Ada beberapa alasan bagi para elit global kenapa sih perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel ini harus terjadi. Ini bukan teori konspirasi lagi, tapi ini benar-benar realita yang selama ini kita enggak pernah sadar. Presiden Donald Trump selalu berdalih alasan Amerika Serikat menyerang Iran adalah karena Iran sedang melakukan pengayaan uranium yang sangat berbahaya bagi keamanan kawasan Timur Tengah. Padahal menurut IAEA alias Badan Energi Atom Internasional, Iran sudah tidak memiliki fasilitas pengayaan nuklir lagi. Bahkan sebelum perang Amerika Serikat terhadap Iran dilakukan, ke-18 Badan Intelijen Amerika Serikat juga kompak menyatakan bahwa fasilitas pengayaan nuklir Iran sudah benar-benar tidak ada.
Semua fasilitas pengayaan uranium Iran yang ditakutkan berpotensi untuk membuat senjata nuklir sudah dihancurkan oleh Amerika Serikat melalui serangan tahun lalu. Tapi tanpa mengindahkan laporan-laporan ini, Donald Trump tetap melakukan serangannya. Sekarang dampak perang sudah mulai dirasakan secara global. Minyak dan BBM menjadi langka di banyak negara, terutama di negara-negara Asia. Harga minyak juga melambung sangat tinggi. Timur Tengah tidak lagi aman. Banyak capital outflow terjadi dari pusat-pusat finansial di Timur Tengah. Beberapa negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah juga turut mendapatkan serangan. Penerbangan global menjadi kacau, terutama jika rutenya melewati area Timur Tengah.
Beberapa pihak juga sudah mulai bergabung untuk menyatakan dukungannya terhadap Iran. Cina dan Rusia menyediakan data-data intelijen untuk Iran. Houthi juga menyatakan siap membantu Iran dan siap diterjunkan kapan saja jika Iran membutuhkan. Jika Houthi terjun, maka Selat Bab El Mandeb yang menjadi jalur vital lain di Timur Tengah yang membawa keluar masuk minyak-minyak dari Saudi Arabia ke seluruh dunia ini juga berpotensi bakalan ditutup. Jika saat ini ditutup, minyak bakalan semakin sulit untuk didapat. Krisis energi menjadi semakin parah karena Arab Saudi adalah salah satu dari tiga besar pengekspor minyak ke seluruh dunia setelah Amerika Serikat dan Rusia. Kalau ini terjadi, krisis energi makin langka maka krisis pangan juga tidak lama lagi berpotensi bakalan terjadi.
Jika krisis pangan terjadi, maka politik di banyak wilayah di bumi menjadi tidak stabil. Perang di wilayah-wilayah lain berpotensi untuk pecah. Inilah peradaban kita yang sedang memasuki perang dunia ketiga. Di balik semua perang-perang ini, ada loh sekelompok oligarki yang sedang mempertahankan hegemoni mereka mati-matian. Mereka ini adalah orang-orang tak terlihat, sekelompok orang elit yang berada di balik negara Israel dan Amerika Serikat yang tanpa kita sadari ternyata menentukan arah ekonomi dan politik dunia. Merekalah para elit global atau para globalis yang telah membentuk tatanan dunia yang kita nikmati selama 80 tahun belakangan ini.
Sekarang tatanan dunia bentukan mereka dengan Amerika Serikat sebagai negara adikuasanya sudah mulai memasuki usia senja. Mereka sudah melewati puncak kejayaan peradaban. Elit global sekarang sedang berupaya mempertahankannya. Bagaimana caranya supaya tatanan dunia yang mereka bentuk melalui Amerika Serikat sebagai negara adikuasa tidak runtuh dalam waktu cepat? Karenanya mereka juga sedang mempersiapkan diri untuk menyambut tatanan dunia baru. Tapi dalam proses menata dunia menuju ke tatanan dunia yang baru ini, ada pesaing penting dan juga pesaing besar. Dan mereka ini terus bertumbuh. Pesaing besar ini adalah Cina yang kalau dibiarkan bisa menghantam hegemoni para elit global ini. Karenanya segala cara dilakukan oleh para globalis lewat Amerika Serikat untuk menghambat perkembangan Cina sebagai calon adikuasa baru.
Perang dagang tidak bisa, perang tarif tidak bisa. Maka cara terakhir adalah memantik perang dunia ketiga. Tapi bukan hanya itu saja alasan kenapa elit global harus memulai perang dunia ketiga ini sebelum terjadi reset lagi. Ada beberapa alasan spesifik kenapa sih perang dunia ketiga ini harus terjadi dengan Iran sebagai titik awal serangannya. Apa saja sih alasannya? Kita bahas di konten ini.
