Assalamu’alaikum… Sampurasun, teman-teman pembaca…
Kali ini, saya ingin mengajak kamu mengintip sebuah rahasia yang jarang tersentuh. Kita mungkin sudah kenyang mendengar peran bangsa jin dalam urusan pesugihan, tapi sebenarnya ada entitas lain yang tak kalah kuat bergerak di balik layar. Mereka melakukan intervensi besar-besaran terhadap praktik pencarian kekayaan instan di berbagai penjuru dunia, termasuk di tanah air kita.
Sejak zaman dahulu, kebudayaan mistis di Nusantara memang sangat kental. Kita tentu pernah mendengar kisah Babi Ngepet, sebuah praktik di tanah Jawa yang melibatkan pembagian peran yang ganjil. Satu orang menjadi pelaku lapangan yang berubah wujud menjadi babi hutan (celeng) untuk mencuri harta, sementara pasangannya setia menjaga nyala lilin di rumah. Mekanismenya pun unik; sang babi cukup menggesekkan tubuh ke dinding target agar uang berpindah secara gaib. Namun, nyawa mereka bergantung pada api lilin tersebut—jika goyah, itu pertanda bahaya, dan lilin harus segera dipadamkan agar si pelaku bisa kembali ke wujud manusia sebelum terlambat.
Lalu ada pula Ngipri Ular, kontrak gaib dengan siluman ular demi materi yang melimpah. Pelaku biasanya menyediakan kamar khusus untuk “pertemuan” dan memberikan sesajen rutin, bahkan hingga melakukan persetubuhan gaib. Imbalannya? Sisik ular yang rontok dipercaya berubah menjadi kepingan emas. Namun, kemewahan ini menuntut tumbal nyawa orang terdekat, atau bahkan nyawa si pelaku sendiri sebagai kontrak akhir untuk menjadi pengikut di alam gaib.
Tak jauh berbeda dengan Ngipri Monyet, di mana pelakunya memuja entitas kera raksasa di tempat keramat. Setelah kontrak disepakati, pelaku wajib menyediakan ruang rahasia sebagai singgasana metafisika sang siluman. Harta memang mengalir, tapi ruh sang pelaku diyakini tak akan pernah sampai ke alam barzakh, melainkan terseret menjadi budak di kerajaan kera selamanya.
Namun, tidak semua kisah ini tentang keserakahan. Di wilayah Andalas, khususnya sekitar Gunung Kerinci, kita mengenal Cindaku atau Manusia Harimau. Ini bukanlah pesugihan, melainkan warisan ilmu kebatinan untuk menjaga keseimbangan alam. Melalui garis keturunan atau perjanjian leluhur, mereka bisa berubah wujud menjadi harimau untuk melindungi desa dan marwah keluarga. Mereka adalah penjaga adat, perwujudan dari “Harimau Campo” yang legendaris.
Selama ini, kita disuguhi narasi bahwa fenomena ini hanyalah kerja sama antara manusia dengan bangsa jin yang mampu mengutak-atik otak kita agar bekerja lebih cepat dengan bayaran tumbal. Tapi, dalam catatan kali ini, saya ingin menarik benang merah yang berbeda: bahwa kisah-kisah tersebut tidak hanya melibatkan bangsa jin.
Kisah-kisah mistis ini diduga kuat terjadi dengan bantuan “bangsa luar” atau alien yang dikenal sebagai Bangsa Ghulu. Pada masa itu, orang tua kita mungkin belum mengenal konsep alien; bagi mereka, segala yang tak kasat mata adalah setan, dedemit, atau siluman. Mari kita telaah lebih dalam, bagaimana peran bangsa misterius ini dalam mengintervensi berbagai fenomena mistis yang selama ini kita anggap murni klenik.
Bangsa GHULU: Penguasa Dimensi di Balik Layar Mistisisme Nusantara
Di balik tabir misteri pesugihan dan fenomena klenik di Nusantara, tersimpan jejak bangsa yang namanya nyaris tak pernah terdengar: Bangsa GHULU. Mereka bukan Jin, bukan pula makhluk dari api. Bangsa ini adalah entitas dengan teknologi yang melampaui nalar—penguasa dimensi yang mampu memanipulasi realitas hingga tampak seperti sihir di mata manusia purba.
