Misteri di Balik Kutukan Gus Dur & Ahok yang Seolah Nyata Terjadi

Misteri di Balik Kutukan Gus Dur & Ahok yang Seolah Nyata Terjadi

Habib Rizik, kutukan Gus Dur, dan kutukan Ahok itu benar-benar terjadi. Jika memang bisa seperti itu, Akang-Teteh, silakan jelaskan penjelasan ilmiah apa yang mungkin bisa kita kaitkan untuk menjelaskan fenomena kutukan ini. Apakah Akang-Teteh termasuk orang yang percaya pada kutukan? Di mana seseorang yang terzalimi, tersakiti, atau teraniaya kemudian mengucapkan sumpah serapah atau kejelekan terhadap orang yang menyakitinya, dan karena satu hal, kutukan itu benar-benar menjadi kenyataan. Akang-Teteh percaya enggak dengan mekanisme yang seperti itu?

Saya membuka kemungkinan untuk itu atas beberapa pengalaman yang terjadi di sekeliling saya. Tapi kemudian saya juga harus skeptis, dan karena itu saya bertanya kepada beberapa pakar, termasuk di antaranya saya bertanya kepada Kang Rumah Editor, “Kang Rumah, apakah kutukan itu bisa terjadi?” Dia bilang, “Ya, tidak ada. Paling itu adalah pseudo-science. Kalau dibuat clickbait, ya bisa saja. Saya juga suka bikin yang kayak gitu. Tapi itu sejauh yang diketahui bersama, tidak terjelaskan secara sains.” Kata dia, penjelasannya adalah seperti itu.

Nah, tapi kalau misalkan Akang-Teteh melihat kasus Ahok dan kasus Paibrizik, Akang-Teteh mungkin akan menemukan satu pola di mana nampaknya kutukan itu memang benar-benar terjadi. Jadi, coba Akang-Teteh simak baik-baik penjelasannya.

Pada September 2016, Ahok mengeluarkan sebuah pernyataan yang belakangan menjadi sangat kontroversial ketika dia mengatakan, “Jangan mau dibohongin pakai surat Al-Maidah ayat sekian-sekian dan seterusnya.” Ini akhirnya memicu sebuah polemik besar dan Ahok dikatakan sebagai orang yang menistakan ajaran agama Islam, menistakan ayat Al-Qur’an sebagai pembohong. Nah, ini sebenarnya bagi saya juga cukup membingungkan, di mana penistaannya? Kalau misalkan itu dikatakan sebagai sebuah penistaan, kalaupun memang Ahok berniat untuk menistakan, dia tuh enggak mungkin berbicaranya di ruang publik yang mayoritas isinya muslim semua. Kemudian direkam sebagai bagian dari dokumentasi pemerintahan. Lalu tersebar ke mana-mana. Ya, enggak mungkin juga gitu. Kalau misalkan saya mau menistakan orang Kristen, misalkan, ya saya enggak akan menistakan di depan mayoritas orang-orang Kristen di situ. Dikata-katain seperti itu kan enggak mungkin juga. Itu pasti enggak ada niatan.

Kalimatnya sebenarnya secara spesifik juga mengatakan, “Jangan mau dibohongin pakai surah Al-Maidah.” Itu sering saya bandingkan dengan kata “jangan makan sendok” yang berbeda dengan “jangan makan pakai sendok.” Itu kan sebenarnya sangat-sangat berbeda. Dan kalaupun misalkan Ahok dianggap bersalah gara-gara dia orang Kristen, tapi bahas surat-surat di dalam Al-Qur’an, ya ini kan apa bedanya juga dengan Pak Roki Gerung? Pak Roki Gerung itu sudah mati. Sudah ateis. Kemudian dia sering juga mengutip ayat-ayat di dalam Al-Qur’an, tapi kok tidak dianggap sebagai sebuah penistaan dan sebagainya? Jadi saya pikir pada bagian ini Ahok memang tidak bersalah.

