Zionis Israel dan Kerapuhan Gencatan Senjata AS-Iran

Zionis Israel dan Kerapuhan Gencatan Senjata AS-Iran

Sejak awal, banyak pihak internasional ragu dengan gencatan senjata dua minggu antara AS-Israel melawan Iran yang diumumkan Presiden Donald Trump. Pakistan sebagai fasilitator utama mengklaim kesepakatan berlaku “segera dan di mana-mana, termasuk Lebanon”. Tapi realitanya cepat berubah.

Hanya beberapa jam setelah pengumuman, Israel melancarkan serangan udara terbesar di Lebanon — lebih dari 100-160 serangan udara dalam waktu singkat, menargetkan Hezbollah di Beirut, Lembah Bekaa, dan selatan Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 250-300 orang tewas dan lebih dari 1.000-1.150 orang terluka, banyak di antaranya warga sipil di area padat penduduk.

Kontroversi utama: Apakah Lebanon termasuk dalam gencatan senjata? Pakistan dan Iran tegas bilang ya, karena poin-poin yang dibagikan sebelumnya sudah disetujui semua pihak. Sementara AS dan Israel bilang tidak.

Berikut kutipan langsung dari Donald Trump (wawancara PBS News Hour, 8 April 2026):

  • “Lebanon is not part of the ceasefire agreement the U.S. has with Iran because of Hezbollah… but will get taken care of.”
  • “That’s a separate skirmish.”

Trump juga bilang dia sudah telepon Netanyahu dan minta Israel lebih “low-key” di Lebanon: “I spoke with Bibi and he’s going to low-key it.”

Sementara itu, Benjamin Netanyahu tegas:

  • “The two-week ceasefire does not include Lebanon.”
  • “There is no ceasefire in Lebanon. We are continuing to strike Hezbollah with force, and we will not stop until we restore your security.”

Pakistan langsung bereaksi keras. Deputy Prime Minister dan Menlu Ishaq Dar menyatakan keprihatinan mendalam.

Berikut kutipan langsung dari Ishaq Dar (dalam panggilan dengan Saudi FM Prince Faisal bin Farhan dan lainnya):

  • “Both sides expressed deep concern over serious violations of the ceasefire in Lebanon and emphasised the importance of its full implementation and respect for the ceasefire.”
  • “We stressed the urgent need for full respect and implementation of the ceasefire to ensure lasting peace and stability in the region.”
Baca Juga  Legenda Vikramaditya dan Lemuria: Mengungkap Mitos, Misteri, dan Perbedaan Timeline Sejarah

Peran Saudi Arabia Saudi Arabia ikut angkat suara lewat Menlu Prince Faisal bin Farhan. Dalam panggilan telepon dengan Ishaq Dar (9 April 2026), keduanya menyatakan deep concern atas pelanggaran di Lebanon dan menekankan pentingnya full respect and implementation kesepakatan. Dar mengapresiasi dukungan Saudi terhadap mediasi Pakistan, dan kedua negara sepakat tetap berkoordinasi erat.

Sebagai respons atas serangan Israel, Iran kembali batasi lalu lintas di Selat Hormuz, bikin harga minyak dunia langsung bergejolak lagi.

Analisis Dampak Ekonomi Serangan mendadak ke Lebanon dan pembatasan Selat Hormuz oleh Iran langsung bikin pasar goyang. Setelah pengumuman gencatan senjata, harga minyak sempat anjlok tajam (Brent turun 13-16% dalam satu hari ke kisaran $94-95 per barel) karena harapan Hormuz bakal terbuka lebar. Tapi begitu Israel bom Lebanon dan Iran batasi tanker, harga langsung rebound: Brent naik lagi ke sekitar $96-97 per barel, sementara WTI sempat sentuh $100+ sebelum stabil di kisaran $97.

Dampaknya luas:

  • Negara importir minyak seperti Indonesia, India, Eropa, dan Asia bakal kena inflasi energi lebih tinggi. Bensin, solar, dan biaya transport naik → ongkos logistik naik → harga barang sehari-hari (termasuk makanan) ikut melambung.
  • Rantai pasok global terganggu karena 20% minyak dan LNG dunia lewat Hormuz. Asuransi kapal melonjak, pengiriman tertunda, bikin inflasi dunia sulit turun.
  • Pasar saham sempat rally pas ceasefire diumumkan, tapi sekarang volatile lagi karena ketidakpastian.
  • Saudi sendiri (meski dukung diplomasi) juga was-was, apalagi pipa east-west mereka sempat kena imbas serangan sebelumnya. Kalau konflik molor, pertumbuhan ekonomi global bisa melambat, dan negara berkembang seperti kita di Indonesia bakal tambah berat tekanan rupiah dan subsidi BBM.
Baca Juga  Menguak Misteri ANUNGGARUNGGA: Cikal Bakal Pajajaran di Ranca Buaya

Intinya, Akang-Teteh… janji damai di satu mulut, bom di sisi lain. Tabiat yang sering disebut “licik” itu keliatan banget di sini, bahkan ketika negara-negara seperti Saudi ikut angkat suara. Dunia menahan napas lagi, sementara dompet rakyat biasa yang kena getahnya paling dulu.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x