Teman-teman di masa perang seperti ini kondisi sedang tidak stabil, ekonomi dan politik dunia juga semakin tidak jelas. Ini bisa saja malah menjadi momentum bagi Nusantara untuk meraih zaman kejayaannya kembali. Jika akhir-akhir ini kalian mengalami kebangkitan spiritual dan ada dorongan untuk terkoneksi kembali dengan leluhur-leluhur kalian, itu bukan sesuatu yang aneh. Karena memang koneksi dengan leluhur ini sudah lama dihilangkan oleh para penjajah supaya bangsa kita mudah dijajah. Di masa menyongsong Nusantara sebagai mercu dunia ini kita bisa mendapatkan keilmuan dan kecerdasan leluhur kita baik secara DNA maupun secara alam bawah sadar.
Berikut ini ada beberapa alasan kenapa sih elit global harus menyerang Iran sekarang. Bahkan jika ini berpotensi memicu perang dunia ketiga sekalipun. Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel ini bukan sesimpel perang negara melawan negara. Ini sebenarnya adalah perangnya Iran melawan elit global. Bahkan melawan elit-elit satanik yang selama ini menguasai dunia diam-diam melalui tatanan dunia yang dibentuk oleh Zionis Israel bersama Amerika Serikat. Apa saja sih alasannya kenapa Iran harus diserang tahun ini dan harus digulingkan rezimnya?
Pertama, perebutan cadangan litium. Iran ternyata memiliki cadangan litium yang sangat besar. Bahkan ini bisa saja menjadi cadangan litium terbesar yang ada di dunia. Sedangkan tren kapitalisme global saat ini sudah mulai bergeser ke arah green energy. Kita tak lama lagi akan meninggalkan energi fosil sebagai bahan bakar utama. Semuanya pelan-pelan akan diganti ke bahan bakar listrik. Kendaraan-kendaraan, mesin-mesin, dan juga suplai listrik domestik ini pelan-pelan akan digantikan dengan tenaga listrik yang lebih ramah lingkungan. Industri otomotif sebagai salah satu industri yang sangat besar di dunia bakalan membutuhkan banyak litium dan juga nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik mereka.
Baterai kendaraan listrik ini dibuat melalui dua bahan utama. Kalau enggak nikel ya litium. Litium ini sekarang banyak digemari terutama untuk baterai kendaraan-kendaraan kecil seperti city car dan sejenisnya. Dan pangsa pasarnya ini sangatlah besar. Sedangkan 70% dari kendaraan listrik dunia ternyata diproduksi di Cina. Cina telah lebih dulu memulai jadi produsen kendaraan listrik dunia. Mayoritas kendaraan listrik yang kita kenal itu diproduksi dari Cina dan untuk memproduksinya itu diperlukan litium yang sangat besar. Dulu Australia dan Cina menjadi produsen litium terbesar di dunia dengan cadangan litium Australia mencapai 6,2 juta metrik ton. Sedangkan Cina ada di urutan kedua sebanyak 5,4 juta metrik ton. Sedangkan Cina masih memerlukan lebih banyak suplai litium lagi untuk memproduksi kendaraan-kendaraan listrik mereka.
Ketika cadangan litium Iran ditemukan, jumlahnya ternyata mencapai 8,5 juta metrik ton. Karena Iran diembargo Amerika Serikat selama puluhan tahun maka jelas nanti Iran akan menyuplai litiumnya ke Cina. Bersama-sama mereka berpotensi menjadi leader dalam adopsi kendaraan listrik dunia di pasaran. Ini jelas berbahaya bagi sistem kapitalisme elit global. Elit global ini tidak mau ini semua terjadi. Bagaimanapun juga tetap harus perusahaan-perusahaan Israel dan Amerika Serikat yang menjadi leader bagi green ekonomi. Makanya sebelum rezim menjual litiumnya ke Cina, mereka harus menggulingkan pemerintahan Iran dulu dan menggantinya dengan rezim yang lebih pro terhadap Amerika Serikat.
