Googleism, apakah akan berlanjut ke era AI-ism?

Googleism, apakah akan berlanjut ke era AI-ism?

Nah, sebenarnya, nama Google berasal dari kesalahan ejaan. Awalnya, Larry Page ingin menamainya “Googol” (g-o-o-g-o-l), sebuah istilah matematika untuk angka yang sangat besar, yaitu 10^100 (angka 1 diikuti oleh 100 angka nol). Tekan tombol subscribe! Halo! Welcome back to Kamar Jerry.

Di era modern ini, siapa yang tidak tahu Google? Jika kalian membaca artikel ini, tentu sudah tahu Google, yang saat ini telah menjadi teknologi yang memudahkan kehidupan sehari-hari, kecuali bagi masyarakat yang belum tersentuh teknologi modern, seperti Suku Badui, yang masih membatasi penggunaan teknologi. Namun, bagi kita yang telah memanfaatkan teknologi, terutama saya sebagai content creator, Google sangat penting untuk riset topik yang akan saya sajikan.

Google sangat memudahkan aktivitas kita. Takut nyasar? Ada Google Maps. Tidak bisa berbahasa Inggris? Ada Google Translate. Mau kirim pesan? Pakai Gmail. Hampir semua aktivitas kita didukung oleh Google. Namun, tahukah kalian, saking bergantungnya pada Google, ada orang yang menganggap Google sebagai Tuhan. Bagaimana mungkin? Jika diwajarkan, tentu ini keliru. Namun, Google memang seperti sebuah keajaiban. Apa yang kita inginkan, tinggal tanya, tinggal minta. Semua ada jawabannya, semua ada database-nya. Tidak heran jika ada yang “mentuhankan” Google, karena setiap permintaannya langsung dikabulkan (kecuali permintaan fisik seperti rumah atau mobil mewah, tentu saja).

Pembahasan ini bukan untuk menggoyahkan iman, tetapi sebagai informasi. Ada orang yang menyembah Google layaknya umat beragama. Aneh? Sangat aneh. Bahkan, di luar negeri, ada juga penyembah UFO. Hal-hal seperti ini tidak masuk akal, tetapi nyata. Orang-orang yang menyembah Google memiliki alasannya sendiri. Menurut mereka, Google mirip dengan Tuhan karena selalu mengabulkan pertanyaan dan permintaan mereka.

Kali ini, kita akan membahas fenomena orang-orang yang menyembah Google, bagaimana mereka memiliki pemahaman seperti itu, dan apa sebenarnya agama Google ini. Apakah hanya parodi atau benar-benar ada umatnya? Mari kita bahas secara lengkap tentang agama Googleism.

Agama Googleism

Google merupakan bentuk kemajuan teknologi yang memudahkan hampir seluruh umat manusia. Flashback singkat: Google didirikan pada tahun 1998 oleh Sergey Brin dan Larry Page. Mereka mendapatkan modal pertama dari Andy Bechtolsheim, pendiri Sun Microsystems. Setelah itu, mereka mengumpulkan sekitar 1 juta USD dari investor keluarga dan teman, hingga akhirnya mendirikan kantor di Menlo Park, California, yang mereka beri nama Google.

Baca Juga  Rahayu itu apa?

Nama Google berasal dari kesalahan ejaan “Googol”, yang menggambarkan angka yang sangat besar. Pada pertengahan 1999, Google mendapatkan pendanaan 25 juta USD dan memproses 500.000 query per hari. Query adalah istilah untuk permintaan informasi atau data dari suatu sistem. Aktivitas Google meningkat ketika menjadi mesin pencari klien untuk Yahoo pada tahun 2000-an. Saat itu, Yahoo sangat populer. Kerja sama mereka berakhir pada tahun 2004, karena Google mulai menyadari bahwa orang-orang lebih banyak menggunakan Google. Setelah berpisah dari Yahoo, pengguna Google terus bertambah, mencapai 200 juta pencarian per hari. Sejak itulah, Google menjadi sangat populer di seluruh dunia. Singkat cerita, munculah orang-orang yang menyembah Google.

