Deviants: Anak-Anak Langit yang Terkutuk

Pada zaman ketika manusia belum mengenal tulisan, ketika bumi masih diselimuti hutan purba dan langit malam tampak begitu luas dan misterius, ada sebuah rahasia yang tersembunyi jauh di balik sejarah umat manusia.

Rahasia itu bermula bukan dari bumi.

Ia datang dari tempat yang jauh di luar bintang-bintang.

Konon, di balik segala sesuatu yang dapat dilihat oleh manusia, terdapat sebuah tatanan kosmik yang begitu besar hingga pikiran manusia sulit membayangkannya. Ada pencipta tertinggi yang dikenal sebagai The One Above All, sosok yang berada di atas seluruh multiverse.

Di bawahnya berdiri The Living Tribunal, hakim kosmik bermuka tiga yang bertugas menjaga keseimbangan seluruh realitas.

Dan di antara kekuatan-kekuatan abstrak yang membentuk hukum alam semesta, terdapat Eternity, perwujudan dari alam semesta itu sendiri; Infinity, yang melambangkan keluasan tanpa batas; Death, sang kematian; dan Oblivion, sang ketiadaan.

Namun kisah kita bukan tentang mereka.

Kisah kita adalah tentang makhluk-makhluk yang diciptakan oleh para penguasa langit…

dan kemudian ditinggalkan oleh penciptanya.

Mereka dikenal sebagai…

Deviants.


Anak-Anak Eksperimen Para Celestials

Jauh sebelum peradaban manusia mengenal nama dewa, datanglah makhluk-makhluk raksasa dari angkasa.

Mereka adalah Celestials.

Tubuh mereka menjulang seperti gunung, terbungkus zirah kosmik, dan kekuatan mereka berada jauh di luar kemampuan manusia untuk memahaminya.

Mereka bukan sekadar pejuang.

Mereka adalah para arsitek dan ilmuwan kosmik.

Mereka datang ke berbagai planet, mengamati kehidupan, memodifikasi gen, menciptakan spesies, lalu menunggu untuk melihat hasil eksperimen mereka.

Salah satu planet yang menjadi tempat percobaan mereka adalah…

Bumi.

Sekitar satu juta tahun yang lalu, Celestials melakukan eksperimen terhadap manusia purba.

Dari eksperimen tersebut lahirlah tiga cabang kehidupan.

Yang pertama adalah Eternals—makhluk dengan struktur genetik stabil, umur luar biasa panjang, kekuatan kosmik, dan bentuk fisik yang nyaris sempurna.

Yang kedua adalah manusia biasa, yang tetap berkembang secara alami tetapi menyimpan potensi genetik yang kelak dapat melahirkan berbagai kemungkinan evolusi, termasuk Mutan dan Inhuman.

Dan yang ketiga…

adalah mereka yang tidak pernah memperoleh kesempurnaan.

Deviants.


Ras yang Tidak Pernah Memiliki Wajah yang Sama

Jika seorang Eternal dilahirkan dengan bentuk yang hampir sempurna, seorang Deviant tidak pernah tahu akan menjadi seperti apa dirinya ketika lahir.

Ada yang memiliki tubuh seperti manusia.

Ada yang memiliki tanduk.

Ada yang menyerupai reptil.

Ada yang tampak seperti serangga.

Ada pula yang begitu mengerikan hingga manusia purba mungkin mengira mereka sebagai iblis, monster, atau makhluk dari dunia lain.

Tidak ada dua Deviant yang benar-benar sama.

Sebab gen mereka tidak stabil.

Ia terus berubah.

Terus bermutasi.

Terus mendistorsi dirinya sendiri.

Bagi Eternals, kondisi itu adalah penyimpangan dari cetak biru kehidupan yang sempurna.

Baca Juga  Kisah Legenda Naga dari Berbagai Negara

Maka mereka memberi mereka sebuah nama:

Deviants.

Para penyimpang.

Tetapi bagi para Deviants sendiri, mereka bukanlah sebuah kesalahan.

Mereka hanyalah makhluk yang dilahirkan berbeda.

Dan di sinilah tragedi mereka dimulai.


Ketika Perbedaan Melahirkan Kebencian

Manusia purba takut kepada mereka.

Ketika melihat tubuh yang aneh dan kekuatan yang tidak dapat dijelaskan, manusia memilih untuk menjauh.

Eternals pun tidak memandang mereka sebagai saudara yang setara.

Sementara Eternals tampak indah, abadi, dan sempurna…

Deviants hidup dengan tubuh yang terus berubah.

Sedikit demi sedikit, tumbuhlah sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada mutasi genetik.

Kebencian.

Para Deviants mulai bertanya:

“Mengapa mereka mendapatkan kesempurnaan?”

“Mengapa kami mendapatkan kutukan?”

“Mengapa para pencipta mencintai mereka, tetapi membiarkan kami menderita?”

Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya berubah menjadi iri hati.

Iri hati berubah menjadi kemarahan.

Dan kemarahan berubah menjadi perang.

Namun ada sesuatu yang tidak diperkirakan oleh para Celestials.

Para Deviants mungkin memiliki tubuh yang kacau…

tetapi mereka memiliki kecerdasan.

Dan mereka mulai membangun peradaban mereka sendiri.


Kerajaan Lemuria

Jauh di bawah permukaan bumi, para Deviants membangun sebuah kerajaan besar.

Namanya adalah Lemuria.

Di sana, mereka tidak lagi hidup seperti monster yang bersembunyi dari manusia.

Mereka membangun kota.

Membangun teknologi.

Membangun struktur politik.

Membangun kekuatan militer.

Mereka menjadi sebuah peradaban yang maju dan terorganisasi.

Tetapi luka lama belum sembuh.

Mereka masih mengingat penghinaan yang mereka terima.

Dan mereka masih memandang Eternals sebagai ras yang memperoleh semua yang seharusnya menjadi milik mereka.

Akhirnya, konflik antara kedua ras berubah menjadi peperangan.

Deviants menyerang dunia permukaan.

Manusia pun terseret ke dalam konflik tersebut.

Perang semakin besar.

Dan ketika keadaan mulai tidak terkendali…

para Celestials kembali turun tangan.

Mereka tidak datang untuk menyelamatkan Deviants.

Mereka juga tidak datang untuk menyelamatkan manusia.

Mereka datang untuk mengakhiri eksperimen yang telah berubah menjadi kekacauan.

Dan salah satu kerajaan terbesar Deviants pun tenggelam.

Lemuria ditelan oleh lautan.

Para Deviants yang selamat terpaksa melarikan diri ke dunia bawah tanah.

Mereka membangun kembali kerajaan mereka di wilayah yang dikenal sebagai Subterranea.

Namun kali ini mereka membawa satu warisan dari masa lalu:

dendam.


Kro, Sang Abadi yang Mencintai Musuhnya

Di antara para Deviants, terdapat satu sosok yang sangat terkenal.

Namanya…

Kro.

Kro bukan Deviant biasa.

Ia adalah salah satu yang tertua.

Tubuhnya memiliki kemampuan untuk berubah bentuk, membuatnya menjadi seorang shape-shifter yang sangat berbahaya.

Namun ada satu hal yang membuat kisah Kro begitu menarik.

Di tengah perang antara Eternals dan Deviants…

Kro justru jatuh cinta kepada seorang Eternal.

Namanya Thena.

Bayangkan dua makhluk yang seharusnya menjadi musuh turun-temurun.

Baca Juga  Dongeng: Sang Lord of War yang Menjual Maut demi Impian

Satu berasal dari ras yang dianggap sempurna.

Satu lagi berasal dari ras yang dianggap menyimpang.

Namun selama ribuan tahun, keduanya tetap memiliki hubungan yang rumit.

Cinta mereka menjadi ironi terbesar dalam sejarah kedua ras.

Karena ternyata…

tidak semua perbedaan mampu memisahkan hati.


Ghaur dan Ambisi Para Deviants

Ada pula Ghaur, pemimpin religius dan ahli strategi yang fanatik.

Ghaur bukan sekadar ingin bertahan hidup.

Ia ingin mendapatkan kekuatan yang lebih besar.

Ia mempelajari genetik.

Mencari rahasia kekuatan Celestials.

Dan berusaha menggunakan teknologi serta peninggalan kosmik untuk mengangkat bangsanya ke tingkat kekuatan yang lebih tinggi.

Sementara Brother Tode, salah satu penguasa Deviants, menunjukkan sisi lain dari bangsa tersebut—kesombongan, kekejaman, dan perebutan kekuasaan yang terjadi di antara mereka sendiri.

Dengan demikian, Deviants bukan sekadar bangsa monster.

Mereka adalah sebuah peradaban.

Mereka memiliki raja.

Pemimpin.

Ilmuwan.

Prajurit.

Pecinta.

Pengkhianat.

Dan rakyat biasa.

Sama seperti manusia.


Dari Mana Datangnya Legenda Monster?

Mungkin ada satu hal yang menarik dari kisah mereka.

Selama ribuan tahun, manusia menciptakan cerita tentang monster.

Tentang iblis.

Tentang goblin.

Tentang makhluk bertanduk yang hidup di tempat-tempat gelap.

Dalam mitologi Marvel, sebagian legenda tersebut dapat dikaitkan dengan pertemuan manusia purba dengan para Deviants.

Bayangkan seorang manusia zaman dahulu berjalan sendirian di dalam hutan.

Tiba-tiba dari balik pepohonan muncul makhluk dengan tubuh yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Kulitnya berbeda.

Wajahnya aneh.

Kekuatannya tidak masuk akal.

Manusia itu melarikan diri.

Bertahun-tahun kemudian, kisah tersebut diceritakan kepada anak-anaknya.

Lalu kepada cucunya.

Generasi demi generasi berlalu.

Dan akhirnya…

makhluk nyata berubah menjadi legenda.

Legenda berubah menjadi mitologi.

Dan mitologi berubah menjadi cerita tentang monster.


Namun Kisah Deviants Tidak Berhenti di Komik

Ketika kisah Deviants diadaptasi ke dalam film Eternals (2021), ceritanya berubah cukup besar.

Kali ini, Deviants bukan sekadar ras yang lahir dari mutasi genetik yang kacau.

Mereka memiliki tujuan khusus.

Mereka diciptakan oleh Arishem the Judge.

Tugas mereka sebenarnya sangat sederhana.

Memburu predator alami di planet-planet yang sedang disiapkan untuk kelahiran Celestial baru.

Dengan membunuh predator tersebut, Deviants membantu menjaga perkembangan kehidupan cerdas di planet itu.

Kehidupan cerdas kemudian berkembang.

Populasinya bertambah.

Dan energi kehidupan tersebut pada akhirnya membantu proses yang disebut…

Emergence.

Kelahiran Celestial baru.

Dengan kata lain, Deviants awalnya adalah bagian dari sebuah sistem kosmik.

Mereka bukan sekadar monster.

Mereka adalah alat.

Senjata biologis.

Predator yang diciptakan untuk mengendalikan predator lain.

Tetapi seperti banyak eksperimen sebelumnya…

ada sesuatu yang salah.


Ketika Senjata Mulai Berpikir

Deviants mulai berevolusi.

Mereka tidak lagi hanya memburu predator.

Mereka mulai menyerang makhluk-makhluk cerdas.

Baca Juga  Paul Amadeus Dienach

Mereka mulai berkembang melampaui tujuan awal penciptaannya.

Sang pemburu…

berubah menjadi ancaman.

Dan semakin lama mereka berevolusi, semakin berbahaya kemampuan mereka.

Mereka dapat menyerap energi dari makhluk yang mereka bunuh.

Termasuk energi para Eternals.

Dan di sinilah Kro menjadi sangat mengerikan.

Setelah menyerap energi dari beberapa Eternal yang telah tewas, Kro mengalami perubahan besar.

Ia menjadi lebih kuat.

Lebih cerdas.

Mampu berbicara.

Dan bahkan memperoleh kemampuan mengubah bentuk tubuhnya dengan lebih sempurna.

Kro bukan lagi sekadar binatang buas.

Ia mulai berpikir.

Mulai merencanakan.

Mulai memahami musuhnya.

Dan untuk pertama kalinya…

senjata yang diciptakan para Celestials mulai memiliki kehendaknya sendiri.


Dua Ras, Satu Pencipta

Pada akhirnya, kisah Eternals dan Deviants memiliki sebuah ironi besar.

Keduanya berasal dari eksperimen yang sama.

Keduanya diciptakan oleh kekuatan kosmik yang sama.

Namun hasilnya sangat berbeda.

Eternals menjadi simbol keteraturan dan kesempurnaan.

Deviants menjadi simbol perubahan dan kekacauan.

Eternals memiliki bentuk yang relatif stabil.

Deviants terus berubah.

Eternals ditugaskan menjaga perkembangan kehidupan.

Deviants dalam versi MCU diciptakan sebagai predator pengendali.

Namun di balik perbedaan itu, terdapat satu kesamaan:

keduanya tidak benar-benar menentukan tujuan keberadaan mereka sendiri.

Mereka diciptakan.

Diberi tugas.

Kemudian ditinggalkan untuk menjalankan peran masing-masing.


Kutukan Para Deviants

Dan mungkin…

di situlah letak makna terdalam dari kisah Deviants.

Mereka sering disebut sebagai kegagalan.

Sebagai mutasi.

Sebagai monster.

Sebagai makhluk yang menyimpang dari kesempurnaan.

Tetapi jika kita melihat kisah mereka dari sudut pandang yang berbeda, mungkin Deviants bukan sekadar kisah tentang monster.

Mereka adalah kisah tentang makhluk yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan berbeda.

Mereka tidak memilih tubuh mereka.

Tidak memilih mutasi mereka.

Tidak memilih untuk ditakuti manusia.

Dan tidak memilih untuk dibandingkan dengan Eternals.

Namun dunia terus mengingatkan mereka bahwa mereka adalah…

“ciptaan yang gagal.”

Maka kebencian pun tumbuh.

Bukan semata-mata karena mereka jahat.

Tetapi karena selama ribuan tahun, mereka merasa ditolak oleh dunia yang menciptakan mereka.

Dan mungkin itulah tragedi terbesar Deviants.

Bukan karena tubuh mereka berubah menjadi monster…

melainkan karena luka di dalam hati mereka akhirnya membuat mereka benar-benar menjadi monster.

Sebab terkadang, yang paling berbahaya dari sebuah ciptaan bukanlah kekuatan yang dimilikinya.

Melainkan…

perasaan bahwa dirinya tidak pernah dianggap berharga.

Dan di antara jutaan bintang di alam semesta Marvel, kisah para Deviants mengajarkan satu hal:

Kesempurnaan tidak selalu melahirkan kebaikan.

Dan sesuatu yang dianggap sebagai kegagalan…

kadang justru mampu berevolusi menjadi kekuatan yang tidak pernah dibayangkan oleh penciptanya.

Begitulah kisah bangsa Deviants…

anak-anak langit yang dilahirkan dari sebuah eksperimen, dikutuk oleh perubahan, dan akhirnya menjadi legenda monster di dunia manusia.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x