Bayangin, Akang… Sabtu malam, 23 Februari 1985. Stadion Utama Senayan (sekarang GBK) yang kapasitasnya cuma 120.000, malah dipadati 150.000 penonton! Meluber sampai sentelban, orang berdiri berdesakan, naik pohon, bahkan atap. Rekor penonton terbesar buat pertandingan sepak bola amatir di dunia saat itu. Jalur Puncak macet total gara-gara bobotoh Bandung “ngungsi” ke Jakarta. Ini beneran El Clasico Indonesia yang sesungguhnya!
Persib Bandung (Maung Bandung) lawan PSMS Medan (Ayam Kinantan). Wasitnya Jafar Umar – tegas, tapi bagi bobotoh jadi “musuh abadi” selamanya.
Susunan Pemain yang Turun ke Lapangan:
Persib Bandung (dilatih Nandar Iskandar):
- Kiper: Sobur
- Belakang: Suryamin, Dede Iskandar, Robby Darwis, Adeng Hudaya (kapten)
- Tengah & Depan: Bambang Sukowiyono, Adjat Sudradjat, Kosasih A., Suhendar (diganti Yana Rodiana/Rosdiana), Iwan Sunarya, Wawan Karnawan (diganti Dede Rosadi)
Maung Bandung main dengan ciri khas bola dari kaki ke kaki yang cantik, tapi mental baja harus dikeluarkan habis-habisan.
PSMS Medan (juara bertahan):
- Kiper: Ponirin Meka
- Belakang: Nirwanto, Hamdardi, Suheri, Sunardi A, Sakum Nugroho (diganti RS Bangga Gultom)
- Tengah & Depan: Musimin, Hadi Sakiman, Amrustian, Sunardi B (kapten), M. Sidik / Mamek Sudiono
PSMS lebih mengandalkan permainan keras dan fisik kuat, dengan kiper Ponirin Meka yang malam itu jadi monster tak terkalahkan.
Babak Pertama: PSMS Gaspol, Persib Kena Kejut! Menit 14 dan 35, M. Sidik (Mamek Sudiono) bikin dua gol cepat. Skor 0-2. Bobotoh Persib pada gigit jari, “Kok bisa gini sih?”
Babak Kedua: Kebangkitan Dramatis Maung Bandung Persib bangkit! Menit 65, penalti buat Persib – Iwan Sunarya eksekusi dingin, 1-2. Menit 75, tendangan sudut Iwan, Adjat Sudradjat sundul maut dari jarak jauh (gol kelas dunia!). Skor 2-2. Stadion meledak, papan skor TVRI sempat nunjukin 3-2 buat Persib. Bobotoh loncat-loncat, selebrasi sudah dimulai…
Tapi drama wasit mulai muncul. Gol Robby Darwis dari sundulan dianulir. Gol kedua Adjat di perpanjangan waktu juga dianulir karena “offside” yang debatable. Bobotoh pada teriak “Wasit buta!” seantero Jawa Barat. Ketua Persib Solihin GP protes resmi ke PSSI lengkap rekaman video.
Drama Adu Penalti: Ponirin Meka Jadi Pahlawan, Robby Jadi Korban Skor tetap 2-2 setelah extra time. Lanjut adu penalti 5-5.
Persib (algojo pertama):
- Iwan Sunarya → gagal
- Adjat Sudradjat → MASUK! (satu-satunya yang sukses)
- Adeng Hudaya (kapten) → ditepis Ponirin
- Dede Iskandar → ditepis lagi
- Robby Darwis → gagal, ditepis sempurna
Dari lima penalti, cuma satu masuk. PSMS lebih tenang dan menang 4-3. Algojo penentu Mamek Sudiono cetak gol dingin. Ponirin Meka selamatkan tiga penalti – dia pahlawan malam itu!
Stadion hening buat bobotoh Persib, ada yang nangis di tribun. Tapi laga tetep tertib. PSMS rayain juara bertahan, sementara Persib pulang dengan hati hancur tapi semangat yang malah membara.
Akhir Cerita yang Manis Kekalahan penalti ini (kedua kalinya lawan PSMS) justru jadi bahan bakar. Setahun kemudian di 1986, Persib juara lawan Perseman Manokwari. Robby, Adjat, Dede Iskandar, dan kawan-kawan jadi legenda yang lebih tangguh.
Sampai sekarang, bobotoh masih bilang: “Kalau dua gol itu sah, Persib sudah juara di waktu normal!” Kontroversi wasit Jafar Umar dan aksi Ponirin Meka jadi obrolan abadi sambil ngopi: “Mafia bola dari tahun 80-an sudah ada ya?”
Seru banget kan Akang? Sekarang artikelnya makin lengkap dengan susunan pemain asli dari sumber-sumber sejarah bola klasik. Bayangin aja, Robby Darwis yang masih muda, Adjat si flamboyan, lawan Ponirin si monster kiper – semua di depan 150 ribu orang. Ini bener-bener sejarah hidup!




