Beberapa waktu terakhir, saya menemukan sebuah platform yang jujur saja—terasa seperti “terlewat” selama ini: Substack.
Buat yang belum familiar, Substack adalah platform newsletter sekaligus blog yang memungkinkan kreator membangun audiens, mengirim email ke subscriber, dan bahkan menghasilkan uang dari tulisan.
Padahal saya sudah mulai ngeblog sejak 2016, punya domain sendiri, dan cukup lama berkutat dengan WordPress. Tapi anehnya, baru sekarang saya benar-benar menyadari potensi besar dari platform ini.
Apakah saya ketinggalan? Ternyata… tidak juga.
Sebenarnya, perjalanan saya dengan dunia blogging sudah dimulai jauh sebelum itu. Saya sempat berkenalan dengan Blogspot dan WordPress versi gratisan, tapi tidak pernah benar-benar serius menjadikannya sebagai tempat menulis utama. Sampai akhirnya, pada tahun 2016, saya memutuskan untuk berkomitmen menggunakan WordPress self-hosted dengan domain pribadi: ridwansoleh.com. Sejak saat itu, barulah aktivitas menulis terasa lebih “punya rumah” sendiri.
Apa Itu Substack? Penjelasan Lengkap
Substack adalah platform yang menggabungkan blog, newsletter, dan monetisasi dalam satu tempat.
Substack adalah platform yang menggabungkan blog, newsletter, dan monetisasi dalam satu tempat.
Berbeda dengan blog biasa, setiap tulisan yang kita publish di Substack:
- otomatis dikirim ke email subscriber
- bisa diakses sebagai artikel di web
- bisa dijadikan konten gratis atau berbayar
Dengan kata lain, Substack bukan sekadar tempat menulis—tapi juga alat untuk membangun audiens.
Sejarah Singkat Substack dan Kenapa Baru Populer Sekarang
Substack didirikan tahun 2017. Tapi baru benar-benar naik sekitar tahun 2020, ketika banyak jurnalis dan penulis independen mulai meninggalkan media tradisional.
Yang menarik, Substack tidak berkembang seperti media sosial:
- tidak viral
- tidak ramai di timeline
- tidak muncul di FYP
Platform ini berkembang diam-diam—di kalangan penulis, pemikir, dan kreator niche.
Itulah sebabnya banyak orang (termasuk saya) baru “menemukan” sekarang.
Kelebihan Substack untuk Blogger dan Kreator Konten
Sebagai blogger WordPress, saya langsung melihat perbedaan mendasar:
1. Tidak Perlu Pusing Teknis
Di WordPress:
- hosting bisa penuh
- upload audio/video makan banyak space
- harus mikir plugin, keamanan, dll
Di Substack:
- semua ditangani platform
- bisa upload audio, video, dan tulisan tanpa khawatir storage
Kita bisa fokus ke satu hal: konten.
2. Audience Jadi Milik Sendiri
Di blog biasa:
- orang datang dari Google, lalu pergi
Di Substack:
- mereka subscribe via email
- kita bisa menjangkau mereka kapan saja
Ini sangat penting, karena kita tidak bergantung pada algoritma.
3. Monetisasi Lebih Langsung
Substack memungkinkan:
- konten gratis
- konten premium berbayar
Modelnya sederhana:
- kita tentukan harga
- Substack mengambil sekitar 10%
Berbeda dengan blog yang biasanya butuh:
- traffic besar
- ads
n- atau affiliate
Substack vs WordPress: Mana yang Lebih Baik?
Tidak.
Justru yang paling kuat adalah kombinasi keduanya.
WordPress
- untuk branding (website utama)
- SEO & traffic dari Google
- tempat jual produk (ebook, course, dll)
Substack
- untuk membangun hubungan dengan audiens
- distribusi konten via email
- monetisasi langsung
Alurnya bisa seperti ini:
- Orang menemukan artikel di blog
- Mereka tertarik
- Subscribe ke Substack
- Kita bangun relasi
- Baru monetisasi
Apakah Substack Populer di Indonesia?
Saat ini, Substack masih relatif kecil di Indonesia.
Beberapa alasannya:
- budaya baca panjang belum dominan
- email belum jadi kebiasaan utama
- monetisasi tulisan belum umum
Namun di sisi lain, ini justru peluang.
Karena:
- kompetisi masih rendah
- masih banyak ruang untuk berkembang
- bisa jadi early adopter
Haruskah Menulis Substack dalam Bahasa Inggris?
Substack sangat didominasi oleh audience berbahasa Inggris.
Artinya:
- jika menulis dalam English → potensi global lebih besar
- jika menulis dalam Bahasa Indonesia → lebih niche, tapi bisa jadi pionir
Untuk topik seperti:
- sejarah alternatif
- misteri peradaban
- pemikiran spekulatif
Audience global justru jauh lebih besar dan terbuka.
Fitur Substack: Audio, Video, dan Live Streaming
Substack sekarang bukan hanya tulisan.
Kita juga bisa:
- menyisipkan audio dalam artikel (versi podcast)
- menambahkan video
- melakukan live streaming
- berinteraksi langsung dengan subscriber
Satu ide bisa jadi:
- artikel
- audio
- bahkan diskusi live
Tantangan Menulis di Substack dari Indonesia
Bagi penulis dari Indonesia, ada satu hal yang perlu diperhatikan: sensitivitas.
Topik seperti:
- interpretasi sejarah
- pandangan alternatif
- isu yang bersinggungan dengan keyakinan
bisa menimbulkan reaksi jika disampaikan secara frontal.
Solusinya bukan berhenti menulis, tapi:
- menggunakan pendekatan eksploratif
- mengajukan pertanyaan, bukan klaim keras
- menggunakan bahasa yang lebih netral dan reflektif
Pengalaman Saya: Dari WordPress ke Substack
Melihat ke belakang, saya mulai ngeblog di tahun 2016—bahkan sebelum Substack ada.
Namun sekarang saya menyadari sesuatu:
Bukan berarti saya terlambat.
Saya hanya baru menemukan “alat” yang tepat untuk fase berikutnya.
Dengan pengalaman ngeblog yang sudah ada, ditambah platform seperti Substack, justru ada peluang untuk membangun sesuatu yang lebih besar:
- bukan sekadar blog
- tapi ekosistem konten dan audiens
Kesimpulan: Apakah Substack Layak Dicoba?
Substack mungkin bukan platform yang ramai dibicarakan.
Tapi justru di situlah letak kekuatannya.
Ia tumbuh di bawah radar—dan memberi ruang bagi mereka yang serius membangun ide, tulisan, dan audiens.
Dan mungkin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai.
Mulai Ikuti Tulisan Saya di Substack
Kalau kamu tertarik dengan topik seperti sejarah alternatif, misteri peradaban, dan pemikiran spekulatif lainnya, kamu bisa mengikuti tulisan saya di Substack.
👉 Kunjungi dan subscribe di: https://kangridwan.substack.com
Saya akan membagikan insight, eksplorasi ide, dan tulisan yang tidak selalu saya publish di blog ini.




