Dulu Saya Kira Produk MLM Itu Mahal… Ternyata Saya Salah
Ada satu anggapan tentang MLM yang selama bertahun-tahun cukup melekat di kepala saya:
“Produk MLM biasanya lebih mahal daripada produk sejenis yang dijual secara konvensional.”
Dan kalau boleh jujur, saya punya alasan untuk berpikir seperti itu.
Saya pertama kali mengenal bisnis MLM sekitar tahun 1993. Saat itu ada dua perusahaan yang diperkenalkan oleh teman saya: CNI dan Amway.
Saya memang tertarik dengan konsep bisnisnya. Untuk pertama kalinya saya melihat bahwa sebuah sistem distribusi bisa memberikan peluang penghasilan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengandalkan gaji.
Tetapi ada satu hal yang selalu mengganjal saya:
Harga produknya.
Saya pernah membandingkan pasta gigi lokal seperti Pepsodent, Formula, dan Ciptadent dengan Glister Toothpaste dari Amway.
Saya juga membandingkan SA8 dengan deterjen yang biasa saya beli di warung.
Memang ada penjelasan soal konsentrat, pemakaian yang lebih hemat, dan sebagainya. Tetapi kalau kita bicara secara sederhana dari angka yang terlihat di label harga?
Ya, tetap terasa lebih mahal.
Sejak saat itu, persepsi tersebut tanpa sadar tertanam di kepala saya:
Produk MLM = produk mahal.
Sampai akhirnya, bertahun-tahun kemudian, saya melakukan sesuatu yang sangat sederhana.
Saya membandingkannya lagi.
Dan kali ini, hasilnya membuat saya berpikir ulang.
Pengalaman Lama Membuat Saya Punya Persepsi Tertentu
Saya bukan orang yang baru mengenal MLM.
Sejak 1993, saya sudah melihat berbagai model bisnis network marketing dan bagaimana produk-produk tersebut dipasarkan melalui jaringan distributor.
Saya juga pernah mengenal produk propolis sejak sekitar awal tahun 2000-an, ketika berkenalan dengan Melia Nature.
Jadi ketika beberapa tahun kemudian saya melihat semakin banyak produk propolis beredar di pasaran, saya cukup familiar dengan kategorinya.
Menariknya, produk propolis ternyata tidak hanya dijual melalui MLM.
Ada juga yang dipasarkan secara konvensional.
Salah satunya bahkan masih dipasarkan oleh adik saya sampai sekarang. Harganya sekitar Rp250.000 per botol.
Artinya, ketika saya menemukan produk propolis lain yang dipasarkan melalui sistem network marketing, saya tidak mau langsung berasumsi:
“Wah, pasti mahal karena MLM.”
Saya justru penasaran.
Benarkah begitu?
Lalu Saya Menemukan BPro Propolis
Salah satu produk yang kemudian menarik perhatian saya adalah BPro Propolis dari PT ASRI.
Paket yang saya lihat berisi:
6 botol × 10 ml
dengan harga sekitar:
Rp300.000 per paket.
Kalau kita hanya melakukan hitungan sederhana:
Rp300.000 ÷ 6 botol = Rp50.000 per botol.
Nah, di titik ini saya mulai berpikir.
Sebelumnya saya memiliki asumsi bahwa produk yang dipasarkan melalui jaringan pasti lebih mahal daripada produk yang dijual secara konvensional.
Tetapi dari sisi harga per botol, angka tersebut ternyata tidak otomatis lebih mahal.
Bahkan ketika dibandingkan dengan produk propolis konvensional yang saya kenal dengan harga sekitar Rp250.000 per botol, perbedaannya cukup mencolok.
Tentu saja, saya tidak kemudian menyimpulkan bahwa BPro otomatis lebih bagus.
Harga bukan satu-satunya ukuran kualitas.
Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika membandingkan produk: bahan baku, formulasi, proses produksi, standar mutu, legalitas, kemasan, distribusi, positioning merek, dan faktor lainnya.
Tetapi setidaknya satu persepsi saya mulai berubah:
Ternyata produk MLM tidak selalu mahal.
Yang Lebih Menarik Bukan Hanya Harga Produknya
Bagi saya, ada pertanyaan lain yang justru lebih menarik.
“Kalau saya ingin menjual produk ini, berapa modal yang harus saya keluarkan untuk mulai?”
Ini penting.
Sebab harga produk dan modal untuk memulai bisnis adalah dua hal yang berbeda.
Ada orang yang mungkin sanggup membeli sebuah produk seharga ratusan ribu rupiah untuk konsumsi pribadi, tetapi belum tentu siap mengeluarkan jutaan rupiah untuk mencoba sebuah bisnis.
Dalam kasus BPro, saya menemukan paket sekitar Rp300.000 yang berisi 6 botol produk.
Dari perspektif seseorang yang ingin mencoba bisnis sampingan, angka tersebut tentu menarik untuk diperhitungkan.
Bukan berarti Rp300.000 pasti ringan bagi semua orang.
Setiap orang memiliki kondisi keuangan yang berbeda.
Tetapi kalau dibandingkan dengan model bisnis tertentu yang mensyaratkan paket awal sekitar Rp1.750.000 untuk 10 botol, tentu terlihat ada perbedaan dari sisi modal awal atau barrier to entry.
Sekali lagi, saya tidak mengatakan model yang satu lebih baik daripada yang lainnya.
Setiap perusahaan memiliki strategi distribusi dan struktur bisnis masing-masing.
Saya hanya ingin menunjukkan bahwa anggapan:
“Kalau bisnis MLM pasti harus keluar modal besar.”
juga tidak selalu benar.
Jangan Menilai Produk Hanya Karena Label “MLM”
Menurut saya, ini bagian yang paling penting.
Ketika mendengar kata MLM, sebagian orang langsung membuat kesimpulan.
“MLM.”
“Pasti mahal.”
“Pasti harus beli banyak.”
“Pasti harus cari anggota.”
Padahal, dunia bisnis terus berubah.
Model bisnis network marketing juga semakin beragam.
Karena itu, menurut saya, kita perlu memisahkan beberapa hal ketika menilai sebuah bisnis.
1. Produknya
Apakah produknya memang dibutuhkan pasar?
Apakah ada orang yang benar-benar mau membeli dan menggunakannya?
2. Harganya
Bagaimana harganya dibandingkan produk sejenis?
Jangan hanya melihat harga satu paket. Bandingkan berdasarkan jumlah dan ukuran yang sama.
3. Modal awal
Berapa uang yang diperlukan untuk mulai?
Apakah harus membeli dalam jumlah besar atau tersedia pilihan yang lebih kecil?
4. Sistem bisnis
Bagaimana sebenarnya seorang member mendapatkan penghasilan?
Apakah berasal dari penjualan produk, bonus jaringan, repeat order, atau kombinasi beberapa mekanisme?
5. Marketing Plan
Bagaimana bonus dihitung?
Apakah mekanismenya mudah dipahami?
Dan yang tidak kalah penting: apakah kita memahami dari mana uang yang dibayarkan perusahaan kepada member berasal?
6. Support System
Apakah ada edukasi?
Apakah tersedia website, materi promosi, sistem follow-up, training, atau alat bantu digital?
7. Cara Pemasaran
Apakah bisnis tersebut masih sepenuhnya mengandalkan cara-cara konvensional?
Atau sudah memungkinkan dijalankan dengan memanfaatkan teknologi digital?
Kalau semua aspek tersebut dilihat secara utuh, kita akan mendapatkan gambaran yang jauh lebih objektif.
Harga Produk Jangan Dibandingkan Secara Asal
Ada satu kesalahan yang sering terjadi ketika orang membandingkan dua produk.
Kita hanya melihat angka di label.
Misalnya:
Produk A = Rp250.000
Produk B = Rp300.000
Lalu kita langsung mengatakan:
“Produk A lebih murah.”
Belum tentu.
Bagaimana kalau Produk A hanya berisi satu botol?
Sedangkan Produk B berisi enam botol?
Tentu perbandingannya menjadi tidak adil.
Karena itu, perbandingan harus dilakukan berdasarkan satuan yang sama.
Dalam kasus BPro, misalnya:
Rp300.000 ÷ 6 botol = Rp50.000 per botol.
Bila ukuran masing-masing botol sama-sama 10 ml, kita bahkan bisa menghitung berdasarkan harga per mililiter.
Dengan cara sederhana seperti ini, kita tidak lagi membandingkan berdasarkan kesan.
Kita membandingkan berdasarkan angka.
Dan menurut saya, itu jauh lebih sehat.
Saya Tidak Menganggap Produk Lain Buruk
Ini juga perlu saya tegaskan.
Saya pernah menjual produk propolis lain.
Bahkan sampai sekarang ada anggota keluarga saya yang masih menjadi pelanggan dan memasarkan produk tersebut.
Apakah kemudian saya menganggap produk itu buruk?
Tidak.
Saya tidak melihat persoalannya seperti itu.
Setiap produk memiliki pasar.
Setiap perusahaan mempunyai strategi.
Setiap konsumen mempunyai kebutuhan dan pertimbangannya sendiri.
Produk dengan harga lebih tinggi belum tentu buruk.
Begitu juga produk dengan harga lebih rendah tidak otomatis berarti lebih baik.
Karena itu saya tidak tertarik membuat tulisan dengan gaya:
“Produk kami lebih murah, berarti produk lain kemahalan.”
Menurut saya, cara seperti itu justru tidak sehat.
Yang jauh lebih menarik adalah:
Biarkan konsumen membandingkan sendiri.
Setelah Produknya, Saya Mulai Melihat Bisnisnya
Ketika sudah selesai membandingkan produknya, saya kemudian melihat aspek berikutnya:
Marketing Plan ASRI.
Karena kalau seseorang ingin menjalankan bisnis, produk hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem.
Masih ada banyak pertanyaan lain:
- Bagaimana bonus dihitung?
- Bagaimana penjualan menghasilkan keuntungan?
- Bagaimana membangun pelanggan?
- Bagaimana mendapatkan repeat order?
- Bagaimana mengembangkan jaringan?
- Bagaimana sistem mendukung member?
- Apakah bisnis tersebut realistis dijalankan dalam kehidupan sehari-hari?
Bagi saya pribadi, Marketing Plan ASRI cukup menarik untuk dipelajari.
Tetapi saya juga tidak ingin mengatakan:
“Ini marketing plan terbaik.”
Itu klaim yang terlalu besar.
Setiap orang bisa mempunyai penilaian berbeda.
Bagi saya, yang menarik justru kombinasi antara produk, harga, modal awal, sistem, dan marketing plan.
Ketika semuanya dilihat sebagai satu kesatuan, saya menemukan sebuah model bisnis yang menurut saya layak dipertimbangkan.
Yang Berubah Bukan Hanya Produknya, Tetapi Cara Menjalankan Bisnisnya
Ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting.
Cara menjalankan bisnis network marketing hari ini tidak harus sama dengan cara 10 atau 20 tahun lalu.
Dulu, seorang distributor mungkin harus:
- menghubungi teman satu per satu,
- membuat daftar nama,
- mengadakan presentasi di rumah,
- mengajak orang datang ke pertemuan,
- menjelaskan produk berkali-kali,
- melakukan follow-up secara manual,
- dan mengandalkan lingkaran pertemanan sendiri.
Sekarang dunia sudah berubah.
Orang mencari informasi melalui Google.
Orang menonton YouTube, TikTok, dan Instagram.
Orang membaca Facebook.
Orang berdiskusi di Telegram dan WhatsApp.
Bahkan sekarang orang bertanya kepada AI.
Sebelum membeli sesuatu, calon pelanggan bisa melakukan riset sendiri terlebih dahulu.
Artinya, bisnis jaringan juga harus belajar beradaptasi.
Dari “Mencari Orang” Menjadi “Membangun Aset Digital”
Menurut saya, inilah salah satu perubahan paling menarik dalam bisnis network marketing modern.
Dulu pertanyaannya mungkin:
“Siapa yang saya kenal?”
Sekarang pertanyaannya bisa berubah menjadi:
“Informasi apa yang bisa saya buat sehingga orang yang membutuhkan dapat menemukan saya?”
Perbedaannya sangat besar.
Cara lama:
Cari orang → Hubungi → Presentasi → Follow-up
Cara digital:
Buat konten → Bangun kepercayaan → Orang menemukan informasi → Belajar → Bertanya → Membeli → Menjadi pelanggan → Mengenal peluang bisnis
Bukan berarti cara lama harus dibuang.
Justru keduanya bisa digabungkan.
Teknologi digital seharusnya bukan menggantikan hubungan antarmanusia, tetapi membantu memperbesar jangkauan dan memperpanjang umur sebuah aktivitas pemasaran.
Satu presentasi hanya bisa didengar oleh orang yang hadir.
Tetapi satu artikel, video, atau konten yang bagus bisa ditemukan orang berkali-kali.
Di situlah konsep aset digital menjadi menarik.
Jadi, Apakah Produk MLM Mahal?
Setelah melihat pengalaman saya sendiri, jawaban saya sekarang sederhana:
Tidak selalu.
Ada produk MLM yang mahal.
Ada produk MLM yang relatif terjangkau.
Ada produk konvensional yang murah.
Ada pula produk konvensional yang harganya cukup tinggi.
Jadi, label “MLM” tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah produk mahal atau murah.
Yang lebih penting adalah:
Apa produknya?
Berapa harganya?
Berapa isi bersihnya?
Bagaimana kualitas dan legalitasnya?
Berapa modal awalnya?
Bagaimana sistem bisnisnya?
Dan apa value yang sebenarnya kita dapatkan?
Jangan Membeli Karena MLM. Jangan Menolak Karena MLM.
Bagi saya, ini prinsip yang jauh lebih sehat.
Jangan membeli sebuah produk hanya karena ditawarkan teman.
Tetapi jangan pula menolaknya hanya karena mendengar kata MLM.
Pelajari produknya.
Bandingkan harganya.
Hitung isi dan satuannya.
Hitung modalnya.
Pelajari marketing plan-nya.
Pahami cara kerjanya.
Kemudian buat keputusan sendiri.
Karena pada akhirnya, bisnis yang sehat seharusnya tidak takut dibandingkan.
Justru bisnis yang transparan akan semakin mudah dinilai ketika konsumen diberikan kesempatan untuk:
membandingkan, menghitung, dan memutuskan.
Dari Sebuah Produk, Saya Mendapat Pelajaran yang Lebih Besar
Bagi saya, menemukan BPro Propolis bukan sekadar menemukan produk baru.
Ada pelajaran yang lebih besar di baliknya.
Saya pernah melihat bisnis network marketing dari perspektif masa lalu.
Saya pernah membandingkan produk MLM dengan produk konvensional.
Dan selama bertahun-tahun, saya membawa sebuah persepsi:
“Produk MLM itu mahal.”
Tetapi setelah saya kembali melihat angka dan membandingkannya secara langsung, saya menyadari sesuatu:
Stigma tidak selalu sama dengan kenyataan.
Tidak semua produk MLM mahal.
Tidak semua bisnis jaringan membutuhkan modal besar.
Dan tidak semua bisnis jaringan harus dijalankan dengan cara lama.
Mungkin sudah waktunya kita melihat bisnis network marketing dengan perspektif yang sedikit berbeda.
Bukan berdasarkan label.
Bukan berdasarkan cerita orang.
Bukan pula berdasarkan pengalaman buruk orang lain.
Tetapi berdasarkan:
produk, angka, sistem, dan cara kerja yang nyata.
Jadi, kalau suatu hari ada yang bertanya kepada saya:
“Produk MLM itu mahal nggak?”
Mungkin sekarang jawaban saya akan berbeda.
“Jangan tanya saya. Bandingkan sendiri.”
Hitung sendiri.
Pelajari sendiri.
Kemudian putuskan sendiri.
Karena keputusan bisnis yang baik seharusnya lahir dari pemahaman, bukan sekadar persepsi.




