Di Jawa Barat, setiap hari lebih dari 16.000 ton sampah lahir dari rumah tangga, pasar, dan industri. Angkanya bikin kita geleng-geleng kepala: 6,15 juta ton per tahun pada 2024, nomor satu se-Indonesia. Tapi yang lebih mencengangkan, baru separuhnya yang benar-benar terkelola. Sisanya? Menggunung, mengalir ke sungai, atau diam-diam ditimbun di tempat-tempat liar.
Kita ingat betul tragedi yang jadi titik balik nasional. 21 Februari 2005, dini hari, hujan deras menyiram TPA Leuwigajah di Cimahi. Gunungan sampah setinggi 60 meter yang sudah overkapasitas itu meledak gas metananya, lalu longsor seperti tsunami hitam. 157 jiwa melayang, dua kampung hilang dalam sekejap. Open dumping—sistem “kumpul-buang” yang primitif—menjadi biang kerok. Tragedi itu bukan hanya membunuh manusia, tapi juga membangunkan kesadaran nasional. Sejak itu, setiap 21 Februari kita rayakan Hari Peduli Sampah Nasional. Tapi… apakah kita benar-benar peduli?
Lebih dari dua dekade kemudian, pola yang sama masih berulang. TPA Sarimukti, pengganti Leuwigajah, kini jadi tempat yang sama-sama sesak. Bandung Raya saja menghasilkan 1.600 ton sampah per hari, tapi ritase dibatasi, overload, dan sering kebakaran. Pengurangan sampah dari sumber baru 9,8 persen, penanganan 39 persen. Sisanya? Masih jadi beban lingkungan.
Solusi yang paling sering disebut pejabat adalah PLTSa—Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, atau Waste-to-Energy. Wacana ini sudah muncul sejak pasca-Leuwigajah. Janjinya indah: sampah dimusnahkan massal, listrik menyala, abu residu bisa jadi bahan bangunan atau perkerasan jalan. Tapi realitanya? Lambat sekali. Biaya investasi triliunan, sampah Indonesia yang basah dan campur aduk membuat teknologi impor sering ngadat, dan model bisnis tipping fee plus jual listrik ke PLN ternyata rumit.
Akang bilang benar: teknologi insinerator modern sebenarnya bisa disempurnakan. Di Jepang dan Swedia, filter multi-lapis plus pembakaran suhu tinggi sudah bisa menekan dioksin dan polutan sampai level sangat rendah. Abu bottom ash pun bisa diolah jadi paving block atau campuran beton. Mengapa tidak ke sana dulu? Karena mahal. Operasionalnya jauh lebih mahal daripada sekadar membuang ke TPA. Plus, tanpa pemilahan ketat di rumah tangga, sampah organik basah membuat proses pembakaran boros energi.
Yang lebih membuat hati panas adalah bayang-bayang korupsi. Proyek PLTSa Bantargebang di Bekasi (Rp1,6 triliun) dibatalkan tahun 2024 setelah ditemukan potensi pelanggaran aturan dan dugaan tindak pidana korupsi. Di Solo, PLTSa Putri Cempo baru saja diaudit investigasi finansial karena dianggap tidak efektif. KPK sendiri pernah memperingatkan potensi pemborosan Rp3,6 triliun per tahun di program nasional ini. Proyek besar dengan nilai triliunan, tender internasional, kontrak jangka panjang—semua itu memang rawan “bagi-bagi”. Apakah proyek Sarimukti dan Kayu Manis yang baru saja di-MOU Gubernur Dedi Mulyadi dengan Menteri LH pada April 2026 ini akan berbeda? Kita harap Danantara yang membiayai penuh bisa lebih transparan. Tapi sejarah mengajarkan kita untuk tetap waspada.
Saya setuju dengan pendapat banyak orang waras: korupsi memang ada di semua bidang, tapi di sampah, dampaknya langsung terasa di hidung dan kesehatan kita. Solusi sesungguhnya bukan hanya proyek gemoy di atas kertas. Hierarki sampah harus ditegakkan: kurangi produksi, pilah di rumah (organik jadi kompos atau maggot, anorganik daur ulang atau RDF), baru residu yang benar-benar tak terolah masuk thermal treatment seperti PLTSa modern. Desentralisasi pengolahan di tingkat kelurahan dan RW jauh lebih murah dan efektif daripada mengandalkan satu gunung sampah raksasa.
Pada akhirnya, sampah bukan hanya masalah teknis atau anggaran. Ini soal kesadaran dan integritas. Kalau pejabat terus menjadikan proyek sampah sebagai ladang proyek, dan masyarakat masih cuek membuang sembarangan, maka Leuwigajah bisa terulang dalam bentuk baru—bukan longsor, tapi krisis lingkungan yang pelan-pelan membunuh kita semua.
Mari kita mulai dari hal kecil tapi nyata: pilah sampah di rumah hari ini. Karena sampah yang dikelola dengan hati, bukan hanya dengan wacana, adalah satu-satunya cara agar gunung sampah tidak lagi menjadi bom waktu.




