Mungkinkah Akses AI akan hilang?

Mungkinkah Akses AI akan hilang?

Kalian, apakah mulai terasa sekarang? Ya, banyak AI baru dengan teknologi yang luar biasa, tapi harganya mulai tidak masuk akal dan makin sulit diakses kelas menengah. Enggak usah jauh-jauh; ChatGPT Pro, Perplexity Max, Gemini Google AI Ultra, harganya sekarang Rp3,2 juta per bulan. Grok yang heavy itu Rp4,8 juta per bulan. Harga AI per bulan ini sudah setara dengan gaji UMR di beberapa daerah.

Mungkin dari kalian ada yang mikir, “Ah, enggak apa-apa lah, Kang. Saya mah enggak perlu pakai yang berbayar, pakai yang gratis aja udah cukup.” Ya, memang sekarang masih bisa bilang begitu. Tapi, dalam waktu singkat, bahkan sekarang pun, teknologi AI yang, hanya 1—2 tahun lalu kita anggap gila dan membuat pekerjaan jauh lebih produktif, sekarang sudah jadi standar bare minimum. Semua orang, semua perusahaan, sudah harus bisa pakai AI.

Dulu, kalau kalian bisa pakai AI, kalian ada di depan dibanding mereka yang belum. Semua orang setara; entah kalian duduk di bangku SMA, kuliah, kerja, direktur perusahaan kecil, CEO perusahaan raksasa, atau orang kaya dengan aset triliunan, akses AI-nya nyaris sama. Bedanya paling antara versi gratis dan berbayar, itu pun kemampuan AI-nya enggak terlalu besar selisihnya—yang berbayar juga masih cukup murah, kelas menengah pun bisa akses.

Sekarang, semua itu sudah berubah total. Kalau kalian masih berpikir bisa bersaing hanya modal AI gratis, pikir lagi deh. Karena sekarang, kemampuan pakai AI itu sudah jadi ekspektasi, bukan lagi nilai tambah. Juli 2025, ketika video ini dibuat, kalau kalian masih belum mau pakai AI karena bilang AI itu “dajal” atau “utusan iblis”, ya, mungkin kalian memang enggak pernah butuh teknologi. Tinggal aja di gua, bikin api pakai gosok dua batang kayu, enggak usah pakai HP, enggak usah pakai teknologi sama sekali.

Saya sampai heran banget, waktu saya buat artikel ramalan AI, isinya sudah jelas-jelas berdasarkan data—data yang juga bisa kalian cari sendiri di internet—tapi masih ada aja yang nganggep ramalan AI itu sama kayak ramalan paranormal atau Mama Lauren. Itu sama saja kayak bilang ramalan cuaca seminggu ke depan atau proyeksi ekonomi setahun ke depan yang memang berdasarkan data itu klenik. Memang aneh pemikiran seperti itu.

Sekarang ini, kita berada di masa transisi: AI makin eksklusif untuk kalangan menengah ke atas. Gue bakal jelasin logikanya, apa yang akan terjadi, dan apa yang sebaiknya kalian lakukan biar tetap aman dari tren eksklusivitas ini. Jangan sampai tenggelam dan ketinggalan.

Baca Juga  Internet Indihome Lemot? Mungkin Modemnya Cuma Perlu Direset Saja

Di tahun 2025, sudah ada banyak banget AI yang bisa kalian akses, biasanya ada versi gratis sama yang berbayar. Yang gratis itu kayak free trial, tapi pasti ada batasan-batasannya, jadi kalau mau akses penuh atau fitur lebih, kalian harus upgrade. Setahun lalu saja, ChatGPT—AI paling terkenal itu—hanya punya versi free sama versi berbayar seharga 20 dolar AS (sekitar Rp380.000 per bulan). Sekarang, ada opsi berbayar yang 10 kali lipat, 200 dolar atau Rp3,8 juta per bulan. Kenaikannya gila.

