Secara sederhana, sejarah dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Dengan kata lain, sejarah adalah rekaman peristiwa-peristiwa yang pernah dialami oleh manusia. Ketika suatu peristiwa, tindakan, atau bahkan tragedi telah terjadi, maka hal tersebut menjadi bagian dari fakta sejarah. Sementara itu, orang-orang yang terlibat di dalamnya disebut sebagai pelaku sejarah.
Dalam kajian sejarah, sering muncul sebuah pandangan bahwa sejarah pada dasarnya banyak ditulis oleh pihak yang memenangkan suatu konflik atau peperangan. Narasi tersebut kemudian disampaikan kepada masyarakat secara terstruktur, sistematis, dan masif, salah satunya melalui kurikulum pendidikan di sekolah. Tidak jarang, penyampaian sejarah juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan kekuasaan pada zamannya.
Membahas sejarah pada hakikatnya juga berarti membahas kebenaran. Namun, kebenaran dalam sejarah sering kali bersifat relatif. Hal ini karena dalam sejarah selalu muncul berbagai perspektif yang berbeda. Perbedaan tersebut muncul karena manusia sebagai pelaku sejarah memiliki sudut pandang, pengalaman, serta kepentingan yang tidak selalu sama. Oleh karena itu, meskipun sejarah berangkat dari fakta, penafsiran terhadap fakta tersebut dapat berbeda-beda tergantung pada perspektif yang digunakan.
Salah satu contoh perbedaan perspektif dalam sejarah dapat kita lihat pada pembahasan mengenai asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Cina. Pendapat lain mengatakan berasal dari rumpun Melayu, ada pula yang menyebutkan dari Taiwan, bahkan ada teori yang menelusuri asal-usul manusia hingga ke Afrika. Berbagai pendapat ini menunjukkan bahwa dalam kajian sejarah, khususnya mengenai asal-usul manusia dan migrasi nenek moyang, masih terdapat beragam pandangan yang terus diperdebatkan hingga saat ini.
1. Teori Yunan

InIni adalah teori yang dulu diajarkan oleh guru IPS saya ketika masih duduk di bangku SD. Pada masa itu tentu saja saya menerima teori ini sebagai kebenaran. Ya bagaimana lagi, kalau tidak diterima bisa-bisa nilai ulangan harian saya terancam. Bahaya juga, kan? 🙂
Teori yang dimaksud adalah teori Yunnan. Menurut teori ini, asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunnan, di wilayah Cina Selatan.
Salah satu tokoh yang mendukung teori ini adalah Moh. Ali. Ia berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari bangsa Mongol yang tinggal di daerah Yunnan. Bangsa ini kemudian terdesak oleh kelompok bangsa lain yang lebih kuat, sehingga mereka melakukan migrasi besar-besaran ke arah selatan hingga akhirnya sampai ke wilayah Kepulauan Nusantara.
Ngomong-ngomong, Moh. Ali yang mana ya? Terus terang saya juga kurang tahu pasti. Di buku sejarah SMA dulu hanya dituliskan begitu saja: Moh. Ali. Mungkin beliau seorang sejarawan atau ahli antropologi. Yang jelas, beliau bukan Muhammad Ali, mantan petinju juara dunia kelas berat itu.
Selain Moh. Ali, ada juga dua tokoh lain yang mendukung teori ini, yaitu R.H. Geldern dan J.H.C. Kern. Mereka mengajukan beberapa bukti yang dianggap memperkuat teori bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari wilayah Yunnan.
Pertama, ditemukannya kapak tua (kapak persegi dan kapak lonjong) di wilayah Nusantara yang memiliki kemiripan dengan kapak tua yang ditemukan di kawasan Asia Tengah. Kesamaan bentuk dan teknologi alat ini dianggap sebagai petunjuk adanya perpindahan manusia dari Asia Tengah menuju Kepulauan Nusantara.
