Apa Sebenarnya Alasan Pendirian Negara Israel? Mengapa Mereka Merasa Berhak Menduduki Palestina?

Apa Sebenarnya Alasan Pendirian Negara Israel? Mengapa Mereka Merasa Berhak Menduduki Palestina?

Wah, kalau bahas ini, kita bakal masuk ke campuran rumit antara trauma sejarah, klaim agama, dan permainan politik besar neh, Akang-Teteh. Mereka nggak datang begitu saja tanpa alasan. Tapi sayangnya, alasan-alasan itu justru yang bikin dunia terbelah sampai hari ini.

Biar lebih gampang dicerna, aku bedah jadi tiga alasan utama kenapa para pendiri Israel merasa “berhak” menduduki tanah Palestina:

1. Trauma Panjang di Eropa – Solusi Sekali Jalan

Selama berabad-abad, orang Yahudi di Eropa sering menjadi korban persekusi dan pogrom. Puncaknya adalah Holocaust oleh Nazi Jerman yang membunuh sekitar 6 juta jiwa.

Para tokoh Zionisme seperti Theodor Herzl berargumen keras: “Kita tidak akan pernah aman sebagai minoritas di negara orang lain. Kita butuh sebuah rumah sendiri.”

Bagi mereka, mendirikan Israel bukan sekadar ambisi, melainkan soal kelangsungan hidup bangsa Yahudi agar tidak punah. Masalah besarnya: mereka memilih “rumah” yang sudah berpenghuni selama ribuan tahun.

2. Klaim “Tanah yang Dijanjikan” – Landasan Teologis

Ini yang paling kuat di mata mereka. Menurut narasi agama, tanah Palestina (yang mereka sebut Eretz Yisrael) adalah “hadiah” dari Tuhan kepada keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub.

Mereka menganggap kehadiran mereka di sana bukan penjajahan, melainkan kepulangan setelah diusir Kekaisaran Romawi hampir 2.000 tahun lalu. Bagi Zionis, ini adalah hak historis dan ilahi yang tidak bisa diganggu gugat.

Tentu saja, narasi ini ditolak mentah-mentah oleh warga Palestina yang juga sudah tinggal di sana secara turun-temurun selama berabad-abad.

3. “Surat Sakti” dari Penjajah – Deklarasi Balfour

Faktor politik ini yang paling nyata. Pada tahun 1917, Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang mendukung pendirian “rumah nasional bagi bangsa Yahudi” di Palestina.

Baca Juga  Sejarah Uang Kertas dan Mitos Konspirasi Elit Global

Kenapa Inggris mau? Ada dua alasan utama:

  • Dukungan perang: Mereka ingin orang-orang Yahudi kaya di Amerika dan Eropa ikut mendukung Inggris dalam Perang Dunia I.
  • Kepentingan strategis: Inggris butuh sekutu setia di Timur Tengah untuk mengamankan Terusan Suez, jalur perdagangan vital mereka.

Kemudian, pada 1947, PBB mengeluarkan resolusi pembagian Palestina yang semakin memberi legitimasi internasional bagi pendirian Israel.

Mengapa Mereka Merasa Berhak Menguasai Tanah Itu?

Para pemimpin Zionis awal punya semboyan terkenal yang sangat kontroversial: “A land without a people for a people without a land.” (Tanah tanpa penduduk untuk bangsa tanpa tanah.)

Mereka menggambarkan Palestina sebagai tanah yang “kosong” atau hanya dihuni segelintir pengembara Arab yang tidak punya peradaban modern. Jadi, kedatangan mereka dianggap sebagai “pencerahan” — membawa teknologi, kemajuan, dan peradaban Barat ke tanah yang “terbelakang”.

Padahal kenyataannya, seperti yang kita bahas sebelumnya, di Palestina sudah ada kota-kota yang hidup, masyarakat yang mapan, dan penduduk asli yang punya hak penuh atas tanahnya.

Mirip banget kan, Akang-Teteh, dengan pola penjajahan di Amerika terhadap suku Indian atau di Australia terhadap suku Aborigin? Ada pola yang sama: “Kami lebih beradab, jadi kami berhak mengusir kalian.”

Itulah yang bikin konflik ini begitu rumit — benturan antara hak sejarah dan teologis versi satu pihak, dengan hak kedaulatan penduduk asli yang sudah ada di sana jauh lebih lama.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x