GUNUNG SAMPAH TERBESAR DUNIA ADA DI INDONESIA? MENYINGKAP SISI KELAM BANTARGEBANG YANG DISOROT DUNIA

GUNUNG SAMPAH TERBESAR DUNIA ADA DI INDONESIA? MENYINGKAP SISI KELAM BANTARGEBANG YANG DISOROT DUNIA

Apa jadinya ketika media dan tokoh internasional menyoroti Indonesia? Kita tentu bangga kalau yang dibahas adalah prestasi. Tapi bagaimana jika yang disorot justru salah satu tempat paling problematik di dunia?

Nama Bantargebang hampir selalu identik dengan gunung sampah. Secara administratif kawasan ini berada di Kota Bekasi, Jawa Barat, namun menjadi tempat pembuangan akhir utama bagi sampah DKI Jakarta. Bantargebang bahkan sempat disebut oleh akun National Geographic sebagai tempat pembuangan sampah terbesar di dunia lewat foto luasnya TPA dan aktivitas pemulung yang terekam di sana. Sorotan ini kemudian dibagikan ulang oleh aktor Hollywood Leonardo DiCaprio, yang menyebutnya sebagai “waste landfill terbesar di dunia.”

Pernyataan ini kemudian ditanggapi langsung oleh pemerintah daerah. Walikota Bekasi membenarkan bahwa TPST Bantargebang termasuk yang paling besar, tetapi juga menegaskan bahwa pemerintah tengah berupaya keras meminimalisir gunungan sampah itu melalui berbagai teknologi pengolahan, termasuk pembangkit listrik tenaga sampah.

Kenapa Sampah Bisa Menggunung?

Volume sampah dari Jakarta terus meningkat setiap tahun. Data terbaru menunjukkan bahwa tandingan sampah yang masuk ke Bantargebang kini mencapai rata-rata lebih dari 7.300 ton per hari, dengan total timbunan di lokasi yang lebih tinggi dari 50 meter atau setara gedung 16 lantai. Jika pola pengelolaan masih mengandalkan penimbunan tradisional, kapasitas Bantargebang hampir pasti akan habis dalam waktu dekat.

Komposisi sampah ini didominasi oleh sisa makanan (sekitar 50 persen), diikuti plastik, residu, kertas, dan lain-lain. Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk Jakarta yang terus naik menjadi faktor utama. Dari tahun ke tahun, volume sampah Jakarta meningkat seiring dengan pola konsumsi yang makin tinggi.

Masalah Sistemik: Tidak Sekadar Tempat Buang

Masalahnya bukan hanya di jumlah sampah, tetapi juga di hilir dan hulu pengelolaan. Pemilahan dari sumbernya masih belum optimal. Banyak warga belum terbiasa memisahkan sampah organik, anorganik, dan limbah bernilai ekonomis sehingga berakhir tercampur di Bantargebang. Padahal sistem pemilahan di negara maju seperti Jerman menunjukkan bahwa pemilahan sedari rumah bisa sangat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.

Baca Juga  Syurga dan 72 Bidadari

Update Terbaru: Solusi Teknologi dan Target Pemerintah

Pemerintah Indonesia kini punya target strategis: menghilangkan gunungan sampah di Bantargebang dalam dua tahun ke depan dengan pendekatan waste-to-energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik. Teknologi ini diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 dan dipandang sebagai jawaban atas krisis sampah yang sudah berlangsung lama.

Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi menegaskan bahwa TPST Bantargebang hanya menerima sampah dari Jakarta — sedangkan Bekasi sendiri punya lokasi pembuangan tersendiri di TPA Sumur Batu. Kerja sama antar wilayah sedang dibangun untuk menggabungkan pengolahan sampah dengan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yang direncanakan mulai beroperasi pada 2026.

Gubernur DKI Jakarta juga menyebut bahwa dengan cadangan sampah sekitar 55 juta ton yang ada di Bantargebang, proyek PLTSa dapat menghasilkan listrik sekaligus mengurangi timbunan sampah secara signifikan dalam jangka panjang.

Insiden dan Tantangan Lapangan

Kondisi Bantargebang juga terus menghadapi tantangan nyata di lapangan. Di akhir 2025, tiga unit truk sampah terperosok ke kubangan air lindi akibat longsor di zona TPST, memperlihatkan bahwa struktur lokasi sudah mencapai ambang risiko tinggi. Persatuan Wartawan Indonesia bahkan mengecam insiden ini sebagai bentuk “kejahatan lingkungan” yang dibiarkan sistem berjalan tanpa solusi jangka panjang.

Selain itu, insiden keselamatan kerja seperti kematian sopir truk karena kelelahan akibat antrean panjang di TPST juga sempat membuat pemerintah lebih ketat mengevaluasi manajemen operasional dan standar keselamatan di lokasi.

Dampak bagi Warga dan Lingkungan Sekitar

Tempat pembuangan yang terus memuncak ini memberikan dampak langsung terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Air tanah pun berisiko tercemar lindi, sehingga warga memilih untuk bergantung pada air kemasan. Bau yang menyengat dan risiko kesehatan menjadi bagian dari keseharian mereka. Ini bukan sekadar statistik — ini realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.

Baca Juga  Gajah Mada dan Gaj Ahmada

Kesimpulan

Bantargebang bukan hanya soal gunungan sampah yang terlihat dari foto atau video. Ia mencerminkan masalah sistemik pengelolaan limbah kota modern: dari budaya konsumsi, sistem pemilahan yang lemah, hingga keterbatasan teknologi pengolahan yang masih harus dibangun masif.

Namun, dengan adanya target nasional untuk mengubah sampah menjadi energi dan upaya teknologi baru yang akan berjalan mulai 2026, ada momentum perubahan yang nyata. Tantangannya kini adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat bekerja bersama — bukan hanya dalam meredam masalah, tetapi juga dalam menciptakan solusi berkelanjutan yang adil dan efektif.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x