Panarunga sadaya, AI buatan Cina ini bernama DeepSeek R1, atau yang lebih dikenal dengan DeepSeek, yang diluncurkan pada awal Januari 2025. Banyak yang terkejut dengan teknologi yang ditawarkan DeepSeek. Peningkatan penggunaan aplikasi tersebut berdampak pada pasar saham perusahaan pembuat cip dari negara lain. ASML, perusahaan pembuat peralatan cip asal Belanda, mengalami penurunan harga saham lebih dari 10%, sementara saham Siemens Energy, pembuat hardware AI, anjlok hingga mencapai 21%. Nvidia, salah satu orang terkaya di dunia, harga sahamnya juga anjlok sebesar 17% pada hari Senin kemarin.
Panarunga, kali ini kita akan membahas hal unik yang berkaitan dengan Amerika dan Cina. Setelah kemarin kita bercerita tentang bagaimana Cina ingin mengupayakan negaranya memiliki cip yang canggih, mereka sampai mempekerjakan salah satu orang penting dalam penciptaan cip buatan Korea Selatan. Mereka dianggap sudah mencuri dari Korea Selatan, tapi Cina tidak peduli karena fokus mereka adalah membuat negara mereka kuat. Kalian bisa cek konten saya yang ini jika ingin tahu ceritanya.
Membahas tentang Cina memang menarik, pasti ada kaitannya dengan Amerika, apalagi ketegangan di antara kedua negara ini dalam permasalahan teknologi canggih. Pembahasan kali ini masih berhubungan dengan perang kecanggihan cip antara Cina dan Amerika, tapi lebih spesifik lagi, yaitu artificial intelligence (AI). Beberapa hari ini, Cina tiba-tiba muncul dengan pemberitaan luar biasa yang membuat semua orang tercengang dengan gebrakan mereka meluncurkan AI asisten saingan ChatGPT, bernama DeepSeek. Peluncuran DeepSeek ini membuat AI asisten buatan Cina menjadi nomor satu dan banyak digunakan karena fiturnya lebih efisien dibandingkan ChatGPT. Hal ini tentu membuat saham perusahaan teknologi asal Amerika Serikat anjlok dan para miliarder rugi hingga 108 miliar USD. Inovasi yang terus dilakukan Cina ini menjadi ancaman bagi Amerika Serikat, mulai dari TikTok, RedNote, dan sekarang muncul DeepSeek. Saya akan membahas apa itu DeepSeek dan bagaimana Amerika bisa terdampak karena kehadirannya, bagaimana Amerika bisa merugi hingga ribuan triliun dari kemunculan DeepSeek buatan Cina ini. Langsung saja kita bahas secara lengkap!
DeepSeek adalah AI asisten yang dibuat oleh Cina ketika Amerika membatasi penjualan teknologi cip canggih yang mendukung AI ke Cina. Seperti yang pernah saya jelaskan di video sebelumnya tentang perang cip antara Cina dan Amerika, di mana Amerika berupaya menghambat perkembangan teknologi cip di Cina dengan segala cara. Hal ini akhirnya membuat Cina harus memikirkan cara baru agar mereka berhasil membuat AI buatan sendiri tanpa bergantung pada teknologi dari Amerika Serikat. Mereka melakukan berbagai cara melalui eksperimen tanpa pasokan cip dari negara lain. Para pengembang AI di Cina saling membuka “dapur” mereka demi menciptakan AI canggih baru. Jika di Amerika, misalnya, mengambil dari negara lain untuk membantu membuat cip, maka di Cina, mereka saling terbuka dan berkolaborasi. Hal inilah yang membuat teknologi Cina berkembang pesat.
Pengembangan teknologi AI yang dilakukan Cina ternyata melebihi ekspektasi. Model AI yang mereka hasilkan hanya membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih sedikit dan ongkos pembuatan yang jauh lebih murah dibandingkan perkiraan mereka. Dua hal tersebut menjadi acuan harga pasar bagi AI yang mereka buat. Biasanya, jika semakin efisien, harganya semakin mahal. Barang buatan Cina sering dianggap underestimate karena dianggap rapuh atau mudah rusak. Padahal, produk buatan Cina saat ini sangat keren. Cina sudah terkenal dengan barang-barang murah mereka, dan sekarang mereka bisa mengembangkan AI dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan yang ditawarkan Amerika, sehingga berpotensi mengubah pasar industri AI itu sendiri.
AI buatan Cina ini bernama DeepSeek R1, atau yang lebih dikenal dengan DeepSeek, yang diluncurkan pada awal Januari 2025. Pihak DeepSeek mengklaim kalau kinerja AI DeepSeek setara dengan model terbaru yang dibuat oleh OpenAI, pembuat ChatGPT, ketika digunakan untuk memecahkan soal matematika, pengkodean, sampai penalaran dengan bahasa sederhana.
Pasti kalian penasaran siapa yang bertanggung jawab atau siapa yang berhasil membuat DeepSeek ini hingga menghebohkan dunia. Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan si penemu atau pembuat DeepSeek, bernama Liang Wenfeng.
Liang Wenfeng, pria berusia 39 tahun ini, tumbuh besar di Huangdong, provinsi yang selama tahun 80-an dan 90-an memimpin Cina dalam mengadopsi kapitalisme. Saat itu, ia dikelilingi oleh orang-orang yang lebih mementingkan bisnis dibandingkan belajar, tapi tidak dengan Wenfeng. Ia memilih untuk mengenyam pendidikan di Universitas Zhejiang, jurusan Teknik Elektronika dan Komunikasi, dan mendapatkan gelar master di bidang serupa pada tahun 2010.
Singkat cerita, Wenfeng mendirikan dana lindung atau hedge fund nilai kuantitatif pada tahun 2015. Untuk menjalankan dana lindungnya, Wenfeng tidak menggunakan analisis manusia untuk memprediksi pasar, melainkan algoritma matematika yang rumit untuk melakukan perdagangan. Portofolio dana lindung tersebut dikatakan berjumlah lebih dari 100 miliar Yuan pada akhir tahun 2021.
Pada April 2023, melalui akun WeChat-nya, dana lindung milik Wenfeng mengumumkan bahwa mereka akan memperluas kewenangannya di luar industri investasi dan memusatkan sumber daya untuk mengeksplorasi AI. Sebulan kemudian, DeepSeek dibuat. Perusahaan ini merilis model bahasa besar AI pertama mereka pada akhir tahun 2023.
Wen Feng, sebagai pemimpin DeepSeek, memfokuskan bakat serta sumber daya penelitian untuk membuat model yang bisa menyamai, bahkan lebih baik dari OpenAI. Dengan diciptakannya DeepSeek, mereka berharap di masa mendatang bisa terus berfokus pada model-model yang akan digunakan oleh perusahaan lain untuk membangun produk AI yang dapat ditujukan sebagai konsumen maupun perusahaan. Wenfeng ingin membawa perubahan untuk Cina yang tidak mau hanya terus mengikuti inovasi dari negara lain. Ia ingin Cina yang memimpin.
Seiring berjalannya waktu, hal tersebut benar-benar terlihat. Jika biasanya Cina mengambil inovasi dari luar negeri, mulai dari aplikasi smartphone sampai kendaraan listrik, sekarang Cina dengan cepat meningkatkan inovasi yang sering kali jauh lebih cepat daripada negara-negara yang menemukan teknologi tersebut.
Wen Feng, sebagai seseorang yang berperan penting dalam pengembangan cip di Cina, bukanlah orang yang sering tampil di hadapan publik. Ia jarang terlihat. Standarnya, pencipta atau orang-orang yang suka membuat karya itu biasanya introvert, tidak suka narsis. Diketahui kalau dia hanya pernah memberikan dua wawancara media kepada media China Wave pada tahun lalu dan tahun 2023. Selain itu, dia tidak pernah muncul di media mana pun.
Namun, pada tanggal 20 Januari kemarin, Wenfeng menjadi salah satu dari enam orang yang diminta untuk memberikan pidato pada simposium tertutup yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri Cina. Ini adalah sebuah kehormatan besar yang diberikan kepada Wenfeng.
Selama bertahun-tahun, Wenfeng tidak sungkan untuk mengungkapkan pandangannya mengenai peran Cina dalam perlombaan AI dengan Amerika. Ia mengatakan kalau AI Cina tidak bisa berada di posisi mengikuti perkembangan negara lain selamanya. Cina sering mengatakan kalau ada kesenjangan teknologi satu atau dua tahun antara AI Cina dengan Amerika. Namun, menurut Wenfeng, kesenjangan yang sebenarnya adalah perbedaan antara orisinalitas dan tiruannya. Jika ini tidak berubah, maka Cina akan selalu menjadi pengikut. Kalimat dari Wenfeng ini adalah pernyataan dari Cina kalau mereka tidak bisa terus meniru perkembangan teknologi dari negara lain. Untuk bisa memimpin, mereka harus menciptakan sesuatu yang baru yang lebih unggul dibandingkan teknologi dari negara lain. Inilah hasilnya, AI dari DeepSeek buatan Cina.
Lalu, bagaimana bisa Cina membuat DeepSeek padahal negaranya sedang diblokir habis-habisan oleh Amerika agar Cina tidak bisa mendapatkan cip tercanggih yang menjadi komponen penting untuk mengembangkan AI?
Usut punya usut, DeepSeek berhasil mengatasi semua pemblokiran itu dengan menggunakan model lama yang tidak terkena pemboikotan oleh Amerika, yaitu cip berkapasitas rendah dari Nvidia yang disebut dengan H800s. Walaupun menggunakan cip berkapasitas rendah dengan keterbatasan yang mereka alami, mereka terus melakukan berbagai eksperimen untuk bisa mengoptimalisasi cip tersebut hingga bisa menciptakan AI yang tidak kalah canggih dari Amerika.
Selain itu, tidak seperti para pesaingnya yang mengembangkan model AI mereka sendiri secara eksklusif dan tertutup, DeepSeek bersifat open source, yang artinya DeepSeek terbuka bagi siapa pun untuk mengakses kode programnya. Mereka seperti membongkar “dapur” mereka sendiri, memperlihatkan kepada semua orang cara kerjanya, modifikasinya, serta ikut mengembangkan sendiri. Tujuan mereka adalah mereka tidak mau seperti Amerika. Jika Amerika mematenkan atau menspesialkan cara kinerja AI ini biar tidak semua orang bisa, maka Cina justru sebaliknya. Mereka ingin semua orang bisa meniru. Sifat open source inilah yang dianggap sebagai nilai tambah dari DeepSeek yang membuka potensi untuk mengembangkan teknologi tersebut lebih luas dan murah.
Hanya saja, ada kekurangan dari sistem ini, karena kemungkinan akan membuat perusahaan pengembangnya tidak bisa mengambil keuntungan yang besar. Cina menjual barang dengan harga yang sangat murah, walaupun sebenarnya produk mereka canggih. Mereka ingin menguasai pasar, jual murah tidak apa-apa, tapi Amerika sudah tidak bisa menyaingi mereka.
Peluncuran AI asal Cina ini tentunya menjadi salah satu yang paling dibanggakan oleh Cina karena pada akhirnya mereka bisa memiliki teknologi mereka sendiri yang mereka ciptakan sendiri. Tapi peluncuran DeepSeek ini tidak hanya membuat gempar Cina, tapi juga negara saingan Cina, yaitu Amerika. AI buatan Cina ini dikatakan jauh lebih canggih dibandingkan AI buatan Amerika, membuat Amerika benar-benar syok.
DeepSeek adalah chatbot AI yang tampilan serta cara kerjanya sangat mirip dengan ChatGPT. DeepSeek digunakan untuk banyak tugas yang sama seperti ChatGPT. Model R1 DeepSeek memiliki model yang sama kuatnya dengan model O1 OpenAI yang dirilis akhir tahun lalu. Kedua AI ini menggunakan model yang sama, yaitu model penalaran. Model ini menghasilkan respons secara bertahap, mensimulasikan proses yang mirip dengan cara manusia berpikir melalui masalah atau ide. Tapi model R1 ini menggunakan lebih sedikit memori dibanding dengan O1, yang membuat R1 jauh lebih murah dari segi biaya untuk mendapatkan manfaat dari teknologi tersebut. Para peneliti yang mengembangkan AI DeepSeek mengklaim kalau biaya untuk melatih AI mereka mencapai 6 juta USD, yang mana itu 6% dari perkiraan biaya GPT-4 milik OpenAI yang diperkirakan memakan biaya lebih dari 100 juta USD. Padahal, Wenfeng mengatakan kalau sebagian besar pengembang yang ada di DeepSeek itu adalah lulusan baru atau orang-orang yang baru saja memulai karir mereka di bidang AI. Ini tentunya menjadi hal yang mengesankan bagi DeepSeek. Bagaimana bisa orang-orang di baliknya adalah orang-orang yang baru lulus atau berkarir, belum berpengalaman banget di bidang AI, tapi mereka sudah bisa membuat AI dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan OpenAI milik Amerika.
Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh DeepSeek R1 ini, seperti banyak model AI Cina lain, yaitu Ernie milik Baidu atau Doubao milik ByteDance. DeepSeek ini dilatih untuk menghindari pertanyaan yang sensitif secara politik. Hal ini diketahui setelah tim dari media BBC mencoba untuk menanyakan kepada DeepSeek mengenai apa yang terjadi di Lapangan Tiananmen pada tanggal 4 Juni tahun 1989. Insiden di Lapangan Tiananmen ini adalah sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin oleh mahasiswa dan berujung pada status darurat militer yang diberlakukan di sana, kemudian terjadinya penembakan dan penangkapan para pengunjuk rasa di sana. Ketika ditanyakan insiden di Lapangan Tiananmen ini, DeepSeek tidak memberikan rincian apapun mengenai topik tersebut. Memang topik itu adalah topik yang sensitif di Cina. Sensor yang diberlakukan oleh pemerintah Cina sendiri menjadi sebuah tantangan yang besar bagi perkembangan AI-nya di pasar internasional. Tapi sepertinya hal tersebut bisa diatasi dengan DeepSeek yang sudah dilatih untuk mencari informasi dari sumber yang akurat, namun dengan menampilkan lapisan sensor atau menahan informasi tertentu melalui lapisan pengamanan tambahan. DeepSeek saat ini sudah lebih mudah diakses karena sudah ada di App Store dan Play Store. Dan hal ini membuat Amerika menjadi kaget sekaligus khawatir. Bahkan setelah pembatasan akses yang diberikan oleh Amerika terhadap cip-cip canggih mereka ke Cina, ternyata Cina berhasil membuat AI asisten yang diklaim bisa mengungguli model AI yang dibuat oleh Amerika.
Matt Harrison, selaku pemodal ventura dari Silicon Valley sekaligus penasehat Donald Trump, menanggapi fenomena kemunculan DeepSeek ini sebagai momen Sputnik AI. Sputnik AI adalah satelit yang diluncurkan oleh Uni Soviet pada tahun 1957 ketika sedang Perang Dingin dengan Amerika Serikat. Ketika itu, Amerika terkejut dengan pencapaian teknologi yang dilakukan oleh Uni Soviet, dan ini terulang kembali. Namun kali ini bukan Uni Soviet atau Rusia, tapi melainkan ini dibuat oleh orang Cina yang tiba-tiba bisa meluncurkan teknologi AI yang membuat gempar Amerika Serikat. Satya Nadella, selaku CEO Microsoft, memuji DeepSeek, bahkan dengan mengatakan kalau model terbaru mereka sangat mengesankan karena sangat efektif dan efisien dalam komputasi. Dan dari sini dia juga baru menyadari kalau Cina mengembangkan AI milik mereka dengan sangat serius, sehingga Amerika harus lebih waspada lagi.
Setelah aplikasi DeepSeek ini tersedia di App Store dan Play Store, aplikasi ini dengan cepat menjadi aplikasi gratis yang paling banyak di-download di App Store Amerika. Karena terlalu banyak yang men-download aplikasi ini, aplikasi DeepSeek sempat terkena serangan berbahaya dengan skala besar, sehingga DeepSeek memutuskan untuk membatasi pendaftaran pengguna mereka untuk sementara waktu. Dan di hari Senin kemarin, situs web DeepSeek sempat down karena banyak banget dicoba oleh orang-orang. Kebayang tuh ya, jadi sempat gila-gilaan lah orang-orang antusias banget dengan kehadiran DeepSeek. Banyak yang kaget dengan teknologi yang ditawarkan oleh DeepSeek, dan meningkatnya penggunaan aplikasi tersebut ternyata juga berdampak pada pasar saham bagi perusahaan pembuat cip dari negara lain. ASML, perusahaan pembuat peralatan cip asal Belanda, mengalami penurunan harga saham lebih dari 10%. Sementara saham dari Siemens Energy, pembuat hardware AI, anjlok hingga mencapai 21%. Lalu ada Nvidia, yang kita tahu ini salah satu yang terkaya sekarang di dunia, yang mana harga saham mereka juga anjlok sebesar 17% pada hari Senin kemarin. Penurunan harga saham ini terjadi karena selama ini orang-orang yakin kalau dengan anggaran yang besar dan cip tingkat atas adalah satu-satunya cara untuk bisa memajukan industri AI. Tapi setelah Cina merilis DeepSeek, keyakinan tersebut dipatahkan karena DeepSeek bisa mengembangkan AI dengan sumber daya komputasi yang terbatas. Ditambah lagi, sekarang DeepSeek malah buka-bukaan cara membuat AI itu gimana.
