Amerika vs. Dunia: Pertarungan Kekuatan Superpower Abadi

Amerika vs. Dunia: Pertarungan Kekuatan Superpower Abadi

Sudah menjadi rahasia umum kalau banyak banget negara dan masyarakat global yang enggak suka sama Amerika. Entah itu karena negaranya sombong, tukang ngatur, tukang bikin masalah, ataupun tukang ikut campur. Pokoknya, benar-benar deh, di mana ada konflik, di situ ada Amerika. Tapi, ya mau gimana, mau enggak mau, suka enggak suka, kita harus ngakuin kalau Amerika itu emang negara superpower, emang negara adidaya yang berkuasa secara ekonomi, politik, dan militer.

Terus, selain itu, dalam hal geografis, populasi, dan sumber daya alamnya, Amerika itu juga kan mendukung mereka banget. Kayak misalnya dari segi geografis saja, Amerika tuh kan diapit sama dua samudera besar, Samudra Atlantik sama Pasifik. Itu kan jadi enak banget tuh pergerakan. Terus negara seluas ini juga dia tuh cuma punya dua negara tetangga yang berbatasan langsung, Kanada sama Meksiko. Jadi ya, berkat ini masalah-masalah di perbatasannya itu minim banget mereka. Dan udah kan kayak gitu, ditambah lagi sama kekayaan alam mereka yang cukup melimpah juga, beda sama negara-negara di Eropa yang SDA-nya tuh sangat terbatas.

Terus dalam hal populasi juga, Amerika itu kan sekarang jadi negara dengan populasi penduduk terbanyak ketiga di dunia. Jadi ya, harusnya mereka enggak pernah kekurangan SDM dong ya, walaupun sekarang gelandangan di Amerika tuh makin banyak, tapi tetap buat seenggaknya sampai saat ini mereka tuh punya banyak aspek yang mendukung banget buat jadi negara superpower. The modern United States is the most powerful country in human history. With over 800 military bases and 37% of global military spending, the US has become the leader of a vast interconnected global system that has helped usher in an era of unprecedented prosperity and low levels of conflict.

Tapi yang harus kita tahu, walaupun sekarang Amerika seadidaya itu, seberkuasa itu, tapi dulunya Amerika tuh bukan apa-apa loh. Apalagi dari awal tahun 1600-an kan Amerika tuh dijajah sama orang-orang kulit putih Eropa ya, sampai akhirnya mereka merdeka di tahun 1776. Nah, kalau menurut World 101, sejak kemerdekaannya, waktu Amerika masih jadi negara muda yang rentan sama berbagai ancaman, para presiden awal Amerika, mulai dari George Washington sampai seterusnya, mereka tuh nganggep kalau Amerika tuh harus dihindarkan dari urusan-urusan internasional, harus jauh-jauh dari konflik dan persaingan kayak di negara-negara Eropa. Kenapa gitu? Itu soalnya kalau Amerika terlibat dalam urusannya Eropa, nanti bisa-bisa mereka malah rugi, bisa-bisa mereka malah jadi korban, padahal kan baru merdeka nih. Apalagi waktu itu negara-negara atau kerajaan-kerajaan Eropa kan mereka lagi ada di puncak kejayaannya banget kan, mau itu di bidang ekonomi, politik, militer, mereka tuh lagi jaya-jayanya, terutama di sini Inggris, Prancis sama Spanyol. Kekuasaan tiga negara ini kan waktu itu dominan banget di banyak belahan dunia, termasuk di benua Amerika Tengah sama Amerika Selatan. Jadi ya, waktu itu Amerika Serikat penginnya mereka tuh cari aman aja udah dengan cara memberlakukan politik isolasi. Selama lebih dari 100 tahun mereka benar-benar nutup diri dari urusan dan interaksi sama dunia luar. Benar-benar waktu itu mereka tuh fokusnya ngurusin negara sendiri aja udah. Pokoknya fokusnya tuh ngusahain gimana caranya biar negara mereka tuh bisa jadi stabil, biar ekonominya bisa berkembang terus. Enggak mau mereka terlibat sama urusan-urusan dari luar tuh enggak mau.

