Selamat membaca, Rekan Pembaca. Pernahkah Anda sedang asyik berselancar di beranda media sosial, lalu tiba-tiba muncul potongan video ceramah yang menggebu-gebu memproklamirkan gerakan “Anti-Syiah”? Bagi masyarakat awam yang mungkin jarang bersinggungan dengan perdebatan teologi, fenomena ini sering kali membingungkan. Mengapa energi yang begitu besar dihabiskan untuk isu yang terasa jauh dari keseharian kita?
Mari kita bedah fenomena ini secara jernih, mulai dari akar sejarah hingga peran algoritma yang sering kali luput dari perhatian.
1. Akar Perbedaan: Bukan Sekadar Soal Ibadah
Banyak yang mengira perbedaan Sunni dan Syiah hanya sebatas cara salat atau bacaan doa. Padahal, akarnya jauh lebih dalam ke masa awal setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
- Persoalan Kepemimpinan (Imamah vs Khilafah): Ini adalah titik balik sejarah. Kaum Sunni meyakini bahwa pemimpin umat (Khalifah) dipilih melalui musyawarah sahabat, dimulai dari Abu Bakar, Umar, Utsman, hingga Ali bin Abi Thalib. Sebaliknya, kaum Syiah meyakini bahwa kepemimpinan adalah hak prerogatif keluarga Nabi (Ahlul Bait), dimulai dari Ali bin Abi Thalib yang mereka yakini telah ditunjuk secara khusus.
- Otoritas Spiritual: Dalam pandangan Syiah, para Imam memiliki kedudukan spiritual yang maksum (terjaga dari dosa) dan menjadi rujukan mutlak dalam agama. Bagi Sunni, pemimpin adalah manusia biasa yang menjalankan fungsi administratif dan politik, bukan sumber hukum yang setara dengan wahyu.
- Sumber Rujukan: Perbedaan ini melebar ke masalah hadis. Sunni merujuk pada koleksi Imam Bukhari, Muslim, dan lainnya, sementara Syiah lebih memprioritaskan jalur periwayatan melalui Ahlul Bait seperti dalam kitab Al-Kafi.
2. Geopolitik: Narasi yang “Diimpor” dari Timur Tengah
Sering kali, kegaduhan di Indonesia bukan murni soal teologi lokal, melainkan pantulan dari konflik politik di luar negeri. Rivalitas antara negara dengan mayoritas Sunni dan Syiah (seperti Arab Saudi dan Iran) sering kali membingkai konflik wilayah di Suriah, Irak, atau Yaman sebagai perang mazhab.
Narasi konflik ini kemudian dikemas ulang dalam bentuk konten dakwah atau propaganda politik yang masuk ke Indonesia melalui media internet. Masyarakat yang tidak memahami konteks politik internasional sering kali menelan mentah-mentah bahwa ini adalah “perang suci” yang harus diperjuangkan juga di tanah air.
3. Paradoks Internet: Panas di Layar, Teduh di Lapangan
Mengapa di kolom komentar Facebook atau Twitter (X) suasananya seperti mau perang, tapi di pasar atau kantor kita hidup rukun-rukun saja?
- Algoritma yang Memihak Konflik: Media sosial bekerja berdasarkan engagement. Konten yang memicu amarah, ketakutan, atau rasa terancam (seperti narasi “waspada kesesatan”) jauh lebih cepat viral daripada diskusi akademis yang tenang. Algoritma akan terus menyuguhkan konten serupa kepada mereka yang pernah mengekliknya, menciptakan echo chamber atau ruang gema yang sempit.
- Ilusi Konflik: Di dunia nyata, masyarakat Indonesia memiliki tradisi pluralisme yang kuat. Namun di internet, anonimitas membuat orang lebih berani menyerang secara verbal. Selain itu, banyak orang yang sebenarnya tidak pernah bertemu langsung dengan pengikut Syiah, namun merasa terancam hanya karena narasi yang mereka konsumsi di layar ponsel.
4. Jejak Syiah dalam Tradisi Nusantara
Menariknya, Indonesia sebenarnya memiliki keterkaitan historis yang unik dengan tradisi-tradisi yang bernuansa Syiah, meskipun mayoritas kita adalah Sunni. Sebut saja tradisi Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Pariaman yang merupakan peringatan atas peristiwa Karbala (gugurnya Husain bin Ali).
Ini menunjukkan bahwa pada masa lalu, perbedaan mazhab bisa berasimilasi dengan budaya lokal tanpa harus berujung pada persekusi. Kekerasan verbal yang kita lihat hari ini sering kali adalah fenomena baru yang dipicu oleh polarisasi identitas modern.
Kesimpulan: Pentingnya Literasi di Tengah Gaduh Sosmed
Fenomena ustadz yang gencar memproklamirkan anti-Syiah di sosmed adalah campuran dari kekhawatiran teologis, pengaruh politik global, dan mekanisme teknologi media sosial. Bagi kita masyarakat awam, kunci utamanya adalah literasi.
Kita perlu menyadari bahwa banyak isu yang digoreng di internet lebih bertujuan untuk memperkuat identitas kelompok atau mencari pengikut (viewer) daripada mencerahkan umat. Islam di Nusantara memiliki sejarah panjang dalam mengelola perbedaan dengan kepala dingin. Mari kita jaga kedamaian di dunia nyata agar tidak ikut terbakar oleh api yang berkobar di dunia maya.