Fa Shernling, penasehat ekuitas teknologi yang berbasis di Singapura, juga mengatakan kalau keberadaan DeepSeek ini berpotensi untuk menggagalkan investasi untuk seluruh rantai pasukan AI. Dengan adanya DeepSeek yang mengklaim kalau mereka menggunakan pasokan dengan harga yang lebih murah, ini akan meruntuhkan rantai pasokan pengembangan AI di negara lain, yang mana itu jauh lebih mahal dibandingkan milik Cina. Sementara itu, raksasa perbankan Wall Street, yaitu Citi, memperingatkan kepada semua pihak kalau meskipun DeepSeek bisa menantang posisi dominan perusahaan-perusahaan Amerika seperti OpenAI, masalah yang akan dihadapi perusahaan-perusahaan Cina bisa menghambat pengembangan produk mereka sendiri karena pasti Amerika akan lebih mengetatkan pemboikotan cip-cip apapun ke Cina nantinya.
Saat ini juga para ahli sudah mendesak agar berhati-hati untuk mengadopsi DeepSeek secara cepat. Alasannya karena adanya kekhawatiran mengenai penyebaran informasi yang salah dan Cina yang kemungkinan besar bisa mengeksploitasi data dari penggunanya. Pemerintah, terutama pemerintah Amerika, mengatakan kalau penggunaan AI adalah hak pribadi bagi setiap warga negara, tetapi pemerintah tetap akan memantau setiap ancaman bagi keamanan nasional terhadap data yang dipunyai oleh DeepSeek. Dan pemerintah tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas kalau terjadi ancaman pengambilan data oleh DeepSeek. Hanya saja, menurut Michael Wridge, seorang profesor dasar-dasar AI dari Oxford University, dia bilang kalau spekulasi tersebut bisa saja terjadi karena apapun yang kita ketik di dalam chatbot itu akan tersimpan di database mereka. Sehingga Michael ini menyarankan untuk membicarakan topik-topik yang ringan saja di chatbot tanpa mencantumkan sesuatu yang sensitif atau bersifat pribadi, seperti nama tempat tinggal dan lain-lain. Jadi intinya yang berkaitan dengan identitas kita ya jangan sampai diposting atau diketik di sana.
Lalu adanya pernyataan dari Rose Barley, yang menjadi salah satu pendiri dari Center for Information Resilience. Dia mengatakan kalau kita sudah melihat berkali-kali bagaimana Cina menggunakan dominasi teknologinya sebagai senjata untuk mengawasi, mengontrol, hingga melakukan pemaksaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tapi kayaknya Amerika juga sama deh ngelakuin hal itu juga. Tapi kenapa ketika Cina melakukan ini, Amerika jadi memperingatkan warga dunia? Aneh banget. Walaupun tengah menjadi kontroversi oleh barat, khususnya Amerika, pencapaian yang dilakukan oleh DeepSeek ini menjadi sebuah dorongan besar bagi pemerintah Cina yang sudah sejak lama berusaha untuk membangun teknologi mereka secara independen tanpa adanya ketergantungan dari barat. Partai Komunis Cina sendiri belum berkomentar mengenai hal ini, namun media pemerintah Cina sepertinya menunggu DeepSeek yang bisa menggulingkan pasar saham perusahaan Amerika. Dan hal ini menjadi sebuah bukti kecanggihan teknologi dan kemandirian Cina yang terus berkembang dari segi teknologi, bahkan bisa dikatakan sebagai inovasi baru dari Cina, sebuah era baru kepemimpinan teknologi lokal yang digerakkan oleh generasi muda. Tapi ada potensi juga kalau sentimen teknologi yang sedang terjadi bisa mengarah kepada isolasionisme teknologi itu sendiri. Seperti yang saya katakan sebelumnya, karena sudah tidak lagi bergantung dengan negara manapun, Cina akan melakukan pengembangan teknologinya sendiri tanpa ada campur tangan dari negara lain. Jadi Cina bakal lebih kuat lagi.
Itu dia pembahasan kita hari ini mengenai DeepSeek, yaitu aplikasi AI buatan Cina yang menggemparkan dunia. Bahkan Amerika Serikat sendiri merasa khawatir karena saham perusahaan-perusahaan Amerika Serikat jadi anjlok, mereka jadi rugi ribuan triliun. Bagaimana geng, menurut kalian apakah ini menjadi momentum bagi Cina untuk mengalahkan teknologi di Amerika, atau justru Amerika bakal ngamuk terus bakal menggunakan cara-cara yang licik atau kotor mungkin untuk menghentikan Cina? Coba tinggalkan komentar di bawah.