Nah, kalau menurut The Fair Observer, setelah revolusi industri yang pertama, Amerika tuh mulai ngelancarin politik ekspansionis ke wilayah barat yang mereka… Jadi tadinya yang namanya Amerika Serikat tuh kan cuma sebagian kecil wilayah di timur doang ya, tapi terus dari waktu ke waktu mereka terus ngelakuin ekspansi ke bagian barat sampai m entok ke Samudra Pasifik. Atau biar lebih jelasnya, lu bisa lihat di gambar yang ini nih buat perbandingan wilayah Amerika dari waktu ke waktu ya. Dulunya emang kecil banget sih, ya cuma segitu doang loh. Tapi sayangnya di sini mereka tuh memperluas wilayahnya dengan cara penaklukan dan peperangan ngelawan orang-orang pribumi, ngelawan orang-orang Indian, ngelawan orang-orang native Amerika. Kan benar-benar dibantai habis-habisan tuh orang-orang Indian sama orang-orang Amerika kulit putih yang keturunan Eropa, sampai akhirnya mereka berhasil ngerebut wilayah kekuasaannya. Dan sedihnya, karena penaklukan dan pembantaian itu, akhirnya sekarang orang-orang native Amerika tuh jadi cuma nyisa dikit banget di Amerika, jadi cuma nyisa dikit banget di tanah kelahiran mereka sendiri. Ini miris banget kan? Tapi kenapa ngebantai Indiannya sampai segitunya? Alasan orang-orang Amerika kulit putih ngelakuin pembantaian ini tuh karena adanya Manifest Destiny. Jadi kalau menurut sejarah, Manifest Destiny itu adalah istilah atau keyakinan yang nganggep kalau Amerika bagian utara itu diciptakan sama Tuhan buat ditinggalin sama orang-orang Amerika kulit putih. Jadi menurut mereka, Amerika tuh tanah yang dijanjikan oleh Tuhan buat mereka, makanya mereka ngeberantas penduduk pribumi biar tanahnya bisa mereka rampas, biar mereka bisa tempatin sesuai dengan janji Tuhan. Ini agak-agak juga ya. Terus selain dengan peperangan, Amerika juga ngedapetin beberapa wilayah lainnya dengan cara dibeli dari negara lain. Buat yang kayak gini tuh contohnya Alaska yang dibeli dari Rusia. Terus tadinya Amerika tuh juga sempat pengin ngebeli Greenland, Islandia sama wilayah Karibia, tapi terus enggak jadi. Soalnya kalau menurut Kongres Amerika, kalau gitu caranya ya mereka sama aja kayak negara kolonial Eropa, mereka sama aja kayak negara-negara penjajah. Ini sebenarnya agak-agak kocak sih. Mereka enggak mau segitunya ngambil di luar biar enggak kayak penjajah, tapi di dalam mereka ngebantai dan ngerampas tanahnya India. Nah, kalau itu enggak dianggap ngejajah tuh sama mereka tuh gimana coba? Oh iya, jawabannya kan udah jelas ya. Soalnya kalau yang di dalam yang punya Indian itu kan tanah yang ditakdirkan Tuhan, udah dijanjikan Tuhan, itu jadi ya beda cerita menurut mereka.

Baca Juga  Kumaila Hakimah: Menggugat Tafsir Agama dengan Logika dan Keberanian

Nah, setelah ngisolasi diri dan ngebangun ekonominya dari dalam, akhirnya menurut The National WWII Museum, Amerika berhasil ngelampauin Inggris dalam bidang ekonomi di tahun 1872. Dan akhirnya mereka jadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia berkat produksi batu bara, baja, minyak bumi, dan industri manufakturnya. Dan dengan kondisi yang udah oke banget begini, di sini para petinggi Amerika tuh mulai ngerasa kayaknya udah waktunya nih kita punya pengaruh di geopolitik dunia. Dan ya udah, akhirnya di tahun 1900 Amerika mulai tuh ikut campur sama urusan negara lain. Diawali dengan ngirim 1.000 Marinir ke Beijing buat mengakhiri pemberontakan dalam negeri di sana. Dan ini mereka ngirim pasukan ke Beijing tuh ada alasannya ya, bukan asal ngirim aja, bukan asal bantu aja. Emang alasannya apa? Soalnya kalau Cina di dalamnya ribut terus perang terus, nanti pasarnya Amerika jadi terancam kan. Soalnya Cina tuh kan udah jadi salah satu mitra dagangnya Amerika waktu itu. Jadi ya, ikut campurnya Amerika dari awalnya banget tuh ya karena mereka punya kepentingan juga, bukan karena mereka baik pengin bantu segala macam, enggak. Mereka ya mikir pasarnya mereka aja udah, makanya mereka bantuin biar cepat kelar, biar perdagangan mereka lancar di situ ya. Dari awal udah agak-agak busuk sih ya. Sampai akhirnya kalau menurut Sple International di tahun 1914, Perang Dunia I tuh kan pecah ya. Dan presiden Amerika waktu itu, Woodrow Wilson, dia tuh langsung narik negaranya dari konflik. Iya, Amerika langsung isolasi diri lagi waktu Perang Dunia I pecah, mereka enggak mau ikut-ikut pokoknya. Tapi terus di tahun 1917, Presiden Wilson berubah pikiran. Dia ngerasa gimana pun caranya Amerika tuh harus terlibat. Dan akhirnya di sini mereka milih intervensi secara enggak langsung dengan cara minjamin uang. Dan di momen inilah kekuatan-kekuatan besar Eropa waktu itu pada minjam dana ke Amerika dengan total mencapai sekitar 10 miliar US Dollar. Ini angka segini kan maksudnya gede banget ya, apalagi di masa-masa itu kan. Tapi kenapa presidennya berubah pikiran? Nah, kalau menurut World 101 disebut ada dua alasan kenapa Amerika jadi berubah pikiran. Alasan yang pertama karena Jerman nenggelamin kapal-kapal Amerika di Atlantik. Dan alasan yang kedua karena Inggris berhasil nyadap pesan rahasia yang dikenal sebagai Zimmerman Telegram yang isinya Jerman tuh nawarin bakal ngebantu Meksiko buat ngambil alih wilayah Amerika kalau mereka jadi aliansi. Nah, ngedengar kayak gitu jelas Amerika enggak bisa diam aja dong. Kebayang kan kalau mereka enggak ngebantu negara-negara Sekutu dalam pendanaan, terus bisa-bisa sekutunya kalah dan kalau udah kayak gitu, Jerman beneran nyerang Amerika dan endingnya wilayah-wilayah mereka bakal diambil alih sama Meksiko. Nah, Amerika tuh enggak mau sampai kejadian kayak gitu tuh, mereka enggak mau. Terus terkait alasan jadi ikut campur di Perang Dunia I ini, Woodrow Wilson juga bilang ini dilakukan agar dunia menjadi tempat yang aman bagi demokrasi. Oke, oke, oke. Dan ya udah akhirnya di situ Amerika ngasih dana, benar-benar ngasih dana doang negara-negara Eropa yang perang ngelawan Jerman, Amerikanya mereka enggak ikut-ikutan secara langsung. Dan setelah perang berakhir di tahun 1920, Woodrow Wilson langsung ngebentuk Liga Bangsa-Bangsa, langsung ngebentuk pendahulunya PBB. Terus selain itu, mata uang Amerika, Dolar, itu juga jadi ngegantiin Pound Sterling sebagai mata uang global. Dan di sini Amerika juga yang inisiasi buat ngebentuk World Bank sama IMF. Jadi ya intinya habis perangnya kelar, Amerika ini benar-benar jadi makin aktif ya. Padahal pas perangnya kan mereka enggak ikutan terjun langsung ke lapangan loh.

Baca Juga  Benarkah RA Kartini Berhijab?

