Skakmat Ade Armando untuk JK: WFH Bukan Berarti ASN Malas-Malasan

Skakmat Ade Armando untuk JK: WFH Bukan Berarti ASN Malas-Malasan

Baru-baru ini saya nonton video Ade Armando yang membahas kritik Jusuf Kalla (JK) soal kebijakan Work From Home (WFH) satu hari seminggu untuk ASN. Dan jujur, saya merasa Ade Armando berhasil memberikan “skakmat” yang cukup elegan.

Jusuf Kalla mengkritik kebijakan ini dengan keras. Menurut beliau, kalau ASN boleh WFH satu hari (khususnya Jumat), itu sama saja melatih mereka untuk malas. JK bilang pemerintah seharusnya mendidik masyarakat supaya tidak gampang istirahat, apalagi saat ada masalah atau krisis. ASN justru harus lebih produktif, bukan malah disuruh pulang ke rumah.

Saya mengerti kekhawatiran JK. Beliau berasal dari generasi yang terbiasa dengan disiplin kerja konvensional, di mana kehadiran di kantor dianggap ukuran utama kerja keras. Tapi setelah mendengar penjelasan Ade Armando, saya jadi punya pandangan yang lebih lengkap.

Pertama, Ade langsung menegaskan ada kesalahpahaman besar di sini. WFH satu hari bukan berarti ASN hanya kerja 4 hari seminggu. Mereka tetap bekerja 5 hari penuh. Hanya saja, satu hari di antaranya dilakukan dari rumah. Ini soal fleksibilitas lokasi, bukan pengurangan jam kerja. Perbedaannya sangat krusial.

Kedua, Ade berbagi pengalaman pribadinya selama lebih dari 30 tahun sebagai dosen (yang notabene juga ASN). Dia sering mengerjakan riset, menyiapkan materi ajar, menulis artikel, dan memeriksa ujian dari rumah. Semua bisa dilakukan secara online dengan hasil yang tetap baik. Dari situ saya sadar: produktivitas sebenarnya tidak ditentukan oleh di mana kita duduk, melainkan oleh apa yang kita hasilkan.

Ketiga, pemilihan hari Jumat untuk WFH bukan keputusan asal-asalan. Hari Jumat memang cenderung lebih ringan aktivitasnya di instansi pemerintah. Ada salat Jumat bagi yang Muslim, senam kantor, upacara, atau kerja bakti. Jadi, dampak terhadap pelayanan publik tidak akan terlalu signifikan.

Baca Juga  Sampai Kapan Angkot dan Taksi Petahana Mampu Bertahan?

Keempat, kebijakan ini lahir sebagai respons terhadap krisis energi global. Perang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia naik tajam. WFH satu hari diharapkan bisa menghemat konsumsi BBM dan biaya transportasi ASN yang setiap hari bolak-balik kantor. Di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah, langkah penghematan ini terasa masuk akal.

Saya juga setuju dengan poin Ade bahwa kita sudah punya pengalaman berharga saat pandemi COVID-19. WFH saat itu menjadi keharusan, dan banyak ASN yang tetap bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik secara daring. Artinya, ini bukan hal yang benar-benar baru.

Yang lebih menarik lagi, di banyak negara maju seperti Islandia, Inggris, dan Jepang, eksperimen kerja 4 hari seminggu justru menunjukkan hasil positif: karyawan lebih bahagia, stres berkurang, tapi produktivitas tetap terjaga atau bahkan meningkat.

Inti dari semua ini sebenarnya sederhana: birokrasi kita perlu berubah dari budaya “absen” menjadi budaya “output”. Kalau target kerja sudah jelas, laporan bisa dikirim secara online, dan hasilnya bisa diukur, maka lokasi kerja seharusnya tidak lagi menjadi masalah utama.

Di akhir video, Ade Armando mengatakan bahwa JK mungkin terlalu terpaku pada pengalaman masa lalu, sementara dunia sudah bergerak cepat ke arah digitalisasi. Pemerintah sendiri menyatakan bahwa kebijakan ini baru uji coba selama dua bulan dan akan dievaluasi hasilnya.

Kesimpulan saya yang tegas:

Saya berdiri di pihak Ade Armando. Kekhawatiran JK memang penting sebagai pengingat, tapi argumennya sudah ketinggalan zaman. Di era digital sekarang, menilai kerja hanya dari “duduk di kantor” adalah cara berpikir lama yang harus ditinggalkan. WFH bukan ajang malas-malasan, melainkan kesempatan untuk bekerja lebih pintar dan efisien — asalkan pemerintah berani terapkan pengawasan ketat, target jelas, dan sanksi tegas bagi yang abuse sistem.

Baca Juga  Anda Sedang Menjalankan MLM atau Money Game?

Kalau uji coba dua bulan ini berhasil, ini bisa menjadi langkah awal reformasi birokrasi yang jauh lebih modern. Kalau gagal, ya kita evaluasi dan perbaiki. Tapi satu hal yang pasti: Indonesia tidak boleh takut mencoba hal baru hanya karena “dulu begini caranya”.

Masa depan kerja sudah berubah. Yang masih ngotot mempertahankan cara lama justru berisiko membuat birokrasi kita semakin ketinggalan. Lebih baik kita maju bersama digitalisasi daripada terjebak dalam nostalgia produktivitas masa lalu.

Bagaimana pendapat Akang-Teteh? Setuju dengan kesimpulan tajam ini, atau mau aku sesuaikan lagi?

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x