Pernah nggak, Akang-Teteh, mikir kalau Amerika Serikat dan Israel itu kayak pinang dibelah dua?
Keduanya lahir dari rahim sejarah yang nyaris sama: penaklukan tanah orang lain.
Amerika Serikat dibangun di atas kuburan suku Indian. Tanah leluhur mereka dirampas habis-habisan, penduduk aslinya disingkirkan, bahkan dibantai. Yang bikin miris, Hollywood lewat film koboi jadul berhasil memutarbalikkan cerita. Suku Indian yang sebenarnya hanya mempertahankan rumahnya, digambarkan sebagai kaum barbar dan penjahat. Padahal, mereka cuma korban pendatang yang datang numpang, lalu mengusir tuan rumah.
Pola yang sama persis sekarang terjadi di Palestina. Orang-orang dari Eropa didatangkan, diberi restu untuk menduduki tanah warga Palestina. Ketika pemilik sah tanah itu melawan, langsung diberi cap “teroris” atau “kaum barbar”. Mirip banget sama stempel yang dulu dipasang di dahi suku Indian.
Australia dengan suku Aborigin-nya, Selandia Baru dengan suku Maori-nya — semuanya punya luka yang sama. Selama ratusan tahun, dunia pura-pura buta. Ada aturan tak tertulis yang kejam: bangsa yang “maju” dan “kuat” seolah punya hak ilahi untuk merampas hidup bangsa yang dianggap “terbelakang”.
Hukum Internasional atau Tisu Toilet?
Lalu muncul PBB dengan segala aturan dan resolusi modernnya. Di atas kertas terdengar indah: negara tidak boleh menyerang negara lain seenaknya. Tapi bagi yang sudah pongah dengan kekuatannya, hukum internasional cuma dianggap selembar tisu toilet.
Lihat saja Israel yang sudah puluhan kali mengabaikan resolusi PBB. Bahkan ketika ribuan anak kecil di Gaza kehilangan nyawa, mereka tetap berdiri dengan bangga. Persis seperti masa kelam Amerika saat menghabisi anak-anak suku Indian dulu.
Tokoh sebesar Trump bahkan pernah terang-terangan bilang bahwa ukuran hukum baginya adalah kekuatannya sendiri. Intinya sederhana: “Gue kuat, gue bebas berbuat apa saja.”
Kenapa Dunia Diam Saja?
Jawabannya klasik: duit dan bedil. Karena militer mereka superior dan ekonomi mereka mencengkeram dunia, banyak negara memilih cari aman. Ada yang diam seribu bahasa, ada yang malah berlomba-lomba “bermesraan” supaya kepentingan politik dan ekonominya tetap aman — meski harus bayar mahal dengan harga diri bangsanya sendiri. Kabarnya beberapa negara Teluk sudah bertekuk lutut, dan sayangnya, Indonesia pun mulai kelihatan ingin ikut-ikutan.
Duri dalam Daging
Tapi di tengah kepatuhan dunia yang memalukan itu, ada satu duri yang bikin AS dan Israel tidak bisa tidur nyenyak: Iran.
Sejak Revolusi 1979, Iran memilih untuk tidak menjadi kacung. Sementara suku Indian, Aborigin, dan Maori bisa “dibersihkan” dari sejarah, Palestina ternyata tidak semudah itu. Iran berdiri tegak, bukan semata-mata karena urusan agama atau solidaritas sesama bangsa Arab, tapi karena prinsip kemanusiaan dasar: harus ada yang berani berkata “Cukup!” terhadap keberingasan yang sudah keterlaluan.
Di tengah segala sanksi dan tekanan berat, Iran sedang memainkan peran sejarah yang berani. Dan kita semua — termasuk Akang-Teteh dan aku — sedang menjadi saksi hidup dari drama besar abad ini.




