengubah Leads Menjadi Pelanggan Tanpa Mengejar Mereka Setiap Hari
Ada satu kalimat yang sering terdengar dalam dunia penjualan: “Follow-up itu kunci closing.” Benar. Tetapi ada satu masalah. Kalau jumlah calon pelanggan semakin banyak, apakah kita harus menghubungi mereka satu per satu setiap hari? Bayangkan Anda mempunyai: 10 leads. Masih mudah. 100 leads. Mulai melelahkan. 1.000 leads. Sudah menjadi pekerjaan tersendiri. 10.000 leads? Anda membutuhkan: …
Marketing Automation: Membangun Sistem yang Tetap Bekerja Saat Kita Tidur
Bayangkan sebuah bisnis yang tetap bekerja ketika pemiliknya sedang tidur. Bukan karena pemiliknya mempunyai sepuluh karyawan. Bukan pula karena ia bekerja 24 jam sehari. Tetapi karena sebagian proses bisnisnya telah: diotomatisasi. Seseorang menemukan kontennya pada pukul 22.30. Ia tertarik. Ia mengklik sebuah link. Kemudian mengisi formulir untuk mendapatkan ebook gratis. Beberapa detik kemudian: ebook dikirim …
Database Adalah Aset: Mengapa Bisnis Digital Tidak Boleh Hanya Bergantung pada Followers
Bayangkan Anda memiliki sebuah toko. Setiap hari ada ribuan orang datang. Mereka melihat-lihat. Sebagian bertanya. Sebagian membeli. Sebagian hanya lewat. Kemudian keesokan harinya mereka pergi. Masalahnya… Anda tidak tahu siapa mereka. Tidak tahu namanya. Tidak tahu apa yang mereka cari. Tidak tahu apakah mereka pernah membeli. Dan ketika mereka pulang, Anda tidak mempunyai cara yang …
Membangun Funnel Digital: Dari Orang yang Melihat Konten Menjadi Pelanggan
Bayangkan Anda membuat sebuah konten. Konten itu bagus. Bahkan sangat bagus. Orang menonton. Orang menyukai. Orang membagikan. Komentar berdatangan. Views naik. Anda merasa senang. Tetapi setelah beberapa hari… semuanya kembali sepi. Konten berikutnya dibuat. Muncul lagi views. Kemudian hilang lagi. Begitu seterusnya. Pertanyaannya: Apakah perhatian tersebut benar-benar menjadi aset? Atau semuanya hanya lewat begitu saja? …
Monetisasi Konten: Dari Perhatian Menjadi Penghasilan
Ada satu kalimat yang sering kita dengar: “Kalau mau menghasilkan uang dari internet, harus punya banyak followers.” Benarkah? Tidak selalu. Ada creator dengan ratusan ribu followers tetapi penghasilannya biasa saja. Sebaliknya, ada creator dengan audiens yang jauh lebih kecil tetapi mampu membangun bisnis yang sangat sehat. Mengapa? Karena: Jumlah perhatian tidak selalu sama dengan nilai …







