Nama Kerajaan Pajajaran tentu sudah akrab di telinga masyarakat Sunda. Namun sebelum Pajajaran berdiri dan dikenal luas, terdapat satu kerajaan purba yang disebut sebagai fondasi awalnya: Anunggarungga.
Kerajaan ini diyakini berpusat di Ranca Buaya, pesisir selatan Jawa Barat—wilayah yang dalam narasi ini bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan poros utama peradaban Sunda kuno.
Posisi Anunggarungga dalam Garis Waktu Peradaban
Dalam garis waktu peradaban yang disebutkan dalam sumber, Anunggarungga muncul setelah era Lemurian dan sebelum berdirinya Salakanagara (Salaksa Nagara).
Urutannya menjadi:
Lemurian → Anunggarungga → Salakanagara → Pajajaran (Sunda Land)
Era Lemurian sendiri digambarkan sebagai fase peradaban sangat tua, dengan struktur spiritual dan kosmologis yang tinggi. Dalam beberapa narasi alternatif, terdapat kisah tersendiri mengenai keterkaitan antara Lemurian dan Atlantis—dua peradaban yang sering disebut dalam tradisi esoterik dunia. Namun, dalam konteks ini, garis sejarah yang dirujuk secara langsung adalah fase Lemurian sebagai pendahulu Anunggarungga.
Dengan demikian, Anunggarungga diposisikan sebagai fase transisi: dari era kosmologis-spiritual Lemurian menuju sistem kerajaan yang lebih terstruktur dan administratif.
Ranca Buaya: Pusat Asli Pajajaran?
Selama ini, Pajajaran kerap diidentikkan dengan Bogor. Namun dalam narasi ini dijelaskan bahwa pusat asli Pajajaran (Sunda Land) sebenarnya berada di Ranca Buaya, sementara wilayah Bogor hanyalah salah satu bagian dari kerajaan yang lebih luas.
Nama “Pajajaran” sendiri disebut berasal dari konsep wilayah yang berjajar di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Pola pesisir ini sudah terbentuk sejak era Anunggarungga dan berlanjut pada kerajaan-kerajaan penerusnya.
Ranca Buaya, dengan demikian, bukan sekadar titik geografis—melainkan simpul kesinambungan sejarah.
Pembangunan dan Arsitektur: Legenda Kekuatan Bhadaza
Pembangunan kerajaan Anunggarungga dikaitkan dengan tokoh sentral bernama Bhadaza.
Ia digambarkan memiliki kekuatan fisik sepuluh kali lipat manusia biasa. Konon, ia mampu membangun struktur hanya dengan tenaga tangan, bahkan mengukir batu hanya menggunakan jari telunjuknya.
Nama Bhadaza diyakini menjadi asal-usul istilah “bedas” dalam bahasa Sunda, yang merujuk pada kekuatan besar. Bahkan dikaitkan pula dengan istilah Bandung Bandawasa, simbol kekuatan luar biasa dalam kisah-kisah tradisional.
Di sini, legenda dan bahasa saling bertaut—kekuatan mitologis menjelma menjadi identitas kultural.
Sistem Kepemimpinan: Darindarta dan Struktur Awal Kerajaan
Di balik pembangunan fisik tersebut, terdapat tokoh Lemurian bernama Darindarta yang bertindak sebagai pembina sekaligus koordinator kerajaan.
Pada masa itu, sistem pemerintahan masih berbentuk koordinasi wilayah. Para pemimpin daerah berperan sebagai koordinator, yang kemudian dalam perkembangan sejarah bertransformasi menjadi sistem raja turun-temurun.
Struktur inilah yang menjadi fondasi bagi kerajaan-kerajaan berikutnya.
Dari Anunggarungga ke Pajajaran: Suksesi yang Berkesinambungan
Hubungan Anunggarungga dan Pajajaran dapat dipahami melalui tiga aspek utama:
- Suksesi Linear
Anunggarungga mendahului Salakanagara (Salaksa Nagara). Salakanagara inilah yang secara eksplisit disebut sebagai cikal bakal Pajajaran. - Pusat Geografis yang Sama
Kedua kerajaan tersebut berpusat di Ranca Buaya. Wilayah ini dipertahankan sebagai poros kekuasaan, meskipun administrasi berkembang ke daerah lain seperti Bogor. - Transisi Kepemimpinan
Setelah era Darindarta di Anunggarungga, muncul figur Aki Tirem (Arkhytirema) yang membina Salakanagara, memperkuat jembatan dari fase purba menuju bangkitnya Pajajaran.
Catatan Lemurian dan Istilah “Maninggarungga”
Dalam prasasti Lemurian di Sadahurip terdapat istilah “Avatara maningga rungga”, yang dimaknai sebagai pengendali alam keseluruhan jagad halus dan kasar.
Muncul pertanyaan mengenai kemungkinan hubungan antara istilah “Maninggarungga” dengan “Anunggarungga”. Namun hingga kini belum terdapat penjelasan definitif mengenai keterkaitan keduanya, sehingga masih menjadi ruang kajian terbuka.
Penutup
Jika dirangkai dalam satu garis besar, Anunggarungga memberikan fondasi struktur pemerintahan, pusat geografis di Ranca Buaya, serta kesinambungan menuju Salakanagara dan Pajajaran.
Narasi ini menempatkan Ranca Buaya sebagai poros sejarah Sunda kuno—bukan sekadar wilayah pesisir, melainkan titik awal dari perjalanan panjang peradaban.
Kalau Akang mau, kita bisa bikin satu artikel khusus yang membahas relasi Lemurian dan Atlantis dalam perspektif narasi Sunda kuno. Itu bisa jadi konten yang dalam dan “mind blowing” kalau dibedah serius.




