Bayangin Akang=Teteh lagi scroll santai, tiba-tiba muncul postingan “Trump” yang bilang: “Kalian mayoritas Sunni, tapi sekarang tiba-tiba dukung rezim Syiah Iran cuma karena benci Israel dan Amerika. Hipokrit! Total flip!” Langsung heboh, komentar banjir, saling tuduh munafik, ada yang langsung bilang “Syiah bukan Islam, gak usah dukung!”

Tapi Akang… itu hoaks murni. Postingan itu palsu, editan murahan yang sengaja disebar pas konflik Iran-Israel lagi panas (April 2026). Trump memang banyak ngomong soal Iran, tapi nggak pernah nyebut Indonesia atau urusan Sunni-Syiah kita. Media seperti Suara.com, Liputan6, dan Antara sudah cek fakta: ini disinformasi yang bertujuan bikin perpecahan.
Yuk, kita bedah bareng dengan data lengkap supaya nggak gampang digiring emosi.
1. Hoaks Trump: Provokasi Murahan yang Gagal
Screenshot itu beredar luas di Instagram, Threads, dan medsos Indonesia sejak 9 April 2026. Isinya memelintir narasi bahwa masyarakat Indonesia “flip” dari anti-Syiah jadi pro-Iran karena politik. Realitanya? Nggak ada unggahan seperti itu di akun resmi Trump di Truth Social. Ini klasik manipulasi untuk memanfaatkan isu sensitif Sunni-Syiah di Indonesia.
2. Fakta Demografi Muslim Indonesia
Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia dengan ~242-244 juta Muslim (87% populasi).
- 98-99% adalah Sunni (mayoritas mazhab Syafi’i).
- Syiah hanya minoritas kecil: estimasi 0.5-2% (sekitar 1-5 juta orang), terkonsentrasi di beberapa kota besar.
Jadi narasi “tiba-tiba semua dukung Syiah” itu nggak berdasar. Dukungan ke Iran lebih karena solidaritas pro-Palestina dan penolakan agresi AS-Israel, bukan karena berubah mazhab.
3. Masalah Sunni-Syiah: Senjata Ampuh Provokasi Netizen Indonesia
Sebagian besar netizen Indonesia nggak paham betul apa itu Syiah. Mereka jarang menelusuri sejarah, data, dan fakta secara langsung. Banyak yang hanya dicekoki narasi buruk tanpa tabayyun (verifikasi):
- Kawin mut’ah digambarkan sebagai “zina terselubung”.
- Tuduhan benci sahabat Nabi, melaknat Aisyah, atau bahkan menganggap Al-Quran palsu.
- Narasi ekstrem seperti “Syiah bukan Islam” atau “Gak perlu dukung Iran karena mereka Syiah”.
Lebih parah lagi, ada narasi bahwa tabayyun terhadap Syiah itu sia-sia karena penganut Syiah dianggap selalu bertakiyah (menyembunyikan keyakinan). Akibatnya, banyak yang langsung anti tanpa mau dengar sisi lain.
Gerakan anti-Syiah ini digaungkan keras oleh beberapa tokoh, termasuk ustadz bertitel seperti KH. Athian Ali Da’i, Lc., MA. (Ketua Forum Ulama Umat Indonesia / FUUI dan pendiri Aliansi Nasional Anti Syiah / ANNAS). Narasi semacam ini mudah menyebar di medsos dan bikin netizen langsung emosi begitu ada isu Iran.
Padahal, sikap mayoritas Muslim Indonesia mendukung Iran saat ini bukan karena suka Syiah, melainkan karena konsisten anti-agresi Israel-AS (sama seperti dukungan ke Palestina sejak dulu).
4. Sisi Lain Iran yang Jarang Diketahui Netizen Indonesia
Di balik narasi provokasi, banyak fakta tentang Iran yang sering terlewat:
- Ilmu pengetahuan dan teknologi Iran berkembang pesat meski di-embargo ketat oleh Amerika Serikat dan sekutunya selama puluhan tahun. Iran berhasil mengubah sanksi menjadi dorongan inovasi mandiri. Negara ini punya salah satu pertumbuhan tercepat di dunia untuk publikasi sains dan engineering. Pada 2024, Iran menghasilkan 10.860 artikel ilmiah di bidang nanoteknologi, ranking ke-6 dunia dan menyumbang sekitar 5% dari total produksi global. Iran juga ranking tinggi di stem cell research (ke-8 dunia), bioteknologi farmasi (memproduksi 40 dari 150 produk biotech kunci dunia), dan nuclear medicine untuk pengobatan kanker. Meski terus kena sanksi baru di 2025-2026, Iran tetap produksi peralatan nano canggih, radiopharmaceutical, dan teknologi industri sendiri. Ini bukti resiliensi: dari embargo justru lahir self-reliance di bidang sains strategis.
- Banyak wanita Iran yang berpendidikan tinggi, termasuk bergelar PhD — ini sangat bertolak belakang dengan negara yang mengusung sistem khalifah ketat seperti Afghanistan di bawah Taliban. Di Iran, perempuan mendominasi pendidikan tinggi: lebih dari 55-60% mahasiswa universitas adalah perempuan, dan di beberapa fakultas (kedokteran, sains dasar) angkanya mencapai 70%. Sekitar 58% mahasiswa program doktor profesional adalah wanita (hampir setara atau sedikit di atas AS yang 56%). Literasi perempuan muda (15-24 tahun) mencapai 98-99%, dan banyak yang lulus di STEM. Bandingkan dengan Afghanistan: Taliban melarang perempuan sekolah menengah atas dan universitas sejak 2021. Hanya sekitar 12% perempuan yang menyelesaikan pendidikan menengah, literasi perempuan dewasa jauh lebih rendah (sekitar 30%), dan 78% perempuan muda tidak sedang sekolah, kerja, atau pelatihan. Afghanistan adalah satu-satunya negara di dunia yang secara resmi melarang perempuan mengakses pendidikan tinggi.Jadi, meski Iran punya banyak pembatasan sosial dan hukum terhadap perempuan, akses pendidikan mereka jauh lebih terbuka dibandingkan rezim Taliban yang benar-benar menutup pintu pendidikan bagi perempuan.
5. Pelajaran Penting: Jangan Gampang Digiring
Hoaks Sunni-Syiah seperti ini ampuh banget karena memanfaatkan emosi identitas yang sudah ada friksi sejak lama (contoh kasus Sampang 2012). Hoaks ini mengalihkan fokus dari agresi luar ke “kita yang munafik” dan bikin orang ribut sendiri tanpa tabayyun.
Kesimpulan Postingan “Trump marah ke Indonesia” hanyalah umpan clickbait yang sengaja mainin isu Sunni-Syiah untuk memprovokasi. Kita sebagai bangsa Muslim terbesar punya hak bersuara soal Palestina dan penolakan perang tanpa harus saling tuduh mazhab. Yang terpenting: tabayyun dulu, cek fakta, jangan langsung termakan narasi satu sisi — termasuk soal Iran yang ternyata punya sisi kemajuan di sains dan pendidikan perempuan.
Akang, setelah baca ini lebih tenang dan paham kan? Hoaks begini gampang nyebar karena emosi netizen yang mudah dipicu soal Sunni-Syiah. Tapi dengan data dan fakta, kita bisa lebih bijak.