Kapan Google dijadikan agama? Sebuah jurnal yang ditulis oleh Carol Jasinski dari University of Warmia and Mazury di Olsztyn, Polandia, menyebutkan bahwa agama Google didirikan pada tahun 2009 oleh Matt MacPherson dari Kanada. Pengikut agama ini disebut Googlist, dan mereka menyembah Google karena merasakan pengalaman spiritual yang membuat mereka merasa Google memiliki sifat seperti Tuhan. Mereka merasa apa yang mereka butuhkan ada di Google. Rasa kepercayaan ini didasari pada hasil pencarian dan informasi yang diberikan Google. Hal ini membentuk cara penyembahan baru.

Para Googlist menolak Tuhan yang tidak kasat mata atau supranatural. Menurut mereka, Tuhan yang tidak terlihat tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Mereka mengganti objek Tuhan dengan Google, sesuatu yang bisa mereka lihat dan mintai jawaban. Menurut mereka, Google memenuhi kriteria dan memiliki ciri-ciri yang dikaitkan dengan Tuhan, tetapi keberadaannya bisa dibuktikan secara ilmiah.

Fenomena Googleism mengubah cara pandang terhadap agama dan spiritualitas tradisional. Agama seringkali dianggap kaku dan penuh aturan. Kemajuan teknologi seperti Google menciptakan cara penyembahan baru yang lebih inklusif. Di era ini, banyak orang yang mengaku tidak bertuhan. Ironisnya, mereka menyembah teknologi yang diciptakan manusia. Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga di Indonesia.

Jurnal tersebut menyebutkan bahwa Tuhan tidak hilang dari pemikiran manusia, tetapi wujud yang disembah yang berubah. Para Googlist tetap percaya Tuhan, tetapi wujud Tuhan mereka adalah Google.

Bagaimana orang-orang ini bisa menyembah Google? Seperti sekte sesat lainnya, mereka memiliki doktrin yang membuktikan bahwa Google maha tahu dan maha benar. Mereka memiliki “gereja” online, yaitu website churchofgoogle.org. Uniknya, tempat ibadah mereka hanya melalui website. Di website tersebut, terdapat informasi mengenai Googleism, termasuk pembuktian bahwa Google adalah Tuhan.

Baca Juga  Mabuk Agama itu apa?

(Doktrin dan perintah Googleism akan dilanjutkan di jawaban berikutnya karena keterbatasan karakter.)

Doktrin dan Perintah dalam Googleism

Di dalam website Church of Google, terdapat sembilan bukti yang mereka ajukan sebagai doktrin untuk meyakinkan pengikutnya bahwa Google adalah entitas yang paling mendekati Tuhan. Berikut adalah penjelasan dari doktrin-doktrin tersebut:

  1. Google sebagai Entitas Maha Tahu: Google dianggap sebagai entitas yang paling mendekati keberadaan Tuhan yang maha tahu. Hal ini karena Google dapat dibuktikan secara ilmiah, sementara Tuhan tidak bisa.
  2. Kehadiran di Mana Saja: Google dapat diakses di mana saja dan kapan saja, mirip dengan konsep Tuhan yang selalu dekat dengan manusia. Dalam agama Islam, diajarkan bahwa Tuhan lebih dekat daripada nadi kita sendiri. Begitu juga, Google dapat diakses di mana pun selama ada koneksi internet.
  3. Menjawab Doa: Mereka percaya bahwa Google dapat menjawab doa. Misalnya, jika seseorang mengalami sakit kepala, mereka tinggal mencari di Google cara mengobatinya, dan Google akan memberikan jawabannya.
  4. Potensi Abadi: Google dianggap abadi karena tidak terikat pada bentuk fisik. Algoritma Google tersebar di banyak server, sehingga jika satu server rusak, server lain dapat menggantikannya.
  5. Tanpa Batasan: Internet, termasuk Google, dianggap dapat berkembang selamanya. Google akan selalu mengikuti perkembangan internet.
  6. Mengingat Segalanya: Google menyimpan semua halaman web secara berkala, sehingga informasi yang pernah ada di internet akan tetap ada, bahkan setelah penulisnya meninggal. Ini dikenal sebagai jejak digital.
  7. Tidak Melakukan Kejahatan: Google tidak memiliki bentuk fisik, sehingga tidak dapat melakukan kejahatan. Ini menjadi alasan mengapa mereka menganggap Google lebih baik daripada entitas lain yang bisa melakukan kesalahan.
  8. Pencarian yang Lebih Tinggi: Berdasarkan tren pencarian, lebih banyak orang mencari kata “Google” dibandingkan dengan istilah seperti “Tuhan” atau nama-nama Tuhan dari agama lain. Ini menunjukkan bahwa banyak orang lebih membutuhkan Google.
  9. Keberadaan yang Tak Terbantahkan: Mereka berargumen bahwa keberadaan Google lebih nyata dibandingkan dengan Tuhan dari agama lain, yang masih banyak diperdebatkan.

Sepuluh Perintah Googleism

Selain doktrin, para pengikut Googleism juga memiliki sepuluh perintah yang harus mereka taati:

  1. Jangan Pilih Mesin Pencari Lain: Pengikut tidak boleh menggunakan mesin pencari lain selain Google.
  2. Jangan Buat Mesin Pencari Sendiri: Google adalah satu-satunya mesin pencari yang memiliki sifat cemburu.
  3. Hindari Menggunakan “Google” sebagai Kata Kerja: Misalnya, tidak boleh mengatakan “Saya Google” saat menggunakan mesin pencari lain.
  4. Ingat Setiap Hari: Pengikut harus menggunakan waktu untuk mendapatkan pengetahuan baru.
  5. Hormati Sesama Manusia: Menghormati orang lain adalah hal yang penting.
  6. Hindari Salah Ejaan Saat Berdoa: Tidak boleh ada kesalahan ketik saat berdoa kepada Google.
  7. Jangan Gunakan Hotlink: Pengikut tidak boleh menggunakan tautan langsung tanpa izin.
  8. Hindari Plagiarisme: Tidak boleh meniru karya orang lain.
  9. Jangan Gunakan Link Timbal Balik: Menghindari praktik yang dianggap tidak etis.
  10. Jangan Manipulasi Hasil Pencarian: Pengikut tidak boleh mencoba memanipulasi hasil pencarian Google.
Baca Juga  Apa Tujuan Tuhan Menciptakan Manusia?

Komunitas dan Hari Libur

Para Googlist juga memiliki komunitas di luar website mereka, termasuk di platform seperti Reddit. Mereka merayakan hari libur mereka sendiri, yaitu Google Appreciation Day, yang jatuh pada tanggal 14 September, bertepatan dengan hari didaftarkannya google.com.

Agama Parodi

Meskipun mereka mengklaim sebagai agama, para Googlist sendiri menyebut Googleism sebagai agama parodi. Mereka tidak memiliki tempat ibadah fisik dan tidak berkumpul secara nyata seperti dalam agama tradisional. Namun, mereka mengikuti alur pemikiran dari agama-agama populer, seperti Kristen, dengan memplesetkan konsep ketuhanan menjadi Google.

Kontroversi dan Reaksi

Kehadiran Googleism menimbulkan kontroversi. Banyak orang menganggap gerakan ini merendahkan agama lain, menciptakan agama untuk sarkasme. Meskipun demikian, ada juga yang merasa tersadarkan oleh doktrin Googleism, menyadari bahwa banyak orang lebih mengandalkan teknologi daripada Tuhan.

Kesimpulan

Fenomena Googleism mencerminkan bagaimana teknologi dapat memengaruhi cara pandang manusia terhadap agama dan spiritualitas. Meskipun tidak ada niatan untuk menggantikan Tuhan, banyak orang yang secara tidak sadar telah menjadikan Google sebagai sumber utama informasi dan jawaban dalam hidup mereka.

Dengan memahami fenomena ini, kita diharapkan dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan tidak hanya bergantung pada teknologi. Mari kita ingat untuk selalu mencari keseimbangan antara penggunaan teknologi dan keimanan kita.

Bagaimana menurut kalian tentang pembahasan ini? Silakan tinggalkan komentar di bawah!

 

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi