LINE, Sosmed Dahsyat Kayak Fitur Canggih Yang Banyak Dilupakan Orang

LINE, Sosmed Dahsyat Kayak Fitur Canggih Yang Banyak Dilupakan Orang

Sebetulnya saya sudah cukup lama menginstall LINE, namun aplikasi ini seperti tenggelam oleh hingar bingar Facebook, WhatsApp, Instagram. Udah setahun lebih saya gak melirik LINE yang terinstall di HP saya. Apalagi ternyata teman-teman saya jarang yang berkomunikasi dengan aplikasi ini.

WhatsApp seolah-olah menjadi satu-satunya Messenger yang mendominasi platform percakapan kita dengan orang lain. Saat terjadi heboh aturan baru WhatsApp dan hebohnya orang-orang yang mengajak pindah ke Telegram, Signal, dan BIP, tiba-tiba saja saya kok kepingin lihat fitur-fitur apa saja sih yang sekarang ada di LINE? Soalnya udah lama banget gak update informasi. Selain itu, saya lihat di SIGNAL dan BIP di HP saya ternyata sepi-sepi aja. Gak banyak teman kontak saya yang pindah ke sana seperti yang dihebohkan di berita-berita online. Mungkin kebetulan saja data-data kontak saya memang gak merasa penting untuk pindah chat ke platform lain di luar WhatsApp.

Setelah sekeompok netizen “hijrah” ke SIGNAL dan BIP, ramai-ramailah mereka mulai mengeluh, di sosmed “Hei, pengembang BIP dan Signal, tolong tambahin donk Fitur Stories eperti yang ada di WhatsApp. Kami para pedagang online butuh fitur itu untuk berjualan!” begitu celoteh mereka.

Salah satu keluhan utama para pemakai baru SIGNAL dan BIP adalah : gak ada fitur stories, gak bisa update status harian. Bagi saya pribabdi pun, fitur ini sangat penting. Daily status sering sekali bisa membuka percakapan antara saya dan teman-teman kontak saya. Tanpa stories, Saya pribadi sering merasa kagok ujug-ujug menyapa kontak tanpa alasan sekedar basa-basi seperti, “Hai apa kabar?” Apalagi klo sebelumnya jarang banget ngobrol dengan orang tersebut.

STORIES juga sudah jadi kebutuhan utama teman-teman yang berbisnis atau berjualan online. Memajang produk-produk yang kita jual di stories merupakan cara promosi yang paling sopan dan tidak mengganggu privacy teman-teman yang ada di kontak kita.

Ternyata LINE punya fitur stories ini. Jadi, menurut saya sih, ngapain juga pindah ke SIGNAL atau BIP yang gak ada atau belum ada fitur storiesnya? Lucu juga sih dengar alasan orang pindah ke BIP, seperti, “Ayo, Wan, kita sama-sama hijrah dari WhatsApp ke BIP. Kita harus dukung BIP. Aplikasi ini dikembangkan oleh komunitas muslim Turki dan didukung penuh oleh Presiden Erdogan!” Hah? Sejak kapan aplikasi messenger punya agama? 😀

Update status di LINE bahkan lebih canggih dari WhatsApp. Update statusnya udah mirip dengan Facebook, ada di dua tempat : POST dan STORIES. POST itu seperti kita update status di timeline Facebook, sedangkan Stories, ya mirip dengan di WhatsApp yang hilang dengan sendirinya setelah 24 jam. Fitur POST ini juga bisa disetting public kayak di Facebook. Bisa terlihat donk sama orang-orang yang belum berteman dengan kita? Wah, kalau itu saya belum bersaksi sendiri, he he.. Intinya sih, saya kok baru nyadar ya klo ternyata LINE ini ternyata canggih dan kekinian.

Dulu banget pas awal install, LINE itu identik dengan sosmed para ABG, dianggap gak cocok lah buat Om-Om dan Tante-tante.  Bapak-bapak dan emak-emak gaptek memang bakal kerepotan dengan beberapa fitur chatting di LINE, seperti kadang secara otomatis merubah tulisan kita menjadi emoticon unik yang bergaya anak muda bangeth lah. Dulu nya, sebelum di WhatsApp ada STICKER-nya, LINE ini justru sudah sangat kaya akan STIKER, LINE bisa dianggap pelopor di bidang stiker-stikeran yang ada di Messenger. Kalau sekarang, rasanya sih semua aplikasi messenger yang sudah dilengkapi banyak stiker khan.

“Gw kurang suka pake LINE, Wan,” cetus teman saya di timeline Facebook

“Lho, kenapa, apa karena lo udah merasa jadi tante-tante ya?” tanya saya lebih lanjut

“Enak aja! Gw bukan tante-tante, tapi emak-emak, he he” jawabnya. ” Soalnya, di LINE itu, orang yang gak kita kenal bisa ujug-ujug minta pertemanan meski mereka gak tahu nomor HP kita. Klo di WhatsApp khan harus tahu nomor HP-nya dulu, baru otomatis terhubung. LINE juga sering disalahgunakan orang buat nyari selingkuhan. Dan juga, gak susah lho cari One Night Stand di LINE.” pungkasnya.

Hmm.. begitu ya? Soal gampang berteman dengan orang tak dikenal, LINE memang punya fitur NEARBY, untuk melihat siapa saja di radius terdekat posisi kita yang juga menggunakan aplikasi LINE. Fitur ini sebetulnya bisa di ON-OFF. Kalau kita gak pingin diintip “tetangga”, ya tinggal matikan saja fitur ini. Kayak orang susah aja, he he… Mungkin fitur ini justru mungkin bermanfaat bagi orang-orang “kesepian” yang ingin cari teman baru, atau orang yang hobinya memang cari kenalan baru, dengan pembenaran, masa sama tetangga gak kenal? Harusnya khan kita saling mengenal hingga sampai 40 rumah ke depan, belakang, dan kanan kiri kita. Gaya hidup masa kini di kota-kota besar mungkin sudah semakin individualis hingga kita banyak yang gak kenal sama tetangga-tetangga kita sendiri. Mungkin LINE ini berusaha membuat orang-orang yang bertetangga bisa lebih saling terhubung. Tapi masalahnya, orang  mungkin banyak yang sudah trauma dengan banyaknya berita di media online tentang penculikan anak oleh orang tak dikenal yang berkenalan lewat media sosial Facebook. Bagaimanapun juga Medsos itu cuma alat bantu, akan manjadi manfaat atau mudharat ya tergantung bagaimana cara kita memanfaatkannya.

Soal One Night Stand?  Benarkah LINE sudah separah itu? Sepengamatan saya sih, mungkin orang lebih banyak mencarinya dari aplikasi MICHAT yang pernah saya pernah bahas di artikel khusus sebelumnya. Kalau memang udah niat cari maksiat sih, memangnya WhatsApp, Instagram, Telegram dan Twitter gak bisa dipake untuk cari maksiat? Pada dasarnya semua aplikasi Sosmed adalah ibarat pisau bermata dua. Mau dipakai untuk manfaat atau maksiat, dua-duanya bisa, itu pilihan pengguna. Cuma memang saat ini seolah-olah terbentuk pola meskipun tidak ada kesepatakan resmi,  seolah-olah orang-orang yang berniat bisnis dan silaturahmi pilih pake WhatsApp dan orang-orang yang cari prostitusi cenderung pake MICHAT.

Last but not least, apapun aplikasi messenger-nya, siapapun pengembang aplikasinya, mereka semua cuma alat bantui, bisa bermanfaat untuk keberkahan atau kemaksiatan,  ya tergantung dari kesepatakan para pemakainya. Telegram juga banyak lho dipakai untuk berbagi link-link film bokep dan bajakan. Tidak tertutup kemungkinan BIP pun dipakai untuk tujuan negatif tersebut. Tapi ah, jangan sampai dech. Lihat MiChat aja udah pusing. Gak usah nambah aplikasi lain buat konten begituan. Tapi, itu semua akan selalu ditentukan oleh komunitas para pemakainya.

Comments

comments

You cannot copy content of this page