Home  /  Opini  / Memahami Makna Berhijab

Memahami Makna Berhijab


Memahami Makna Berhijab

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Ahzab:59)

Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya hingga menutupi dadanya.
(QS. An Nuur:31)

Dua dalil di atas seringkali dipakai untuk menunjukkan betapa pentingnya hijab syar’i bagi para wanita. Setelah jilbab syar’i digunakan, apakah otomatis akan langsung terjaga? Tergantung orang yang memakainya juga. Tapi setidaknya pakaian yang menutup aurat tentu secara logika akan lebih menjaga pemakainya dari segala gangguan sexual harrashment dan sejenisnya.

Masalah pentingnya berhijab, juga tertulis dalam kitab sebelumnya :

Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghinanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. (1 Korintus 11:5)
Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. (1 Korintus 11:6)

Pertimbangkanlah sendiri : Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? (1 Korintus 11:13)

Saat ini, banyak kalangan intelektual yang berpendapat bahwa hakikat berhijab bagi perempuan adalah menutup seluruh perbuatan buruk yang berpotensi dilakukan perempuan, seperti bergunjing/ghibah, pamer baju-baju modis dan mahal, mengambil hak orang secara bathil, dll. Jadi intinya berhijab itu bukan ditutup berlebihan secara fisik, namun berpenampilan sopan sesuai kondisi lokal dan perilakunya positif.

Banyak yang baper dengan pendapat di atas, lalu berkata sinis, “Jadi, maksud ente, nggak berhijab juga gak apa-apa ya, asal perilakunya baik? Hati-hati, gan, itu secara langsung maupun tidak langsung adalah upaya menggiring umat agar jauh dari kewajiban berhijab”

Lho, kenapa harus sinis dengan pendapat di atas? Pengertian berhijab itu bajunya atau akhlaqnya? Cobalah kita bercermin pada diri sendiri saja. Jika hijab syar’i sudah digunakan, bahkan sudah pakai cadar juga, tapi perilakunya masih sering bergunjing, bergibah, pamer baju modis & mahal, mengambil hal orang secara bathil dll, apakah wanita tersebut sudah bisa dikatakan berhijab? Secara ritual IYA, tapi secara spiritual TIDAK.  Mana yang nanti akan dihisab oleh Rabb di yaumil akhir kelak? bajunya atau akhlaqnya?

Orang yang akhlaqnya baik sudah tentu akan menutup auratnya dengan baju yang pantas, sopan, dan elegan. Jadi pendapat di atas, sama sekali bukan mengatakan hijab syar’i tidak penting. Hijab syar’i adalah pengingat diri mengenai pentingnya seluruh perbuatan buruk yang berpotensi dilakukan perempuan.

 

Comments

comments

Related Post


Ramadan – Waktu Untuk Revolusi Materi Ceramah di Mesjid-Mesjid.
Ramadan – Waktu Untuk Revolusi Materi Ceramah di Mesjid-Mesjid.

Ramadhan baru saja berlalu, selama sebulan penuh kemarin, semoga kita…

Pembahasan Masalah Poligami Akan Selalu Menuai Kontroversi
Pembahasan Masalah Poligami Akan Selalu Menuai Kontroversi

Di nagara kita, adakah contoh rumah tangga harmonis dari para…

LiteBig Messenger Aplikasi Berkirim Pesan Buatan Anak Negeri
LiteBig Messenger Aplikasi Berkirim Pesan Buatan Anak Negeri

Aplikasi berkirim pesan atau yang biasa disebut dengan chatting saat…

QS Al Maidah Ayat 82 – 91
QS Al Maidah Ayat 82 – 91

Pengantar : Sebelumnya, mungkin Akang-Teteh pembaca blog bertanya, kenapa sih…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *