Doktrin, Dogma, dan Keimanan

Doktrin, Dogma, dan Keimanan

Dalam buku pelajaran agama Islam untuk SD, pengertian iman adalah meyakini dengan sungguh-sungguh. Iman kepada Allah, meyakini dengan sungguh-sungguh tentang keberadaan Allah. Demikian pula dengan butur-butir Rukun Iman yang lain. Iman kepada Malaikat, Nabi dan Rasul, Hari Akhir, Qodha dan Qodhar, artinya adalah meyakini dengan sungguh-sungguh tentang keberadaan malaikat, nabi dan Rasul, Hari Akhir, serta Qodha dan Qodhar tersebut. Ada teman bertanya pada saya, kalau sekedar meyakini tanpa pernah mempersaksikan, lalu apa bedanya iman dengan dogma? Reaksi teman-teman saya yang lain juga berbeda-beda. Ada yang berkata “di dalam agama Islam yang kita yakini memang banyak doktrin dan dogma. Ada juga yang tersinggung, dia tidak sudi dengan pendapat orang yang mensejajarkan istilah doktrin dan dogma dengan keimanan.

Jadi, apa bedanya percaya, yakin, dan beriman? Saya pribadi setuju dengan definisi berikut :

Kepercayaan bisa berasal dari berita. Keyakinan bisa berasal dari katanya. Tetapi Keimanan haruslah berasal dari persaksian.  Dari sini jelas, keimanan berada di level yang lebih tinggi dari keyakinan, apalagi kepercayaan. Selama ini, kita sudah beriman atau baru percaya?

Pengertian doktrin adalah ajaran dalam ilmu atau bidang tertentu seperti politik, agama oleh sesorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya: doktrin Islam liberal di Indonesia, doktrin Monroe di Amerika Serikat.

Dogma (dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadang kala dogmata) adalah kepercayaan atau doktrin yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Bukti, analisis, atau fakta mungkin digunakan, mungkin tidak, tergantung penggunaan.

Secara definisi, “Doktrin” merupakan bentuk tindakan mengharuskan atau memaksakan bahwa suatu kasus harus diyakini dan dibenarkan seperti apa yang disampaikan. Sementara, “Dogma” adalah suatu keyakinan terhadap sesuatu yang tidak boleh diubah oleh adanya akal rasio atau pendapat/ide-ide manusia.

Definisi iman juga mungkin perlu banyak dikaji ulang. Selama ini, banyak kejadian sehari-hari yang kita alami yang mungkin bisa membuat kita merasa sudah beriman.

Contoh 1 :

Istri saya berkata, “Anak kita sekarang sudah taat menjalankan shalat 5 waktu. Kalau sholatnya terlewat, misal dia ketiduran setelah magrib, dia pasti bangun sekitar tengah malam, karena dia tahu klo sholat terlewat itu berdosa. Alhamdulillah, dalam hatinya sudah tumbuh iman.

Contoh 2 :

Dari obrolan dengan teman.

“Kita ini khan beragama Islam karena kita lahir dari keluarga yang beragama Islam. Seandainya orang tua kita beragama lain, belum tentu kita saat ini jadi orang Islam.”

Teman saya menjawab, “kita harus bersyukur, kita lahir dari keluarga muslim,  karena dari kecil kita sudah bisa merasakan lezatnya iman.”

Contoh 3

Rukun iman ada 6

Iman kepada Allah
Iman kepada malaikat
Iman kepada kitab Allah
Iman kepada Para Rasul
Iman kepada hari akhir
Iman kepada Qodha dan Qodar

Dengan hafal ke-6 butir di atas di luar kepala, benarkah itu sudah bisa jadi indikator keimanan kita?

Contoh 4

Teman saya yang beragama nasrani berkata, “Iman itu beda dengan percaya. Kalau percaya, lihat dulu baru percaya. Kalau beriman, bisa terlihat karena percaya. Saya beriman, itu sebabnya saat saya melihat ke atas awan, di sana saya bisa melihat wajah Yesus.”

Dari 4 contoh di atas, sebetulnya di situ, mewakili definisi iman apa tidak ya?Sudahkah kita semua sepakat pada arti percaya, yakin, dan beriman ini?

Namun definisi iman sebagai level di atas percaya setelah bersaksi pun susah terpikirkan orang. Coba saja lihat apa arti iman sama wikipedia.

Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang – orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. Atau juga pandangan dan sikap hidup.

Para imam dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Talib: “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.” Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.” Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

Di mana titik temunya ya?

Mana yang levelnya lebih tinggi? Beriman atau percaya? Tentu saja beriman bukan? Beriman itu lebih dari sekedar percaya. Jika orang bisa percaya dari sekedar informasi, logikanya beriman itu membutuhkan hal yang lebih tinggi dari sekedar menerima informasi yang serba katanya. Beriman itu harusnya berarti percaya karena dia telah bersaksi atau menyaksikan sendiri.  Ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari, kira-kira sebagai berikut :

Saya percaya kamu orangnya baik, feeling aja sih, bisa benar bisa salah. Level selanjutnya, saya yakin kamu orangnya baik, teman-teman sekelas kamu bilang begitu, begitu juga tetangga-tetangga kamu. Level lebih tinggi lagi, saya beriman bahwa kamu orangnya memang baik, sudah sebulan terakhir ini kamu ternyata benar-benar “helpful”, banyak menolong saya, ternyata benar apa yang dikatakan teman-teman sekelasmu dan para tetangga kamu itu, saya alami sendiri betapa baiknya kamu.

Pada saat ditanya bagaimana rasanya garam. Kamu percaya gak garam rasanya asin? Bukan sekedar percaya dan yakin. Saya sudah beriman kalau garam itu rasanya asin dan gula itu rasanya manis. Tiap hari saya alami dan rasakan sendiri dalam makanan dan minuman yang saya konsumsi.

Selanjutnya, apa arti bersaksi? Ini ada beberapa contoh kata bersaksi dalam kehidupan kita sehari hari.

Saksi nikah misalnya. Dia adalah orang yang menjadi saksi di acara akad nikah. Saksi nikah melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang menikah, siapa saja yang datang di acara prosesi nikah, dia juga tahu siapa saja undangan yang datang saat akad nikah berlangsung. Dia menyaksikan dan mendengar ijab kabul yang terucap. Dia betul-betul bersaksi dengan segala penglihatan dan perasaannya bukan?

Contoh saksi yang lain, saksi yang dihadirkan  di pengadilan. Yang disaksikan oleh saksi di pengadilan itu apa saja? Misalnya saksi dari peristiwa pencurian. Sang saksi itu, dia melihat kejadian saat proses pencurian berlangsung, atau dia melihat saat si pencuri yang tertangkap basah tersebut melarikan diri, atau mungkin juga dia ikut mengejar si pencuri yang melarikan diri tersebut. Jadi persaksiannya jelas dan syah.

Nah, kenapa definisi persaksian ini seolah berubah 180 derajat ketika kita membahas masalah kesaksian pada Allah? Saat mulut kita berkata “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah”, cukupkah itu dianggap sudah bersaksi? Kenapa kesaksian pada Allah seolah cukup dengan lisan mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut? Memangnya sudah sejauh mana sih kita menyaksikan Allah? Sudahkah kita melihat wujud Allah? Atau minimal bisa merasakan kehadiran Allah? Jika belum bersaksi, bisa gak kita dianggap masih berbohong kepada Allah? Mulut mengatakan “aku bersaksi”, mata, hati, pikiran dan segala panca indra yang dimilikinya, benarkah sudah bersaksi?

Mungkin teman-teman bertanya, memangnya Allah bisa kita saksikan? Bukankah kita ini teramat sangat lemah di hadapan-Nya? Ya iya lah, kita memang sangat lemah di hadapan-Nya. Tapi, Ingat gak dengan sifat wajib bagi Allah itu apa saja? Yang dulu pernah kita hafalkan sebagai tugas pelajaran agama di sekolah?Sifat Allah yang pertama kali disebut adalah “wujud”, bukan “ghaib”, khan? Artinya Allah itu ada wujudnya. Segala sesuatu yang ada wujudnya, bisa kita persaksikan.

Bagi saya pribadi, kalimat “Aku bersaksi bahwa tiada Illah selain Allah”, itu sebetulnya baru sekedar ikrar, atau komitmen kita, untuk terus meningkatkan kualitas diri kita agar persaksian kita semakin tinggi.  Setelah itu, ada perjuangan panjang dan berat yang harus kita lalui untuk terus menerus meningkatkan derajat kesaksian kita.  Kesaksian itu ada level-levelnya. Semakin tinggi levelnya, kualitas kesaksiannya semakin baik.

Orang yang sudah bersaksi itu, harusnya, idealnya, ya seperti yang dicontohnya para Nabi, Rasul, atau Utusan, mereka mampu berkomunikasi langsung dengan Allah. Beda banget ya dengan kebanyakan dari kita, yang pada saat mengucapkan kalimat syahadat saja kadang sadar kadang tidak. Jika kalimat syahadat hanya sekedar diucapkan tanpa kesadaran seperti orang yang sekedar membaca mantra, apa lebihnya donk kita dari burung beo yang sudah dilatih mengucapkan kalimat syahadat? Ada juga yang bilang, “itu khan nabi, kang. nabi itu utusan, beda donk fasilitasnya dengan kita yang cuma manusia biasa”

Apa cuma nabi yang bisa berdialog langsung dengan Allah? Jangan lupa ya, Iblis dan malaikat saja bisa berdialog dengan Allah. Ada khan ayat-aya penjelasannya di dalam kitab suci? 🙂

Comments

comments

You cannot copy content of this page