Kisah tentang anak-anak Adam dan Hawa selalu mengundang rasa penasaran. Siapa saja mereka? Berapa jumlahnya? Benarkah setiap kelahiran selalu kembar? Apakah nama-nama seperti Qabil, Habil, Seth, Iqlima, dan Labuda benar-benar tertulis dalam kitab suci, atau itu hanya cerita tambahan yang berkembang kemudian?
Untuk menjawabnya dengan jernih, kita perlu membedakan antara teks suci—Al-Qur’an dan Alkitab—dengan tradisi tafsir serta kisah Israiliyyat yang hidup dalam literatur klasik.
Al-Qur’an: Kisah Disebut, Nama Tidak
Dalam Al-Qur’an, kisah dua anak Adam yang salah satunya membunuh saudaranya terdapat dalam Surah Al-Ma’idah ayat 27–31. Namun yang menarik, Al-Qur’an tidak menyebut nama mereka. Teks hanya menyebut “dua anak Adam” (ibnai Adam), tanpa identitas personal.
Nama Qabil dan Habil tidak tertulis dalam Al-Qur’an. Demikian pula nama Syits (Seth).
Al-Qur’an memang sering menyampaikan kisah secara ringkas. Fokusnya adalah pelajaran moral, bukan detail genealogis. Dalam kisah dua anak Adam, pesan utamanya adalah tentang kedengkian, ketakwaan, penerimaan amal, serta konsekuensi dari pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.
Alkitab: Nama Dicantumkan Secara Jelas
Berbeda dengan Al-Qur’an, Alkitab—khususnya Kitab Kejadian (Genesis)—menyebutkan nama-nama tersebut secara eksplisit.
Dalam Kejadian pasal 4 disebut:
- Cain (Kain)
- Abel (Habel)
Kemudian dalam Kejadian 4:25 dan pasal 5 disebutkan:
- Seth
Selain itu, Kejadian 5:4 menyatakan bahwa Adam memiliki “anak-anak lelaki dan perempuan” lainnya, meskipun tidak dirinci satu per satu.
Jadi secara tekstual:
- Dalam Al-Qur’an, kisah ada tetapi nama tidak disebut.
- Dalam Alkitab, nama Kain, Habel, dan Seth disebut secara jelas.
Berapa Jumlah Anak Adam dan Hawa?
Pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah: sebenarnya berapa total anak-anak Adam dan Hawa?
Baik Al-Qur’an maupun Alkitab tidak memberikan angka pasti.
Al-Qur’an sama sekali tidak menyebut jumlah anak Adam dan Hawa. Alkitab pun hanya menyatakan bahwa Adam memiliki “anak-anak lelaki dan perempuan” tanpa menyebut totalnya.
Namun dalam tradisi tafsir dan sejarah klasik Islam, berkembang sejumlah riwayat tentang jumlah tersebut.
Salah satu riwayat yang populer menyebut bahwa Hawa melahirkan sekitar 20 kali, dan setiap kelahiran terdiri dari sepasang anak kembar: satu laki-laki dan satu perempuan. Jika riwayat ini diikuti, maka total anak Adam dan Hawa bisa mencapai sekitar 40 orang.
Ada pula versi lain yang menyebut angka berbeda, tetapi pola umumnya sama: kelahiran kembar secara berpasangan.
Penting dicatat, angka-angka ini bukan berasal dari Al-Qur’an, melainkan dari riwayat tafsir klasik yang banyak dipengaruhi oleh Israiliyyat dan tradisi sejarah lisan.
Cerita Kelahiran Kembar dan Aturan Pernikahan
Dalam versi riwayat yang paling terkenal, setiap kali Hawa melahirkan, ia melahirkan anak kembar: satu laki-laki dan satu perempuan.
Karena pada saat itu belum ada manusia lain di bumi, pernikahan antar anak-anak Adam menjadi satu-satunya cara melanjutkan keturunan manusia. Namun menurut riwayat tersebut, ada aturan khusus:
Anak laki-laki dari satu kelahiran harus menikah dengan anak perempuan dari kelahiran yang berbeda (silang kembar), bukan dengan saudari kembarnya sendiri.