Tapi enggak lama habis itu di tahun 1929 kan ada Great Depression ya. Buat yang mungkin belum tahu, Great Depression tuh simpelnya tuh fenomena kemerosotan ekonomi paling buruk dalam sejarah yang dimulai di Amerika. Benar-benar drop tuh ekonomi dunia di situ selama 10 tahun. Sampai akhirnya menurut sejarah, vokal media waktu Great Depression berakhir di tahun 1939, Amerika di situ mulai ngisolasi diri mereka lagi dari konflik-konflik yang terjadi di dunia. Balik lagi mereka enggak mau ikut campur sama masalah-masalah negara lain. Nah, di tahun yang sama kan Perang Dunia II pecah kan, tapi di situ Amerika masih tuh, mereka enggak mau ikut campur, masih enggak mau rugi kayak waktu Perang Dunia I. Bahkan di tahun 1940 disebut cuma 7% doang masyarakat Amerika yang setuju buat ikutan perang, sisanya mayoritasnya 93%-nya mereka enggak setuju. Pokoknya benar-benar ngindarin perang banget Amerika waktu itu. Kalau keserempet dikit ya udah, tetap mereka fokusnya ke recovery, tetap fokusnya tuh ngebalikin ekonomi setelah Great Depression, ngindarin perang, ngindarin perang, ngindarin perang. Sampai akhirnya ada satu kejadian yang mau enggak mau bikin Amerika jadi ikut lagi ke dalam konflik. Kejadian apa tuh? Kejadian di bulan Desember 1941 waktu Jepang ngebom pangkalan militer Amerika di Pearl Harbor, Hawaii. Gara-gara itu berubah deh tuh semua visi misi isolasi dan enggak mau ikut campurnya Amerika. Berubah, itu enggak ada lagi kayak gitu. Benar-benar setelah tragedi Pearl Harbor itu Amerika join the war, udah mereka total ikutan perang. Dan di Jerman, Nazi, mereka tuh senang banget ngelihat Amerika yang mereka benci keluar kandang. Mereka tuh kayak, “Nah ini nih keluar nih akhirnya bisa kita habisin nih, mantap nih, ayo ayo ayo, senang, senang, senang.” Eh, endingnya kalah ya. Kayak yang kita tahu, Perang Dunia II kan berakhir dengan kekalahan blok poros ya, berakhir dengan kekalahan Jepang, Jerman sama Italia. Amerika jatuhnya mereka keluar sebagai pemenang di Perang Dunia II ini. Tapi gara-gara perang ini juga, negara-negara besar lainnya, negara-negara berkuasa lainnya itu jadi banyak yang ikut hancur-hancuran kan. Soalnya mereka tuh waktu itu benar-benar ngorbanin banyak harta benda, bahkan nyawa. Nah, di saat banyak negara besar yang hancur begini, Amerika justru berdiri kokoh. Soalnya dari awal ekonomi, militer sama demografi mereka kan unggul. Ditambah lagi, perangnya juga kan jauh dari kandang mereka. Perang-perang yang berlangsung waktu itu tuh selalu terjadi di luar Amerika, kecuali ya penyerangan yang Pearl Harbor tadi ya. Tapi ya itu juga kan di Hawaii, di pulau terpencil di Pasifik yang jauh banget dari daratan utamanya Amerika. Jadi ya bisa dibilang di perang ini Amerika tuh enggak rugi banyak, enggak kayak Inggris, Prancis, atau Spanyol. Dan situasi ini ngebikin Amerika jadi punya kekuatan raksasa global yang belum pernah ada sebelumnya. Ini lu bayangin aja nih, disebut kekuatannya Inggris, Prancis sama Spanyol di puncak masa kejayaan mereka itu tetap enggak sebanding sama kekuatan yang dimilikin sama Amerika setelah Perang Dunia II waktu itu. Kekuatan dan kekuasaan negara-negara Eropa kan disebutnya kan great power kan, kekuatan besar. Tapi ternyata itu masih terlalu jauh buat jadi superpower. Negara-negara great power itu enggak ada yang jadi superpower yang menjelma jadi superpower, justru Amerika ini. Berarti mereka emang untung banyak ya dari Perang Dunia II ya. Edan, edan, edan.

Nah, kalau menurut Fox, satu-satunya negara yang bisa nyaingin Amerika waktu itu tuh cuma Uni Soviet yang juga jadi pemenang di Perang Dunia II. Ditambah lagi, wilayah Uni Soviet juga luas banget kan, penduduknya banyak, militernya kuat sama sumber dayanya juga kaya. Ya intinya sebanding lah sama Amerika, makanya dianggapnya ada dua negara adidaya waktu itu, ada dua negara superpower waktu itu, Soviet sama Amerika. Tapi terus yang jadi masalah, dua negara ini kan mereka beda ideologi, yang satu kapitalis, yang satu komunis. Nah, gara-gara ini Amerika jadi khawatir Soviet bakal nyaplok negara-negara Eropa lain dan makin nyebarin paham komunis mereka, makin nyebarin paham yang bisa ngerugiin Amerika sebagai kapitalis. Dan ya udah, diawali dari beda ideologi terus saling khawatir ini akhirnya terjadilah Perang Dingin di situ, Perang Dingin terus sampai akhirnya Uni Soviet bubar di tahun 1991. Dan itu ngebikin Amerika jadi satu-satunya negara superpower yang ada waktu itu. Dan satu superpower Amerika ini masih bertahan sampai sekarang ya, walaupun ya mulai muncul pesaing-pesaing yang lain nih. Nah, kalau menurut Michael Bealey di bukunya yang berjudul Unrivaled: Why America Will Remain the World’s Sole Superpower, dia bilang selama beberapa dekade yang akan datang, Amerika tuh masih akan jadi satu-satunya negara superpower dunia. Soalnya menurut dia, walaupun Cina udah bangkit dan jadi raksasa ekonomi yang punya wilayah yang luas dan sumber daya manusia yang banyak, tapi keadaan politik di Cina tuh masih enggak stabil, masih enggak ideal. Bealey bilang, walaupun politik Amerika berantakan, tapi Cina lebih buruk dari itu. Makanya menurut dia masih butuh waktu yang lama banget nih buat Cina biar ikutan jadi superpower. Ditambah lagi, Cina kan berbatasan sama 19 negara ya, termasuk Rusia dan Korut, sementara Amerika kayak yang gua bilang tadi, mereka cuma berbatasan sama dua negara aja, cuma sama Kanada sama Meksiko aja. Nah, dari situ aja udah beda tuh. Soalnya kan makin banyak suatu negara berbatasan sama negara lain, cenderung makin enggak stabil juga kondisi politiknya. Apalagi di kasus Cina, wilayah-wilayah perbatasan Cina tuh kan masih suka diakuin sama negara-negara tetangganya ya. Ya, masih suka rebutan teritori lah mereka. Contohnya ya lihat aja tuh perbatasan Cina sama India yang sampai sekarang tuh masih panas sampai endingnya TikTok dibanned dari India. Kalau mungkin lu mau tahu lebih detail masalah TikTok dibanned di India ini, lu bisa tonton di video gua yang ini. Marketing China’s Economic Growth There Directly. Nah, itu tadi Cina. Sementara Rusia walaupun dianggap sebagai negara yang berani dan selalu pengin ngeganggu Amerika, tapi kekuatan ekonomi dan militer Rusia tuh dianggapnya masih di bawah Amerika Serikat. Kalau menurut TRF Now dari TRF University, disebut anggaran militer Rusia tuh 10 kali lebih kecil dari anggaran militernya Amerika. Dan perekonomian Rusia bakal disebut lebih kecil daripada perekonomian Texas. Dan udah gitu disebut juga populasi Rusia tuh bakal menyusut sebanyak 10% dalam 30 tahun mendatang. Jadi ya, SDM-nya malah justru makin ngurang nih ke depannya nih Rusia nih. Terus Cina itu disebut Rusia juga tuh mereka tuh enggak punya sekutu yang berpengaruh, enggak kayak Amerika yang punya NATO. Kayak misalnya hubungan Rusia, Cina sama Korut kayak yang pernah kita bahas itu kan lebih ke frenemy ya, lebih ke dekat tapi tetap hati-hati satu sama lain kan, enggak sesolid NATO. Tapi ya emang sih, walaupun terkesan licik, walaupun terkesan nyari untung di mana pun, tapi ya emang NATO tuh solid sih. Nah, karena faktor-faktor inilah makanya dipercaya sampai puluhan tahun mendatang Amerika tetap bakal jadi negara paling superpower di dunia. Ya, di sini banyak yang berharapnya selama puluhan tahun ke depan kalau Cina bisa berkembang terus secara politik dan ekonomi, bisa aja mereka jadi negara superpower yang ngalahin Amerika. Tapi itu dianggapnya masih butuh waktu tuh. Tapi kalau menurut lu sendiri gimana nih? Apakah emang Amerika superpower dan paling kuat, atau Cina udah nyamain mereka sebenarnya? Silakan komen. Fearful of Soviet intentions towards Western Europe, the US and other European nations created The North Atlantic Treaty Organization. Oke, sekian kali ini tentang kenapa Amerika bisa jadi negara superpower ya. Paling berassan ya, itu sih dapat untung gede-gedean setelah Perang Dunia II itu ya, mantap banget itu mereka tuh ya. Kalau salah mau nanya video bisa tulis di komen, kita diskusi biasa. Sekali lagi, thank you, jangan lupa like, subscribe  

Baca Juga  Mabuk Agama itu apa?

 

 

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi