Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat datang kembali di blog Kang Ridwan!

Akang-Teteh sekalian, saat ini kita sering hanya bisa meratapi sisa-sisa kejayaan peradaban Islam masa lalu. Dari Andalusia yang hilang, Baghdad yang pernah jadi pusat ilmu pengetahuan, hingga kekhalifahan yang membentang luas—kita seolah hidup di atas puing-puing gemilang tanpa mampu membanggakan pencapaian baru di era sekarang.

Pertanyaannya: sejak kapan sebenarnya retak-retak perpecahan ini mulai muncul? Banyak yang menuding era Al-Ma’mun, invasi Mongol, atau pergeseran kekuasaan ke Turki. Tapi menurut saya, benih perpecahan justru ditanam jauh lebih awal—tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Mari kita telusuri kronologinya dengan lebih jelas dan obyektif.

Rasulullah ﷺ selama 10 tahun di Madinah membangun fondasi negara yang luar biasa stabil. Legitimasi beliau sebagai Nabi dan pemimpin begitu kuat, sehingga tak ada yang berani mengganggu. Setelah wafatnya beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq menghadapi gejolak Riddah (pemberontakan murtad), tapi berhasil menyatukan umat. Kemudian Umar bin Khattab membawa Islam ke puncak awal kejayaan: sistem militer, administrasi, dan baitul mal yang tertata rapi, plus ekspansi wilayah yang masif.

Utsman bin Affan naik menjadi khalifah pada tahun 24 H (644 M) di usia sekitar 70 tahun—usia yang sudah sangat sepuh untuk zaman itu. Beliau memimpin selama 12 tahun (hingga 35 H/656 M). Enam tahun pertama kekuasaannya relatif damai dan penuh pencapaian besar. Di masanya, wilayah kekhalifahan mencapai puncak luasnya: dari Afrika Utara hingga perbatasan India. Beliau membangun armada laut pertama umat Islam yang berhasil menaklukkan pulau Cyprus dari Bizantium. Ekonomi makmur, perdagangan berkembang, dan yang paling abadi: Utsman menyatukan mushaf Al-Qur’an menjadi satu versi standar (mushaf Utsmani) yang kita pakai hingga sekarang. Ini adalah kontribusi luar biasa yang menjaga kemurnian wahyu dari perbedaan bacaan di wilayah yang semakin luas.

Baca Juga  Mengapa Pemerintah Menjadi Sasaran Kebencian di Media Sosial?

Namun, di paruh kedua masa pemerintahannya, masalah mulai muncul. Utsman adalah sosok yang sangat tulus, lembut, dermawan, dan ikhlas—bahkan dijuluki Dzu an-Nurain (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah ﷺ. Beliau dikenal dermawan luar biasa, sering membebaskan budak dan menyumbang harta pribadi untuk umat.

Tapi di sini letak pelajarannya: menjadi pemimpin negara tidak cukup hanya dengan hati yang baik. Seorang negarawan butuh visi kuat, administrasi handal, ketegasan dalam menegakkan keadilan, dan kemampuan mendengar realitas dari berbagai pihak. Usia yang sudah lanjut membuat Utsman kesulitan mengurus detail teknis sendirian. Beliau lalu mengandalkan Marwan bin al-Hakam, sepupunya yang cerdas dalam administrasi dan jaringan, sebagai sekretaris utama (kātib).

Marwan memang kompeten, tapi pengaruhnya yang terlalu dominan justru menjadi titik rawan. Informasi yang sampai ke Utsman sering disaring—beliau lebih banyak mendengar kabar baik tentang kemakmuran dan ekspansi, sementara di provinsi-provinsi seperti Mesir, Kufah, dan Basrah, rakyat mulai merasakan kesulitan: penegakan hukum yang melemah, lapangan kerja yang ketat, dan ketidakpuasan terhadap beberapa pejabat.

Lebih parah lagi muncul tuduhan nepotisme. Beberapa gubernur saleh dan kompeten peninggalan Umar (seperti Amr bin al-Ash di Mesir) diganti dengan kerabat dari Bani Umayyah. Ada yang masih muda atau dianggap kurang berpengalaman. Utsman mungkin percaya bahwa kerabatnya lebih bisa dipercaya untuk mengontrol wilayah yang luas, tapi ini memicu kecemburuan dan tuduhan bahwa kekuasaan dipusatkan ke satu klan. (Catatan sejarah menunjukkan bahwa tidak semua pengangkatan itu murni nepotisme—beberapa hanya pemindahan atau kelanjutan—tapi persepsi publik saat itu sudah memburuk.)

Kekecewaan memuncak. Delegasi dari Mesir, Kufah, dan Basrah datang ke Madinah menuntut perbaikan. Utsman yang baru sadar situasi sebenarnya langsung berjanji melakukan reformasi dan menenangkan mereka. Saat delegasi pulang, mereka menemukan surat palsu dengan stempel resmi khalifah yang memerintahkan gubernur setempat untuk membunuh pemimpin delegasi begitu mereka tiba. Banyak sejarawan (termasuk dari kalangan Sunni klasik) meragukan Utsman yang lembut hati menulis surat semacam itu. Diduga kuat, Marwan atau pihak di sekitarnya yang memanfaatkan stempel tersebut.

Baca Juga  Negara mana saja yang dianggap paling Islami oleh kaum Intelektual?

Surat palsu ini menjadi pemicu ledakan. Gelombang demonstrasi kedua jauh lebih besar dan anarkis. Rumah Utsman dikepung selama hampir 40 hari. Beliau menolak menggunakan kekerasan untuk mempertahankan diri demi menghindari pertumpahan darah sesama Muslim. Bahkan saat dikepung, beliau tetap berpuasa, membaca Al-Qur’an, dan memerintahkan pendukungnya (termasuk Hasan bin Ali dan Abdullah bin Zubair) untuk tidak melawan. Pada 17 Juni 656 M (18 Dzulhijjah 35 H), sekelompok pemberontak menerobos masuk dan membunuh beliau yang sedang membaca Al-Qur’an—sebuah tragedi yang meninggalkan luka mendalam.

Peristiwa ini disebut Fitnah Kubra (Fitnah Besar Pertama). Dari sinilah benih perpecahan umat mulai tumbuh subur: munculnya faksi-faksi politik yang berkembang menjadi Sunni, Syiah (yang awalnya lebih ke dukungan politik bagi Ali), dan Khawarij (kelompok radikal yang keluar dari barisan Ali karena ketidakpuasan). Isu qisas (hukum balas) atas pembunuhan Utsman menjadi pemicu Perang Jamal dan Siffin di masa Ali, yang akhirnya membuka jalan bagi dinasti Umayyah.

Pelajaran berharga buat kita semua:

  1. Ketulusan saja tidak cukup untuk memimpin. Harus dibarengi ketegasan, transparansi, dan mekanisme check & balance yang kuat.
  2. Pemimpin yang terlalu bergantung pada “penjaga gerbang” atau orang-orang terdekat berisiko kehilangan kontak dengan realitas rakyat.
  3. Isu kecil yang tidak ditangani cepat bisa menjadi bola salju perpecahan besar. Sejarah mengajarkan bahwa pertumpahan darah sesama Muslim adalah luka yang sulit sembuh—sampai hari ini kita masih merasakan getarannya.
  4. Dalam memilih pemimpin, lihat bukan hanya akhlaknya, tapi juga kapasitas, visi, dan kemampuan mengelola konflik.

Utsman bin Affan tetaplah sahabat Nabi yang mulia, syahid di jalan kebenaran menurut banyak ulama. Tapi tragedi ini mengingatkan kita: peradaban besar bisa retak bukan karena musuh luar, melainkan karena kelemahan di dalam—terutama ketika ketulusan tidak diimbangi dengan ketegasan dan kebijaksanaan politik.

Baca Juga  ZIRG - Senjata Pemusnah Peradaban

Terima kasih sudah menyimak sampai akhir. Semoga kita semua bisa ambil hikmahnya untuk membangun umat yang lebih kuat dan bersatu.

Saya Kang Ridwan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x