Sebenarnya, kalian enggak harus bayar semahal itu, masih bisa pakai yang gratis atau yang 20 dolar. Tapi, kenapa bisa terjadi seperti ini? Perusahaan pembuat AI seperti ChatGPT itu butuh modal sangat besar—literalnya triliunan. Tebak berapa untung OpenAI di tahun 2024? Saya kasih waktu lima detik. Ini perusahaan yang dipakai hampir semua pengguna modern di dunia… Jawabannya: minus 5 miliar dolar. Ya, OpenAI rugi Rp81 triliun hanya di tahun 2024. Padahal itu sudah termasuk penghasilan dari langganan dan lainnya.

Intinya, mereka enggak bisa terus kayak gini. Pasti ada tuntutan untuk segera untung. Enggak ada perusahaan yang niatnya “sedekah” terus, mereka harus profit. Nah, di sinilah kalian harus mulai ngerti logika gue kenapa video ini dibuat.

Saya enggak bilang AI yang kalian pakai sehari-hari, versi gratis, bakal hilang suatu saat. Malah sebaliknya, saya yakin versi gratis bakal tetap ada. Perusahaan tetap butuh versi gratis supaya AI-nya terus berkembang. Tapi kenapa mereka masih mau kasih gratis? Kalian harus sadar, kalau kalian pakai produk gratis, artinya kalian adalah produknya.

AI itu butuh belajar, harus terus ngobrol dengan jutaan orang tiap harinya supaya paham pola pikir manusia, kebutuhan, dan mendapat feedback untuk terus di-update. Dari mana mereka belajar sebanyak dan secepat ini? Jawabannya: dari para pengguna gratis.

Kalau boleh spekulasi, nanti, untuk mengurangi biaya ini, AI gratis akan mengiklankan sesuatu ke kalian. Bisa saja nanti muncul pop-up iklan seperti di Instagram atau TikTok, atau promosi saat kalian nanya produk, atau bahkan kalian harus nonton video yang tidak bisa di-skip sebelum pakai AInya. Entah tahun depan, entah beberapa waktu lagi, tapi menurut gue, itu pasti akan terjadi.

Atau bisa saja, iklannya lebih implisit. Contoh, ChatGPT buka layanan iklan berbayar. Kalau kalian punya bisnis, misal jual pancing merek Indofish, lalu bayar ke ChatGPT supaya ketika orang tanya soal memancing atau ikan, brand Indofish muncul. Jenis iklannya implisit, tapi dampaknya AI gratis jadi tidak sepenuhnya objektif, makin berat biasnya karena ada sponsor di baliknya.

Baca Juga  Kebangkitan DeepSeek AI: Ancaman atau Peluang Untuk Masa Depan?

Tapi, kalian juga enggak wajib pakai AI yang bias kayak begitu. Mereka bakal tawarin, “Mau AI lebih cerdas dan objektif? Naikkan ke versi yang lebih mahal!” Murah kok, “hanya” seharga satu pegawai gaji UMR per bulan. Padahal, beda kualitas antara AI gratis, versi murah, sama yang mahal bisa sangat jauh. Kebanyakan video gue selama ini, 80% dibantu AI versi berbayar. saya enggak bisa produksi artikel dan konten video berkualitas kalau cuma pakai AI gratis.

Oke, balik lagi ke topik utama. AI yang kita pakai sekarang, baik gratis maupun berbayar, cepat atau lambat akan jadi makin mahal. Saya bisa prediksi, lima tahun ke depan, akan muncul AI yang per bulannya Rp10 juta per bulan—alias 10 kali lipat dari sekarang. AI kayak begini kemungkinan hanya untuk kalangan kaya dan bisnis besar, bukan untuk kelas menengah. AI yang semahal itu mungkin punya kemampuan yang bahkan sulit dibayangkan sekarang.

Sebagai contoh, AI versi “super” ini bisa diintegrasikan ke aplikasi bisnis pribadi, jadi konsultan perusahaan bernilai triliunan rupiah. Bisa saja dia nantinya mengganti tugas departemen HRD: mulai dari merekrut, menilai performa pegawai lewat CCTV, sampai merekomendasikan kenaikan gaji atau PHK. Semua dikerjakan AI, 24 jam nonstop, tingkat kepatuhannya pasti maksimal. Apakah dengan kemampuan gitu, gaji HRD plus anak buahnya yang ratusan juta masih relevan dibanding AI yang “cuma” Rp3 jutaan per bulan?

