Pelajaran Mahal dari Ole Romeny: Seni Menghargai Striker Kelas Dunia di Skuad Merah Putih

Pelajaran Mahal dari Ole Romeny: Seni Menghargai Striker Kelas Dunia di Skuad Merah Putih

Apakah kalian benar-benar sadar bahwa selama bertahun-tahun kita menyaksikan timnas Indonesia membangun serangan yang indah hanya untuk mati di ujungnya sendiri? Bukan karena kurang usaha, bukan karena taktiknya salah, tapi karena kita tidak punya seseorang yang tahu cara membunuh peluang. Ya, kalian tak salah lihat. Bola yang jaraknya tak lebih dari dua meter dari mulut gawang, yang kalau dipikir-pikir tinggal diceploskan saja, tinggal disosor, tapi justru melenceng atau melambung entah ke mana.

Kita tentu belum lupa dengan rentetan kejadian yang sempat dicatat oleh berbagai media online, momen di mana seisi stadion dipaksa ternganga dan geleng-geleng kepala karena fenomena open goal miss alias gagal cetak gol di depan gawang kosong. Salah satu yang paling menguras emosi adalah tragedi gawang kosong Witan Sulaeman saat melawan Thailand di penyisihan Grup A Piala AFF 2022 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Di menit ke-39, Witan dengan cerdik berhasil merebut bola dari blunder kiper Thailand. Ia tinggal berhadapan dengan gawang yang benar-benar kosong melompong dari jarak dekat. Alih-alih menggelinding mulus ke dalam gawang, tendangan kaki kirinya justru melenceng melebar membentur tiang luar. Sebuah peluang emas yang kala itu sampai membuat Coach Shin Tae-yong ternganga, pasrah bertekuk lutut ke tanah, dan tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.

Atau yang paling tak terlupakan, hanya berjarak dua hari sebelum momen Witan itu, ada momen ketika sudah tidak ada lagi halangan apa pun bagi bek senior Hansamu Yama Pranata saat bersua Brunei Darussalam. Menerima umpan silang mendatar yang sangat matang dari Asnawi Mangkualam di depan gawang, Hansamu yang berdiri bebas tanpa kawalan sama sekali tepat di depan garis gawang—yang jaraknya tidak lebih dari satu meter—justru membuat bola melambung tinggi ke atas mistar gawang. Tak heran jika komentator siaran internasional sampai menyebutnya sebagai “miss of the tournament” karena gawang sudah ternganga lebar dan masih melenceng juga.

Itu baru sebagian kecilnya. Coba kalian perhatikan ini. Dan ternyata itu semua masih belum cukup.

Dan kemudian ia datang. Iya, pemain itu bernama Ole Romeny. Bola yang bagi orang lain tak masuk akal untuk jadi gol, baginya itu akan menjadi sebuah gol. Ketika berhadapan dengan penjaga gawang ia tidak panik, tidak juga terburu-buru. Dengan tenang ia mengeksekusi peluang itu menjadi gol. Penalti? Ya, terlalu mudah untuk pemain ini. Bola kemelut di kotak penalti yang semua orang berebut, ia yang paling tahu harus ada di mana. Dan kalau perlu, kiper pun ia gocek dulu baru dimasukkannya bola itu.

Baca Juga  Gosip Para Pemain Brazil di Persib Bandung

Mencetak gol bagi pemain ini bukanlah sesuatu yang terlalu dramatis. Ia melakukannya seperti hal yang sudah seharusnya—rutin, wajar, dan hampir tanpa ekspresi berlebihan setelahnya. Simpel saja logikanya: kasih bola ke Ole, nanti dia yang urus sisanya.

Tapi Ole bukan tipikal striker yang hanya berdiri menunggu bola datang ke mulut gawang. Ia menjemput turun, bergerak jauh ke lini tengah hanya untuk memastikan aliran bola itu terus berjalan. Dan ketika bola kembali kepadanya di area berbahaya, ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Dan untuk urusan memancing emosi lawan, Ole ini cukup tengil. Gerakannya tidak hanya efektif, tapi juga mengusik konsentrasi lawan. Ada sedikit keangkuhan di sana, tapi keangkuhan itu cukup berhasil mengusik ketenangan lawan.

Tapi yang paling menarik ketika ia ditanya soal rahasianya bagaimana bisa ia mencetak lima gol dari enam pertandingan saat bermain di GBK, jawabannya sederhana. Ia merasa enjoy tanpa tekanan sama sekali. Bayangkan, stadion penuh ekspektasi, 270 juta orang di pundaknya, dan ia justru merasa seperti bermain tanpa beban. Itulah yang membedakan pemain dengan mentalitas kelas atas dari yang lainnya. When I play GBK with my brothers aside, I just feel free and I don’t feel pressure at all. And when I’m in those situations, I feel confident, you know, so I don’t even think about pressure or failure missing the chance.

Dan sekarang coba kalian bayangkan sejenak, entah sudah berapa puluh gol yang ia bisa cetak andai ia sudah bergabung bersama timnas sejak era Shin Tae-yong. Karena sebelumnya kita sudah lihat sendiri betapa banyaknya peluang emas yang terbuang begitu saja. Bola yang seharusnya sudah bersarang di gawang, tapi entah perginya ke mana.

