Leunca: Lalapan Kecil Khas Sunda, dan Satu Sisi Gelap di Masa Sekolah 90an

Leunca: Lalapan Kecil Khas Sunda, dan Satu Sisi Gelap di Masa Sekolah 90an

Kalau kamu besar di Jawa Barat, terutama generasi 80–90an, kamu pasti familiar dengan yang namanya leunca.

Bentuknya kecil-kecil bulat, warnanya hijau, biasanya disajikan mentah sebagai lalapan, atau dimasak jadi ulukutek leunca, tumisan, sampai campuran karedok. Rasanya unik: agak pahit, sedikit sepet, tapi bikin nagih. Dan entah kenapa, kalau makan leunca itu ada rasa “Sunda banget” yang susah dijelaskan.

Tapi… buat sebagian orang, leunca bukan cuma soal lalapan.

Di masa sekolah dulu, ada satu fenomena yang sampai sekarang kalau diingat rasanya campur aduk: lucu, aneh, agak menyeramkan, dan jujur saja—kalau dipikir dengan kepala orang dewasa sekarang—agak gelap.

Ini cerita tentang satu “maenan” anak cowok jaman dulu, yang disebut: ngaleunca.


Leunca Itu Apa Sih?

Sebelum masuk ke cerita, kita bahas dulu leuncanya.

Leunca adalah buah kecil dari tanaman keluarga terong-terongan. Di beberapa daerah lain, leunca juga dikenal dengan nama ranti atau terong ranti.

Di tanah Sunda, leunca punya posisi spesial. Ia bukan sekadar sayur, tapi bagian dari identitas makan: lalapan, sambal, nasi, dan lauk sederhana.

Yang paling enak? Buat banyak orang: karedok.

Leunca di karedok itu seperti bintang tambahan. Ada sensasi pahit-sepet yang ketemu bumbu kacang gurih, lalu jadi “nyambung” banget.

Namun, di Jawa Barat era 80–90an, leunca pernah punya “fungsi” lain… setidaknya dalam dunia anak-anak cowok puber.


Masa Puber dan “Ilmu Rahasia” Anak Cowok

Kalau kamu hidup di masa itu, kamu pasti paham: dulu belum ada internet, belum ada smartphone, belum ada grup WhatsApp.

Tapi justru karena itulah, gosip dan cerita misteri bisa menyebar lebih cepat dari apapun.

Dan di sekolah, anak-anak cowok punya satu dunia sendiri: dunia yang isinya campur antara mitos, keisengan, rasa penasaran, dan hasrat puber yang belum tahu harus disalurkan ke mana.

Baca Juga  Ini Dia Temen-Temen Yang Pernah Sekelas Dulu....

Di tengah suasana itu, muncul satu “ilmu” yang katanya bisa bikin cewek merasakan sensasi aneh dari jauh, tanpa disentuh, tanpa disadari.

Medianya?

Satu butir leunca.


Namanya “Ngaleunca”

Istilahnya waktu itu: ngaleunca.

Caranya sederhana tapi bikin merinding, karena selalu dibungkus dengan aura mistis.

Satu butir leunca dipegang, lalu dimainkan dengan jari-jari. Ada yang memijit, ada yang memutar, ada yang seperti “menggosok” pelan.

Sambil itu, si pelaku membaca sesuatu yang disebut “mantra”.

Mantranya ditulis di kertas kecil. Tulisan-tulisannya aneh. Ada yang mirip Arab, ada yang seperti coretan nggak jelas, tapi justru itu yang bikin semua orang percaya: “wah ini bahasa gaib”.

Lalu leunca itu ditujukan pada seorang perempuan.

Targetnya biasanya teman sekelas.

Dan di situlah “kehebohan” dimulai.


Kejadian di Kelas: Dari Gelisah Sampai “Puncak”

Ini bukan cuma cerita yang didengar dari orang lain. Buat sebagian orang, ini adalah sesuatu yang disaksikan sendiri.

Suasana kelas masih jam pelajaran. Guru mungkin sedang menerangkan. Anak-anak pada pura-pura serius.

Tapi di pojok kelas, beberapa cowok mulai “ritual” kecil itu. Diam-diam, dengan tatapan nakal, tapi juga tegang.

Lalu perlahan, si cewek yang jadi target mulai menunjukkan perubahan.

Awalnya cuma hal kecil:

  • duduknya jadi gelisah
  • badannya seperti nggak nyaman
  • tangannya kadang bergerak sendiri
  • wajahnya berubah, antara bingung dan aneh

Semakin lama, ekspresinya makin sulit dijelaskan.

Sampai puncaknya, saat leunca itu dipijit sampai pecah.

Konon, di momen itu, si cewek seperti menunjukkan ekspresi nikmat yang sangat jelas—lalu tak lama kemudian pamit ke kamar kecil.

Dan di detik itu juga, dunia anak cowok puber meledak.


Heboh Satu Sekolah (Minimal Satu Angkatan)

Kamu bisa bayangin sendiri.

Di masa puber, melihat hal seperti itu rasanya seperti “bukti sakti”. Anak-anak cowok langsung merasa menemukan sesuatu yang gila: seolah-olah mereka punya kuasa.

Baca Juga  Fenomena Cowok SMP Tahun 1988: Dulu Ngintip Rok, Sekarang Lebih Ngeri

Besoknya, fenomena itu menyebar.

Ada yang mulai minta diajarin mantranya.

Ada yang minta ditulisin.

Ada yang sampai nyari “versi lebih ampuh”.

Kertas-kertas kecil bertuliskan mantra itu mulai beredar. Ada yang diselipin di buku, ada yang disimpan di dompet, ada yang bahkan dibawa pulang seperti jimat.

Kalau zaman itu sudah ada media sosial, ini mungkin sudah jadi:

  • thread panjang
  • PDF bajakan
  • dan grup “cowok-cowok nakal” yang isinya share mantra dan target 😄

Tapi waktu itu semua viralnya masih versi offline.

Dan justru karena itu, kesannya lebih “mistis” dan lebih dipercaya.


Kenapa Bisa Dipercaya?

Kalau dilihat sekarang, orang dewasa mungkin akan langsung bilang: “ah itu mah bohong”.

Tapi jangan lupa: anak SMP/SMA era 90an hidup di masa di mana:

  • edukasi seksual masih tabu
  • pembicaraan soal tubuh perempuan dianggap “kotor”
  • dan mistik masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari

Di situ, ritual kecil seperti ini menjadi campuran sempurna antara:

  • rasa penasaran
  • ketidaktahuan
  • dan imajinasi

Ditambah lagi, ada “bukti” yang terlihat di depan mata.

Padahal bisa saja yang terjadi adalah hal lain:

  • si cewek memang sedang tidak nyaman
  • bisa saja dia sadar jadi pusat perhatian
  • atau cuma kebetulan gelisah dan ingin ke toilet

Tapi bagi anak cowok puber, otak mereka tidak akan berpikir sejauh itu.

Yang mereka lihat hanya satu: “berhasil”.


Lalu, Kenapa Fenomena Ini Mereda?

Seperti semua tren sekolah, fenomena ngaleunca tidak berlangsung selamanya.

Setelah sekitar satu semester, semuanya perlahan mereda.

Ada beberapa gosip yang beredar.

Pertama, katanya cerita ini sampai ke anak-anak cewek. Begitu cewek-cewek mulai dengar, situasinya jadi beda. Ada rasa tidak nyaman. Ada rasa takut. Dan cowok-cowok pun mulai merasa ini bukan sekadar “mainan”.

Kedua, katanya para pelaku ketahuan oleh guru, terutama guru agama.

Baca Juga  Slep Dur

Dan kalau sudah guru agama yang turun tangan, biasanya tamat.

Konon, ada yang dipanggil, dihukum, dan diberi nasihat panjang:
bahwa itu termasuk dosa, maksiat, dan masuk kategori pelecehan.

Dan jujur saja, kalau kita pakai kacamata sekarang, nasihat itu ada benarnya.

Karena seaneh-anehnya ritualnya, niat di baliknya jelas:
mencoba menguasai tubuh dan rasa orang lain tanpa persetujuan.

Ketiga, masa sekolah juga mulai masuk fase yang lebih serius:
persiapan ujian nasional, persiapan UMPTN, dan tekanan hidup mulai terasa.

Anak-anak mulai sibuk belajar.

Dan ritual leunca pun pelan-pelan hilang ditelan waktu.


Leunca Kembali Jadi Lalapan

Akhirnya, leunca kembali ke tempat asalnya.

Bukan sebagai media “ilmu rahasia”, bukan sebagai alat ritual, tapi sebagai lalapan kecil khas Sunda.

Ia tetap pahit, tetap sepet, tetap bikin nagih.

Tapi buat sebagian orang, leunca juga menyimpan memori aneh yang tidak semua orang punya.

Memori tentang masa puber, masa sekolah, masa ketika anak-anak cowok merasa menemukan sesuatu yang “mistis”, padahal mungkin itu cuma gabungan sugesti, kebetulan, dan imajinasi.

Dan yang paling lucu sekaligus ironis:

di usia dewasa sekarang, kita bisa menertawakan cerita itu…

sambil sadar bahwa masa puber memang masa paling rawan, paling liar, dan paling mudah percaya hal-hal aneh.


Penutup: Nostalgia yang Lucu, Tapi Ada Pelajarannya

Cerita ngaleunca ini mungkin terdengar konyol.

Tapi sebagai nostalgia, ia punya makna.

Ia mengingatkan kita bahwa dulu, banyak hal “dewasa” dibahas lewat jalur yang salah:
dibungkus mistik, dibungkus mitos, dibungkus rahasia.

Dan kalau kita bisa memetik pelajaran, mungkin pesannya sederhana:

remaja butuh edukasi, butuh arahan, dan butuh ruang bicara yang sehat—bukan cuma mitos dan “ilmu” yang menyesatkan.

Leunca tetap enak di karedok.

Tapi leunca juga punya cerita.

Cerita yang cuma dipahami oleh generasi yang pernah hidup di masa itu.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x