Sejak zaman dahulu, kebudayaan mistis di kalangan masyarakat negara kita memang sangat kental. Kita tentu sering, atau minimal pernah mendengar kisah-kisah tentang pesugihan seperti babi ngepet, atau kisah manusia harimau yang dipercaya banyak orang di Sumatera, atau kisah ngipri, pesugihan yang bekerja sama dengan siluman ular, atau kisah pesugihan yang berhubungan dengan siluman kera. Selama ini, kita disuguhi dongeng bahwa ini semua terjadi berkat kerja sama manusia dengan bangsa siluman atau bangsa jin, yang punya kemampuan mengotak-atik bagian otak manusia supaya aktif dan lebih berakselerasi, dengan bayaran tumbal. Nah, dalam dongeng kali ini saya ingin bercerita bahwa kisah-kisah tersebut tidak hanya melibatkan bangsa jin saja, melainkan terjadi dengan bantuan bangsa luar atau alien yang bernama bangsa Ghulu. Zaman dahulu kala, orang-orang zaman dulu mungkin tidak mengenal konsep alien, mereka hanya mengenal bangsa-bangsa gaib, yang oleh mereka dikenal sebagai setan, dedemit, siluman, dan lain sebagainya. Mari kita telaah lebih lanjut tentang peran bangsa misterius ini dalam berbagai fenomena mistis yang kita kenal.
Bangsa GHULU: Penguasa Dimensi di Balik Layar Mistisisme Nusantara
Di balik tabir misteri yang menyelimuti berbagai kisah pesugihan dan fenomena mistis di Indonesia, tersembunyi peran sebuah bangsa yang mungkin namanya belum pernah kita dengar sebelumnya: Bangsa GHULU. Meskipun dalam sepak terjangnya di planet bumi tidak pernah terlihat secara kasat mata, mereka bukanlah bangsa Jin atau makhluk Api. Mereka adalah entitas dengan teknologi yang jauh melampaui pemahaman kita, sebuah bangsa yang mampu menembus batas dimensi dan memanipulasi realitas dengan cara yang bagi manusia purba tampak seperti keajaiban atau bahkan sihir.
Bangsa GHULU memiliki kemampuan untuk bergerak dan berinteraksi antar dimensi, sebuah keunggulan teknologi yang memungkinkan mereka melintasi ruang dan waktu dengan leluasa. Keterlibatan mereka dalam urusan manusia ternyata lebih dalam dari sekadar membantu beberapa entitas mempelajari ZIHR dengan interpretasi yang berbeda. Keterlibatan bangsa ini dimulai ketika ILFINA, Ratu penguasa galaksi Tursabelta, ikut campur mengacak-acak peradaban di planet bumi. Hal ini terjadi sejak kematian ayahnya di tangan ARKHYIREMA. Saat itu terjadi, Akhytirema sedang bertugas menjadi duta perdamaian antar galaksi. Yang mengacak-acak Ardh Grumma atau planet bumi pada saat itu bukan cuma Iflina saja, melainkan 3 putri bangsa empat besar lain yang ayah mereka juga tewas di tangan Arkhytirema. Kisah tewasnya 4 bangsa besar ini dapat Anda baca di Novel Arkhytirema jilid 2. Cara mereka mengacak-acak masyarakat bumi antara lain dengan menyebarkan teknologi akselerator mitokondria, yang oleh masyarakat bumi dikenal sebagai mustika merah delima, wesi kuning, dan lain sebagainya. Teknologi tersebut memunculkan orang-orang yang mendadak sakti, yang kemudian menjadi penguasa, dan saling bentrok dan bertikai memperebutkan kekuasaan di planet bumi ini.
Dalam cerita kali ini, saya tidak membahas masalah teknologi akselerator. Saya ingin mendongeng tentang kekacauan yang direkayasa oleh ILFINA melalui perantaraan Bangsa GHULU. Bangsa GHULU mendapatkan tugas khusus: membingungkan dan memengaruhi manusia-manusia yang telah meninggalkan alam fana. Dengan teknologi multidimensi mereka, mereka mampu menciptakan ilusi dan manipulasi yang sering kali disalahartikan oleh manusia sebagai penampakan hantu, siluman, atau arwah penasaran. Jadi, berbagai cerita tentang entitas-entitas gaib yang menghantui dan menakutkan sebenarnya bisa jadi merupakan manifestasi dari teknologi Bangsa GHULU, yang terkadang bekerja sama dengan entitas lain seperti Makhluk Api atau JIN.