Urusan yang lain itu beda cerita, tapi pada bagian ini Ahok tidak bersalah. Tapi apapun itu, ketika saya pada waktu itu mencoba untuk mengatakan kepada publik melalui kanal YouTube ini bahwa Ahok itu tidak bersalah dalam hal ini, gelombangnya sudah terlalu besar. Bahkan ketika saya mengomong seperti itu pun, kalau tidak diabaikan, ya dikomentari negatif. Saya dihujat ketika saya dianggap membela Ahok. Padahal bukan membela Ahok. Saya hanya mengatakan bahwa Ahok pada waktu itu tidak melakukan penistaan. Cuman sentimen masyarakat itu sangat besar, bahkan berlangsung selama bertahun-tahun dan itu cukup sampai menggerakkan massa untuk memilih Prabowo Subianto sampai hampir mengalahkan Pak Jokowi dalam pemilu.

Jadi, pemilu pada waktu itu Pak Jokowi menjadi media darling, menjadi kecintaan masyarakat. Tetapi itu bahkan hampir dikalahkan oleh Pak Prabowo dengan selisih 7% di pemilu. Saking apa? Saking besarnya sentimen masyarakat terhadap Ahok yang pada waktu itu disinyalir dekat dengan Jokowi dan disinyalir bermusuhan dengan Pak Prabowo. Gelombang besar itu juga termasuk juga sampai membuat Pak Ahok itu didemo ketika mau diangkat menjadi Dirut Pertamina yang akhirnya sekarang ketahuan bahwa Pak Ahok akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa, tidak berkuasa atas menahan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di Pertamina dan sebagainya.

Baca Juga  Apa Arti Islam Yang Sebenarnya?

Sekarang kita ketahuan itu, dan ya apapun itu yang jelas adalah Ahok akhirnya dipenjara dan divonis. Nah, uniknya di sini, 25 April 2017, Ahok divonis hukuman 2 tahun penjara atas pelecehan terhadap agama tertentu. Di situ dia mengeluarkan sebuah pernyataan dalam pledoinya yang kurang lebih mengatakan, “Nanti orang yang menzalimi saya, orang yang menyakiti saya sekarang itu satu demi satu akan dipermalukan. Lihat saja, satu demi satu akan dipermalukan. Karena ini sebenarnya juga adalah mempermalukan Tuhan.” Ya, kurang lebih Ahok mengatakan seperti itu. Itu kutukan jelas dan luar biasa. Apa yang terjadi? 1 bulan kemudian, 29 Mei 2017, Habib Rizik jadi tersangka chat mesum.

Saya punya komitmen di kanal ini untuk tidak membahas masalah pribadi seseorang apalagi aibnya. Jadi ketika saya mengatakan Pak Habib Rizik menjadi tersangka chat mesum, saya tidak membenarkan atau tidak menyangkal, itu bukan urusan saya, itu bukan urusan publik. Tapi intinya adalah bahwa pada waktu itu, 1 bulan 4 hari setelah Ahok mengeluarkan kutukan, Habib Rizik divonis menjadi tersangka chat mesum. Nah, inilah yang menjadi titik mula Pak Habib Rizik itu kehilangan momentum.

Jadi, sebelum-sebelumnya dia bahkan bisa menggerakkan jutaan massa dan bahkan hampir menggulingkan media darlingnya Jokowi, tapi sejak saat itu dukungan terhadapnya mulai turun, sentimen buruk terhadapnya mulai naik. Media-media mulai berperang, yang awalnya diam. Kalau misalkan mau menjelekkan Pak Habib Rizik, itu diam, enggak berani. Bahkan dulu ada komedian yang menjelekkan Pak Habib Rizik itu sama TV-nya langsung dicut kontraknya. Tapi sejak saat itu, sejak kasus chat mesum itu, yang kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sentimen masyarakat mulai berbalik dan perlawanan terhadap Pak Habib Rizik itu mulai menguat.