Kedua, elit global ingin menguasai tatanan dunia selanjutnya melalui penguasaan green energy. Jika Iran berhasil mengelola litiumnya bersama Cina dan Cina menjadi leader di pasar kendaraan listrik dunia, maka agenda globalis untuk menguasai pasar green energy di masa depan bisa gagal. Ekonomi dan teknologi di masa depan akan dikuasai oleh Cina. Kuenya akan banyak dinikmati oleh Cina bukan lagi oleh para globalis. Ini harus dicegah. Iran tidak boleh sampai merapat ke blok Cina. Apalagi selama ini 90% ekspor minyak Iran ternyata ditujukan kepada Cina. Untuk apa sih minyak-minyak ini? Tentu saja untuk mendukung industri dan logistik Cina. Meskipun Cina sudah mulai memproduksi kendaraan listrik, tetap saja ini baru adopsi awal. Sebagian besar logistik dan bahan bakar industri di Cina tetap masih butuh minyak dan jumlahnya ini sangat besar.
Selama ini Cina menyuplai kebutuhan minyaknya itu dari Rusia, Venezuela, Meksiko, dan juga dari Iran. Jika sumber-sumber minyak ini diputus, maka pabrik-pabrik produksi dan logistik di Cina bakalan mampet. Cina jadi terhalang untuk menjadi negara adidaya selanjutnya. Otomatis Cina bisa batal menjadi negara adikuasa di tatanan dunia yang baru nanti.
Ketiga, mencetak uang sebanyak-banyaknya. Perang adalah generator uang yang sangat besar. Sejak abad pertengahan sudah biasa para globalis yang dulu leluhurnya masih berstatus sebagai pedagang uang di Eropa, mereka ini sudah terbiasa meminjamkan uang kepada pemimpin-pemimpin kekaisaran yang sedang berperang. Perang itu membutuhkan uang yang sangat besar. Mirisnya perang juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan yang besar juga. Kok bisa? Saat perang terjadi, setidaknya perusahaan teknologi, perusahaan manufaktur senjata, kemudian manufaktur seragam, dan juga industri logistik plus industri kesehatan bakalan melonjak drastis. Banyak tenaga kerja bakalan terserap untuk mendukung perang ini.
Dan untuk membuat perang menang dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Pemimpin negara biasanya akan meminjam uang kepada para globalis untuk mendanai perang-perang mereka. Kemudian mereka nanti akan melunasinya melalui pajak yang dipungut dari rakyat. Globalis juga berpotensi mendanai kedua pihak yang berperang dan ini sudah sistem keuangan sejak abad pertengahan berlangsung. Pihak yang kalah berperang biasanya nanti wajib membayar ganti rugi buat pihak yang menang perang. Yang menang perang bisa untung, bisa bayar hutang plus bunga ke globalis. Yang kalah perang harus ngutang lagi ke globalis untuk membayar biaya ganti rugi perang. Kalau mereka tidak punya pajak lagi untuk membayar cicilannya karena negaranya sudah hancur lebur karena perang, ya globalis bakalan masuk untuk menukar pembayaran hutang mereka dengan aset-aset krusial milik negara itu.
Skenario yang sama bisa diberlakukan juga ke Iran. Iran ternyata belum ikut ke dalam sistem perbankan global milik para globalis. Bank sentral mereka tidak ikut ke dalam sistem bank sentral yang independen seperti sistemnya globalis. Kalau Iran menyerah kalah, globalis bisa masuk dan menguasai bank sentral mereka. Dan karena Iran sudah hancur mata uangnya mereka enggak akan sanggup membayar ganti rugi perang. Globalis bakalan masuk lagi dengan menguasai aset-aset vital yang ada di sana, ada minyak, ada litium, dan bisa jadi yang lain-lain yang bisa dikuasai globalis untuk tetap jadi oligarki di tatanan dunia baru di zaman Green Energy nanti.
Keempat, mencegah dedolarisasi terjadi. Sekarang ini aktivitas dedolarisasi sudah mulai terjadi di mana-mana. Sejak BRICS terbentuk sudah berkali-kali negara di dalamnya melakukan transaksi antar negara menggunakan mata uangnya masing-masing bukan menggunakan US Dollar lagi. Indonesia juga sama. Sudah bertahun-tahun banyak perusahaan-perusahaan ekspor impor di Indonesia ternyata melakukan transaksi perdagangan dengan Cina itu menggunakan mata uang yuan milik Cina bukan lagi pakai dolar. Nah ini bahaya banget untuk US Dollar karena akhirnya secara global aktivitas dedolarisasi ini membuat nilai mata uang US Dollar menjadi turun, makin berkurang peminatnya dan jadi tidak seksi lagi untuk dijadikan cadangan mata uang bank sentral tiap-tiap negara. Permintaan terhadap US Dollar bisa turun.
