Melepas Ego Demi Merah Putih: Mengapa Kebencian pada Beckham Putra Adalah Cerminan Mundurnya Suporter Kita?

Melepas Ego Demi Merah Putih: Mengapa Kebencian pada Beckham Putra Adalah Cerminan Mundurnya Suporter Kita?

Pernahkah kalian melihat aura semacam ini? Pemain yang dimasukkan di menit-menit terakhir, tapi justru dari raut wajahnya dia terlihat begitu excited, seperti orang yang sudah menunggu lama dan akhirnya dipanggil untuk membuktikan sesuatu.

Dia masih muda, berprestasi, dan prestasi yang sudah dia raih hari ini jauh melampaui pemain seusianya. Sial bagi pemain ini, dia justru menjadi pemain timnas paling dibenci. Ia sungguh dimusuhi oleh bangsanya sendiri. Dan inilah kisah Beckham Putra, pemain muda namun mendapat perlakuan paling berbeda.

24 tahun yang lalu, tepatnya pada 29 Oktober 2001, lahirlah seorang anak berbakat yang kelak menjadi sosok tak terduga dalam sejarah sepak bola Indonesia. Namanya adalah Beckham Putra Nugraha. Pemain sayap yang telah mengoleksi begitu banyak gelar di persepakbolaan Indonesia. Sosok yang benar-benar telah memahami seni dalam bermain bola dan menjadi jantung di lini serang sebuah tim. Cara dia bermain memang terlihat tengil, namun apa yang ia tunjukkan bagi tim yang ia bela sungguh sangat bernilai.

Kini di usianya yang ke-24 tahun, ketika kebanyakan pemain mungkin akan mendapatkan banyak cinta dan banyak dukungan, Beckham Putra justru sebaliknya. Ia tampak menjadi pusaran kebencian dari beberapa oknum suporter. Dan tampaknya, kebencian terhadap pemain ini bukan hanya datang dari oknum. Karena ketika kita berbicara menggunakan kata oknum, tentulah jumlahnya secuil. Kebencian yang datang ke arah Beckham Putra sungguh berbeda, sungguh besar dan sungguh masif. Seperti dan seolah-olah Beckham punya utang ratusan miliar pada mereka yang belum dilunasi. Yang mereka lakukan adalah meluapkan makian, cacian, hujatan, bahkan yang paling mengerikan adalah teror.

Dan puncaknya tentu saja ketika seorang Beckham Putra naik level dan dipanggil oleh negara untuk membela timnas Indonesia. Alih-alih mendapat dukungan, Beckham Putra justru diperlakukan berbeda. Ia didiskriminasi oleh kelompok suporter tersebut. Entah berapa ribu kali pemain ini mendapat perlakuan tak menyenangkan. Namun yang paling menarik perhatian dan menjadi isu nasional tentu saja pada FIFA Match Day terbaru.

Saat para pemain timnas lainnya, baik penggawa lokal maupun diaspora, melangkahkan kaki di lobi hotel, mereka selalu disambut dengan gemuruh. Sontak para suporter akan meneriakkan nama mereka, memberikan dukungan yang membakar semangat, hingga berebut meminta foto atau tanda tangan sebagai bentuk dukungan. Namun, pemandangan kontras yang menyayat hati justru harus dialami oleh seorang Beckham Putra.

Dalam sebuah rekaman video yang beredar luas di media sosial, kita dipaksa menyaksikan sendiri sebuah ironi yang teramat besar. Bagaimana bisa seorang putra bangsa yang ikut berlatih memeras keringat, berjuang mati-matian, dan bertanding mempertaruhkan segalanya demi kehormatan negeri ini, justru diteriaki dengan panggilan yang sangat tidak pantas? Bukan kalimat penyemangat yang ia terima, melainkan umpatan kasar yang menyamakan namanya dengan sebutan seekor hewan.

Bagi suporter timnas garis lurus, hal ini rasanya sangat sulit diterima dengan akal sehat. Logikanya sederhana: kalau kamu tak bisa memberikan dukungan karena kamu tak menyukai seorang pemain, kenapa harus berteriak dan memaki seperti itu? Apa sulitnya untuk diam saja?

Mungkin sebagian orang bisa memaklumi kejadian itu karena posisinya waktu itu adalah di Jakarta, masih di area umum. Mungkin bagi oknum suporter berhaluan miring, itu adalah wilayah mereka dan di situ adalah kandang mereka. Namun yang sangat sulit diterima dengan logika adalah momen ini. Saat itu, seluruh suporter, pemain, dan tim kepelatihan tengah bersukacita. Mereka tertawa, bersukacita, berkeliling, dan merayakan kemenangan timnas Indonesia atas Mozambik. Suasananya indah, suasananya pun sungguh hangat. Coba kalian perhatikan betapa bahagianya kita ketika menyaksikan momen ini.

Namun seketika semuanya berubah ketika oknum suporter ini lagi dan lagi membuat gaduh dan memecah belah. Kalian bayangkan, ini adalah momennya Timnas. Beckham Putra juga dipanggil untuk membela timnas, bukan membela klubnya. Alih-alih memberikan dukungan kepada Beckham, untuk sekadar diam tanpa menghujat Beckham saja mereka tidak bisa.

Padahal orang paling dungu pun tahu, dan itu terjadi di seluruh dunia. Walaupun tak tertulis di undang-undang, tapi semua orang tahu. Bahkan seorang suporter yang berkebutuhan khusus yakni Badru pun tahu bahwa ketika mendukung timnas, suporter harus meninggalkan rivalitasnya. Harus melepaskan dulu bendera klub yang didukung. Nonton Indonesia lawan siapa? Lawan Inggris. Suporter yang mengelol rasis? Iya, benar. Momen ini menjadi sorotan bagi pemain diaspora. Jises yang bahkan tak bermain saat itu pun sampai membuat unggahan khusus untuk mendukung seorang Beckham Putra.

Baca Juga  Emil Audero: Menjaga Harapan Baru untuk Timnas Indonesia

Bagi kita, walaupun para pemain diaspora itu adalah kita juga, warga Indonesia juga, tapi bagaimanapun kita tak ingin para diaspora ini melihat begitu banyak aib tentang suporter yang selama ini menggerogoti sepak bola kita. Karena di kejadian Beckham waktu itu, sampai-sampai seorang Kevin Diks pun terheran-heran bagaimana bisa oknum suporter memperlakukan Beckham seperti itu. Rasanya seperti di depan bintang Bundesliga diperlihatkan kebodohan yang tidak berakal.

Berat sekali tugas pemain diaspora ini untuk sepak bola Indonesia. Selain mereka harus dituntut untuk selalu bermain bagus memenangkan pertandingan, menghadapi kebodohan di depan mata juga adalah salah satu pekerjaan yang harus dikerjakan oleh mereka. Di saat pemain keturunan mati-matian ingin membela negara nenek moyangnya, ternyata kerja keras mereka harus dibayar dengan menyaksikan cerminan kebodohan segelintir manusia yang lahir di tanah air leluhurnya. Entah apa yang dipikirkan oleh seorang Kevin Diks saat melihat fenomena seperti ini. Bayangkan, seorang Kevin Diks harus membela rekan negaranya dari cemoohan warga negaranya sendiri.

Meskipun dibenci dengan semasif itu, Beckham Putra tak pernah berdiri sendiri. Ada selalu rekan-rekan yang mendukungnya. Bahkan saat itu di Stadion GBK, makhluk paling tulus dan jujur sekalipun tahu, yakni anak-anak kecil. Mereka tahu persis mana sosok yang harus didukung. Yang jadi pertanyaan kita, kenapa bisa bocah-bocah cilik ini jauh lebih dewasa daripada oknum suporter tadi?

Walaupun menghujat itu jelas salah, mungkin masih bisa masuk akal jika Beckham masuk timnas lewat jalur orang dalam, lewat titipan, lewat koneksi, atau lewat nama besar keluarga. Tapi tidak. Beckham dipanggil murni karena kemampuannya, murni karena apa yang ia tunjukkan di level klub. Begitu meyakinkan, begitu konsisten, hingga tidak ada alasan lain untuk tidak memanggilnya.

Dan mungkin sebagian dari kalian belum benar-benar tahu seberapa gila perjalanan bocah ini. Beckham adalah anak ketiga dari pasangan Budi Nugraha dan Yuyun Zawariah. Kakaknya, Gian Zola, juga seorang pesepak bola profesional. Seolah bakat itu memang sudah mengalir dalam darah keluarga ini. Nama Beckham bukan sekadar nama. Ayahnya memberikan nama itu sebagai penghormatan kepada David Beckham yang terinspirasi dari sebuah gol ikonik yang tercipta dari garis tengah lapangan saat Manchester United menghadapi Wimbledon di musim 1996-1997. Sebuah gol yang mendunia, dan kini nama itu pun perlahan mulai mendunia di tangan sang putra.

Perjalanan Beckham dimulai sejak ia masih kecil, ketika ayahnya mendaftarkannya ke sekolah sepak bola POR Uni Bandung pada usia 8 tahun. Dari sana, benih itu mulai tumbuh, dan tumbuhnya bukan sembarangan. Di usia yang masih sangat belia, Beckham sudah mengharumkan nama Indonesia di mata internasional. Pada tahun 2013, ia mewakili Indonesia dalam ajang Danone Nations Cup di Inggris dan membawa timnya meraih peringkat kedelapan dari 32 negara yang turut bersaing. Bukan hasil yang biasa untuk anak seusianya. Alhamdulillah, kita mendapat peringkat dunia dari 32 negara di dunia.

Perjalanan itu tidak berhenti di sana. Beckham terus naik level, terus membuktikan diri di setiap kelompok umur yang ia masuki. Tahun 2013 ia menjuarai Danone Nations Cup, tahun 2018 ia membawa timnya meraih gelar juara di Elite Pro Academy U-16, sekaligus meraih penghargaan top skorer Liga 1 U-19 di tahun yang sama. Lalu datanglah tahun 2023, tahun yang akan dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia. Beckham menjadi bagian dari skuad yang mengakhir puasa 32 tahun Timnas Indonesia dengan mempersembahkan medali emas SEA Games. Di tahun yang sama, ia juga turut membawa Indonesia menjadi runner-up AFF U-23 Championship 2023. Dua pencapaian besar, satu tahun, satu pemain yang ada di keduanya.

Di level klub, ceritanya bahkan lebih gila. Bersama Persib Bandung, Beckham Putra menorehkan sesuatu yang langka: juara tiga musim berturut-turut! Musim 2023-2024, musim 2024-2025, dan musim 2025-2026. Tiga trofi liga, tiga kali beruntun, dan Beckham ada di sana setiap kalinya. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai pemain kunci.

Baca Juga  Selamat Jalan Lord ATEP, Bobotoh Akan Selalu Mengenangmu Sebagai Salah Satu Icon PERSIB

Penghargaan individualnya pun tak kalah panjang. Pemain muda terbaik FWP 2019, pemain muda terbaik Persib dan Liga 1 bulanan 2022, dan yang terbaru namanya masuk dalam Best XI Super League musim 2025-2026. Pengakuan resmi bahwa ia bukan sekadar pemain pelengkap. Ia adalah salah satu yang terbaik di liganya.

Dan di luar lapangan, Beckham membuktikan bahwa ia bukan hanya hebat dengan bola di kakinya. Pada Maret 2026, di tengah jadwal latihan dan pertandingan yang padat, Beckham dinyatakan lulus sebagai sarjana ilmu pemerintahan dari FISIP Universitas Jenderal Ahmad Yani Cimahi. Ia menuntaskan kuliahnya sambil menjalani karier profesional penuh waktu. Sebuah pencapaian yang bahkan banyak orang tanpa jadwal seketat dirinya pun kesulitan melakukannya. Jadi pertanyaannya bukan lagi layak atau tidak Beckham Putra dipanggil Timnas. Pertanyaannya adalah: apa lagi yang harus ia buktikan?

Kalau mau dibayangkan, apa yang hari ini sudah diraih Beckham dengan apa yang sudah diraih oleh mereka yang menghujat, sungguh kejomplangan itu rasanya bagai bumi dan langit. Maka benar kata Coach Justin soal orang yang terlalu fanatik kepada klubnya sampai menghilangkan logika. Harus bayar bensin lu, harus makan, tapi gayanya seolah-olah mereka memiliki MU. Ini semua fans ya, bukan Arsenal, MU aja. Seolah-olah mereka memiliki, enggak mau ah kalau ada pemain datang yang mereka enggak suka. Wah, enggak suka pemain ini. Lu siapa gitu loh?

Rivalitas itu penting dan perlu. Tanpa rivalitas tidak ada tekanan, tanpa tekanan tidak ada kemajuan. Rivalitas yang sehat adalah bahan bakar bagi kualitas sebuah liga, bahkan bagi kemajuan timnas itu sendiri. Tapi ada satu hal yang harus kita pelajari dari rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Kita semua tahu bagaimana panasnya rivalitas antara Real Madrid dan Barcelona. Bukan sekadar panas di atas lapangan, tapi panas yang merembet ke jalanan, ke tribun, hingga ke kehidupan sehari-hari. Penuh teror, penuh provokasi, berdarah-darah. Dua kubu yang selama puluhan tahun saling memandang satu sama lain seperti musuh bebuyutan yang tak akan pernah bisa berdamai.

Namun terjadilah sesuatu yang luar biasa. Ketika Spanyol berjuang di Euro, ketika Spanyol melangkah ke Piala Dunia, para suporter itu melepaskan bendera Barcelona mereka, mereka melepaskan bendera Real Madrid mereka, dan dengan satu suara, satu tekad, mereka mengibarkan satu bendera yang sama: Spanyol! Hasilnya? Era keemasan yang tak terlupakan. Juara Euro 2008, juara Piala Dunia 2010, juara Euro 2012. Tiga trofi besar dalam 4 tahun. Sebuah dinasti yang lahir bukan dari bakat semata, tapi dari kedewasaan para pendukungnya untuk meredakan ego demi satu tujuan yang lebih besar. Mereka membuktikan bahwa mencintai klub dan mencintai negara bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Kedewasaan semacam inilah yang seharusnya dimiliki suporter timnas Indonesia.

Boleh mencintai Persija, boleh mencintai Persib, boleh mencintai rival sekota dengan sepenuh hati di hari derby. Itu sah saja, itu bagian dari sepak bola. Tapi ketika Merah Putih dikibarkan, ketika Garuda melangkah ke lapangan, semua itu harus dilepaskan. Karena yang sedang berjuang bukan lagi pemain klub, yang sedang berjuang adalah putra bangsa. Gunakanlah logika, karena tanpa logika yang tersisa hanyalah ego. Dan ego tidak pernah mengantarkan siapa pun ke mana-mana.

Dan di sinilah yang membuat hati siapa pun yang menonton terasa berat. Kita tahu Beckham Putra seperti apa. Kita tahu bagaimana ia menikmati setiap momen di lapangan. Cara selebrasinya, cara ia tertawa bersama rekan-rekannya, cara ia menghidupkan suasana tim. Ia adalah sosok yang periang, pemain yang benar-benar hidup di atas lapangan.

Namun dalam sebuah video yang beredar, kita menyaksikan pemandangan yang berbeda. Ketika pemain-pemain lain meluapkan kegembiraan atas kemenangan, berteriak, berpelukan, merayakannya bersama, Beckham hanya bertepuk tangan pelan, canggung. Seolah ia tidak yakin apakah ia berhak untuk ikut berdiri di depan. Seolah ada sesuatu yang menahan dirinya untuk benar-benar merasakan momen itu sepenuhnya.

Ini bukan Beckham yang kita kenal di Persib. Ini bukan pemain yang sama yang berlari kencang memeluk suporter setelah mencetak gol. Ini adalah Beckham yang di dalam seragam merah putih, di hadapan negerinya sendiri, merasa tidak disambut. Dan itu bukan salahnya. Tapi sebelum kita bicara lebih jauh, dengarkan dulu ini. Ada sebuah video refleksi bukan dari komentator, bukan dari analis, tapi dari Beckham Putra sendiri: dan enggak gampang itu bisa saya lalui karena mungkin 10 tahun yang lalu itu adalah mimpi. Tapi alhamdulillah saya bisa wujudkan dan saya juga bisa bawa Persib juara back to back dan bisa masuk tim nasional Indonesia di umur 24.

Baca Juga  Homegrown Player Persib Bandung 2019

Dengarkan baik-baik apa yang ia katakan. Tidak ada amarah di sana, tidak ada dendam, tidak ada seorang pemain yang membalas hujatan dengan hujatan. Yang ada hanyalah seorang anak muda yang berbicara dengan jujur tentang perjalanannya, tentang perjuangannya, tentang apa yang ia rasakan.

Dan di situlah kita tersadar, Beckham Putra bukan berbeda dari kita. Ia sama seperti pemain-pemain lain yang bermimpi sejak kecil. Ia sama seperti anak-anak bangsa lainnya yang tumbuh dengan harapan, dengan kerja keras, dengan pengorbanan yang tidak selalu terlihat dari luar. Ia sama seperti kita. Seorang anak yang hidup dan berjuang untuk mimpinya, untuk cita-citanya. Bedanya, ia berhasil.

Ia memulai dari lapangan kecil di Bandung. Ia berlatih ketika orang lain beristirahat. Ia terus berlari ketika banyak yang sudah menyerah. Dan setelah bertahun-tahun melewati semua itu, setelah melewati cedera, keraguan, tekanan, dan segala hal yang tidak pernah kita lihat di balik kamera, ia akhirnya berdiri di titik yang ia impikan sejak kecil: juara Liga Indonesia, bisa berseragam timnas, dengan nama Indonesia di dadanya. Itu bukan hadiah, itu bukan titipan. Itu hasil dari sebuah perjalanan panjang yang ia bayar dengan keringat dan waktu.

Lalu sebuah pertanyaan sederhana yang seharusnya kita renungkan bersama: ketika seorang anak berhasil meraih cita-citanya, apa hak kita untuk selalu merendahkannya? Apa hak kita untuk berdiri di tribun atau duduk di balik layar ponsel dan melemparkan kebencian kepada seseorang yang telah membuktikan dirinya dengan kerja keras? Kalian boleh tidak menyukainya sebagai pemain klub rival, itu wajar dan manusiawi. Tapi ada batas yang sangat tipis antara rivalitas yang sehat dan kebencian yang sudah kehilangan akal sehatnya. Beckham Putra tidak meminta kalian untuk mencintainya. Ia tidak butuh tepuk tangan dari mereka yang selama ini memusuhinya. Yang ia butuhkan, yang seharusnya ia dapatkan sebagai hak paling dasar seorang manusia, hanyalah ruang untuk berjuang tanpa direndahkan di negerinya sendiri. Tidak lebih dari itu.

Pada akhirnya, Beckham Putra mungkin akan baik-baik saja. Ia akan tetap bermain, tetap berlatih, tetap mengejar mimpinya. Karena sebelum kalian mengenalnya, ia sudah terbiasa berjuang sendirian. Tapi pertanyaan sesungguhnya bukan tentang Beckham. Pertanyaannya adalah tentang kita.

Kita ingin timnas Indonesia menjadi besar. Kita ingin dihormati dunia. Kita ingin suatu hari berdiri sejajar dengan negara-negara terbaik di Asia bahkan dunia. Tapi bagaimana mungkin kita bisa sampai ke sana jika bahkan kepada pemain kita sendiri kita masih gagal memberikan rasa hormat yang paling sederhana? Karena musuh sepak bola Indonesia bukan Persib, Persija, Persebaya, atau Arema. Musuh terbesar sepak bola Indonesia adalah ego yang membuat kita lupa bahwa pada akhirnya kita berada di pihak yang sama. Hari ini mungkin yang menjadi korban adalah Beckham Putra, besok bisa pemain lain, lusa bisa siapa saja. Dan jika kita terus membiarkan hal seperti ini terjadi, yang kalah bukan Beckham. Yang kalah adalah timnas Indonesia.

Beckham Putra sudah melakukan bagiannya. Ia berlatih, berprestasi, membuktikan dirinya berkali-kali. Sekarang giliran kita yang membuktikan sesuatu. Bahwa kita cukup dewasa untuk mendukung Garuda tanpa membawa kebencian klub ke dalamnya. Bahwa kita cukup bijak untuk membedakan rivalitas dan permusuhan. Dan bahwa ketika seorang anak bangsa mengenakan lambang Garuda di dadanya, kita bisa melihatnya sebagai satu dari kita, bukan sebagai musuh. Because pada saat lagu Indonesia Raya berkumandang, tidak ada lagi Persib, Persija, ataupun rivalitas. Yang ada hanya Indonesia, dan Beckham Putra adalah bagian dari Indonesia. Maka ia sungguh tak layak diperlakukan berbeda.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x