Dan bukan hanya di antara para pendukungnya atau orang yang mengamatinya. Pak Habib Rizik sendiri ini langsung umrah dan enggak pulang-pulang lagi selama 3 setengah tahun dari Indonesia, kabur ke Saudi, dan enggak balik lagi. Ini cukup unik kasusnya. Karena Pak Habib Rizik itu relatif tidak takut sama penjara. Berkali-kali beliau itu mendapatkan ancaman, mendapatkan teror, kemudian berhadapan dengan aparat kepolisian, berkali-kali masuk penjara juga, dan lain sebagainya. Beliau teguh. Tapi untuk kasus ini, beliau langsung nampaknya, ya dalam bacaan saya, beliau nge-down dan akhirnya umrah ke Saudi dan enggak balik lagi selama 3 setengah tahun lamanya.

Nah, ya inilah yang pada akhirnya membuat orang-orang yang mencaci maki, orang yang anti terhadap Pak Habib Rizik itu semakin menguat. Karena yang mendukung Pak Habib Rizik itu enggak ada cantolannya ke siapa. Karena di Saudi Arabia, semuanya dipegang oleh tokoh-tokoh FPI yang memang karismanya tidak sekuat Pak Habib Rizik. Tapi bagaimanapun, Pak Habib Rizik akhirnya kembali tanggal 10 November 2020. Apa yang terjadi di situ? Langsung bikin kasus lagi. 2020 itu kan lagi COVID, ada protokol kesehatan. Pak Habib Rizik pulang, kemudian diketahui mengumpulkan massa dalam kondisi beliau sendiri sedang kena COVID di tengah wabah.

Nah, maka di sini Pak Habib Rizik itu digugat dua kali. Yang pertama adalah kebohongan publik bahwa Pak Habib Rizik itu mengaku tidak COVID, padahal COVID, bahkan beliau sampai merekayasa urusan administrasi sebuah rumah sakit. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, Pak Habib Rizik jelas melanggar protokol kesehatan. Nah, ini terjadi lagi dramanya. Ribut lagi, keributan sana-sini, dan lain sebagainya. Itu 10 November, 7 Desember, ada kejadian yang bikin nahas lagi, yaitu apa? Pak Habib Rizik dikejar-kejar sama polisi, gara-gara soal protokol kesehatan dan sebagainya. Dikejar-kejar, kemudian terlibat kejar-kejaran seperti di film Pas Anvarius. Terus ya terjadi itu sampai akhirnya enam orang pengawalnya ditembak polisi. Kata polisi, itu sudah bagian dari protokol karena si tersangka melawan, dan seterusnya.

Baca Juga  Apakah Borland Delphi Cocok Untuk Teknik Sipil?

Tetapi ya dalam persidangan yang alot, akhirnya terbukti bahwa polisi melakukan tindakan yang berlebihan pada waktu itu. Dan yang cukup aneh dari situ adalah CCTV-nya pas di lokasi kejadian itu rusak karena kehujanan. Jadi Akang-Teteh, pada akhirnya kita nanti belakang-belakang akan ketahuan bahwa masalah CCTV itu adalah masalah yang lumrah kalau misalkan ada apa-apa yang berhubungan dengan polisi. Tragedi Kanjuruhan, berapa ratus orang yang meninggal, itu disinyalir gara-gara polisi yang salah mengambil tindakan. CCTV-nya enggak kepakai. Kemudian kasus Vina Cirebon, CCTV-nya enggak kepakai. Kemudian kasus Pak Ferdi Sambo, CCTV-nya dimanipulasi dan kemudian hilang. Entah ke mana, dan seterusnya. Jadi kalau misalkan kasus polisi yang ngebunuh itu, CCTV-nya ternyata hilang.

Nah, tapi pada waktu itu sentimen masyarakat terhadap, maaf ya, kebencian masyarakat terhadap Habib Rizik sudah menjadi sangat kuat dan akhirnya, walaupun polisi diduga melakukan tindakan yang berlebihan dan ada sedikit rekayasa di situ, publik tetap justru malah mendukung kepolisian pada waktu itu. Dan Pak Habib Rizik benar-benar kecewa, benar-benar marah karena ada anak buahnya, anggota dari FPI yang mati dengan cara yang sangat menyakitkan.

Tapi sekali lagi, kutukan Ahok belum berakhir. Jadi sudah mulai dari chat mesum, kemudian ada kasus lagi, ada kasus lagi, bertubi-tubi terhadap Pak Habib Rizik sampai akhirnya tanggal 30 Desember, 22 hari setelah kejadian itu, Pak Mahfud MD membubarkan secara resmi FPI. Jadi, sudah tidak lagi memiliki kekuatan secara formal. Pak Habib Rizik pada waktu itu masih saja berretorika, bercerita bahwa tidak apa-apa dibubarkan FPI karena kita bisa bangun lagi, bikin lagi, dan seterusnya. Tapi ternyata rencana pemerintah itu sudah terhitung dengan kalkulasi yang sangat matang. Karena ketika FPI itu berencana mau dibangunkan lagi, ya memang bangun sendiri, pakai nama apa segala rupa, tapi sudah tidak memiliki kekuatan.

Karena apa? Karena Pak Habib Rizik sudah tidak lagi memiliki karisma yang besar seperti sebelumnya. Kemudian Pak Munarmannya ditangkap atas dasar pendukungan terhadap terorisme, dan ada videonya yang terbukti mendukung terorisme. Kemudian Pak Babe Haikal entah bagaimana belakangan itu juga akhirnya berpihak pada pemerintah dan seterusnya. Ada cerita, ada narasi bahwa Pak Babe Haikal itu sejak awal memang ditempatkan di FPI, di sekitaran Habib Rizik itu sebagai agen, sebagai mata-mata. Tapi tidak kita ketahui. Cuman itu mah omon-omon aja di sekitaran orang-orang FPI.

Nah, tapi intinya, FPI sejak saat itu sudah tidak lagi bisa bersuara, sudah tidak lagi bisa berpendapat, benar-benar mati. Dan yang kemudian lebih mematikannya lagi adalah tahun 2023 keluarlah sebuah tesis dari Kiai Imaduddin yang mengatakan bahwa Pak Habib Rizik dan semua Habib-habib di Indonesia itu tidak terkonfirmasi sebagai keturunan Nabi secara sains dan dalam ilmu nasab keislaman. Jadi, satu-satunya legitimasi Pak Habib Rizik adalah bahwa beliau keturunan Nabi, dan itu pun sudah dihilangkan. Sehingga Pak Habib Rizik sekarang, ya saya melihatnya nasibnya cukup tragis, terombang-ambing oleh kekuatan politik, dihancurkan karakternya, dihancurkan karismanya, dihancurkan para pengikutnya, dan lain sebagainya.

Sekarang kalau misalkan Akang-Teteh ngetik nama Habib, itu isinya jelek semua. Jadi bahan makian, jadi bahan umpatan, hujatan, dan sebagainya, sampai kanal-kanal yang resmi, seperti Nabawi TV, Rabitah Alawiyah, banyak di antaranya yang kolom komentarnya itu dimatikan atau dihapus. Komentarnya dihapus karena sentimennya luar biasa buruk. Nah, coba kita balik lagi dengan awal mula Habib Rizik yang mampu menggerakkan massa sampai jutaan, kemudian tiba-tiba menjadi public enemy seperti sekarang. Apakah itu kutukan Ahok itu benar-benar nyata? Ahok mengatakan satu demi satu akan dipermalukan.

Baca Juga  Sejarah: Antara Fakta dan Dongeng Para Pemenang

Sebagian orang NU mengatakan bukan Ahok yang kutukannya terkabul, tapi jauh sebelum itu Habib Rizik bersengketa dengan Gus Dur. Habib Rizik menuntut Gus Dur dan mengatakan seperti ini, “Ayo kita mubahalah. Mubahalah itu adalah kutuk-kutukan. Saling melaknat, saling mengutuk. Kita pertaruhkan diri dan keluarga kita.” Kurang lebihnya kata Pak Habib Rizik seperti itu. Kalau Anda benar, maka saya mati terlaknat. Tapi kalau saya yang benar, Anda yang mati terlaknat.

Gus Dur sudah meninggal dalam kondisi yang sangat baik. Gus Dur waktu menjabat sebagai presiden itu dihujat mati-matian, Akang-Teteh, dijelekin dari segala arah. Itu benar, kejadiannya seperti itu. Dari rakyatnya, dihujat, dari MPR juga, dari Pak Amin Rais, dari pejabat, dari Ibu Megawati, semuanya mendorong dia untuk jatuh dan sebagainya. Tapi ketika beliau meninggal, beliau itu dijadikan sebagai simbol toleransi, kebaikan, bapak bangsa Islam Nusantara. Tokoh yang sangat inspiratif dan sebagainya. Sampai sekarang jokes-nya, kutipannya, leluconnya, semuanya masih dibukukan, masih dijadikan bahan introspeksi dan inspirasi buat masyarakat zaman sekarang.

Gus Dur meninggal tidak dalam situasi terlaknat, tapi Gus Dur meninggal dalam kondisi yang sangat baik. Kalau misalkan laknat-laknatan itu memang benar, pilih satu di antara kita siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang benar itu kata Gus Dur, hidupnya baik-baik saja. Tapi yang salah itu matinya mati terlaknat. Nah, Gus Dur sudah selamat, sudah meninggalnya terbukti dalam kondisi terpuji. Nah, bagaimana dengan Habib Rizik?

Masalah kutukan ini sebenarnya belum selesai di sini. Akang-Teteh coba cek lagi. Habib Rizik itu dianiaya oleh polisi dalam tanda kutip karena kasus-kasus yang tadi kita bahas. Nah, sebenarnya Habib Rizik juga sudah mengeluarkan sebuah kutukan. Siapa yang terlibat dalam kasus-kasus ini, itu akan dipermalukan, akan dijelekkan, akan mati terlaknat dan sebagainya. Semoga laknat Allah Subhanahu wa ta’ala diberikan kepada mereka. Itu diarahkan kepada kepolisian terkait dengan KM50. Dan apa yang terjadi? Ini juga kutukannya nampaknya terjadi. Kutukan Habib Rizik pada polisi itu, sejak saat itu polisi-polisi yang berhubungan dengan kejadian KM50 itu banyak yang nasibnya tragis, termasuk Pak Ferdi Sambo, dan bahkan sampai sekarang institusi kepolisian secara keseluruhan tidak mendapatkan respek dan kepercayaan yang memadai dari publik.

Jadi sekarang pemberitaan-pemberitaan terkait dengan polisi itu jelek semua. Bahkan Sleng band yang memiliki pendukung yang sangat fanatik dan banyak dihujat kemarin ketika ketahuan mendukung polisi. Bagaimana menurut Akang-Teteh? Apakah kutukan Habib Rizik, kutukan Gus Dur, kutukan Ahok itu benar-benar terjadi? Kalau memang bisa seperti itu, Akang-Teteh silakan jelaskan penjelasan ilmiah apa yang mungkin bisa kita kaitkan untuk menjelaskan fenomena kutukan. Tapi bagi saya, sih, lebih penting untuk introspeksi diri. Kita tidak boleh menghujat orang lain, tidak boleh mendatangkan amarah dari orang lain. Karena kalau misalkan dia mengutuk, apalagi dalam kondisi dia terzalimi, dan kemudian dia mengutuk, jangan-jangan itu bisa terjadi.

Dalam artian, misalkan Ahok yang kafir sekalipun, dalam tanda kutip ya, ternyata bisa menimpakan kutukan kepada seorang yang dicap sebagai ahli surga. Dan Habib Rizik yang pada waktu itu sudah digonjang-ganjing oleh begitu banyak sentimen buruk itu, tetap kutukannya itu berlaku untuk kepolisian. Saya lebih memandang itu sebagai sebuah hikmah yang harus kita pikirkan daripada penjelasan ilmiah di baliknya. Walaupun itu juga seru sih.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x