Kedua, kemiripan bahasa Melayu dengan bahasa Champa yang pernah berkembang di wilayah Kamboja. Kemiripan bahasa ini membuka kemungkinan bahwa nenek moyang masyarakat di wilayah Champa juga berasal dari dataran Yunnan. Mereka diduga bermigrasi dengan menyusuri aliran Sungai Mekong. Dari wilayah tersebut, sebagian kelompok kemudian melanjutkan perjalanan ke selatan hingga akhirnya sampai di Kepulauan Nusantara.
Menurut teori Yunnan, migrasi penduduk dari Yunnan menuju Nusantara terjadi dalam tiga gelombang besar, yaitu gelombang Negrito, Proto Melayu, dan Deutro Melayu.
Gelombang pertama adalah orang Negrito, yang diperkirakan telah memasuki wilayah Nusantara sekitar 1000 SM. Mereka dianggap sebagai salah satu kelompok penduduk paling awal yang menghuni wilayah ini. Bukti keberadaan mereka antara lain ditemukan melalui temuan arkeologi di Gua Cha, Malaysia.
Dalam perkembangannya, kelompok Negrito menurunkan beberapa kelompok masyarakat seperti orang Semang di Semenanjung Malaya. Secara fisik, mereka digambarkan memiliki ciri-ciri seperti kulit gelap, rambut keriting, hidung lebar, dan bibir tebal.
Di Indonesia sendiri, ciri-ciri ras ini sering dikaitkan dengan kelompok Papua Melanesoid yang mendiami Pulau Papua dan kawasan Melanesia. Beberapa kelompok masyarakat di pedalaman Sumatra, seperti Suku Sakai di Riau, juga sering disebut memiliki keterkaitan dengan ras ini.
Hal ini kemudian menimbulkan sebuah pertanyaan menarik:
Apakah orang Afrika dan orang Papua sebenarnya berasal dari ras yang sama?
Gelombang berikutnya adalah Proto Melayu atau Melayu Tua. Mereka diperkirakan datang ke Nusantara sekitar 2500 SM. Disebut Proto Melayu karena mereka dianggap sebagai kelompok Melayu awal yang melakukan migrasi ke wilayah Nusantara.
Beberapa suku yang sering dikaitkan dengan kelompok Proto Melayu antara lain Dayak, Toraja, Batak, Nias, Sasak, dan Rejang. Dibandingkan dengan kelompok Negrito, masyarakat Proto Melayu sudah memiliki kemampuan yang lebih maju, terutama dalam bercocok tanam dan mengolah lahan.
Gelombang terakhir adalah Deutro Melayu atau Melayu Muda. Mereka diperkirakan datang sekitar 1500 SM dan dianggap sebagai gelombang migrasi yang lebih baru dibandingkan Proto Melayu.
Kelompok Deutro Melayu kemudian berkembang menjadi berbagai suku bangsa besar di Indonesia, seperti Minangkabau, Aceh, Sunda, Jawa, Melayu, Betawi, dan Manado.
2. Teori “Out of Taiwan”

Teori lain mengenai asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah Teori Out of Taiwan. Teori ini berpendapat bahwa nenek moyang bangsa-bangsa yang mendiami Nusantara berasal dari Taiwan, bukan dari daratan Cina seperti yang dijelaskan dalam teori Yunnan.
Salah satu tokoh yang mendukung teori ini adalah Harry Truman Simanjuntak, seorang arkeolog Indonesia. Melalui berbagai penelitian arkeologi dan linguistik, ia menjelaskan bahwa asal-usul masyarakat di Nusantara memiliki keterkaitan yang kuat dengan migrasi manusia dari wilayah Taiwan.
Pendekatan linguistik menjadi salah satu dasar penting dalam teori ini. Dari penelitian terhadap berbagai bahasa yang digunakan oleh suku-suku di Nusantara, diketahui bahwa sebagian besar bahasa tersebut berasal dari rumpun bahasa Austronesia. Rumpun bahasa ini mencakup wilayah yang sangat luas, mulai dari Taiwan, Asia Tenggara, hingga kepulauan di Samudra Pasifik.
