Islam: Penyerahan Diri kepada Tuhan dan Rahmat Semesta
Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, seringkali kita terjebak dalam definisi yang sempit, bahkan untuk konsep sebesar Islam. Padahal, kata “Islam” itu sendiri berasal dari istilah bahasa Arab yang secara fundamental berarti “berserah diri kepada Tuhan”. Dengan demikian, Islam memiliki arti “penyerahan”, atau “penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Maha Pencipta”. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan muslim.
Melampaui Definisi Agama: Memahami Islam Sejati sebagai Penyerahan Diri dan Rahmat Semesta
Seringkali kita terjebak dalam kotak-kotak sempit definisi, terutama ketika berbicara tentang sesuatu yang seluas dan sedalam Islam. Dokumen ini bertujuan untuk mengajak pembaca merenungkan kembali esensi Islam, melampaui batasan formalistik, dan melihatnya sebagai sebuah penyerahan diri yang universal kepada Tuhan, serta rahmat bagi seluruh alam semesta. Ini adalah sebuah refleksi bagi mereka yang ingin memahami Islam tidak hanya sebagai dogma, tetapi sebagai sebuah cara hidup yang membawa kedamaian dan kebaikan.
Apakah Islam adalah sebuah “agama”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agama diartikan sebagai “ajaran atau sistem kepercayaan yang mengatur tata cara peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan adat istiadat, dan pandangan dunia”. Definisi ini, meskipun benar secara harfiah, terasa menyempitkan dan kurang menangkap kedalaman Islam yang sesungguhnya. Definisi ini cenderung membatasi Islam hanya pada aspek formalistik seperti ritual dan dogma, padahal hakikat Islam jauh melampaui itu.
Bagi saya, dan seharusnya bagi setiap muslim, Islam bukanlah sekadar agama dalam pengertian sempit tersebut. Islam adalah penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Ini adalah sebuah konsep yang universal, sebuah fitrah yang tertanam dalam setiap diri manusia, bahkan sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika kita memahami Islam sebagai “penyerahan diri”, maka para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad pun, seperti Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Nuh, adalah seorang “muslim”. Mereka semua berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam menjalankan risalah-Nya, mendakwahkan tauhid, dan membimbing umat mereka menuju kebaikan. Kisah-kisah mereka dalam kitab suci menunjukkan konsistensi dalam penyerahan diri kepada kehendak Ilahi, tanpa pernah menyimpang. Bukankah ini esensi dari “islam” itu sendiri?
Lantas, bagaimana dengan umat Nabi Muhammad SAW? Kita diberi gelar “muslim” karena Nabi Muhammad membawa ajaran Islam yang menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya. Ini bukan berarti ajaran sebelumnya tidak “islam”, melainkan ajaran Nabi Muhammad datang untuk melengkapi dan menyempurnakan syariat yang ada, membawa rahmat bagi seluruh alam. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi panduan yang komprehensif bagi kita untuk mencapai penyerahan diri yang paripurna.
Sangat tragis rasanya ketika sebagian umat Islam di masa kini, mungkin karena kurangnya pemahaman atau terpengaruh oleh interpretasi yang sempit, justru menyempitkan pengertian Islam. Mereka terjebak pada definisi “agama” yang formalistik dan menggunakannya sebagai alat untuk mengkafir-kafirkan saudaranya sendiri. Bukankah ini ironis? Bukankah justru tindakan semacam itu bertentangan dengan ajaran rahmatan lil alamin yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW? Islam mengajarkan persaudaraan, toleransi, dan kasih sayang, bukan pengucilan atau permusuhan berdasarkan perbedaan penafsiran. Ketika definisi agama disempitkan, ruang untuk berdialog, memahami, dan berkolaborasi pun ikut menyempit, menciptakan jurang di antara sesama muslim dan bahkan dengan pemeluk agama lain.
Islam itu indah. Ia datang sebagai rahmat bagi semesta, sebagai ajaran yang memanusiakan manusia, yang menjunjung tinggi keadilan, kasih sayang, dan kedamaian. Ia tidak datang untuk memecah belah, melainkan untuk menyatukan hati di bawah panji tauhid, penyerahan diri kepada Tuhan Yang Esa. Mari kita kembali pada hakikat Islam yang universal, yang melampaui sekat-sekat formalistik, dan menjadikannya sumber inspirasi untuk menebarkan kebaikan di seluruh penjuru bumi. Dengan memahami Islam sebagai penyerahan diri yang tulus kepada Tuhan, kita dapat mewujudkan ajaran-Nya yang sejati: menebar rahmat, bukan kebencian; membangun jembatan, bukan tembok.—–




