Fenomena “Muslim Idol”: Mencari Kebanggaan atau Sekadar Pelarian?

Fenomena “Muslim Idol”: Mencari Kebanggaan atau Sekadar Pelarian?

Tahun 2016 silam, pembicaraan soal Sadiq Khan, anak seorang sopir bus dan penjahit yang terpilih sebagai Wali Kota London, ramai diperbincangkan. Namun, yang seharusnya diberi selamat adalah warga London itu sendiri—karena mereka memilih pemimpin berdasarkan kompetensi, bukan sekadar identitas.

Tapi karena Sadiq Khan kebetulan beragama Islam, sebagian umat Islam di Indonesia heboh seolah-olah ini adalah kemenangan besar bagi umat. Fenomena ini mengingatkan kita pada kebiasaan sebagian orang yang gemar membuat hoaks tentang tokoh internasional yang masuk Islam—mulai dari selebritas hingga astronot. Setiap ada berita soal seorang figur terkenal menjadi mualaf, pasti langsung disebarkan dengan penuh suka cita. Bahkan, yang sudah meninggal pun tetap digosipkan masuk Islam. Contohnya? Michael Jackson dan Putri Diana.

Media online pun ikut-ikutan, dengan bangga membahas prestasi pesepak bola Muslim di Liga Eropa dan Afrika. Tapi, begitu ada orang yang mencoba meluruskan fakta bahwa tidak semua informasi itu valid, malah langsung dituduh sebagai “pembenci Islam”, “pendukung penista agama”, atau “Bani Taplak”.

Kenapa Umat Begitu Terobsesi Mencari Idola Muslim?

Pertanyaan mendasarnya: kenapa sih segitunya mencari idola?

Kalau saya bilang ini ada hubungannya dengan rasa inferior, orang-orang fanatik bakal tersinggung nggak ya? Sebenarnya, para pendamba idola ini kurang percaya diri terhadap kemegahan Islam itu sendiri. Mereka merasa perlu mencari tokoh terkenal untuk dikait-kaitkan dengan Islam, meskipun lewat hoaks sekalipun.

Padahal, orang-orang yang mereka idolakan itu memiliki kehidupan, prinsip, dan keputusan sendiri. Contohnya Sadiq Khan. Begitu diketahui bahwa dia mendukung pernikahan sesama jenis serta mempertanyakan pemakaian jilbab oleh anak di bawah umur, para penggemarnya langsung galau. Gagal punya idola baru, deh!

Baca Juga  Muslim Yang Mukmin

Fenomena serupa terjadi ketika Barrack Obama terpilih sebagai Presiden AS. Awalnya dielu-elukan karena dianggap simpatik pada Islam, bahkan muncul gosip bahwa ia seorang Muslim tersembunyi. Tapi begitu Obama tidak segera menarik pasukan dari Timur Tengah, langsung saja dicap sebagai musuh Islam. Ironisnya, ketika hubungan Obama dan Israel justru memburuk, umat Islam di sini terlanjur melabelinya sebagai pro-Israel, jadi tidak peduli dengan fakta terbaru.

Mengapa Tokoh Muslim Berprestasi Justru Diabaikan?

Yang lebih menyedihkan, banyak tokoh Muslim yang benar-benar berprestasi secara internasional justru tidak mendapatkan perhatian dari umat Islam sendiri—hanya karena pandangan mereka dianggap tidak sesuai dengan Islam versi ideal.

Misalnya, Malala Yousafzai, peraih Nobel Perdamaian termuda yang memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Bukannya diapresiasi, dia malah dianggap sepi hanya karena “terlalu dekat dengan Barat”.

Di bidang sains lebih tragis lagi. Muhammad Abdus Salam, peraih Nobel Fisika tahun 1979, nyaris tidak pernah disebut-sebut karena ia seorang Ahmadiyah. Bahkan, konon tulisan “Muslim” di nisannya dihapus agar namanya dilupakan.

Sebaliknya, orang-orang lebih suka menggembar-gemborkan ilmuwan Muslim dari era kesultanan sambil beranggapan bahwa Barat sengaja menutup-nutupi kegemilangan ilmuwan Islam.

Haduuh… kumaha atuh ieu téh?

Cinta Buta pada Tokoh-Tokoh Muslim Populer

Sebagian umat Islam di Indonesia memang hobi gonta-ganti idola.

  • Dulu Erdogan dipuja-puji habis-habisan. Bahkan, ada warga Bandung yang saking ngefans-nya, sampai menyuruh Ridwan Kamil meniru gaya kepemimpinan Erdogan.
  • Tapi ketika hubungan Erdogan dengan Israel makin mesra, para fans fanatiknya tetap tidak bergeming. Erdogan tetap dianggap pahlawan Islam.

Kalau sudah cinta buta, semua fakta bisa diabaikan.

Kesimpulan: Mencari Kebanggaan yang Salah Arah

Umat Islam tidak perlu mencari-cari kebanggaan dengan idola yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai mereka sendiri. Islam itu sudah besar, sudah megah, dan sudah memiliki sejarah luar biasa. Tidak perlu hoaks, glorifikasi berlebihan, atau mencari-cari figur hanya untuk menguatkan keyakinan.

Baca Juga  Benarkah MLM Haram?

Daripada sibuk mencari tokoh yang “cukup Islami” untuk dipuja, kenapa tidak fokus mendukung tokoh Muslim yang benar-benar membawa manfaat nyata?

Ya sudah, daripada pusing, saya lebih baik nongkrongin idola saya saja: PERSIB Bandung! 😆⚽

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Apakah ini juga merupakan salah satu pertanda bahwa umat Islam saat ini sudah mulai krisis idola? […]

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x