Menurut teori ini, akar dari berbagai bahasa yang digunakan oleh leluhur masyarakat Nusantara berasal dari rumpun Austronesia yang berkembang di wilayah Formosa, yaitu nama lama untuk Taiwan. Dari wilayah inilah para penutur Austronesia kemudian melakukan migrasi secara bertahap ke berbagai wilayah Asia Tenggara maritim, termasuk Kepulauan Nusantara.
Selain bukti linguistik, teori ini juga didukung oleh penelitian genetika modern. Melalui analisis terhadap ribuan sampel kromosom manusia dari berbagai wilayah Asia, para peneliti menemukan bahwa pola genetika masyarakat di Nusantara tidak menunjukkan kecocokan yang kuat dengan populasi dari daratan Cina. Sebaliknya, terdapat hubungan genetik yang lebih dekat dengan populasi yang berasal dari kawasan Taiwan dan wilayah Austronesia lainnya.
Dengan demikian, teori Out of Taiwan menyimpulkan bahwa penyebaran manusia ke Nusantara merupakan bagian dari gelombang migrasi besar bangsa Austronesia yang berawal dari Taiwan, kemudian menyebar ke Filipina, Indonesia, hingga ke berbagai pulau di Samudra Pasifik.
3. Teori “Out Of Africa”

Teori lain yang cukup kuat dalam menjelaskan asal-usul manusia modern adalah Teori Out of Africa. Teori ini menyatakan bahwa seluruh manusia modern yang hidup saat ini pada dasarnya berasal dari Afrika.
Dasar utama teori ini berasal dari penelitian ilmu genetika, khususnya melalui analisis DNA mitokondria yang diwariskan melalui garis keturunan ibu serta analisis kromosom Y yang diwariskan melalui garis keturunan ayah. Melalui penelitian genetika ini, para ilmuwan mencoba menelusuri jejak nenek moyang manusia modern hingga ke masa yang sangat jauh di masa lalu.
Salah satu peneliti yang mendukung teori ini adalah Max Ingman, seorang ilmuwan dari Amerika Serikat. Berdasarkan penelitiannya, manusia modern diperkirakan muncul di Afrika sekitar 100.000 hingga 200.000 tahun yang lalu. Dari wilayah Afrika inilah manusia kemudian mulai menyebar ke berbagai wilayah di dunia.
Hasil penelitian Ingman juga menunjukkan bahwa tidak ditemukan bukti kuat adanya percampuran genetika antara manusia modern dengan spesies manusia purba yang sebelumnya telah hidup di wilayah lain. Artinya, manusia modern yang menyebar ke berbagai belahan dunia berasal dari satu populasi utama yang berkembang di Afrika.
Migrasi manusia dari Afrika ke luar benua tersebut diperkirakan terjadi sekitar 50.000 hingga 70.000 tahun yang lalu. Gelombang migrasi ini bergerak menuju wilayah Asia Barat melalui dua jalur utama.
Jalur pertama melewati Lembah Sungai Nil, kemudian melintasi Semenanjung Sinai, dan selanjutnya bergerak ke wilayah utara melalui kawasan Levant di Timur Tengah. Jalur kedua adalah dengan menyeberangi Laut Merah menuju wilayah Semenanjung Arab.
Pada masa itu, sekitar 70.000 tahun yang lalu, bumi sedang berada pada periode zaman glasial. Pada masa ini sebagian besar air bumi membeku menjadi gletser sehingga permukaan air laut menjadi lebih rendah dibandingkan sekarang. Kondisi ini membuat jarak antar daratan menjadi lebih dekat dan memungkinkan manusia purba melakukan penyeberangan laut menggunakan perahu sederhana atau rakit primitif.
Setelah memasuki wilayah Asia, sebagian kelompok manusia menetap sementara di kawasan Timur Tengah, sementara kelompok lainnya terus melanjutkan perjalanan. Mereka bergerak dengan mengikuti garis pantai Semenanjung Arab, kemudian menyebar menuju India, Asia Timur, hingga Kepulauan Nusantara.
Bahkan sebagian dari mereka berhasil mencapai wilayah Australia bagian barat daya. Hal ini diperkuat oleh penemuan fosil manusia purba di Lake Mungo, Australia. Selain bukti fosil, jejak paling kuat yang menunjukkan bahwa manusia dari Afrika telah bermigrasi hingga ke Australia adalah bukti genetika yang menunjukkan hubungan keturunan antara populasi manusia di berbagai wilayah dunia.
Dengan demikian, teori Out of Africa menjelaskan bahwa penyebaran manusia ke berbagai wilayah dunia, termasuk ke Nusantara, merupakan bagian dari perjalanan panjang migrasi manusia modern yang bermula dari Afrika puluhan ribu tahun yang lalu.
4. Teori Nusantara
Selain teori-teori yang menyebutkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari luar wilayah Nusantara, ada pula pandangan lain yang dikenal sebagai Teori Nusantara. Teori ini menyatakan bahwa asal-usul bangsa Indonesia berasal dan berkembang di wilayah Nusantara itu sendiri, bukan berasal dari migrasi besar dari luar wilayah ini.
Beberapa tokoh yang mendukung teori ini antara lain Muhammad Yamin, Gorys Keraf, dan J. Crawford. Mereka berpendapat bahwa masyarakat yang mendiami Nusantara telah mengalami proses perkembangan budaya secara mandiri sejak masa yang sangat lama.
Teori Nusantara didasarkan pada beberapa argumen utama.
Pertama, bangsa Melayu dianggap sebagai bangsa yang telah memiliki peradaban yang cukup tinggi sejak masa lampau. Tingkat peradaban seperti itu dinilai tidak mungkin muncul secara tiba-tiba, melainkan harus melalui proses perkembangan budaya yang panjang dari generasi ke generasi di wilayah yang sama.
Kedua, meskipun bahasa Melayu memiliki kemiripan dengan bahasa Champa yang berkembang di wilayah Kamboja, para pendukung teori ini berpendapat bahwa kesamaan tersebut tidak selalu berarti adanya hubungan asal-usul atau migrasi. Kemiripan bahasa tersebut bisa saja terjadi karena kontak budaya atau bahkan kebetulan linguistik.
Ketiga, terdapat dugaan bahwa orang Melayu merupakan keturunan dari manusia purba yang pernah hidup di wilayah Nusantara, seperti Homo soloensis dan Homo wajakensis. Fosil kedua jenis manusia purba ini ditemukan di wilayah Indonesia, sehingga memunculkan anggapan bahwa perkembangan manusia di Nusantara memiliki kesinambungan dari masa prasejarah hingga munculnya manusia modern.
Keempat, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara bahasa Austronesia yang berkembang di Nusantara dengan bahasa Indo-Eropa yang berkembang di wilayah Asia Tengah. Perbedaan ini dianggap sebagai salah satu petunjuk bahwa perkembangan kebudayaan dan bahasa di Nusantara memiliki jalur evolusi yang berbeda dari wilayah Asia lainnya.
Dengan demikian, Teori Nusantara menekankan bahwa masyarakat Indonesia tidak semata-mata merupakan hasil migrasi dari luar, tetapi juga merupakan bagian dari proses perkembangan manusia dan kebudayaan yang tumbuh langsung di wilayah Nusantara.

5. Teori Lemurian–Atlantis
Ada sebuah teori yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan: Teori Lemurian–Atlantis.
Bagi sebagian orang, teori ini dianggap sebagai dongeng atau mitos. Namun, bagi mereka yang mempercayainya, teori ini menawarkan sebuah cara pandang yang berbeda dalam memahami asal-usul manusia, persebaran bangsa-bangsa di dunia, serta misteri peradaban masa lalu yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.
Teori ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan menarik.
Mengapa dahulu, ketika Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua masih memiliki keterkaitan daratan yang sangat kuat, kawasan ini dikenal dengan istilah Sunda Besar?
Mengapa pula terdapat begitu banyak keragaman fisik di wilayah Nusantara?
Mengapa masyarakat Melayu dan Papua memiliki karakteristik fisik yang berbeda? Mengapa masyarakat di sekitar Manado memiliki ciri fisik yang dalam beberapa hal berbeda dengan masyarakat di wilayah Nusantara lainnya? Dan mengapa sebagian masyarakat Dayak memiliki sejumlah kemiripan fisik yang oleh sebagian orang dianggap menyerupai masyarakat pribumi di Amerika?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang kemudian digunakan oleh para pendukung teori Lemurian–Atlantis untuk membangun sebuah gambaran besar tentang sejarah umat manusia.
Menurut teori tersebut, bangsa Indonesia bukan sekadar berasal dari Nusantara. Bahkan, Nusantara dianggap sebagai salah satu pusat awal peradaban manusia, tempat dari mana berbagai bangsa kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Lemuria dan Atlantis
Dalam berbagai literatur alternatif, nama Lemuria dan Atlantis sering muncul sebagai dua peradaban besar yang konon pernah berkembang pada masa yang sangat jauh di masa lalu.
Sebagian penulis dan peneliti alternatif berspekulasi bahwa kawasan Nusantara pernah menjadi bagian dari pusat peradaban yang sangat maju, yang kemudian dikaitkan dengan legenda Atlantis.
Namun, dalam perkembangan teori tersebut, muncul pula gagasan bahwa peradaban yang berada di kawasan Nusantara sebenarnya merupakan bagian dari Benua Lemuria.
Menurut versi dongeng yang berkembang di kalangan tertentu, sebagian besar Lemuria kemudian tenggelam akibat sebuah bencana besar yang dikaitkan dengan kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh.
Dalam versi yang jauh lebih kontroversial, bencana tersebut bahkan dikaitkan dengan konflik antara bangsa Lemurian dan Atlantis. Ada cerita yang menyebut bahwa sebagian wilayah Lemuria hancur akibat serangan menggunakan teknologi yang oleh penuturnya digambarkan menyerupai senjata nuklir.
Sementara itu, Kepulauan Nusantara dianggap sebagai bagian dari daratan Lemurian yang berhasil bertahan dan tidak seluruhnya tenggelam.
Tentu saja, semua kisah tersebut masih berada dalam wilayah teori alternatif dan belum menjadi fakta sejarah yang diterima oleh para ahli.
Lalu, Mengapa Disebut Sunda Besar?
Kita kembali kepada pertanyaan awal.
Mengapa disebut Sunda Besar?
Apakah istilah itu sekadar penamaan geografis?
Ataukah ada kemungkinan bahwa nama tersebut berkaitan dengan peradaban dan masyarakat yang pernah hidup di wilayah tersebut pada masa yang sangat jauh di masa lalu?
Bahkan muncul sebuah pertanyaan yang lebih berani:
Mungkinkah bahasa Sunda memiliki akar yang sangat tua dan pernah menjadi salah satu bahasa awal yang digunakan manusia?
Pendapat seperti ini tentu saja akan menimbulkan perdebatan panjang. Apalagi ketika pembahasannya bersinggungan dengan keyakinan agama mengenai bahasa pertama manusia.
Sebagian kalangan berpendapat bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam agama. Sementara dalam kajian sejarah dan linguistik modern, asal-usul bahasa manusia merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu bahasa yang masih digunakan pada masa sekarang.
Karena itu, gagasan mengenai bahasa Sunda sebagai bahasa pertama manusia sebaiknya ditempatkan sebagai hipotesis dalam sebuah dongeng sejarah, bukan sebagai fakta yang sudah terbukti.
Arkhytirema dan Puzzle Sejarah
Teori Lemurian–Atlantis semakin menarik perhatian sebagian orang ketika dikaitkan dengan sebuah novel kontroversial berjudul “Arkhytirema.”
Novel tersebut memuat kisah yang dianggap oleh sebagian pembacanya memiliki banyak kemiripan atau “cocoklogi” dengan nama-nama tempat di Nusantara. Namun, alur dan penafsiran di dalamnya berbeda dari legenda-legenda rakyat yang sebelumnya telah beredar.
Terlepas dari benar atau tidaknya isi novel Arkhytirema, satu hal yang menarik adalah bahwa pembahasan mengenai Lemuria dan Atlantis sebenarnya telah muncul jauh sebelum novel tersebut ditulis.
Para penulis Barat dan penggemar sejarah alternatif telah lama membicarakan kedua nama tersebut sebagai bagian dari legenda mengenai peradaban kuno yang sangat maju.
Namun, perlu ditegaskan kembali:
Sebuah novel tetaplah sebuah karya sastra. Novel tidak dapat dijadikan bukti sejarah hanya karena memiliki kemiripan dengan nama tempat, legenda, atau kebudayaan yang benar-benar ada.
Meski demikian, novel tersebut dapat menjadi sebuah pemantik untuk menyusun kembali potongan-potongan cerita yang tersebar dalam berbagai tradisi bangsa di dunia.
Ibarat sebuah puzzle besar, setiap bangsa memiliki dongeng, legenda, dan kisah tentang asal-usul mereka sendiri.
Dari sinilah muncul pertanyaan-pertanyaan menarik.
Mengapa masyarakat Papua dan sebagian masyarakat Afrika memiliki karakteristik fisik yang dalam beberapa hal serupa?
Mengapa masyarakat Tiongkok, Jepang, dan Korea memiliki sejumlah karakteristik fisik yang oleh pengamat awam dianggap memiliki kemiripan?
Mengapa sebagian besar masyarakat Eropa memiliki kulit relatif terang dan cukup banyak yang memiliki mata berwarna biru atau hijau?
Tentu saja, ilmu genetika modern memiliki penjelasan mengenai migrasi, adaptasi lingkungan, perkawinan antarpopulasi, dan evolusi yang membentuk keragaman manusia.
Namun, dalam dongeng Lemurian–Atlantis, semua keragaman tersebut dikisahkan sebagai bagian dari sebuah sejarah besar tentang penyebaran manusia dari satu pusat peradaban.
Berikut adalah nama-nama bangsa yang dikisahkan dalam novel tersebut.
1. Lemuria
Dalam kisah tersebut, Lemurian digambarkan sebagai bangsa yang rendah hati, sering mengalah, memiliki tingkat toleransi yang tinggi, pekerja keras, suka berpikir, serta dikenal sebagai bangsa penemu dengan teknologi yang sangat maju.
Pemimpin bangsa Lemurian disebut Rhamidaar.
Dalam versi dongeng ini, bangsa Lemurian dianggap sebagai nenek moyang bangsa Indonesia dan masyarakat Nusantara.
2. Atlantis
Berbeda dengan Lemurian, bangsa Atlantis digambarkan sebagai bangsa agresor dan penjajah yang berkali-kali menyerang bangsa Lemurian.
Penduduknya disebut Atlantean, sedangkan pemimpinnya bernama Bhallamin.
Dalam cerita tersebut, bangsa Atlantis menganggap dirinya sebagai bangsa yang besar, makmur, bermartabat, berintelegensi tinggi, baik hati, cantik, tampan, serta memiliki jiwa heroik.
Namun, di balik citra tersebut, mereka justru digambarkan berusaha menghilangkan penemuan bangsa lain agar masyarakat dunia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan berkembang secara mandiri.
Dalam versi dongeng ini, bangsa Atlantis kemudian dikaitkan sebagai nenek moyang masyarakat Eropa dan Amerika.
3. Arbhiina
Arbhiina digambarkan sebagai bangsa yang sulit diatur dan memiliki karakter nomaden.
Mereka diceritakan sebagai bangsa yang gemar berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Dalam kisah tersebut, bangsa Arbhiina kemudian dikaitkan dengan bangsa Arab pada masa sekarang.
4. Negrida
Negrida digambarkan sebagai bangsa yang memiliki tubuh besar, kulit gelap, suara yang bagus, serta kekuatan fisik yang tinggi.
Dalam cerita tersebut, bangsa ini mendiami wilayah Afrika.
Setelah terjadinya bencana banjir besar pada zaman Nabi Nuh, sebagian dari mereka dikisahkan disebarkan oleh Arkhytirema ke wilayah Australia dan Vapva, yang kemudian dikaitkan dengan Papua.
Dalam versi dongeng tersebut, Negrida dianggap sebagai salah satu nenek moyang masyarakat Papua dan Afrika.
5. Khainna
Khainna digambarkan sebagai bangsa yang berkulit terang dan bermata sipit.
Mereka dikisahkan memiliki keterampilan motorik yang baik, lincah, terampil, ulet, serta rajin mencatat berbagai pengetahuan.
Dalam cerita tersebut, bangsa Khainna kemudian dikaitkan dengan masyarakat Tiongkok, Korea, dan Jepang.
6. Rama
Rama merupakan nama bangsa yang dalam kisah tersebut dikaitkan dengan masyarakat India dan wilayah sekitarnya.
Mereka digambarkan sebagai salah satu kelompok manusia yang kemudian menyebar dan berkembang di kawasan Asia Selatan.
7. Indarrina
Indarrina digambarkan sebagai bangsa berkulit merah yang kemudian dikaitkan dengan masyarakat pribumi atau suku-suku Indian di Benua Amerika.
Dalam dongeng tersebut, mereka dianggap sebagai penduduk asli Amerika yang berasal dari penyebaran manusia pada masa lampau.
8. Aborigin
Terakhir adalah bangsa Aborigin, yang dalam kisah tersebut digambarkan sebagai penduduk asli Benua Australia.
Novel itu bahkan memunculkan sebuah gagasan tentang apa yang disebut sebagai gen letal.
Menurut versi cerita tersebut, keturunan Aborigin hanya akan mempertahankan garis genetik Aborigin apabila menikah dengan sesama Aborigin. Jika menikah dengan orang Eropa, keturunannya dikisahkan akan menjadi Eropa, sedangkan jika menikah dengan orang Asia, keturunannya akan menjadi Asia, sehingga gen Aborigin dianggap terputus.
Benarkah demikian?
Tentu saja, pertanyaan seperti ini justru membutuhkan penelitian genetika yang serius. Karena dalam ilmu genetika modern, pewarisan sifat manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar pembagian manusia berdasarkan kelompok ras.
Dan mungkin, justru di sinilah menariknya sebuah dongeng.
Kita tidak harus langsung percaya.
Kita juga tidak harus langsung menolak.
Kita bisa menempatkan kisah Lemurian–Atlantis sebagai sebuah puzzle, sebuah hipotesis, dan sebuah cerita alternatif tentang masa lalu manusia—lalu membandingkannya dengan sejarah, arkeologi, antropologi, linguistik, dan genetika modern.
Sebab, pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya:
“Apakah Lemuria dan Atlantis benar-benar pernah ada?”
Tetapi juga:
“Seberapa banyak kisah tentang masa lalu manusia yang masih belum kita pahami?”
Dan mungkin, di antara legenda, dongeng, dan fakta sejarah yang telah teruji, masih terdapat potongan-potongan puzzle yang suatu hari nanti dapat membantu kita memahami perjalanan panjang umat manusia.










Uniknya, data-data yang disampaikan dalam novel tersebut ternyata memiliki sejumlah kemiripan dengan berbagai pembahasan dalam tayangan Ancient Aliens di History Channel. Selain itu, beberapa gagasannya juga memiliki kesamaan dengan pandangan sejumlah peneliti asing yang mengajukan hipotesis bahwa kawasan Nusantara pernah menjadi salah satu pusat penting dalam perkembangan awal peradaban manusia.
Kemiripan-kemiripan inilah yang kemudian menarik untuk dicermati. Apakah semuanya hanya kebetulan, atau ada bagian dari sejarah Nusantara yang selama ini belum banyak kita ketahui dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut?





[…] ketika masih di bangku sekolah, kita sering diajarkan dalam pelajaran Sejarah bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Asia Selatan. Namun kini ada teori baru yang mengatakan bahwa justru, bangsa-bangsa lain lah, termasuk yang di […]