Bukan sekadar HRD, suatu saat AI bisa jadi konsultan, sales person, dan peran lain sekaligus. Harganya? Bisa saja nanti per bulan ratusan juta untuk kecerdasan tingkat dewa itu.

Sam Altman, pendiri OpenAI, bahkan pernah bilang, dia percaya akan ada perusahaan valuasi 1 miliar dolar yang cuma berisi satu orang dan satu AI saja. Dari kalimat itu, kita bisa melihat dengan jelas arah perkembangan AI: makin eksklusif, makin mahal, dan pengguna gratisnya makin terpinggirkan.

Ke depannya, AI berbayar yang sekarang kalian pakai akan jadi alat yang normal seperti langganan Netflix, Spotify, dan lainnya. Suatu saat, siapa pun yang masih pakai AI gratis akan dianggap ketinggalan zaman karena kualitasnya sudah jauh tertinggal. AI gratis seakan-akan cuma buat mereka yang tidak mampu bayar.

Baca Juga  Disrupsi Generative AI: Pelajaran dari Korban Pertama dan Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan

Jadi, dari semua ocehan tadi, kita harus ngapain?

Jujur, jawabannya enggak bisa untuk semua orang. Mohon jangan salahkan saya ya, tapi sistemnya memang bikin kayak gini, enggak semua orang bisa menang. Yang jelas, langkah pertama yang harus dilakukan adalah: cari cara agar kalian bisa memanfaatkan AI untuk menghasilkan uang lebih banyak lagi. Selama ini mungkin kalian sekadar pakai AI untuk hal-hal kurang produktif: mengubah foto jadi kartun, kerjain PR, atau bantu skripsi. Tapi, bukan begitu maksudnya.

Kalian harus benar-benar putar otak agar AI bisa dipakai untuk menghasilkan duit secara berkelanjutan. Kalau belum kebayang, awali dengan eksperimen untuk jangka pendek, tapi hindari template bisnis receh seperti jasa ngubah-ubah gambar pakai AI. Itu buang waktu—kenapa? Karena konsepnya sama kayak “bisnis” copy-paste berita menarik dari Google, padahal semua orang sudah punya akses Google. AI juga sama, semua orang sudah bisa pakai.

Persoalannya, enggak semua orang tahu cara maksimalin AI-nya, caranya beda-beda tergantung industri kalian, dan enggak ada rumus universalnya. Tapi, intinya, kalian harus cari jalan bagaimana AI bisa bantu kalian mengerjakan hal yang sebelumnya mustahil tanpa bantuan AI.

Step kedua, kalau kalian mampu bayar AI yang mahal, ambil dan manfaatkan maksimal. Jangan lama-lama mikirnya, waktu jalan terus, teknologi makin berkembang. Coba satu bulan saja, eksplor maksimal; lihat apa yang bisa kalian hasilkan bersama AI mahal itu. Anggap saja upgrade otak, bukan sekadar belajar dari AI, tapi juga upgrade kemampuan produksi, pengelolaan data, dan kreativitas kalian.

Faktanya, kini hampir semua orang punya AI di genggaman, semua pengetahuan di bumi bisa diakses. Yang membedakan cuma seberapa cerdas AI yang diakses, dan AI mana yang kalian punya: gratis, berbayar, atau paling mahal? Satu-satunya cara naik level hanyalah uang. Pahit, tapi itu fakta—dan juga peluang. Saya, dari tahun lalu, sudah puas coba belajar AI. Jangan sampai kalian telat, jangan malas pakai AI, apalagi anggap AI sesat atau “teknologi iblis.”

Saya bahkan bikin naskah podcast dengan AI, bentuknya entertainment, biar orang yang males belajar tetap dapat exposure kecanggihan AI, dan sadar teknologi ini secepat itu berkembang. Buat kalian yang telat mulai, sekarang mungkin malah bingung sendiri lihat perkembangan orang yang sudah duluan. Saat ini ternyata banyak banget orang yang belum paham harus mulai dari mana. Jadi, jangan ketinggalan info selanjutnya.

Oke Akang-Teteh, itu saja. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Bye-bye.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi