Bayangin ya, Akang-Teteh…
Awal musim ini, banyak Jakmania berteriak-teriak di medsos dengan penuh semangat: “Thom Haye sama Eliano Reijnders ke Persib? Ngapain sih? Penurunan karir banget! Mending stay di Eropa daripada main di Liga Indonesia!”
Eh, sekarang? Plot twist yang bikin geleng-geleng kepala. Thom Haye lagi moncer dengan 3 gol + 2 assist dari hampir 1.460 menit bermain, jadi motor tengah Persib yang solid. Eliano Reijnders malah nyetak hampir 1.800 menit, 2 assist, dan langsung jadi andalan di bek sayap. Mereka bukan cuma main, tapi kinclong dan bantu Persib kokoh di puncak klasemen dengan 61 poin.
Sementara di seberang, para pemain diaspora Persija?
Shayne Pattynama cuma dapet 54 menit dari 6 laga (semua sebagai cadangan), 0 gol, 0 assist. Mauro Zijlstra bahkan lebih parah, cuma 23 menit total. Cyrus Margono baru debut lawan Bhayangkara (5 April 2026) dan langsung kebobolan 3 gol dalam kekalahan 2-3. Jordi Amat? Sering main tapi emosinya meledak-ledak, sampai dapat kartu merah. Persija sendiri sekarang stuck di peringkat 3 dengan 52 poin, tertinggal 9 poin dari Persib dan 5 poin dari Borneo. Musim ini emang keliatan masih milik Persib dan Borneo.
Padahal di awal kompetisi, Persija cukup moncer kok tanpa borong-borong diaspora baru. Tim main kompak, hasil bagus, Jakmania happy. Sebagai bobotoh, saya fair saja mengakui, permainan tim Persija di awal musim itu cukup menghibur, mereka menampilkan sepakbola menyerang yang enak dilihat. Namun, begitu manajemen agresif rekrut Shayne, Cyrus, Mauro, dan kawan-kawan di putaran kedua (katanya buat kuota, masa depan, dan… ya, biar nggak kalah gengsi sama rival abadi), performa malah agak drop. Adaptasi lambat, rotasi nggak mulus, wonderkid lokal seperti Dony Tri Pamungkas malah lebih dipercaya. Faktanya, selain karena aturan kuota pemain U23 yang harus bermain, Dony Tri Pamungkas memang lebih layak jadi starter dibanding Shane Pattinama. Akhirnya? Suporter yang tadinya puas, sekarang rame-rame nyalahin pelatih Mauricio Souza.
Ini yang bikin obrolan kita seru, Akang. Perekrutan diaspora di Persija keliatan lebih didorong manajemen (demi visi jangka panjang + tekanan suporter yang pengen “setara” Persib), pelatih diajak diskusi tapi keputusan akhir di lapangan tetap di tangannya. Hasilnya? Pemain impor sering jadi cadangan mati, sementara di Persib, Bojan Hodak lebih pintar kasih peran langsung ke Thom Haye dan Eliano. Timing-nya pas, kebutuhannya pas, karir mereka naik, bukan turun.
Sebagai bobotoh tulen, saya pasti senyum-senyum liat Persija lagi jeprut gini. Wajar! Rivalitas kan bikin sepak bola makin asyik. Tapi sebagai pendukung Timnas Garuda, saya khawatir berat — dan ini poin paling penting dari semua obrolan kita. Karir Shayne, Cyrus, Mauro, dan kawan-kawan harusnya diselamatkan. Mereka butuh menit main rutin biar ritme terjaga, bukan numpang duduk demi gengsi atau isi kuota. Kalau terus gini, nanti pas dipanggil ke Timnas, mereka bisa kurang tajam. Timnas rugi, pemain rugi, Indonesia rugi.
Pelajaran edukatifnya?
Rekrutmen diaspora itu bagus, tapi harus smart dan data-driven: timing pas, posisi yang benar-benar butuh, dan komitmen kasih kesempatan main. Persib contohnya lebih oke — mereka nggak asal borong, malah selektif dan sabar (lihat Dion Markx yang kontrak panjang buat masa depan). Persija? Kadang keliatan terlalu emosional gara-gara panas sama Encib, plus gaya main tim yang rawan kartu merah. Emosi meledak-ledak malah bikin disiplin jelek.
Intinya, The Jakmania sebaiknya terima dengan lapang dada: musim ini memang masih milik Persib dan Borneo. Daripada saling tuding (salah pelatih, salah manajemen, atau malah salahkan pemain), mending introspeksi bareng. Supaya musim depan, pemain diaspora nggak cuma jadi pajangan, tapi benar-benar bantu Persija juara dan bantu Timnas Garuda lebih kuat.