Nah kalau permintaan terhadap US Dollar ini turun maka Amerika Serikat tidak punya senjata yang kuat lagi sebagai negara adidaya. Kok bisa? Karena ketika US Dollar menguat Amerika Serikat bisa menggunakan US Dollar ini untuk memberikan sanksi pada negara-negara yang tidak patuh terhadap kendali Amerika Serikat. Kekuatan US Dollar bisa menjadi power Amerika Serikat di mata dunia. Kalau kekuatan US Dollar menurun, orang jadi tidak takut lagi dengan sanksi-sanksi Amerika Serikat. Amerika Serikat juga tidak lagi bisa menjalankan perannya sebagai polisi dunia. Nah sedangkan mata uang US Dollar sendiri dibackup oleh minyak. Makanya sistem keuangan yang sekarang ini disebut juga sebagai petrodolar. Ketika harga minyak naik maka US Dollar juga bakalan naik. US dollar naik, power Amerika Serikat juga naik. Apalagi di tengah-tengah merosotnya citra Amerika Serikat di mata ekonomi global saat ini, perlu banget bagi Amerika Serikat untuk mengembalikan kejayaan peradaban mereka melalui penguatan US Dollar. Karenanya Amerika Serikat harus menguatkan nilai US Dollar kembali dengan cara menaikkan harga minyak.
Kelima, mempertahankan mata uang US Dollar sebagai World Reserve Currency. Ketika Iran diserang dan akhirnya Selat Hormuz ditutup, harga minyak langsung melambung tinggi. Investor global akan mulai menyimpan US Dollar lagi. Permintaan terhadap US Dollar bakalan naik. Itulah kenapa di masa perang seperti ini ada anomali. Biasanya di saat perang harga emas bakalan naik tapi ini malah turun. Yang terus naik ya nilai US Dollar karena nilai minyak ikutan naik. Rencana globalis dan Amerika Serikat adalah ketika Selat Hormuz ditutup dan rezim Iran berhasil dibunuh maka Iran menjadi lemah bahkan lumpuh. Harga US dollar bakalan naik seiring dengan kenaikan harga minyak. Amerika Serikat kemudian akan segera mengganti rezim Iran dengan boneka-boneka mereka. Kalau rezim ini sudah berganti, harga minyak dan US Dollar bakalan kembali stabil.
Iran juga otomatis akan masuk ke dalam sistem bank sentral yang dibentuk oleh Amerika Serikat dan para globalis. Kalau Amerika Serikat berhasil memasukkan rezim baru ke dalam pemerintahan Iran, dengan cara ini Amerika Serikat bisa memiliki kontrol yang kuat terhadap Iran. Apalagi Iran ternyata memiliki cadangan litium terbesar di dunia. Jika ini dikuasai maka Amerika Serikat dan Israel tetap menjadi pemimpin di tren green energy ke depannya. Ini bakalan menghambat Cina untuk tumbuh sebagai negara adikuasa, Yuan tertekan penggunaannya, dan US Dollar kembali menjadi mata uang cadangan yang peminatnya besar. Ini adalah rencana mereka. Tapi nyatanya perhitungan elit global dan Amerika Serikat ini salah besar. Iran malah bertahan dan rezimnya tak bisa digulingkan. Justru eskalasi perang malah semakin parah. Iran justru memilih untuk bertempur habis-habisan melawan Amerika Serikat daripada harus tunduk terhadap Amerika Serikat, Israel, dan juga elit global.
Keenam, mencegah Cina dan Aliansi Timur Selatan atau Global South menggeser hegemoni elit global di dunia. Selama 80 tahun para globalis yang terdiri dari elit perbankan, para pengusaha Hedgefund, dan juga pemilik perusahaan-perusahaan kapitalisme besar dunia yang mayoritas mereka adalah orang-orang Yahudi yang berkewarganegaraan Israel dan Amerika Serikat, mereka sudah menikmati kejayaan selama tatanan dunia Amerika Serikat berlangsung. Mereka menikmati kemudahan dan keamanan sebagai oligarki yang bersembunyi di balik ekonomi dan politik Amerika Serikat. Dengan cara ini mereka juga menguasai dunia. Ketika Cina bertumbuh, Rusia bertumbuh, dan negara-negara global south lainnya juga bertumbuh ekonominya, ini mulai menjadi ancaman bagi para globalis.
Tapi proyeksinya selalu adalah ancaman bagi Amerika Serikat. Ketika aliansi BRICS terbentuk ini menjadi ancaman yang lebih besar lagi bagi globalis, Amerika Serikat dan juga Israel. Dedolarisasi ini akan semakin masif. Dunia yang semula unipolar akan terpecah-pecah menjadi multipolar. Tatanan dunia bakalan hancur dan negara-negara besar akan bersaing untuk menjadi adikuasa dunia selanjutnya. Hegemoni para globalis bisa hancur. Kekayaan yang selama ini dikumpulkan melalui tatanan dunia yang berlangsung ini bisa mengalami kerugian. Untuk mencegah ini semua terjadi maka pertumbuhan negara-negara global south yang semakin merapat ke Cina dan Rusia harus dicegah. Kalau dicegah melalui perang dagang tidak bisa, ya cara terakhir adalah dengan menciptakan perang.
Ketujuh, mencetak uang dari penjualan senjata berskala besar. Selain untuk mempertahankan hegemoni tatanan dunia Amerika Serikat, perang juga menciptakan kekayaan ekstra besar dari penjualan-penjualan senjata. Perang juga mencetak cuan banyak dari logistik selama perang. Amerika Serikat dan Israel adalah negara dengan pengusaha militer terbanyak dan terbesar di dunia. Mayoritas perusahaan-perusahaan kontraktor militer di dunia ini dimiliki oleh para globalis yang berkewarganegaraan Amerika Serikat dan Israel. Elit global juga menginvestasikan uang mereka ke dalam perusahaan-perusahaan senjata ini. Makin banyak perang terjadi, makin banyak cuan didapatkan karena penjualan senjata plus logistiknya juga bakalan meningkat. Itulah kenapa kontraktor senjata atau perusahaan manufaktur senjata itu mayoritas adalah perusahaan swasta. Tidak peduli negara mana yang membeli senjata mereka, ketika perang terjadi kontraktor senjata akan tetap mendapatkan keuntungan. Karena yang berperang adalah negara tapi semua negara butuh senjata. Dan negara-negara ini beli senjatanya dari perusahaan manufaktur swasta ini.
Walaupun belum banyak pakar yang mengatakan bahwa sekarang ini adalah perang dunia ketiga, tapi dampak perang ini sudah mulai dirasakan secara global. Krisis energi mulai terjadi di mana-mana. Tak lama lagi krisis pangan berpotensi terjadi. Tapi buat Indonesia ini bisa menjadi momentum untuk justru jadi negara yang bertahan dan berkembang. Kenapa? Ketika perang dunia ketiga terjadi, negara yang kaya sumber daya alam dan bisa mengandalkan sumber daya alamnya sendiri justru cenderung aman walaupun bakalan sempat terguncang juga di awal. Pasokan barang dan bahan baku dari luar negeri bisa saja terganggu. Tapi kalau kita mandiri dan bisa mengelola sumber daya alam sendiri cenderungnya bakalan aman. Apalagi Nusantara adalah chokepoint paling penting bagi dunia. Ini sudah pernah saya bahas juga di video sebelumnya yang judulnya Selat Malaka kunci Nusantara jadi mercu dunia.
Kalau kalian menontonnya kalian akan paham betapa pentingnya Indonesia terutama di masa-masa perang dunia seperti sekarang ini. Ini karena semuanya butuh Indonesia sebagai penghasil sumber daya alam dan sekaligus sebagai jalur pelayaran penting yang mengangkut logistik selama masa perang. Dan mereka semua butuh ini. Akan ada banyak agen asing yang bermain untuk menguasai Nusantara. Bahkan ada beberapa yang sudah menjalankan aksinya untuk menggulingkan pemerintahan. Minimal mengganggu stabilitas politik dalam negeri supaya mudah dikuasai. Dan ini sudah kejadian sejak tahun 2025.
Bagaimana sih cara mereka bergerak menguasai Nusantara biar dapat sumber logistik dan chokepoint paling penting? Yang pasti Nusantara bakalan aman kalau kita memiliki kesadaran yang tinggi. Elit global itu sebenarnya takut banget kalau Nusantara itu sadar tentang jati diri mereka sendiri. Jati diri bangsa Nusantara itu siapa sih? Yaitu adalah bangsa yang punya kesadaran murni atau bangsa yang tercerahkan. Bersyukur deh karena beberapa tahun belakangan ini terjadi kebangkitan spiritual yang masif di Nusantara. Ini secara kolektif membuat level kesadaran kita naik. Supaya level kesadarannya naik biar Nusantara enggak gampang dijajah lagi sama bangsa-bangsa yang sedang berperang, teruslah tingkatkan kesadaran kalian.