Di sinilah muncul kisah tentang Iqlima dan Labuda.
Menurut versi populer:
- Iqlima adalah saudari kembar Qabil dan digambarkan lebih cantik.
- Labuda adalah saudari kembar Habil.
Qabil disebut menolak aturan tersebut karena ingin menikahi Iqlima, kembarannya sendiri. Konflik ini kemudian menjadi latar tambahan sebelum peristiwa kurban yang berujung pada pembunuhan Habil.
Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa kisah Iqlima dan Labuda tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Alkitab. Ia hidup dalam literatur tafsir klasik sebagai narasi tambahan.
Apa Itu Israiliyyat?
Israiliyyat adalah istilah dalam tradisi Islam untuk menyebut kisah-kisah yang bersumber dari tradisi Yahudi dan Nasrani yang masuk ke dalam penafsiran Al-Qur’an.
Pada masa awal Islam, kaum Muslim hidup berdampingan dengan komunitas Yahudi dan Nasrani. Beberapa tokoh Ahli Kitab yang masuk Islam, seperti Ka’ab al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih, dikenal memiliki pengetahuan luas tentang kisah para nabi berdasarkan Taurat dan tradisi rabbinik.
Ketika muncul pertanyaan tentang detail kisah yang tidak dirinci dalam Al-Qur’an, sebagian mufasir mengutip riwayat-riwayat tersebut.
Mengapa Tafsir Klasik Banyak Menggunakan Israiliyyat?
Ada beberapa alasan utama.
Pertama, Al-Qur’an memang tidak bertujuan menjadi kitab sejarah detail. Ia menyampaikan kisah secara selektif untuk menegaskan pesan akidah dan moral.
Kedua, manusia secara alami ingin tahu detail: siapa namanya, berapa jumlahnya, bagaimana persis kejadiannya.
Ketiga, pada masa awal Islam, interaksi intelektual dengan Ahli Kitab cukup intens.
Keempat, standar kritik riwayat dalam tafsir pada masa awal belum seketat disiplin ilmu hadits yang berkembang kemudian.
Karena itu, literatur tafsir klasik memuat berbagai riwayat tambahan, termasuk soal jumlah anak Adam, sistem kelahiran kembar, hingga nama-nama yang tidak disebut dalam kitab suci.
Sikap Ulama terhadap Riwayat Ini
Para ulama kemudian mengklasifikasikan Israiliyyat menjadi tiga kategori:
- Riwayat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah — boleh diterima.
- Riwayat yang bertentangan — harus ditolak.
- Riwayat yang tidak bertentangan dan tidak pula ditegaskan — boleh diceritakan, tetapi tidak diyakini secara pasti.
Kisah tentang jumlah 40 anak, kelahiran kembar, serta nama Iqlima dan Labuda termasuk kategori ketiga. Ia tidak menjadi bagian dari pokok ajaran, tidak memengaruhi akidah, dan tidak menjadi dasar hukum.
Mana yang Teks, Mana yang Tradisi
Dari seluruh pembahasan ini, kita bisa menarik garis yang jelas:
- Al-Qur’an menyebut kisah dua anak Adam tanpa nama dan tanpa jumlah total anak.
- Alkitab menyebut Kain, Habel, dan Seth, tetapi tidak menyebut jumlah pasti seluruh anak.
- Jumlah sekitar 40 anak dan teori kelahiran kembar berasal dari riwayat tafsir klasik.
- Nama Iqlima dan Labuda tidak terdapat dalam kitab suci.
Memahami perbedaan antara wahyu dan tradisi membantu kita bersikap proporsional. Kita dapat menghargai kekayaan literatur klasik tanpa mencampurkannya dengan teks yang bersifat otoritatif.
Pada akhirnya, inti dari kisah anak-anak Adam bukanlah angka atau nama tambahan. Pesan terpentingnya tetap tentang moral manusia: tentang iri hati, ketaatan, pengendalian diri, dan konsekuensi pilihan.
Detail boleh menarik. Namun nilai dan pelajaranlah yang menjadi inti utama dari kisah tersebut.