Kita tentu masih ingat ketika Shin Tae-yong resmi menangani Timnas Indonesia pada 2020. Ia mewarisi skuad yang butuh banyak pekerjaan. Bukan hanya soal teknik, tapi soal mentalitas, kedisiplinan, dan identitas permainan. Dalam dua tahun pertama perubahannya terasa nyata: pertahanan lebih terorganisasi, transisi lebih cepat, dan pemain muda mulai diberi kepercayaan. Tapi satu masalah terus berulang di setiap laga: Timnas bisa membangun serangan, bisa menciptakan peluang, tapi gagal mengonversinya menjadi gol. Ini bukan soal usaha. Para pemain berlari, berjuang, dan memberi segalanya di lapangan. Masalahnya lebih struktural. Timnas tidak punya penyerang dengan insting kotak penalti yang matang. Yang ada adalah pemain kreatif dan cepat, tapi kurang dingin saat menghadapi situasi satu lawan satu dengan kiper.

Baca Juga  Mengapa Beckham Putra Selalu Dibully? Di Balik Rivalitas, Emosi, dan Mental Baja

Memang saat ada Ole semuanya berbeda. Tapi justru di sinilah bagian yang paling menyakitkan dari semua ini: kita tidak punya pelapis Ole yang sepadan. Belum ada satu pun nama di skuad timnas ini yang mendekatinya dalam hal insting mencetak gol. Ole bukan hanya pemain terbaik di posisinya, ia satu-satunya di posisi itu.

Dan dengan ketergantungan sebesar itu, yang terjadi kemudian benar-benar tak masuk akal. Ole Romeny dan Oxford United diundang bermain di Piala Presiden. Sebuah turnamen yang kalau kita jujur, sama sekali tidak memiliki urgensi apa pun bagi perjalanan timnas. Tidak ada poin FIFA, tidak ada tiket ke mana-mana, hanya pertandingan pramusim berbalut seremonial. Dan Ole pulang dari sana dengan cedera parah.

Yang lebih menyakitkan lagi, kita tak punya pengganti Ole. Ia pun tetap dipanggil, tetap turun di ronde keempat kualifikasi Piala Dunia. Berjuang dengan kondisi yang belum pulih sepenuhnya; main, tapi tidak bisa menjadi Ole yang sesungguhnya. Hasilnya? Kita kalah dua kali dari Arab Saudi dan Irak. Dan dengan dua kekalahan itu, pintu Piala Dunia tertutup. Irak lolos, Arab Saudi lolos, kita cuma gugur. Hanya menyaksikan dua pesaing kita itu melanglang buana di Piala Dunia. Padahal dengan mereka kita setara, bahkan dengan mereka market value kita lebih unggul. Sakit sekali rasanya. Bukan hanya karena kalah, tapi karena kita tahu di suatu titik ada keputusan yang seharusnya tidak perlu diambil, dan keputusan itu ikut andil membawa kita ke sini.

Dan kini kita semua hanya bisa bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika Ole tidak pernah menginjakkan kaki di Piala Presiden itu? Apakah kita sekarang sedang mempersiapkan diri untuk Piala Dunia 2026? Apakah nama Indonesia sudah ada di pot undian bersama Brazil, Jerman, atau Argentina? Kita tidak akan pernah tahu jawabannya, dan justru itu yang paling berat untuk diterima.

Tapi di balik semua rasa sakit itu, ada satu hal yang paling tidak bisa kita pungkiri: Timnas Indonesia sudah berubah jauh berbeda dari yang pernah kita saksikan bertahun-tahun lalu. Sekarang di era baru John Herdman, kita sudah punya identitas permainan. Kita punya mental yang lebih tangguh. Kita punya pemain-pemain diaspora yang datang bukan sekadar untuk memenuhi kuota, tapi untuk benar-benar berjuang. Dan kita punya Ole Romeny, striker dengan insting yang selama ini kita impikan.

Baca Juga  Komunitas Asep Sedunia di Persib Bandung

Yang perlu diselesaikan sekarang bukan lagi soal finishing, tapi soal bagaimana kita menjaga pemain setajam ini tetap fit, fokus, dan tidak dikorbankan untuk kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan prestasi timnas. Karena kita sudah tahu harganya, dan harganya terlalu mahal. Ole bukan hanya striker, ia adalah bukti nyata bahwa Indonesia bisa punya pemain yang menjadi predator di depan gawang lawan. Bahwa gap yang selama ini terasa mustahil antara timnas kita dan tim-tim Asia lainnya sebenarnya bisa ditutup. Tapi satu Ole saja tidak cukup, tidak akan pernah cukup. Kita butuh sistem yang melindunginya, kita butuh pelapis yang siap menggantikannya, dan kita butuh keberanian untuk mengambil keputusan yang benar, bukan keputusan yang nyaman.

Perjalanan ini belum selesai. Masih ada Piala Asia, masih ada kualifikasi Piala Dunia berikutnya, masih ada mimpi yang belum tuntas. Dan selama Ole masih mengenakan seragam merah putih, selama kakinya masih sehat, selama insting itu masih ada, kita masih punya alasan untuk percaya.

Sepak bola sering ditentukan oleh momen-momen kecil. Satu keputusan, satu cedera, satu gol, atau satu pemain yang datang di waktu yang tepat. Ole mungkin hanyalah satu nama dalam sejarah panjang timnas Indonesia, tapi bagi generasi ini, ia adalah pengingat bahwa perbedaan antara mimpi dan kenyataan terkadang hanya berjarak satu sentuhan di depan gawang.

Kita pernah kehilangan banyak pertandingan karena tidak punya Ole Romeny, dan mungkin kita kehilangan Piala Dunia karena Ole tidak berada dalam kondisi terbaiknya. Kalau itu belum cukup menjadi pelajaran, maka kami tidak tahu apa lagi yang bisa. Karena pemain seperti Ole tidak lahir setiap tahun. Pemain seperti ini biasanya datang sekali dalam satu generasi. Dan tugas kita bukan hanya mengaguminya, tapi memastikan generasi ini tidak dikenang sebagai generasi yang menyia-nyiakan pemain terbaik yang pernah dimilikinya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x