Dari “APBD FC” hingga Ancaman Degradasi: Pelajaran Pilu Sriwijaya FC untuk Persija Jakarta

Dari “APBD FC” hingga Ancaman Degradasi: Pelajaran Pilu Sriwijaya FC untuk Persija Jakarta

Di tengah hiruk-pikuk BRI Super League 2025/2026, Persija Jakarta kembali jadi sorotan karena julukan sinis “APBD FC” yang melekat erat. Label ini muncul setelah klub Macan Kemayoran menjalin kerjasama sponsorship dengan empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta: Bank Jakarta, PAM Jaya, MRT Jakarta, dan TransJakarta. Logo-logo mereka terpampang di jersey, dan netizen—terutama rival suporter—langsung menuding: ini klub yang hidup dari dana pemerintah daerah, balik lagi ke era amatir Perserikatan!

Direktur Persija, Mohamad Prapanca, tak tinggal diam. Dalam acara Ngopi Bareng Persija di kantor klub, Jakarta Selatan, pada Selasa (10 Maret 2026), ia ungkapkan keresahannya secara blak-blakan:

“Agak risih juga dengarnya. Saya nggak tahu itu buzzer, suporter Persija, atau provokator. Saat Pak Pramono [Anung] dilantik jadi gubernur, beliau bilang ingin Jakarta lebih Persija. Lalu ditentukanlah kerjasama dengan BUMD seperti Bank Jakarta, PDAM (PAM Jaya), MRT, Transjakarta. Ini partnership promosi, bukan dana gratis atau ugal-ugalan dari APBD!”

Menurut Prapanca, ini model business-to-business (B2B): Persija beri eksposur besar ke jutaan suporter untuk sosialisasi program Pemprov DKI (misalnya edukasi air bersih dari PAM Jaya atau layanan MRT/TransJakarta), sementara BUMD bayar sesuai nilai kontrak. Bukan hibah langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang memang dilarang sejak Permendagri No. 22 Tahun 2011 untuk klub profesional.

Tapi, kekhawatiran netizen bukan tanpa dasar. Banyak yang mengkhawatirkan: jangan-jangan Persija mengulang nasib tragis Sriwijaya FC (SFC), klub legendaris yang kini terpuruk di titik terendah sejarahnya.

Kisah Pilu Sriwijaya FC: Dari Raja Kompetisi ke Jurang Liga 3

Hanya beberapa hari sebelum pernyataan Prapanca (tepatnya 28 Februari 2026), SFC resmi jadi tim pertama yang terdegradasi dari Pegadaian Championship (Liga 2) musim 2025/2026 ke Liga Nusantara (Liga 3). Kekalahan telak 0-3 dari Sumsel United di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring memastikan nasib mereka—meski masih ada enam laga tersisa.

Baca Juga  Refleksi Krisis Sepak Bola Indonesia: Peran Erik Thohir dan Keputusan yang Kontroversial

Fakta menyedihkan:

  • Hingga pekan 21, SFC cuma raup 2 poin dari 21 pertandingan, tanpa satu pun kemenangan.
  • Pernah juara Liga Indonesia, double winner, lolos 16 besar AFC Cup, dan “raja kompetisi” nasional di era 2000-an.
  • Kini: utang menumpuk, eksodus pemain, lini belakang rapuh, dan mental tim hancur.

Penyebab utama? Ketergantungan berat pada dana APBD Provinsi Sumatera Selatan dulu. Di era 2000-an hingga 2011, SFC terima hibah langsung puluhan miliar rupiah dari Pemprov (misalnya Rp 20-25 miliar per tahun). Saat regulasi nasional melarang subsidi APBD ke klub profesional, SFC gagal beradaptasi: sponsor swasta minim, manajemen lemah, dan krisis finansial berkepanjangan. Dari Liga 1 → Liga 2 → kini Liga 3 dalam waktu singkat.

Persija Berbeda, Tapi Risiko Tetap Ada

Bandingkan dengan Persija sekarang:

  • SFC dulu: Hibah APBD langsung → melanggar aturan → krisis adaptasi → ambruk.
  • Persija 2026: Sponsorship promosi via BUMD (bukan hibah APBD) → masih sesuai regulasi PSSI/AFC → pendapatan diversifikasi (tiket tinggi berkat basis suporter nasional, merchandise laris, sponsor swasta lain, hak siar).

Persija punya keunggulan besar: brand kuat, revenue mandiri tinggi, dan manajemen lebih stabil. Kolaborasi “Jakarta lebih Persija” ini bisa jadi win-win—Pemprov promosi programnya, klub dapat dana tambahan tanpa bergantung satu sumber.

Namun, pelajaran dari SFC jelas: jangan sampai ketergantungan baru muncul. Kalau politik daerah berubah, Gubernur berganti, atau BUMD cabut sponsor, klub bisa goyah. Diversifikasi pendapatan (akademi lebih kuat, penjualan pemain, partnership swasta global) jadi kunci agar tetap mandiri secara profesional.

Akhirnya, julukan “APBD FC” mungkin cuma sindiran sementara, tapi cerita Sriwijaya FC jadi pengingat keras: sepak bola modern butuh fondasi bisnis yang kokoh, bukan sekadar “dukungan daerah”. Persija, sebagai klub raksasa ibu kota, punya peluang emas untuk jadi contoh sukses—atau justru jebakan yang sama seperti SFC.

Baca Juga  Perubahan Apa Yang Ditampilkan Jajang Nurdjaman Setelah Dejan Antonic Hengkang?

Apa pendapatmu, Kang? Apakah model sponsorship BUMD ini sustainable, atau Persija harus lebih agresif cari investor swasta? Mari diskusikan! ⚽🇮🇩

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x