Home  /  Renungan  / Memahami Makna Spiritual Gerakan Shalat

Memahami Makna Spiritual Gerakan Shalat


Memahami Makna Spiritual Gerakan Shalat

1. Takbiratul Ihram (Awal dan Akhir)

Pengawalan segala sesuatu, sebagaimana hidup dimulai kelahiran, sesuatu yg ada pasti ada awalnya. Dengan keimanan kita yakin bahwa semuanya berawal dari Allah. Maka dengan takbir kita mengembalikan kepada segala aktivitas kita adalah karena Allah, ujung rantai dari awal segala awal, tidak karena guru, orang tua, orang lain (rantai pengetahuan bahwa kita harus Sholat) atau karena rantai rasa takut, rasa terpaksa, tapi karena ujung rantai rasa itu sendiri Allah sang Pencipta Rasa. Takbiratul Ihram sebagai starting point Sholat, simbol starting perjalan hidup. Maknanya penyerahan totalitas pada yang Maha Awal bahwa karena-Nya ada dan karena-Nya melakukan perjalanan hidup.


2. Berdiri (Gerak Perjalanan)

Berdiri lambang siap berjalan menjelajahi kehidupan, karena kalo duduk tidak mungkin berjalan, Tegak artinya kehidupan harus ditegakkan (ditumbuhkan) pada ruang waktu, iman harus ditegakkan, akhlak harus ditegakkan, amalan pribadi dan amalan sosial harus ditegakkan.

Sholat adalah tiang agama (agama didirikan/ditegakkan oleh sholat). Sebagaimana pohon tegak lalu pada titik ketinggian optimum kemudian berbuah.

Dalam perjalanan itu kita memakan energi di bumi lalu diproses dengan aturan hukum Allah dan memeliharanya supaya tidak dirusak hama/penyakit untuk menghasilkan buah (hakikat hidup). Buah itu untuk bekal perjalanan kehidupan selanjutnya. Tanpa tegak ruang hidup tidak ada, karena tegak, maka ada titik atas dan bawah dalam satu garis dan bergerak sehingga menciptakan ruang. Sederhananya karena kita berdiri tinggi atap rumah kita tidak kurang dari 1 m, tapi bahkan lebih tinggi dari badan kita. Sehingga ada ruang rumah yang harus diisi. Begitu juga hidup jasmani dan ruhani kita harus ditegakkan dan ruang yang dihasilkannya harus diisi dengan keimanan, amal kebaikan, kesholehan, pengabdian yang iklas kepada Allah, dsb. Dalam tegak berdiri, posisi kepala tunduk, artinya dalam perjalanan hidup akan tunduk dan patuh pada segala Hukum dan Kehendak Allah bebas dari rasa kesombongan diri.Kedua tangan memegang ulu hati, simbol bahwa hati akan selalu dijaga kebersihannya dalam perjalanan hidup.

Ini merupakan simbol kewaspadaan yang wajib dimiliki oleh setiap manusia. Untuk melihat sesuatu secara sadar dan dengan pertimbangan yang jauh dari untung dan rugi. Tidak dipermainkan oleh pikiran yang selalu mereka-reka dan ingin untung sendiri. Sikap ini  adalah sebuah prinsip dimana kita mewaspadai nafsu – nafsu yang ada di dalam diri kita. Bagaimana membuat nafsu tersebut secara cerdas membuat semua hal yang buruk tentang diri kita menjadi indah dan terlihat baik, dalam artian kita selalu membuat pembenaran-pembenaran terhadap kesalahan yang kita buat. Kewaspadaan ini berlaku ke dalam diri kita dan juga keluar diri kita. Kewaspadaan ini adalah kewaspadaan universal. Kewaspadaan  akan membuat nafsu menjadi alat untuk kemajuan, bukan nafsu menjadi alat untuk mencari kesenangan dimana kita selalu ingin mencari enaknya sendiri


3. Rukuk (Penghormatan)

Ruku

Ruku

Mengenal Allah lewat hasil ciptaanNya . Dalam perjalanan hidup, pada ruang ciptaan Allah kita menemukan, menyaksikan dan merasakan bermacam-macam hal : tanah, air, gunung, laut, hewan, sistem kehidupan, rantai makanan, rasa senang, rasa sedih, rasa marah, kelahiran, kematian, pertengkaran, percintaan, ilmu alam, pikiran, manusia sekitar kita, Nabi Rosul , dsb pokoknya semua yang kita tahu dan kita rasa. Ini bukti bahwa Allah itu Ada sebagai Pencipta dari semua itu.

Rukuk adalah sebuah ajaran kembali kepada Sang Pencipta. Segala sesuatu tidak pernah kita miliki secara pribadi. Semua yang datang dari Sang Pencipta akan kembali kepada Sang Pencipta. Semua yang “dimiliki” manusia hanyalah ujian.  Itu tandanya bahwa Sang Penciptalah yang menjadi dasar acuan hidup kita dan kita benar-benar mengembalikan urusan akhir kepada Sang Pencipta.

Dan kita tahu apabila tanpa petunjuk para Utusan Allah (Nabi dan Rosul) kita tidak akan tahu jika semua itu ciptaan Allah, dan dengan para UtusanNya kita tahu tujuan arah hidup serta cara mengisi hidup agar selamat. Sebagai contoh : suku primitif tanpa adanya bimbingan Agama, sesuai fitrah manusia tetap mengamati alam dan menyimpulkan bahwa ada yang menciptakan, tapi tidak tahu siapa Sang Pencipta sebenarnya, sehingga diekspresikan pada penyembahan batu, patung yang dianggap memiliki kekuatan penciptaan. Jadilah kita menghormati Para Utusan Allah (Rosul, Nabi, Malaikat) yang telah mengenalkan Allah pada kita serta menghormati langit bumi berserta isinya, serta termasuk kepada siapa yang mengenalkan Tuhan kepada kita seperti orang tua, guru. Penghormatan sebagai rasa terimakasih kita bahwa kita jadi tahu Tuhan itu seperti apa. Dalam penghormatan juga sebagai dinyatakan keinginan berpartisipasi untuk ambil bagian dalam pemeliharaan Ciptaan Allah ini dan tidak ingin merusaknya.


4. Itidal (Puja-puji pada Allah)

Kemudian kita berdiri lagi untuk mengisi perjalanan hidup dengan penuh puja dan puji pada Allah serta penuh syukur setiap saat sehingga tercipta kepatuhan dan ketaatan. Dengan mengetahui hasil ciptaan Allah maka akan tumbuh kekaguman dan kecintaan pada Allah sehingga tumbuh rasa cinta dan iklas atau dengan senang hati menjalani hidup sesuai Kehendak Allah.

Itu dimaksudkan kita benar-benar tidak akan melenceng dari jalan Sang Pencipta dan kita tidak akan berpindah kepada ajaran yang menyesatkan.


5. Sujud (Penyatuan Diri Dengan Kehendak Allah)

Sujud

Sujud

Jika berdiri di analogikan dengan perjalan jasadi maka Sujud dengan kaki dilipat, atau setengah berdiri adalah simbol dari perjalanan hati (rohani). Dangan sujud hati dan fikiran kita direndahkan serendahnya sebagai tanda ketundukan total pada segala kehendak Allah dan mengikuti segala kehendak Allah. Menyatu kan kehendak Allah dengan Kehendak kita.

Sujud adalah penyerahan total kepada Sang Pencipta tanpa syarat. Sujud adalah symbol kepasrahan yang sangat total. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi kekhawatiran, tidak ada lagi tawar menawar dalam memasrahkan diri kepada Sang Pencipta. Sang Pencipta selalu memberikan yang terbaik untuk makhluknya, yang belum tentu sesuai dengan apa yang mereka mau. Sujud bersikap dengan menaruh kepala kita serendah mungkin di hadapan Sang Pencipta.

Makna dari ini adalah kita benar-benar akan menerima dengan penuh kerendahan hati. Kita adalah makhluk yang Sang Pencipta atur. Tidak aka nada protes. Tidak akan ada pertanyaan yang bersifat mempertanyakan. Benar-benar kepasrahan total kepada Sang Pencipta, sehingga kita mampu melihat segala sesuatu itu wajar apa adanya. Tidak pernah ada keinginan, yang dipaksakan atau memaksakan, sehingga keadaan akan sesuai dengan apa yang kita mau. Kita akan selalu berpikir rendah hati.

Dengan merekatkan kepala pada bumi dimana bumi adalah asal, tempat hidup dan tempat akhir hidup. Di bumi kita lahir di bumi kita menjalani waktu kehidupan, di bumi kita berladang amal, bumi menjadi saksi seluruh hidup kita, di bumi kita mati, di bumi kita dihukum (alam kubur). Merekatkan diri ke Bumi, bahwa awal dan akhir manusia dari dan ke bumi, berharap pada saat kematian keadaan diri kita sama saat dengan saat dilahirkan, yaitu dalam keadaan suci, sehingga bisa bertemu Allah.

Sujud dilakukan 2 kali dimaknai
Sujud pertama : penyatuan Kehendak Allah dengan Kehendak ruhani/hati/jiwa. Diselangi permohonan pada duduk antara 2 sujud
Sujud kedua : pernyataan Pengagungan Dzat Nya Allah personal antara makhluk dan Sang Pencipta, pernyataan ingin kembali pada Sang Pencipta akhir dari perjalanan.

6. Duduk antara 2 Sujud (Permohonan)

Pengungkapan berbagai permohonan pada Allah untuk memberikan segala kebutuhan yang diperlukan dalam bekal perjalanan menuju pertemuan dengan Allah, butuh sumber dukungan hidup jasmani dan ruhani, serta pemeliharaan dan perlindungan jasmani ruhani agar tetap pada jalan Allah.

Duduk antara 2 sujud merupakan sikap dimana kita akan dihadapkan pada suatu keadaan bersimpuh di hadapan Sang Pencipta. Itu adalah simbol dimana kita akan dimintai pertanggung jawaban kepada Sang Maha Kuasa dan kita akan dihadapkan kepada pengadilan yang seadil-adilnya. Tidak ada hakim yang Maha Adil selain Sang Pencipta.


7. Attahiyat : Pernyataan Ikrar

Tahap pemantapan, Karena perjalan hidup itu naik turun dan fitrah manusia tidak lepas dari sifat lupa maka perlu pemantapan yang di refresh dan diulang untuk semakin kokoh. Yaitu Ikrar Syahadat, dengan simbol pengokohan ikrar melalui telunjuk kanan.

Attahiyat  merupakan sikap menerima dari semua keputusan Sang Pencipta tanpa protes. Jadi, semua keputusan akhir, apapun yang kita lakukan kembali lagi kepada Sang Pencipta, baik di dunia maupun setelah meninggalkan dunia.

Sebelum Ikrar memberikan penghormatan untuk para Utusan Allah dan Ruh Hamba-hamba Sholeh (Auliya) yang melalui merekalah kita mengenal Allah juga melalui ajaranya kita dibimbing menujuNya dan menjadikan mereka menjadi saksi atas Ikrar kita.

Sholawat menjadi pernyataan kebersediaan mengikuti apa yang diajarkan Rosululloh Muhammad SAW, dan menempatkannya sebagai pimpinan dalam perjalanan kita. Salam penghormatan kepada Bapak para Nabi Nabi Ibrohim yang menjadi bapak induk ajaran Tauhid. Kemudian diakhir dengan permohonan doa dan permohonan perlindungan dari kejahatan tipuan Dajal / Iblis untuk menjaga perjalanan tetap pada keselamatan dan berhasil mencapai Allah.


8. Salam

Salam adalah ucapan yang mengakui adanya manusia lain yang sama-sama dalam perjalanan (aspek kemasyarakatan) menunjukkan bahwa hidup ini tidak sendiri, sehingga hendaknya menyebarkan salam dan berkah kepada sesama untuk saling bahu membahu menegakkan kehidupan yang harmonis (selaras) dan tegaknya kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan di bumi Allah.

Salam adalah penutup sekaligus awal dari mulainya praktek aplikasi Sholat dalam bentuk aktivitas kehidupan di lapangan hingga ke Sholat berikutnya. Nah salam itu simbol dari putaran yang dimulai dari kanan ke kiri dengan poros badan. Jika dihubungkan dengan Hukum Kaidah Tangan Kanan berarti arah energi ke atas, simbolisasi bahwa perjalanan digantungkan pada Allah SWT (di atas) sebagai penjamin keselamatan dalam perjalanan.

Comments

comments

Related Post


Debat Dalam Pandangan Islam
Debat Dalam Pandangan Islam

Ternyata, debat bukan merupakan perbuatan yang Islami. Cukup banyak hadits…

Didaftarin ke HPAI, jalanin gak ya?
Didaftarin ke HPAI, jalanin gak ya?

Adik saya mendaftarkan saya menjadi member di bisnis MLM barunya,…

Makna Idul Adha Bagi Umat Manusia
Makna Idul Adha Bagi Umat Manusia

Jika makna Qurban hanya untuk menghapus dosa maka hanya orang…

Polemik 1 Ramadhan dan 1 Syawal, Bagaimana Umat Menyikapinya ?
Polemik 1 Ramadhan dan 1 Syawal, Bagaimana Umat Menyikapinya ?

ﻳَٰAlhamdulillah, tahun ini kita masih dipertemukan kembali dengan Bulan Suci…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *