You cannot copy content of this page
Memahami Makna Berhijab

Memahami Makna Berhijab

Jika kita telusuri kitab suci, banyak sekali dali-dalil yang bisa kita temukan tentang pentingnya penggunaan hijab ini.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.  Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 30-31).

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab:59)

 



Dua dalil di atas seringkali dipakai untuk menunjukkan betapa pentingnya hijab syar’i bagi para wanita. Setelah jilbab syar’i digunakan, apakah otomatis akan langsung terjaga? Tergantung orang yang memakainya juga. Tapi setidaknya, pakaian yang menutup aurat tentu secara logika akan lebih menjaga pemakainya dari segala gangguan sexual harrashment dan sejenisnya.

Masalah pentingnya berhijab, juga tertulis dalam kitab-kitab agama lain, antara lain :

Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghinanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. (1 Korintus 11:5)

Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. (1 Korintus 11:6)

Pertimbangkanlah sendiri : Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? (1 Korintus 11:13)

Jadi, jangan heran jika di berbagai belahan dunia, kita menemukan banyak sekali wanita-wanita Yahudi dan Nasrani pun, pakaiannya juga berhijab.

Ini mungkin pertanyaan nyeleneh, namun bisa dijadikan sebagai bahan kajian dan berfikir, ada sebuah hadits yang berbuni, “Barangsiapa yang menyerupai kaum maka dia termasuk bagian dari mereka”. [HR Ahmad dan Abu Daud]. Ternyata terungkap bahwa hijab pun bisa dikatakan menyerupai cara berpakaian Yahudi dan Nasrani, khan?

Saat ini, banyak kalangan intelektual yang berpendapat bahwa hakikat berhijab bagi perempuan adalah menutup seluruh perbuatan buruk yang berpotensi dilakukan perempuan, seperti bergunjing/ghibah, pamer baju-baju modis dan mahal, mengambil hak orang secara bathil, dll. Jadi intinya berhijab itu bukan ditutup berlebihan secara fisik, namun berpenampilan sopan sesuai kondisi lokal dan perilakunya positif.

Banyak yang baper dengan pendapat di atas, lalu berkata sinis, “Jadi, maksud ente, nggak berhijab juga gak apa-apa ya, asal perilakunya baik? Hati-hati, gan, itu secara langsung maupun tidak langsung adalah upaya menggiring umat agar jauh dari kewajiban berhijab”

Lho, kenapa harus sinis dengan pendapat di atas? Pengertian berhijab itu bajunya atau akhlaqnya? Cobalah kita bercermin pada diri sendiri saja. Jika hijab syar’i sudah digunakan, bahkan sudah pakai cadar juga, tapi perilakunya masih sering bergunjing, bergibah, pamer baju modis & mahal, mengambil hal orang secara bathil dll, apakah wanita tersebut sudah bisa dikatakan berhijab? Secara ritual IYA, tapi secara spiritual TIDAK.  Mana yang nanti akan dihisab oleh Rabb di yaumil akhir kelak? bajunya atau akhlaqnya?

Orang yang akhlaqnya baik sudah tentu akan menutup auratnya dengan baju yang pantas, sopan, dan elegan. Jadi pendapat di atas, sama sekali bukan mengatakan hijab syar’i tidak penting. Hijab syar’i adalah pengingat diri mengenai pentingnya seluruh perbuatan buruk yang berpotensi dilakukan perempuan.



Comments

comments

Leave a Reply