Namun, keterlibatan mereka di Bumi bukan tanpa alasan. Semuanya bermula saat Ilfina, Sang Ratu dari Galaksi Tursabelta, bersama tiga putri dari bangsa-bangsa besar lainnya, memutuskan untuk mengintervensi Bumi (Ardh Grumma). Menariknya, motif mereka bukanlah kebencian buta, melainkan rasa penasaran yang mendalam terhadap Arkhytirema, pemuda Bumi yang telah menewaskan ayah-ayah mereka dalam sebuah tugas diplomatik antar galaksi.
Bagi Ilfina dan kawan-kawannya, Bumi hanyalah ‘panggung’ untuk memancing kehadiran Arkhytirema. Mereka menyusupkan teknologi akselerator mitokondria yang oleh nenek moyang kita salah dikenali sebagai benda pusaka seperti Merah Delima atau Wesi Kuning. Teknologi inilah yang menciptakan orang-orang ‘sakti’ dadakan, yang kemudian memicu perang saudara dan perebutan kekuasaan demi menarik perhatian sang duta perdamaian.
“Pernah terpikir nggak, Kang, kalau jimat dan benda pusaka yang sering kita anggap mistis itu sebenarnya adalah teknologi luar angkasa yang nyasar?
Kenalin, ada bangsa bernama GHULU. Mereka ini bukan golongan Jin, tapi entitas canggih yang bisa pindah-pindah dimensi dengan leluasa. Awalnya, mereka masuk ke Bumi karena ‘ulah’ para putri galaksi, termasuk Ratu Ilfina dari Tursabelta. Gara-gara ayah mereka tewas di tangan Arkhytirema, para putri ini bukannya langsung balas dendam, tapi malah penasaran setengah mati sama sosok pemuda Bumi tersebut. Bahkan, Ilfina sampai jatuh hati!
Nah, untuk memancing Arkhytirema keluar dari persembunyiannya, para putri ini mengacak-acak Bumi dengan menyebarkan teknologi akselerator mitokondria. Karena manusia zaman dulu nggak paham teknologi, mereka menyebutnya Mustika Merah Delima atau Wesi Kuning. Benda-benda ini bikin orang jadi sakti, haus kuasa, dan akhirnya Bumi jadi kacau balau karena perang antar penguasa. Semua kekacauan ini ternyata cuma taktik ‘jemput paksa’ buat sang pujaan hati.
Kisah lengkap bagaimana empat pemimpin bangsa besar itu tumbang bisa Akang temukan dalam Novel Arkhytirema Jilid 2A. Kisah pertemuan antara Arkhytirema dan Ilfina, bisa Akang-Teteh baca di Novel Arkhytirema Jilid 2B. Silahkan cari buku-buku tersebut di Marketplace ya.
Dalam cerita kali ini, saya tidak membahas masalah teknologi akselerator. Saya ingin mendongeng tentang kekacauan yang direkayasa oleh ILFINA melalui perantaraan Bangsa GHULU. Bangsa GHULU mendapatkan tugas khusus: membingungkan dan memengaruhi manusia-manusia yang telah meninggalkan alam fana. Dengan teknologi multidimensi mereka, mereka mampu menciptakan ilusi dan manipulasi yang sering kali disalahartikan oleh manusia sebagai penampakan hantu, siluman, atau arwah penasaran. Jadi, berbagai cerita tentang entitas-entitas gaib yang menghantui dan menakutkan sebenarnya bisa jadi merupakan manifestasi dari teknologi Bangsa GHULU, yang terkadang bekerja sama dengan entitas lain seperti Makhluk Api atau JIN.