Meskipun JIN memiliki kekuatan yang signifikan, energi mereka terbatas tanpa dukungan dari energi manusia dan bantuan teknologi dari Bangsa GHULU. Dalam kondisi di mana energi manusia tidak mencukupi untuk tujuan mereka, JIN sering kali mencari bantuan kepada Bangsa GHULU untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Salah satu aspek paling menarik dan kontroversial dari interaksi Bangsa GHULU dengan manusia adalah keterlibatan mereka dalam praktik pesugihan. Mereka dikenal sebagai pihak yang menyediakan “bantuan” kepada manusia yang mendambakan kekayaan atau kekuasaan melalui cara-cara yang tidak konvensional. Dalam praktik ini, mereka bekerja sama dengan Makhluk Api, yang bertindak sebagai perantara langsung dengan manusia, sementara Bangsa GHULU menyediakan dukungan teknologi canggih yang memungkinkan terjadinya transformasi atau pertukaran yang diinginkan.
Ketika seorang manusia memutuskan untuk menempuh jalan pesugihan, mereka akan dihadapkan pada berbagai pilihan oleh Makhluk Api atau JIN. Pilihan-pilihan ini biasanya berupa kemampuan untuk bertransformasi atau berkamuflase menjadi berbagai jenis binatang, seperti babi ngepet, harimau (seperti dalam kisah manusia harimau di Sumatera), ular (seperti dalam kisah ngipri), kera (seperti dalam kisah pesugihan siluman kera), atau berbagai makhluk lainnya. Namun, ada satu batasan yang selalu ditekankan: mereka tidak diperbolehkan untuk mengambil wujud manusia.
Dewan ETHEPHAKA, sebuah otoritas yang lebih tinggi, telah mengeluarkan larangan tegas kepada Bangsa GHULU untuk tidak secara langsung mengganggu manusia. Pelanggaran terhadap aturan ini akan berakibat pada pemusnahan mereka. Namun, Bangsa GHULU adalah bangsa yang cerdik dan tidak mudah menyerah. Mereka menemukan cara untuk tetap menjalankan agenda mereka tanpa melanggar larangan tersebut secara eksplisit. Mereka memfokuskan pengaruh mereka pada entitas selain manusia, terutama pada keturunan DHAMMA, di mana mereka memiliki kebebasan yang lebih besar untuk bertindak.
Oleh karena itu, mereka menawarkan jasa pesugihan melalui perantaraan Makhluk Api atau JIN. Tujuan utama mereka adalah untuk mendorong manusia agar bersedia mengubah DNA mereka menjadi DNA binatang. Dengan cara ini, Bangsa GHULU dapat terus menjalankan misi yang pernah dicanangkan oleh ILFINA, yaitu mengubah populasi ARDH GRUMMA menjadi berbagai jenis binatang.
Lebih jauh lagi, Bangsa GHULU juga mengembangkan teknologi yang memungkinkan Makhluk Api untuk memanfaatkan energi dari jasad manusia yang baru meninggal. Energi ini kemudian digunakan oleh Makhluk Api untuk menyamar menjadi manusia yang bersangkutan, sebuah kemampuan yang semakin memperkuat pengaruh mereka di dunia manusia dan mungkin menjadi dasar dari berbagai kisah tentang arwah gentayangan atau penampakan.
Ketika Makhluk Api atau JIN mulai menawarkan “jalan pintas” menuju kekayaan atau kekuasaan kepada manusia yang sedang dilanda kesulitan atau memiliki ambisi besar, Bangsa GHULU secara otomatis mempersiapkan diri dengan berbagai peralatan dan teknologi yang diperlukan untuk dikolaborasikan sesuai dengan permintaan. Biasanya, Makhluk Api akan menjanjikan kesuksesan dan kemakmuran kepada manusia-manusia ini. Imbalan bagi Makhluk Api adalah energi jasad manusia yang telah diproses oleh Bangsa GHULU, yang akan meningkatkan kekuatan mereka. Sementara itu, keuntungan bagi Bangsa GHULU adalah semacam “token” atau imbalan dari ILFINA atas partisipasi mereka dalam agenda ini.
Ketika manusia membuat perjanjian dengan Makhluk Api, mereka akan memilih simbol berupa binatang yang mereka kehendaki. Semakin kecil binatang yang dipilih, semakin kecil pula daya tawar yang mereka miliki dalam perjanjian tersebut. Ini mungkin karena semakin kecil binatang tersebut, semakin besar kemungkinan manusia tersebut untuk dapat kembali ke wujud aslinya setelah menjalani transformasi. Namun, di Indonesia, permintaan yang paling umum adalah untuk berubah menjadi harimau, yang mungkin menjelaskan popularitas kisah manusia harimau. Permintaan yang lebih kecil biasanya adalah untuk menjadi codot atau kelelawar kecil.
Makhluk Api atau JIN yang sering kali mempraktikkan pesugihan ini berasal dari marga MUNJU, yang kemudian melahirkan istilah “MUNJUNG”. Ketika seorang manusia membuat perjanjian dengan MUNJU, mereka akan diberikan beberapa pilihan binatang. Semakin besar binatang yang dipilih, semakin besar pula kekayaan, kekuasaan, atau kekuatan yang akan mereka terima, sesuai dengan persyaratan perjanjian awal. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi di muka.
Jika manusia memilih kekayaan, maka RUBH (energi), JIWA (termasuk kesadaran dan program mental), dan seluruh esensi dirinya akan dipindahkan ke dalam jasad binatang pilihan mereka oleh Bangsa GHULU, yang memiliki teknologi canggih bernama ENNALUDZ untuk menyesuaikan jasad dengan RUBH dan JIWA. Ini mungkin menjelaskan mengapa dalam beberapa kisah pesugihan, orang yang melakukan pesugihan menghilang dan hanya muncul dalam wujud binatang.
Jika manusia memilih kekuasaan, harganya biasanya jauh lebih tinggi. Mereka akan diberikan jasad baru, dan RUBH serta JIWA mereka akan dipindahkan ke jasad tersebut dengan ENNALUDZ yang diimplan agar cocok. Setelah itu, mereka akan menjadi semacam budak bagi Bangsa GHULU di dimensi yang berbeda. Biasanya, mereka akan ditempatkan di dimensi transisi untuk menjaga berbagai peralatan dan teknologi milik Bangsa GHULU. Durasi “kontrak” ini sangat bergantung pada tingkat kekuasaan yang mereka peroleh. Jika mereka adalah seorang raja atau pemimpin besar, mereka bisa diperbudak di dimensi tersebut selama jutaan tahun.
Jika manusia memilih kekuatan, syaratnya sering kali terkait dengan tujuh keturunan mereka. Misalnya, jika seseorang ingin menjadi sekuat harimau, kaum MUNJU akan menggunakan teknologi peleburan DNA antara manusia dan harimau, dengan bantuan ENNALUDZ. Dengan demikian, manusia tersebut akan memiliki kemampuan untuk berubah wujud menjadi harimau, naga, banteng, atau binatang lain yang dianggap kuat, kapan pun mereka mau. Namun, konsekuensinya adalah keturunan mereka juga akan mewarisi kemampuan ini, sehingga mereka juga akan dapat berubah menjadi harimau atau binatang lain. Ini mungkin menjadi asal-usul dari berbagai legenda tentang garis keturunan manusia harimau atau makhluk-makhluk mitologis lainnya.
Kisah-kisah tentang manusia harimau, manusia Cindaku (harimau jejadian penghisap darah bayi), dan berbagai makhluk mitologis lainnya yang kita dengar dalam cerita rakyat mungkin memiliki akar yang lebih dalam dari sekadar imajinasi manusia. Mereka bisa jadi merupakan jejak interaksi antara manusia dan Bangsa GHULU, melalui perantaraan Makhluk Api atau JIN. Fenomena-fenomena ini, yang dulunya mungkin dianggap sebagai hasil kerja sama dengan bangsa siluman atau jin, kini mendapatkan perspektif baru melalui lensa keberadaan bangsa alien dimensi yang bernama Bangsa GHULU. Pemahaman ini membuka jendela baru untuk menginterpretasikan berbagai misteri dan legenda yang telah menjadi bagian dari warisan budaya kita selama berabad-abad.



