Dahulu kala, sekitar dua puluh lima ribu tahun yang lalu, bumi masih muda, udara masih murni, dan manusia hidup berkelompok tanpa raja maupun kerajaan. Di antara lembah hijau dan padang rumput luas, hiduplah seorang anak gembala bernama Anteza, putra dari Mahisa, seorang Pamangku Wuruk—pemimpin dan juru bicara rakyat, yang kelak dalam bahasa kita dikenal sebagai Kuwu.
Hari itu, Anteza yang baru berusia dua belas tahun sedang menggantikan pesuruh ayahnya yang sakit. Walau masih kecil, rasa ingin tahunya sangat besar. Ia senang belajar hal baru, mengamati alam, dan memikirkan rahasia di baliknya. Tak ada yang menyangka, bocah gembala itu akan menorehkan kisah yang kelak menjadi legenda besar.
Di tengah padang yang sunyi, tiba-tiba langit berubah aneh. Angin berhenti, udara menjadi panas, dan cahaya menyilaukan muncul dari balik awan. Seekor demi seekor kerbau gembalaannya mulai menguak panik, berlarian tanpa arah. Anteza terpaku di tempat, matanya silau, tubuhnya gemetar, seperti tertahan oleh kekuatan yang tak terlihat.
Dari pusaran cahaya itu, perlahan muncul sosok anggun bercahaya keemasan—Ilfina, makhluk dari langit yang mengaku sebagai dewi dari kahyangan. Dengan tatapan lembut namun penuh wibawa, ia menatap bocah itu.
“Berlututlah, anak bumi,” ucapnya, suaranya bergema lembut namun tegas.
Anteza, tanpa berani menatap langsung, berlutut dan menunduk dalam-dalam. Cahaya di sekeliling sang dewi begitu terang hingga udara seolah terbakar. Dalam genggaman tangannya, Ilfina memunculkan sebuah benda mungil berkilau emas—Srongga—karya agung dari bangsanya yang jauh lebih maju dari manusia bumi kala itu.
“Ini,” kata Ilfina, “adalah penanda masa depanmu. Rawatlah dengan hati, karena di dalamnya tersimpan kekuatan untuk mengubah dunia.”
Ilfina tahu, usia Anteza masih terlalu muda untuk menerima teknologi seperti itu. Namun ketika ia meneliti denyut energi di tubuh bocah itu—melihat bagaimana sel-sel mitokondria-nya berakselerasi dengan luar biasa—ia tahu, anak ini istimewa. Ia adalah kunci.
Begitu benda itu disentuhkan ke telapak tangan Anteza, cahaya di sekitarnya meledak. Ilfina pun perlahan menghilang, melesat ke langit dan lenyap di antara awan, meninggalkan sinar tipis keperakan yang perlahan memudar.
Anteza menatap benda kecil itu. Srongga tak lebih besar dari batang korek api, namun memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Ia menggenggamnya erat—dan tiba-tiba tubuhnya tersentak hebat. Arus tenaga asing menjalar cepat ke seluruh tubuhnya, panas, menyengat, dan tak terkendali. Ia berteriak kesakitan, tubuhnya menggeliat seperti tersengat petir. Ingin melempar benda itu, tapi tak bisa—karena Srongga telah menyatu dengan daging dan kulitnya.
Jeritannya menggema ke seluruh padang, mengguncang udara. Getarannya begitu kuat hingga pepohonan di sekitarnya tumbang satu per satu, seperti dihantam badai dari dalam bumi. Tubuh kecil itu bergetar hebat, otot-ototnya menegang, urat-uratnya menonjol, dan di balik rasa sakit yang luar biasa, sesuatu di dalam dirinya bangkit—kekuatan purba yang selama ini tertidur.
Lalu, keajaiban terjadi.
Rasa sakit itu perlahan sirna, berganti dengan sensasi ringan dan damai. Nafasnya teratur, matanya terbuka… dan ia terkejut mendapati dirinya mengapung di udara, setinggi pohon kelapa. Tubuhnya berkilau lembut dalam cahaya keemasan—tanda bahwa Srongga telah menyatu dengan jiwanya.
Dan dari bocah gembala bernama Anteza inilah, kelak lahir Kerajaan Srongga—peradaban pertama yang mengubah wajah dunia.
bersambung…




