Tahun berapa sebenarnya Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bumi?
Menurut sebagian ulama klasik seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah dan Imam as-Suyuthi, ada perkiraan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar tahun 5872 SM — atau kurang lebih 8.000 tahun lalu. Angka ini muncul dari perhitungan silsilah nabi-nabi dan umur Adam yang mencapai 930 tahun berdasarkan riwayat-riwayat tarikh Islam. Ada pula pendapat bahwa Adam tinggal di surga selama 60 hingga 100 tahun (dalam hitungan dunia) sebelum akhirnya diturunkan bersama Hawa sebagai hukuman sekaligus ujian setelah peristiwa makan buah terlarang.
Mengenai hukuman karena makan buah khuldi atau berkhuldi, ini juga banyak kajiannya. Kalau memang Adam dan Hawa sejak awal memang direncanakan untuk jadi khalifah fill Ardh, kenapa skenarionya harus lewat mekanisme hukuman? Atau, mungkinkah sebetulnya itu bukan hukuman, hanya sekedar skenario saja. Karena toch pada akhirnya tetap harus di bumi juga. Ingat lho, khalifah fill ardh, bukan khalifah fill jannah…
Namun, perlu digarisbawahi: angka ini bukan fakta mutlak atau dalil wajib dari Al-Qur’an dan hadis shahih. Ia hanyalah interpretasi dan perhitungan para ulama dari teks agama, bukan kalender presisi yang harus diimani secara kaku.
Lalu bagaimana dengan bukti ilmiah bahwa manusia modern (Homo sapiens) sudah ada sejak 200.000–300.000 tahun lalu? Ini pertanyaan bagus dan sering muncul. Ilmu paleoantropologi dan genetika memang menunjukkan fosil serta DNA manusia purba jauh lebih tua. Sementara peradaban manusia (pertanian, pemukiman tetap) baru berkembang sekitar 10.000–12.000 tahun lalu.
Dalam Islam, Nabi Adam dianggap sebagai bapak seluruh manusia (Abu al-Basyar) dalam arti spiritual dan garis kenabian — manusia pertama yang diciptakan secara khusus oleh Allah, diberi ruh, akal, dan tugas sebagai khalifah di bumi. Banyak ulama kontemporer melihat bahwa narasi Adam lebih menekankan dimensi keimanan, pendidikan moral, dan asal-usul ruhani manusia, bukan timeline biologis secara ketat. Jadi, dua penjelasan ini bisa berjalan berdampingan tanpa harus bertentangan: agama bicara makna dan hikmah, sains bicara data fosil dan evolusi biologis. Namun, tetap saja data ini bisa jadi kajian yang menarik, bagi yang mau berfikir dan terus berusaha mencari kebenaran tentunya…
Apakah Adam turun di India dan Hawa di Jeddah, lalu bertemu di Jabal Rahmah?
Riwayat-riwayat tentang lokasi ini sangat bervariasi dan tidak ada yang definitif dari Al-Qur’an maupun hadis shahih. Beberapa pendapat yang populer:
- Menurut riwayat dari Hasan al-Basri (dan dikutip Ibnu Abi Hatim): Adam diturunkan di India (ada yang menyebut Sri Lanka atau Gunung Serendib/Adam’s Peak), sementara Hawa di Jeddah (Arab Saudi).
- Riwayat lain dari Ibnu Abbas: Adam turun di Dahna (antara Mekah dan Thaif), atau di Shafa, sementara Hawa di Marwah.
- Ada juga yang bilang keduanya turun di India, atau variasi lain.
- Tapi, mungkinkah sebetulnya Adam dan Hawa itu turun justru di Nusantara?
Alasan mengapa India dan Jeddah? Tidak ada penjelasan eksplisit dalam hadis shahih. Hanya tradisi yang menghubungkan: nama “Jeddah” dalam bahasa Arab terkait dengan “nenek” atau “ibu”, sehingga dikaitkan dengan Hawa sebagai ibu umat manusia. Sementara India/Sri Lanka sering disebut karena legenda jejak kaki Adam di puncak gunung.
Mengenai pertemuan mereka di Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang di Arafah, Mekah): Ini juga riwayat populer. Mereka diturunkan secara terpisah, saling mencari sambil bertobat, lalu dipertemukan di sana. Durasi pemisahan pun berbeda-beda antar riwayat — ada yang bilang 40 hari, ada yang ratusan tahun (bahkan sampai 200 atau 500 tahun dalam cerita tradisional). Semua ini termasuk kategori Isra’iliyyat (cerita yang masuk dari tradisi Yahudi-Nasrani), yang boleh diceritakan untuk hikmah selama tidak dijadikan aqidah wajib.
Makam Hawa di Jeddah? Ini juga bagian dari tradisi yang sama. Dulu ada area makam panjang yang diyakini sebagai makam Hawa, tapi pemerintah Saudi sudah menutup dan meratakannya untuk menghindari kesyirikan. Secara historis, bukti arkeologisnya sangat lemah.
Kesimpulan
Al-Qur’an hanya menyebutkan secara singkat bahwa Adam dan Hawa diturunkan ke bumi secara terpisah (QS Al-A’raf: 24-25, Al-Baqarah: 36) sebagai tempat tinggal dan ujian, tanpa menyebutkan tahun, lokasi pasti, atau durasi pemisahan. Semua detail tambahan berasal dari tafsir dan riwayat ulama yang beragam.
Narasi ini mengajarkan kita tentang asal-usul manusia, pentingnya tobat, kasih sayang Allah, dan tugas kita sebagai khalifah di bumi. Bagi yang ingin mendalami lebih jauh, lebih baik fokus pada hikmah dan pelajaran moralnya daripada memperdebatkan detail yang tidak qath’i (pasti).




