Jadi teringat masa SD: suatu hari di kelas SD, guru lagi semangat ngejelasin berbagai budaya dan agama dunia. Tiba-tiba dia bilang, “Anak-anak, bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia ini kita diajarkan untuk menyembah tuhan yang benar. Soalnya di Jepang, banyak orang yang menyembah matahari loh! Coba kalian pikir, kenapa mereka gak nyembah langsung saja pada Sang Pencipta Matahari?”
Langsung deh anak-anak pada melongo, mungkin sambil bayangin orang Jepang tiap pagi bangun, sujud ke langit sambil bilang “Ohayo, Matahari-sama!” sambil pegang bendera Hinomaru. Lucu banget kan? Tapi sebenarnya, cerita ini ada bumbunya yang bikin makin asyik. Yuk kita bedah bareng, santai tapi penuh fakta, biar Akang bisa ceritain ke siapa pun tanpa bikin bingung. 😄
Siapa Sih Dewi yang Bikin Matahari “Hidup”?
Namanya Amaterasu Ōmikami — artinya kurang lebih “Yang Menerangi Langit Besar”. Dia dewi matahari paling top di agama Shinto, agama asli Jepang yang sudah ada ribuan tahun. Menurut cerita kuno (dari buku Kojiki dan Nihon Shoki), Amaterasu punya adik cowok yang bandel banget namanya Susanoo (dewa badai). Suatu hari Susanoo bikin onar parah, Amaterasu kesel berat, terus ngumpet di gua!
Dunia langsung gelap gulita, tanaman mati, orang-orang panik. Para dewa lain panik juga, akhirnya mereka bikin pesta gede di depan gua, nari-nari, ketawa-ketawa, sampe ada dewi yang joget telanjang (serius!). Amaterasu penasaran, ngintip sedikit… langsung ditarik keluar. Cahaya balik lagi! Dunia selamat.
Cerita ini klasik banget, kayak drama keluarga tapi versi dewa-dewi. Dan gua itu katanya masih ada lokasinya di Jepang, namanya Amanoiwato Shrine.
Jadi, Benarkah Orang Jepang Sembah Matahari Tiap Hari?
Nggak sesederhana itu, bro.
Di Jepang modern, kebanyakan orang (sekitar 60-70%) kalau ditanya “kamu beragama apa?” jawabnya “nggak beragama” alias mushūkyō. Tapi mereka tetap ikut tradisi Shinto dan Buddha secara campur aduk — kayak pergi ke kuil pas Tahun Baru, atau doa buat ujian masuk sekolah.
Penghormatan ke Amaterasu lebih ke simbol budaya dan warisan leluhur, bukan ritual harian massal. Bendera Jepang (Hinomaru) itu lingkaran merah = matahari. Negara Jepang disebut Nippon atau Nihon, yang artinya “asal matahari terbit”. Kaisar Jepang dulu dianggap keturunan langsung Amaterasu, tapi setelah Perang Dunia II, status itu diubah jadi simbol negara aja.
Tempat paling sakral buat nyembah Amaterasu adalah Ise Grand Shrine (Ise Jingu) di Mie Prefecture. Kuil ini super suci, dibangun ulang total setiap 20 tahun sekali (terakhir 2013, berikutnya 2033) biar selalu “baru” dan suci. Tiap tahun ada festival besar seperti Kannamesai di Oktober, di mana mereka persembahin padi baru pertama sebagai ucapan terima kasih ke dewi matahari.
Banyak orang Jepang dateng ke sana buat berdoa, tapi lebih mirip hormat tradisi daripada “menyembah” dengan cara yang kaku. Shinto itu lebih ke menghargai alam, kebersihan, dan harmoni — matahari cuma salah satu dari ribuan kami (roh/dewa) yang mereka hormati.
Kenapa Guru SD Suka Bilang Begitu?
Karena buat anak kecil, penjelasan simpel itu paling nempel! “Orang Jepang sembah matahari” langsung bikin bayangan kuat: Negeri Matahari Terbit, bendera merah bulat, dewi cantik yang bikin dunia terang. Mirip kita bilang “orang Mesir kuno sembah Ra” atau “Hindu hormati sapi” — ada benarnya, tapi ada konteks yang lebih dalam.
Guru lagi pakai hook biar murid excited. Hasilnya? Anak-anak inget pelajaran, tapi kadang bawa pemahaman yang agak dilebih-lebihkan. Makanya sekarang kita klarifikasi bareng: ada benarnya, tapi di Jepang hari ini lebih ke budaya dan identitas nasional daripada keyakinan religius yang fanatik.
Kesimpulan yang Hangat Kayak Sinar Matahari Pagi
Jepang itu negara yang pintar banget nge-blend tradisi kuno sama kehidupan super modern. Amaterasu nggak lagi “disembah” kayak dulu, tapi cahayanya masih nerangin budaya mereka — dari anime yang pake motif dewa-dewi, sampe festival musim dingin yang rayain matahari balik bersinar.
Jadi next time kalau dengar ada yang bilang “orang Jepang sembah matahari”, Akang bisa jawab sambil senyum: “Iya, tapi lebih keren dari itu. Ada dewinya yang marah ngumpet di gua, terus dunia gelap… dan kuil sucinya dibangun ulang tiap 20 tahun!”




