Selama berabad-abad, cerita tentang Atlantis—benua misterius yang hilang—telah memikat imajinasi manusia. Dari dongeng kuno hingga film modern seperti Stargate: Atlantis dan karakter superhero DC Comics, Aquaman, legenda ini terus hidup dalam berbagai bentuk seni dan budaya populer. Namun, sejauh mana kebenaran di balik mitos ini? Inilah misteri yang patut kita telusuri.
Asal-usul Legenda Atlantis
Cerita tentang Atlantis pertama kali muncul dalam dialog filsuf Yunani kuno, Plato, melalui karyanya Timaeus dan Critias . Menurut Plato, Atlantis adalah sebuah pulau besar yang terletak di “Samudra Atlantik” di luar Selat Gibraltar. Bangsa Atlantis digambarkan sebagai peradaban maju dengan kemakmuran luar biasa. Mereka memiliki sistem pemerintahan yang kuat, teknologi canggih, dan kekayaan material yang melimpah. Para raja Atlantis dikisahkan sebagai pemimpin bijaksana dan adil.
Namun, kemakmuran mereka ternyata membawa bencana. Plato menyebut bahwa bangsa Atlantis akhirnya terjerumus ke dalam kemerosotan moral. Keserakahan, korupsi, dan eksploitasi sumber daya tanpa batas membuat mereka kehilangan restu para dewa. Akibatnya, mereka dihukum dengan gempa bumi dahsyat yang menghancurkan pulau itu, menenggelamkannya ke dasar lautan dalam waktu singkat. Peristiwa ini diklaim terjadi sekitar 9.000 tahun sebelum masa Plato, yaitu sekitar 11.000 tahun yang lalu.
Fakta atau Fiksi?
Dalam buku “Our Ancestors Came from Outer Space” karya Maurice Chatelain, rahasia Atlantis dibahas dalam konteks peradaban kuno yang sangat maju dan memiliki hubungan dengan kecerdasan luar angkasa. Chatelain yang merupakan ilmuwan NASA dan terlibat dalam program Apollo, menggunakan pendekatan ilmiah dengan pemakaian komputer canggih serta data arkeologi, sejarah, mitologi, dan astronomi untuk mengemukakan teori bahwa Atlantis bukan hanya legenda, tetapi bagian dari sejarah di mana peradaban kuno ini mungkin telah menerima bantuan teknologi dan pengetahuan dari makhluk luar angkasa.
Menurut Chatelain, Atlantis memiliki teknologi yang sangat maju yang mungkin diwariskan dari pengunjung dari luar angkasa. Ia juga menyinggung piramida Giza yang kemungkinan berfungsi sebagai penanda astronomi atau peta navigasi luar angkasa, serta berbagai simbol kuno lain seperti Stonehenge dan Salib Malta yang menurutnya mengandung pesan atau matematika visual dari “astronot universal.” Selain itu, ia membahas bukti-bukti yang dilihat oleh para astronot Apollo dan Gemini yang mungkin menunjukkan kehadiran peradaban ekstraterestrial yang berhubungan dengan Atlantis.
Secara ringkas, rahasia Atlantis dalam buku ini adalah bahwa Atlantis merupakan peradaban kuno dengan tingkat teknologi luar biasa yang berhubungan dengan pengunjung luar angkasa yang memberikan pengetahuan dan mungkin genetik, yang membentuk nenek moyang manusia modern serta meninggalkan warisan pengetahuan di berbagai situs kuno dunia
Meskipun cerita Atlantis sangat menarik, penting untuk dicatat bahwa tidak ada bukti arkeologis atau sejarah yang dapat mendukung keberadaan Atlantis sebagai peradaban nyata. Banyak penelitian telah dilakukan, termasuk ekspedisi bawah laut dan analisis geologi, namun hasilnya tetap tidak meyakinkan. Beberapa ahli percaya bahwa cerita Atlantis mungkin hanya fiksi atau alegori yang diciptakan oleh Plato untuk menyampaikan pesan moral dan filosofis tentang kejatuhan peradaban akibat keserakahan.
Ada juga teori alternatif yang menghubungkan Atlantis dengan lokasi-lokasi dunia nyata, seperti Santorini di Yunani, yang hancur akibat letusan gunung berapi pada masa Minoan. Namun, semua ini masih bersifat spekulatif dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

Atlantis dalam Budaya Populer
Legenda Atlantis tidak hanya hidup dalam mitologi kuno, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak karya modern. Salah satu contohnya adalah karakter superhero Aquaman dari DC Comics. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1941, Aquaman digambarkan sebagai penguasa Atlantis dengan kemampuan luar biasa, seperti berkomunikasi dengan makhluk laut, kekuatan fisik super, dan kemampuan bernapas di bawah air.
Dalam ceritanya, Aquaman—yang memiliki nama asli Arthur Curry—adalah keturunan campuran antara manusia dan bangsa Atlantis. Ibunya adalah wanita manusia, sedangkan ayahnya adalah seorang bangsawan Atlantis bernama Atlanna. Arthur tumbuh di dua dunia: dunia manusia di permukaan dan kerajaan Atlantis di bawah laut. Sebagai pewaris takhta Atlantis, dia bertanggung jawab melindungi kedua dunia tersebut dari ancaman.
Meskipun Aquaman dan Atlantis dalam konteks komik adalah penciptaan fiksi, cerita ini menunjukkan bagaimana legenda kuno dapat diadaptasi menjadi narasi modern yang relevan dan menghibur.
