Hari ini kita akan membahas salah satu tokoh paling unik sekaligus kontroversial dalam sejarah Indonesia: KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab kita kenal sebagai Gus Dur.
Bagi sebagian orang, beliau adalah simbol toleransi, pluralisme, demokrasi, dan kebangsaan. Seorang ulama yang berpikir melampaui zamannya. Tapi bagi sebagian yang lain, beliau dianggap terlalu nyeleneh, terlalu bebas, bahkan dituduh merusak tatanan agama. Ada yang menganggapnya tidak layak jadi pemimpin. Namun tak sedikit pula yang meyakini bahwa Gus Dur adalah sosok yang dianugerahi keistimewaan luar biasa.
Di kalangan orang-orang terdekatnya, beredar banyak sekali kisah yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Kisah-kisah yang membuat sebagian orang percaya bahwa Gus Dur bukan hanya cerdas, tapi juga memiliki karamah.
Salah satu cerita terjadi pada tahun 2000, ketika Gus Dur melakukan kunjungan ke India setelah lawatan ke Eropa. Saat pesawat hendak mendarat di Bandara New Delhi, landasan tertutup awan hitam pekat. Pilot kesulitan melihat dan sesuai prosedur, pendaratan seharusnya dialihkan demi keselamatan.
Namun pengalihan itu berarti jadwal kepresidenan akan terganggu.
Sang pilot lalu bertanya, “Gus Dur, kita paksa mendarat di sini atau pindah bandara?”
Saat itu, Gus Dur terlihat komat-kamit. Seperti sedang berdoa. Pilot menunggu dengan cemas. Tiba-tiba, awan pekat di depan pesawat terbuka, membentuk celah yang cukup untuk pendaratan. Pesawat pun mendarat dengan aman. Uniknya, tak lama setelah roda menyentuh landasan, awan itu kembali menutup.
Pilot mencoba menjelaskan secara rasional sebagai fenomena alam biasa. Tapi ia juga mengakui, sepanjang kariernya menerbangkan pesawat, belum pernah melihat kejadian seperti itu.
Cerita semacam ini bukan satu dua. Terlalu banyak untuk dirangkum dalam satu pembahasan. Tapi kali ini kita fokus pada satu sisi yang menarik: kemampuan “membaca masa depan”.
Tahun 1999, ketika Gus Dur diangkat menjadi Presiden RI, ia menunjuk Sarwono Kusuma Atmadja sebagai Menteri Kelautan, kementerian baru saat itu. Sarwono menolak. Ia ingin melanjutkan studi di Amerika Serikat.
Namun Gus Dur mengingatkan, “Kamu lupa ya, tahun 1986 kita pernah ngobrol. Saya bilang suatu saat saya jadi presiden, kamu jadi menteri kelautan.”
Sarwono terdiam. Ia ingat percakapan itu. Dan benar saja, tahun 1999, Gus Dur menjadi presiden dan Sarwono diminta memimpin kementerian tersebut.
Kebetulan? Atau sesuatu yang lain?
Kisah serupa terjadi pada Luhut Binsar Pandjaitan. Saat Habibie menjadi presiden, Luhut ditunjuk sebagai Dubes RI untuk Singapura. Ia sebenarnya enggan, tapi sebagai prajurit, ia tak bisa menolak perintah.
Gus Dur berkata kepadanya, “Tidak usah berangkat. Sebentar lagi Habibie lengser. Saya yang jadi presiden. Kamu nanti di kementerian, bukan dubes.”
Luhut mengira itu hanya candaan. Tapi Gus Dur menambahkan, “Saya belum batal puasa. Saya tidak bohong.”
Tak lama kemudian, terjadi Sidang Umum MPR. Hasilnya mengejutkan banyak pihak: Gus Dur terpilih menjadi presiden. Dan Luhut kemudian ditarik pulang untuk masuk kabinet.
Bukan hanya itu. Said Aqil Siradj pernah diberi pesan, “Kamu tidak akan jadi Ketua PBNU sebelum umurmu lewat 55 tahun.” Dan memang, ia baru terpilih setelah usia tersebut.
Ahok pernah diramalkan akan menjadi gubernur, saat ia sendiri menertawakan kemungkinan itu. Jokowi pun disebut Gus Dur berpotensi jadi presiden jika enam bulan pertama kepemimpinannya di Solo berjalan baik. Kita tahu bagaimana akhirnya.
Apakah ini ramalan? Analisis politik yang jenius? Atau intuisi yang sangat tajam?
Sebagian orang melihatnya sebagai kecerdasan membaca peta kekuasaan. Sebagian lain melihatnya sebagai karamah seorang wali.
Di luar kisah-kisah itu, Gus Dur juga dikenal dengan kebiasaan uniknya: bisa tidur di mana saja. Istilah Sundanya, pelor—nempel bantal langsung molor.
Dalam rapat kabinet, ia sering berbicara singkat, lalu menyerahkan pembahasan kepada wakilnya, Megawati, dan tertidur. Bahkan sampai mendengkur. Namun ketika rapat selesai, ia bangun dan mampu merangkum seluruh isi diskusi dengan sangat akurat.
Apakah benar-benar tidur? Atau tetap menyimak dengan caranya sendiri?
Gus Dur memang sulit ditebak.
Humornya pun legendaris. Saat berbincang dengan Shimon Peres dari Israel, Gus Dur melontarkan candaan bahwa Israel bisa jadi lebih kaya jika berani mengimpor BH dari Prancis dalam jumlah besar. Ketika ditanya apa hubungannya, Gus Dur menjawab dengan khasnya: “Beli satu dapat dua.” Lalu menjelaskan bahwa jika dipotong, bisa jadi dua kopiah.
Humor yang absurd, tapi cerdas. Membuat lawan bicara tertawa sekaligus berpikir.
Gus Dur juga kerap mengkritik para presiden Indonesia dengan gaya sarkastik tapi menggelitik. Ia mampu menyampaikan kritik keras tanpa kehilangan sisi kemanusiaan dan kelucuan.
Mungkin yang paling dirindukan dari sosok seperti Gus Dur adalah keberaniannya meredakan ketegangan. Ia berbeda pendapat tanpa membakar. Ia mengkritik tanpa membenci. Ia menyejukkan di tengah panasnya perdebatan.
Kini Gus Dur memang telah tiada. Namun warisannya tetap hidup—dalam gagasan, dalam cerita, dan dalam kenangan bangsa ini.
Apakah beliau sekadar jenius? Ataukah seorang yang diberi keistimewaan lebih?
Biarlah setiap orang menafsirkan dengan caranya masing-masing.
Yang jelas, Gus Dur bukan tokoh biasa.




