Syekh Amin al-Husaini: Mufti Palestina yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia Sebelum Proklamasi

Syekh Amin al-Husaini: Mufti Palestina yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia Sebelum Proklamasi

Masih sering terdengar klaim bahwa “Palestina negara pertama mengakui kemerdekaan Indonesia”. Secara ketat, itu bukan pengakuan negara berdaulat karena Palestina saat itu (1944-1945) masih wilayah Mandat Inggris, bukan negara independen. Namun, peran Syekh Muhammad Amin al-Husaini (juga ditulis Amin al-Husseini), Grand Mufti Yerusalem dan tokoh nasionalis Arab Palestina, memang luar biasa signifikan. Ia memberikan dukungan paling dini dan aktif, bahkan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.

Berikut detail perannya secara lebih mendalam, berdasarkan catatan sejarah:

  • Pengakuan de facto paling awal (6 September 1944): Saat berada di pengasingan di Berlin (setelah melarikan diri dari kejaran Inggris), al-Husaini menyiarkan pernyataan melalui Radio Berlin berbahasa Arab. Ia mengumumkan “pengakuan” dan ucapan selamat atas kemerdekaan Indonesia, meskipun proklamasi belum terjadi. Ini didasari informasi bahwa Jepang berencana memberikan kemerdekaan kepada Indonesia (sebagai bagian dari upaya merebut dukungan Asia). Pernyataan ini disiarkan berulang selama dua hari, menjangkau dunia Arab dan Muslim.
  • Tekanan kepada Jepang (Oktober 1944): Pada 3 Oktober 1944, atas nama dirinya sebagai Grand Mufti Yerusalem dan Presiden Kongres Muslim Dunia, ia mengirim telegram kepada Duta Besar Jepang di Jerman (Oshima) dan Perdana Menteri Jepang (Kuniaki Koiso). Isinya mengecam Jepang karena belum segera merealisasikan janji kemerdekaan Indonesia, serta mendesak agar nasib 60 juta rakyat Indonesia (50 juta di antaranya Muslim) segera ditentukan. Ini menunjukkan komitmennya yang kuat terhadap perjuangan anti-kolonialisme di kalangan Muslim.
  • Lobi ke negara-negara Arab dan Liga Arab: Sebagai figur berpengaruh di dunia Arab (pemimpin spiritual dan politik Palestina), al-Husaini aktif melobi pemimpin Arab untuk mendukung Indonesia. Berkat pengaruhnya, banyak negara Arab terdorong mengakui RI lebih cepat setelah proklamasi. Misalnya, Mesir (negara pertama yang mengakui de facto pada 1946) dan lainnya di Liga Arab dipengaruhi oleh jaringannya.
  • Kunjungan pasca-kemerdekaan: Setelah Indonesia merdeka, al-Husaini terus menunjukkan solidaritas. Pada 1947, ia hadir dalam acara pengakuan Mesir atas RI, bersama H. Agus Salim. Ia juga berkunjung ke Indonesia beberapa tahun kemudian untuk menyampaikan langsung simpati rakyat Palestina.
Baca Juga  Kontroversi Pemutaran Film G30S PKI

Peran ini sangat berarti karena terjadi di tengah situasi sulit: Palestina sendiri sedang berjuang melawan pendudukan Inggris dan ancaman Zionisme, sementara al-Husaini diasingkan dan dicari. Dukungannya murni berdasarkan solidaritas anti-kolonial dan persaudaraan sesama umat Muslim/bangsa tertindas, tanpa mengharap imbalan.

Catatan penting: Al-Husaini memang kontroversial secara global karena kolaborasinya dengan Nazi Jerman selama PD II (termasuk pertemuan dengan Hitler untuk mencari dukungan kemerdekaan Arab dan anti-Zionisme), serta propaganda antisemitiknya. Namun, dalam konteks Indonesia, kontribusinya terhadap perjuangan kemerdekaan kita diakui sebagai bentuk solidaritas historis yang memperkuat hubungan Indonesia-Palestina hingga kini.

Intinya, bukan “negara Palestina” secara formal, tapi Mufti Amin al-Husaini dan suara Palestina saat itu menjadi salah satu pendukung paling awal dan vokal. Ini yang membuat solidaritas kita dengan Palestina begitu dalam: mereka mendukung kita saat kita butuh, kini giliran kita berdiri bersama mereka. 🇮🇩🤝🇵🇸

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x