Assalamualaikum. Selamat datang kembali…
Pemerintah Indonesia telah menetapkan kriteria kemiskinan berdasarkan pengeluaran per bulan. Mereka yang pengeluarannya kurang dari Rp500.000 per bulan masuk kategori miskin ekstrem, dan seterusnya, hingga ada 10 desil yang dipetakan. Dari situlah pemerintah membuat peta jalan bantuan sosial—berupa uang tunai, pelatihan, layanan, atau subsidi. Banyak program yang sudah kita kenal, seperti Program Keluarga Harapan, di mana setiap tiga bulan sekali ada transfer langsung Rp600.000 kepada desil 1 hingga 4. Ada juga bansos sembako BPNT dan lain sebagainya.
Tapi, tahukah Akang-Teteh? Ada dugaan, bahkan bisa disebut teori konspirasi, bahwa sebagian besar dana bansos itu justru bukan untuk menyejahterakan rakyat, melainkan untuk mempertahankan kemiskinan di Indonesia. Mengapa harus begitu? Karena, jika ada orang yang tidak memiliki kompetensi dan integritas tetapi ingin menjadi pejabat, ia harus memanfaatkan kaum fakir miskin.
Skenarionya adalah sebagai berikut:
- Ciptakan atau kumpulkan orang-orang miskin.
- Sadarkan mereka bahwa kemiskinan itu disebabkan oleh penguasa sebelumnya atau nasib.
- Citrakan diri kita sebagai malaikat penolong.
- Berikan bantuan-bantuan nyata yang menunjukkan kita bukan hanya omong kosong.
- Raup suara dari mereka.Setelah menjabat, bagaimana cara mempertahankan kekuasaan? Tentu saja, kemiskinan itu harus dipertahankan.
Soal benar atau salahnya, saya serahkan pada Akang-Teteh. Namun, jika kita melihat jejak digital para penguasa di Indonesia, skema ini terdengar cukup masuk akal.
Jejak yang Terhubung
Coba perhatikan baik-baik. Pada 6 November 2023, menjelang Pemilu, tim kampanye nasional Prabowo-Gibran dibentuk. Luar biasanya, dari empat menteri dan wakil menteri yang menjadi tim sukses, semuanya berhubungan dengan kesejahteraan dan ekonomi rakyat:
- Erlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
- Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan.
- Alvian Syahnur, Wakil Menteri Ketenagakerjaan.
- Raja Juli Antoni, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang.
Apakah ini sebuah kebetulan? Mari kita lanjutkan.
Pada 21 November 2023, Presiden Jokowi mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 53 tahun 2023, yang berdampak pada Prabowo dan Gibran yang tidak perlu cuti atau meninggalkan jabatan mereka saat menjadi calon presiden dan wakil presiden. Aneh, bukan?
Kemudian, pada 22 November 2023, saat menyalurkan bantuan beras di Papua, Pak Jokowi mengatakan bansos akan diperpanjang hingga 2024 dengan alasan menjaga stabilitas harga, padahal saat itu harga sedang stabil.
Lanjut lagi, 15 Desember 2023, Presiden mengumumkan bahwa jumlah penerima bantuan akan dinaikkan dari 21,3 juta menjadi 22 juta jiwa. Tentu saja ini disambut sorak sorai gembira warga.
Puncaknya, pada 26 Desember 2023, salah satu tim sukses yang juga menteri—Zulkifli Hasan—mengatakan kepada para penerima bantuan: “Bantuan ini siapa yang kasih? Yang kasih itu Pak Jokowi! Jadi, silakan coblos… PAN itu Jokowi, Jokowi itu PAN, dan sebagainya.”
Kemudian pada 9 Januari 2024, Pak Jokowi mengumumkan perluasan dan perpanjangan bansos. Sekitar satu minggu kemudian, 15 Januari, muncul kartu bansos yang diiringi janji bahwa ini adalah pemberian dari Presiden.
Apa yang saya sampaikan adalah urutan kejadian yang sistematis. Dari pembentukan tim sukses yang didominasi pejabat ekonomi, hingga kampanye yang mengaburkan batas antara Jokowi sebagai Presiden dan Jokowi sebagai ayah dari cawapres. Bantuan sosial yang seharusnya program pemerintah menggunakan uang negara, diklaim sebagai bansos pribadi dari Pak Jokowi, oleh siapa? Oleh tim sukses yang juga menjabat menteri saat itu.
Skema ini persis dengan teori konspirasi tadi. Masyarakat dibuat merasa miskin, diberi bantuan, dan diharapkan tetap miskin agar bisa memilih calon yang sama di periode selanjutnya. Tapi, apakah ini benar-benar disengaja?
Propaganda Kemiskinan
Ada, Baraya. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah sengaja memelihara kemiskinan. Dari mana? Dari penekanan dan penegasan para politisi dan juru kampanye dari Sabang sampai Merauke. Slogan mereka selalu menekankan bahwa masyarakat itu miskin dan mereka datang sebagai malaikat penyelamat. “Membela rakyat,” “membela orang cilik,” bahkan “wong cilik.” Artinya apa? Rakyat yang mau dibela harus mengakui diri sebagai “wong cilik”.
Inilah yang melahirkan ide bansos. Bantuan diberikan kepada “orang-orang kecil” sehingga mereka terpapar pikiran bahwa mereka miskin, tidak berdaya, dan tidak punya daya tawar. Ketika pemerintah datang memberi bantuan, itu dianggap sebagai anugerah yang luar biasa. Tidak heran, banyak orang di Indonesia yang sedikit-sedikit mengaku “saya mah orang kecil,” “saya mah orang miskin,” padahal tidak. Ini adalah dogma yang dipropagandakan, sadar atau tidak.
Pada akhirnya, ketika semua orang mengaku miskin, meski sebenarnya tidak, bantuan sosial yang diberikan pemerintah banyak yang salah sasaran. Mengapa? Karena banyak orang kaya dan mampu yang pura-pura miskin.
Ini bukan sekadar kasus per kasus. Mari kita lihat datanya:
- 23.800 orang penerima bansos adalah ASN/PNS dengan gaji di atas UMR.
- Di Jawa Barat, 140.000 orang penerima bansos bergaji di atas UMR.
- Di Jawa Tengah, 85.000 orang.
- Di Jawa Timur, 30.000 orang.
Mengapa data ini kacau? Karena mentalitas masyarakat yang “pura-pura miskin.” Mereka berharap bantuan, dan program pemerintah pun selalu menawarkan “ini gratis, itu murah,” alih-alih fokus membangun negara.
Data lain menunjukkan betapa parahnya kesalahan sasaran ini:
- Program Keluarga Harapan: 45% tidak tepat sasaran.
- PIP Indonesia Pintar: 43% salah sasaran.
- Subsidi LPG 3 kg: 60% tidak tepat sasaran.
- Subsidi BBM: 82% tidak tepat sasaran.
- Subsidi listrik: 58,6% tidak tepat sasaran.
Kerugiannya bisa mencapai ratusan triliun rupiah. PPATK menyebut ada 10 juta rekening bansos yang salah sasaran, dan Menteri Sosial mengatakan 500.000 penerima bansos menggunakannya untuk judi online. Mengerikan, bukan?
Dari total bansos Rp500 triliun, sebagian besar justru digunakan para pejabat untuk rapat di hotel mewah. Rapat tentang bagaimana cara menurunkan angka kemiskinan, menggunakan uang yang seharusnya membantu orang miskin.
Jadi, apakah ini disengaja? Saya pikir ada unsur kesengajaan. Kenapa semua ini salah sasaran? Karena pendataan yang bermasalah. Kenapa pendataan bermasalah? Karena rakyat yang kaya dan mampu selalu mengaku miskin. Kenapa rakyat mengaku miskin? Karena politisi selalu menebarkan propaganda bahwa mereka miskin, tidak berdaya, dan hanya politisi yang bisa menolong.
Sebuah Solusi
Jadi, apa solusinya? Saya berharap Akang-Teteh tidak menanyakan solusi pada saya, tetapi memikirkannya sendiri. Namun, jika Akang-Teteh tetap ingin tahu, saya punya tawaran.
Jika ada dana bansos Rp500 triliun, daripada dibagikan dan tidak membuat rakyat kaya, bahkan justru membuat mereka semakin miskin, lebih baik kita gunakan untuk pendidikan. Bukan pendidikan formal, tetapi pendidikan yang relevan dengan tren masa kini.
Misalnya, kita bisa mengontrak para influencer yang mengajarkan kemandirian finansial. Beri mereka dana besar untuk melatih para trainer di seluruh Indonesia, yang kemudian disebar ke setiap RT, RW, dan kelurahan. Ajarkan kurikulum dasar dalam 6 bulan:
- Cara mendapatkan uang.
- Cara mengelola uang.
- Cara menguasai aset.
Yang paling penting, tanamkan mental bahwa mereka bisa kaya atau miskin bukan karena pemerintah, melainkan karena diri mereka sendiri. Ajak mereka melihat sumber daya di sekitar—limbah yang bisa diolah, potensi kreativitas yang bisa dimonetisasi—semua diajarkan melalui pendidikan.
Sambil itu, kita bisa bernegosiasi dengan YouTube agar 70% tayangan di Indonesia berhubungan dengan edukasi. Konten joget-joget atau prank yang tidak jelas sebaiknya dikurangi. Mengapa media sosial? Karena di zaman sekarang, itulah yang dipercaya publik.
Jadi, bukan bansos yang menyejahterakan masyarakat, melainkan pendidikan. Saya yakin, biaya untuk ini jauh lebih murah daripada menggelontorkan Rp500 triliun hanya untuk bansos yang pada akhirnya sia-sia.
Seperti kata Pak Harto, jika negara berutang atau mengeluarkan uang, jangan dipakai untuk bansos, melainkan untuk sesuatu yang produktif. Dan salah satu investasi terbaik kita adalah melalui jalur pendidikan.
Itu saja, akang-Teteh. Terima kasih sudah menyimak. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.