***
Berikut adalah revisi dan peningkatan narasi berdasarkan cerita dalam novel ARKHYTIREMA. Narasi ini dirancang lebih terstruktur, logis, dan menarik untuk dibaca, sambil tetap mempertahankan inti dari informasi yang disampaikan:
Bangsa Atlantis dan Lemuria: Sebuah Narasi Alternatif
Dalam novel ARKHYTIREMA, diceritakan sebuah versi sejarah alternatif yang menawarkan perspektif unik tentang asal-usul peradaban manusia. Menurut novel ini, Bangsa Atlantis bukanlah peradaban mandiri yang muncul secara alami, melainkan hasil pengembangan oleh Bangsa Lemuria, nenek moyang bangsa-bangsa di Nusantara dan seluruh dunia. Kisah ini mengungkap hubungan kompleks antara kedua peradaban tersebut, serta dampaknya terhadap perkembangan umat manusia.
Asal-Usul Bangsa Atlantis
Bangsa Atlantis dikembangkan setelah Bangsa Lemuria sebagai bagian dari upaya untuk membantu memajukan peradaban global. Mereka awalnya diciptakan melalui teknologi kloning canggih yang dimiliki oleh Bangsa Lemuria. Pemimpin pertama Bangsa Atlantis adalah Bhallamin, seorang tokoh berkulit putih yang awalnya bertindak sebagai sekutu tanpa pamrih bagi Bangsa Lemuria.
Namun, segalanya mulai berubah ketika Bhallamin menikahi Etnam, seorang wanita Lemurian. Perkawinan ini menjadi titik balik dalam hubungan kedua bangsa. Bhallamin, yang semula membantu dengan tulus, perlahan-lahan mulai menyimpan ambisi pribadi. Dia akhirnya memimpin Bangsa Atlantis untuk memisahkan diri dari Lemuria dan bahkan memusuhi mereka.
Peran Atlantis dalam Sejarah Dunia
Setelah memisahkan diri, Bangsa Atlantis berkembang menjadi peradaban agresor yang menjajah bangsa-bangsa lain. Penduduk Benua Atlantis, yang disebut Atlantean, bekerja sama dengan bangsa Rhama (nenek moyang bangsa India) untuk mendominasi wilayah-wilayah lain di dunia. Dalam catatan sejarah yang mereka tulis sendiri, Bangsa Atlantis menggambarkan diri mereka sebagai bangsa yang besar, makmur, bermartabat, cerdas, baik hati, tampan, cantik, heroik, dan memiliki semua sifat-sifat positif.
Namun, di balik citra ideal ini, Bangsa Atlantis juga melakukan praktik manipulatif. Mereka secara sistematis menghapus jejak penemuan-penemuan penting dari bangsa-bangsa lain. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa masyarakat dunia tidak memiliki kemampuan berpikir kritis atau teknologi yang dapat menyaingi dominasi mereka.
Rekayasa Genetik Pembentukan Bangsa-Bangsa Lain
Selain Bangsa Atlantis, Bangsa Lemuria juga penjadian beberapa kelompok etnis lain melalui rekayasa genetika, yaitu proses kloning. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Bangsa Rhama: Nenek moyang bangsa India modern.
- Bangsa Indarrina: Nenek moyang bangsa Indian di Amerika.
- Bangsa Khaina: Nenek moyang bangsa China, Jepang, dan Korea.
- Bangsa Arbina: Nenek moyang bangsa Arab.
- Bangsa Negrida: Nenek moyang bangsa Afrika dan Papua.
Beberapa bangsa ini memiliki gen lethal, yaitu gen yang hanya dapat dipertahankan melalui perkawinan sesama anggota bangsa yang sama. Jika terjadi perkawinan silang dengan bangsa lain, gen tersebut akan hilang. Contohnya:
- Bangsa Aborigin: Jika menikah dengan Bangsa Khaina, sifat Aborigin-nya akan lenyap.
- Bangsa Lambheka: Bangsa ini telah punah karena tidak mampu mempertahankan keberadaannya.
Konflik dengan Bangsa Lemuria
Hubungan antara Bangsa Atlantis dan Lemuria semakin memburuk seiring waktu. Bangsa Atlantis, yang awalnya diciptakan sebagai asisten, berbalik menjadi ancaman serius bagi Lemuria. Mereka tidak hanya menyerang Lemuria secara militer, tetapi juga berusaha menghapus warisan budaya dan teknologi Lemuria dari ingatan dunia.
Ketegangan ini mencapai puncaknya dalam peperangan besar yang mengakibatkan tenggelamnya Benua Atlantis dan sebagian besar wilayah Lemuria. Sisa-sisa Bangsa Lemuria kemudian “hijrah” ke planet lain di gugusan Orkandar, sementara bekas wilayah mereka di Nusantara diambil alih oleh Bangsa Atlantean. Penjajahan ini meninggalkan luka mendalam, termasuk penghapusan sejarah dan identitas asli Bangsa Lemuria.
Hikmah dari Narasi Ini
Cerita dalam ARKHYTIREMA mengajarkan kita untuk tidak hanya menerima sejarah secara pasif, tetapi juga mempertanyakan narasi-narasi yang telah ditulis oleh pemenang perang. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir” (QS. Al-A’raf: 176).
Kisah Bangsa Lemuria dan Atlantis mengingatkan kita akan pentingnya menjaga warisan budaya dan ilmu pengetahuan. Ini juga menjadi refleksi tentang bagaimana dominasi satu kelompok atas kelompok lain dapat merusak harmoni dunia. Narasi ini mengundang kita untuk merenung: apakah sejarah yang kita kenal saat ini benar-benar utuh, ataukah ada bagian-bagian yang hilang akibat ulah penguasa masa lalu?




[…] lanjutkan dongengnya ya, GRANUMA artinya proyek kebangkitan, ATLANTEAN menyebutnya dengan istilah Genesis Project. Proyek GRANUMA ini dilakukan pada saat kondisi bumi mati […]