Mengapa Pemerintah Menjadi Sasaran Kebencian di Media Sosial?

Mengapa Pemerintah Menjadi Sasaran Kebencian di Media Sosial?

Gerimis tipis turun di Champs-Élysées, membasahi trotoar berbatu dan menyulap lampu jalan menjadi kilauan samar.
Di sebuah kafe kecil yang syahdu di sudut jalan, Paklik Isnogud duduk di meja pojok, menikmati secangkir kopi tubruk hitam pekat—pahit dan tanpa basa-basi, persis seperti pandangannya terhadap dunia politik dan media sosial.

Di depannya, tiga mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di Paris menatap penuh antusias. Mereka baru saja berdiskusi tentang kondisi politik tanah air, yang makin hari terasa makin panas di media sosial.

Populisme dan Media Sosial: Bestie Tak Terpisahkan?

“Paklik, kenapa populisme begitu kuat di media sosial?” tanya Rangga, mahasiswa jurusan ilmu politik, sambil menyesap kopinya. “Orang-orang di X, Facebook, dan TikTok sepertinya selalu marah—terutama terhadap pemerintah.”

Paklik mengangkat alisnya, tersenyum tipis. “Nak, kau tahu kenapa media sosial dan populisme itu seperti bestie yang tak terpisahkan?”

“Karena algoritma media sosial mendukungnya?” sahut Rina, mahasiswa jurnalistik.

Paklik mengangguk sambil meletakkan cangkir kopinya dengan pelan. “Benar. Tapi ada lebih dari itu. Populisme adalah gerakan politik yang menjanjikan solusi sederhana untuk masalah yang kompleks, dan media sosial adalah kendaraan sempurna untuk menyebarkan janji-janji itu.”

Kania, yang sedang kuliah kebijakan publik, ikut menyela, “Tapi kenapa populisme begitu efektif di media sosial, Paklik?”

Paklik menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Populisme itu seperti pedagang jamu keliling yang menjanjikan obat segala penyakit dalam satu botol. Orang yang sakit atau bingung mudah tergoda untuk percaya—terutama jika mereka merasa tidak punya pilihan lain.”

Bagaimana Media Sosial Memperkuat Populisme?

Rangga mengernyit. “Tapi bagaimana media sosial membuat populisme makin berbahaya, Paklik?”

Paklik mengangkat satu jari. “Pertama, algoritma media sosial menyukai kontroversi. Konten yang emosional, provokatif, dan memicu amarah selalu mendapat perhatian lebih. Pesan populis biasanya berisi kemarahan, kebencian, dan tuduhan terhadap ‘musuh bersama’—entah itu pemerintah, elite, oligarki, atau kelompok tertentu. Ini sesuai dengan cara kerja media sosial yang mengutamakan engagement.”

Ia mengangkat jari kedua. “Kedua, populisme memanfaatkan polarisasi. Media sosial menciptakan ruang gema, di mana orang hanya terpapar pada opini yang mereka setujui. Jika seseorang percaya bahwa pemerintah korup atau elite selalu menindas rakyat, maka media sosial akan terus menampilkan konten yang memperkuat keyakinan itu. Akhirnya, mereka semakin yakin tanpa pernah melihat perspektif lain.”

Jari ketiga terangkat. *“Ketiga, populisme di media sosial menggunakan gaya komunikasi yang sederhana dan penuh emosi. Coba bandingkan dua jenis pernyataan berikut:

  1. ‘Kebijakan ekonomi harus memperhitungkan berbagai faktor makro dan mikro agar dampaknya seimbang.’
  2. ‘Pemerintah tidak peduli dengan rakyat kecil! Mereka hanya memperkaya diri sendiri!’

Mana yang lebih cepat menyebar?”*

Baca Juga  Misteri Kitab Henok: Nuh, Eksperimen Langit, dan Kiamat yang Terlupakan

“Tentu yang kedua,” jawab Rina tanpa ragu.

Paklik tersenyum. “Tepat. Populisme menyederhanakan masalah yang rumit menjadi narasi rakyat vs elite, baik vs jahat. Di media sosial, di mana perhatian orang hanya bertahan beberapa detik, narasi yang sederhana dan penuh emosi lebih mudah diterima.”

Ia melanjutkan, “Dan keempat, populisme memanfaatkan microtargeting. Dengan bantuan algoritma, pesan populis bisa disesuaikan untuk kelompok tertentu. Misalnya, pesan ‘Pemerintah merugikan petani!’ bisa dibuat khusus untuk orang yang tinggal di daerah pertanian, sementara ‘Pemerintah tidak peduli dengan milenial!’ disebarkan ke anak muda. Dengan cara ini, populisme mendapatkan dukungan dari berbagai kelompok dengan narasi yang disesuaikan.”

Manipulasi Media Sosial: Senjata Politik di Era Digital

Rangga menatap ke luar jendela, hujan semakin deras. “Jadi, kita ini sebenarnya sedang dimanipulasi?”

Paklik menghela napas. “Itu kata yang agak kasar, tapi ya, begitulah. Lihatlah kasus akun misterius yang menyebarkan kebencian terhadap pemerintah di X dan Facebook. Banyak orang dengan cepat percaya tanpa mengecek kebenarannya. Kenapa? Karena narasi yang mereka baca sudah sesuai dengan emosi mereka—dan media sosial memastikan mereka hanya melihat narasi itu berulang kali.”

Rina menambahkan, “Saya ingat waktu itu ada isu tentang ‘pemerintah menjual negara ke asing’, padahal setelah dicek, faktanya lebih kompleks.”

Paklik tersenyum puas. “Kalian mulai mengerti. Populisme itu seperti kopi tubruk yang terlalu panas. Awalnya terasa menggugah semangat, tapi kalau kau seruput tanpa berpikir, bisa membakar lidahmu sendiri.”

Paklik menatap mereka satu per satu. “Kalian anak muda, kalian punya kesempatan untuk membentuk masa depan. Jangan biarkan diri kalian menjadi korban algoritma dan retorika murahan.”

Bagaimana Menghadapi Arus Populisme di Media Sosial?

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Paklik?” tanya Rangga.

Baca Juga  Ilmu Sihir

Paklik mengangkat cangkir kopinya.

1. Belajar berpikir kritis.
“Jangan percaya begitu saja pada sesuatu hanya karena itu viral. Cek sumbernya, lihat apakah ada bukti nyata atau hanya emosi yang dimainkan.”

2. Keluar dari ruang gema.
“Bacalah berbagai perspektif, bahkan dari sumber yang berlawanan dengan keyakinanmu. Dunia ini tidak hitam putih.”

3. Jangan mudah terbawa emosi.
“Populisme selalu memakai amarah sebagai senjata. Tapi apakah keputusan yang diambil dalam keadaan marah pernah membawa hasil yang baik?”

4. Ingat bahwa perubahan nyata butuh kerja keras.
“Membangun bangsa itu bukan tentang siapa yang paling nyaring suaranya di Twitter, tapi siapa yang benar-benar mau bekerja untuk perubahan.”

Di luar, gerimis makin deras. Sepasang kekasih berjalan cepat sambil berpelukan di bawah payung hitam. Para mahasiswa itu terdiam, merenungi kata-kata Paklik.

Di dalam kafe kecil itu, mereka baru saja mendapat pelajaran berharga—tentang bagaimana media sosial bisa menjadi senjata, bagaimana populisme menyelinap dalam pemikiran, dan bagaimana mereka harus lebih bijak dalam melihat dunia digital.

Paklik Isnogud menyesap sisa kopinya yang mulai dingin. Langit Paris makin kelam menuju malam.

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x