Meskipun JIN memiliki kekuatan yang signifikan, energi mereka terbatas tanpa dukungan dari energi manusia dan bantuan teknologi dari Bangsa GHULU. Dalam kondisi di mana energi manusia tidak mencukupi untuk tujuan mereka, JIN sering kali mencari bantuan kepada Bangsa GHULU untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Salah satu aspek paling menarik dan kontroversial dari interaksi Bangsa GHULU dengan manusia adalah keterlibatan mereka dalam praktik pesugihan. Mereka dikenal sebagai pihak yang menyediakan “bantuan” kepada manusia yang mendambakan kekayaan atau kekuasaan melalui cara-cara yang tidak konvensional. Dalam praktik ini, mereka bekerja sama dengan Makhluk Api, yang bertindak sebagai perantara langsung dengan manusia, sementara Bangsa GHULU menyediakan dukungan teknologi canggih yang memungkinkan terjadinya transformasi atau pertukaran yang diinginkan.
Ketika seorang manusia memutuskan untuk menempuh jalan pesugihan, mereka akan dihadapkan pada berbagai pilihan oleh Makhluk Api atau JIN. Pilihan-pilihan ini biasanya berupa kemampuan untuk bertransformasi atau berkamuflase menjadi berbagai jenis binatang, seperti babi ngepet, harimau (seperti dalam kisah manusia harimau di Sumatera), ular (seperti dalam kisah ngipri), kera (seperti dalam kisah pesugihan siluman kera), atau berbagai makhluk lainnya. Namun, ada satu batasan yang selalu ditekankan: mereka tidak diperbolehkan untuk mengambil wujud manusia.
Dewan ETHEPHAKA, sebuah otoritas yang lebih tinggi, telah mengeluarkan larangan tegas kepada Bangsa GHULU untuk tidak secara langsung mengganggu manusia. Pelanggaran terhadap aturan ini akan berakibat pada pemusnahan mereka. Namun, Bangsa GHULU adalah bangsa yang cerdik dan tidak mudah menyerah. Mereka menemukan cara untuk tetap menjalankan agenda mereka tanpa melanggar larangan tersebut secara eksplisit. Mereka memfokuskan pengaruh mereka pada entitas selain manusia, terutama pada keturunan DHAMMA, di mana mereka memiliki kebebasan yang lebih besar untuk bertindak.
Oleh karena itu, mereka menawarkan jasa pesugihan melalui perantaraan Makhluk Api atau JIN. Tujuan utama mereka adalah untuk mendorong manusia agar bersedia mengubah DNA mereka menjadi DNA binatang. Dengan cara ini, Bangsa GHULU dapat terus menjalankan misi yang pernah dicanangkan oleh ILFINA, yaitu mengubah populasi ARDH GRUMMA menjadi berbagai jenis binatang.
Lebih jauh lagi, Bangsa GHULU juga mengembangkan teknologi yang memungkinkan Makhluk Api untuk memanfaatkan energi dari jasad manusia yang baru meninggal. Energi ini kemudian digunakan oleh Makhluk Api untuk menyamar menjadi manusia yang bersangkutan, sebuah kemampuan yang semakin memperkuat pengaruh mereka di dunia manusia dan mungkin menjadi dasar dari berbagai kisah tentang arwah gentayangan atau penampakan.
Ketika Makhluk Api atau JIN mulai menawarkan “jalan pintas” menuju kekayaan atau kekuasaan kepada manusia yang sedang dilanda kesulitan atau memiliki ambisi besar, Bangsa GHULU secara otomatis mempersiapkan diri dengan berbagai peralatan dan teknologi yang diperlukan untuk dikolaborasikan sesuai dengan permintaan. Biasanya, Makhluk Api akan menjanjikan kesuksesan dan kemakmuran kepada manusia-manusia ini. Imbalan bagi Makhluk Api adalah energi jasad manusia yang telah diproses oleh Bangsa GHULU, yang akan meningkatkan kekuatan mereka. Sementara itu, keuntungan bagi Bangsa GHULU adalah semacam “token” atau imbalan dari ILFINA atas partisipasi mereka dalam agenda ini.
Ketika manusia membuat perjanjian dengan Makhluk Api, mereka akan memilih simbol berupa binatang yang mereka kehendaki. Semakin kecil binatang yang dipilih, semakin kecil pula daya tawar yang mereka miliki dalam perjanjian tersebut. Ini mungkin karena semakin kecil binatang tersebut, semakin besar kemungkinan manusia tersebut untuk dapat kembali ke wujud aslinya setelah menjalani transformasi. Namun, di Indonesia, permintaan yang paling umum adalah untuk berubah menjadi harimau, yang mungkin menjelaskan popularitas kisah manusia harimau. Permintaan yang lebih kecil biasanya adalah untuk menjadi codot atau kelelawar kecil.
Makhluk Api atau JIN yang sering kali mempraktikkan pesugihan ini berasal dari marga MUNJU, yang kemudian melahirkan istilah “MUNJUNG”. Ketika seorang manusia membuat perjanjian dengan MUNJU, mereka akan diberikan beberapa pilihan binatang. Semakin besar binatang yang dipilih, semakin besar pula kekayaan, kekuasaan, atau kekuatan yang akan mereka terima, sesuai dengan persyaratan perjanjian awal. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi di muka.
Jika manusia memilih kekayaan, maka RUBH (energi), JIWA (termasuk kesadaran dan program mental), dan seluruh esensi dirinya akan dipindahkan ke dalam jasad binatang pilihan mereka oleh Bangsa GHULU, yang memiliki teknologi canggih bernama ENNALUDZ untuk menyesuaikan jasad dengan RUBH dan JIWA. Ini mungkin menjelaskan mengapa dalam beberapa kisah pesugihan, orang yang melakukan pesugihan menghilang dan hanya muncul dalam wujud binatang.
Jika manusia memilih kekuasaan, harganya biasanya jauh lebih tinggi. Mereka akan diberikan jasad baru, dan RUBH serta JIWA mereka akan dipindahkan ke jasad tersebut dengan ENNALUDZ yang diimplan agar cocok. Setelah itu, mereka akan menjadi semacam budak bagi Bangsa GHULU di dimensi yang berbeda. Biasanya, mereka akan ditempatkan di dimensi transisi untuk menjaga berbagai peralatan dan teknologi milik Bangsa GHULU. Durasi “kontrak” ini sangat bergantung pada tingkat kekuasaan yang mereka peroleh. Jika mereka adalah seorang raja atau pemimpin besar, mereka bisa diperbudak di dimensi tersebut selama jutaan tahun.
Jika manusia memilih kekuatan, syaratnya sering kali terkait dengan tujuh keturunan mereka. Misalnya, jika seseorang ingin menjadi sekuat harimau, kaum MUNJU akan menggunakan teknologi peleburan DNA antara manusia dan harimau, dengan memanfaatkan unsur ENNALUDZ. Dengan demikian, manusia tersebut akan memiliki kemampuan untuk berubah wujud menjadi harimau, naga, banteng, atau binatang lain yang dianggap kuat, kapan pun mereka mau. Namun, konsekuensinya adalah keturunan mereka juga akan mewarisi kemampuan ini, sehingga mereka juga akan dapat berubah menjadi harimau atau binatang lain. Ini mungkin menjadi asal-usul dari berbagai legenda tentang garis keturunan manusia harimau atau makhluk-makhluk mitologis lainnya.
Kisah-kisah tentang manusia harimau, manusia Cindaku (harimau jejadian penghisap darah bayi), dan berbagai makhluk mitologis lainnya yang kita dengar dalam cerita rakyat mungkin memiliki akar yang lebih dalam dari sekadar imajinasi manusia. Mereka bisa jadi merupakan jejak interaksi antara manusia dan Bangsa GHULU, melalui perantaraan Makhluk Api atau JIN. Fenomena-fenomena ini, yang dulunya mungkin dianggap sebagai hasil kerja sama dengan bangsa siluman atau jin, kini mendapatkan perspektif baru melalui lensa keberadaan bangsa alien dimensi yang bernama Bangsa GHULU. Pemahaman ini membuka jendela baru untuk menginterpretasikan berbagai misteri dan legenda yang telah menjadi bagian dari warisan budaya kita selama berabad-abad.




