Kalau kamu tumbuh di Indonesia era 90-an sampai awal 2000-an, kemungkinan besar kamu pernah hidup di satu dunia yang sama: dunia di mana “komputer” itu artinya Windows, dan “ngetik” itu artinya Microsoft Word. Bahkan kalaupun Windows dan Office-nya bajakan, tetap saja mereka jadi standar yang membentuk cara satu generasi bekerja.
Tapi hari ini, dunia itu sudah berubah.
Bukan karena Microsoft mati. Bukan juga karena Windows ditinggal semua orang. Tapi karena kebutuhan manusia, pola kerja, dan teknologi sudah bergeser jauh—terutama sejak cloud, AI, dan aplikasi kreator berkembang pesat.
Dan yang menarik: pergeseran itu bukan cuma terjadi di kantor, tapi juga di dunia kreator konten.
NTLM, Microsoft, dan Warisan “Dunia Kerja Lama”
Dulu, Microsoft bukan cuma perusahaan software. Mereka adalah fondasi sistem kerja modern.
Salah satu contoh teknologi “tulang punggung” Microsoft adalah NTLM.
NTLM (NT LAN Manager) itu sederhananya adalah:
sistem “cek identitas” di Windows.
Misalnya kamu kerja di kantor, lalu mau:
- login ke komputer kantor
- akses folder sharing
- masuk ke server file
- pakai printer jaringan
Windows perlu tahu:
“ini orang siapa, beneran punya akses atau bukan?”
Nah, NTLM adalah salah satu cara Windows melakukan pengecekan itu.
Cara kerjanya kurang lebih begini:
- server ngasih tantangan (challenge)
- komputer user menjawab pakai kode hasil dari password (bukan password mentah)
- kalau cocok, akses dibuka
Sekarang NTLM mulai ditinggalkan karena dianggap:
- lebih rentan diserang
- teknologi lama
- kalah aman dibanding sistem modern
Penggantinya adalah Kerberos.
Kalau NTLM itu seperti “kunci rumah lama”, maka Kerberos itu seperti:
sistem kartu akses kantor modern yang lebih aman.
Tapi meski NTLM sudah tua, ia menunjukkan satu hal: Microsoft dulu membangun dunia kerja sampai ke level paling dasar.
Bill Gates Pernah Jadi Orang Terkaya Dunia, Tapi Pamor Microsoft Sekarang Kalah
Fakta sejarahnya jelas: Bill Gates pernah menjadi orang terkaya di dunia berulang kali, bahkan mendominasi selama bertahun-tahun. Namun menariknya, meski Microsoft dulu memegang dunia, pamornya kini kalah dari Apple dan Google.
Kenapa?
Karena Microsoft menang di fungsi, tapi kalah di “emosi”.
Apple menjual identitas, desain, dan rasa bangga. Google menguasai gerbang internet lewat pencarian, iklan, dan data. Sementara Microsoft, meski tetap kaya dan kuat, lebih identik sebagai “alat kerja”—bukan simbol gaya hidup.
Jadi meski Microsoft masih besar, orang jarang merasa “keren” karena pakai Windows. Yang ada, mereka merasa “butuh”.
Windows 11 dan Kebijakan yang Membuat Banyak Orang Merasa Dipaksa
Masuk ke era modern, Microsoft melakukan langkah yang membuat banyak orang mulai berpikir ulang: Windows 11.
Bukan cuma soal tampilan, tapi soal syarat hardware yang ketat seperti:
- TPM 2.0
- Secure Boot
- CPU generasi tertentu
Penjelasan sederhananya:
TPM 2.0 itu seperti “chip keamanan” di laptop yang berfungsi untuk:
- menyimpan kunci enkripsi
- melindungi data
- mencegah sistem gampang dibobol
Secure Boot itu fitur yang memastikan:
saat laptop menyala, yang berjalan hanya sistem yang resmi dan tidak disusupi malware.
Masalahnya, banyak laptop lama yang masih kuat untuk kerja harian, tapi tidak punya TPM atau CPU yang dianggap “layak” oleh Microsoft.
Akhirnya, banyak orang bertahan di Windows 10, bukan karena ketinggalan zaman, tapi karena tidak mau dipaksa membeli laptop baru.
Dan di sinilah alternatif mulai dilirik.
Linux Gagal Besar di Indonesia (Walau Gratis) — Tapi ChromeOS Malah Sukses
Ini bagian yang ironis.
Linux desktop sudah lama ada. Gratis. Stabil. Aman. Tapi di Indonesia, Linux gagal besar sebagai OS utama untuk masyarakat umum.
Kenapa?
Karena gratis bukan berarti murah.
Linux memang gratis, tapi mahal dalam bentuk:
- effort install
- driver yang sering bermasalah
- software yang tidak kompatibel
- teknisi toko komputer yang lebih memilih Windows bajakan
Dan satu hal yang paling fatal: Windows bajakan membuat Linux kehilangan alasan utamanya, yaitu harga.
Tapi kemudian muncul ChromeOS.
ChromeOS adalah Linux yang sukses, karena Google melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Linux klasik: mereka menyembunyikan kerumitannya. ChromeOS dibuat ringan, cepat, aman, dan cukup untuk kebutuhan mayoritas orang—terutama pendidikan dan kerja berbasis browser.
Jadi ya, ChromeOS bisa disebut Linux yang menang… karena ia tidak memaksa user merasa sedang memakai Linux.
Aluminium OS: Masa Depan ChromeOS yang Lebih Serius?
Di titik ini muncul rumor dan arah baru: ChromeOS berevolusi menuju sesuatu yang lebih besar, yang sering disebut Aluminium OS.
Idenya sederhana: menggabungkan ChromeOS dan Android supaya Google punya satu platform yang lebih matang untuk laptop, tablet, dan perangkat kerja modern. Ini langkah yang masuk akal, karena Google ingin ekosistemnya menyatu seperti Apple.
Kalau itu benar-benar matang, maka Google bisa menjadi kompetitor yang lebih serius untuk Windows di segmen ringan hingga menengah.
Tapi untuk menggulingkan Windows sepenuhnya? Masih jauh.
Windows terlalu tertanam di dunia kerja formal, software enterprise, dan kebutuhan profesional.
Yang lebih realistis: ChromeOS akan menggerogoti Windows pelan-pelan di segmen tertentu.
Microsoft dan AI: Copilot Bukan Cuma “ChatGPT yang Dipasang di Windows”
Banyak orang mengira Copilot sepenuhnya hidup dari ChatGPT. Tapi realitanya lebih rumit.
Microsoft memang memakai model OpenAI sebagai tulang punggung utama Copilot. Namun Microsoft juga sedang membangun model AI internal mereka sendiri.
Tujuannya jelas: mereka tidak mau selamanya bergantung pada OpenAI.
Copilot sendiri sederhananya adalah:
asisten AI milik Microsoft yang dipasang ke Windows, Office, Teams, Outlook, dan layanan lain.
Dan istilah yang sering muncul adalah model AI.
Model AI itu bisa dianggap seperti:
“mesin otak” yang dipakai untuk berpikir, menjawab, dan memahami bahasa manusia.
ChatGPT itu model AI dari OpenAI.
Microsoft sedang membangun model AI sendiri supaya punya “mesin otak” alternatif.
Apakah AI Microsoft bisa mengalahkan ChatGPT?
Secara umum, kecil kemungkinan dalam waktu dekat.
Tapi dalam konteks kerja, AI Microsoft bisa jadi lebih unggul karena mereka punya:
- Windows
- Office
- Teams
- Outlook
- data enterprise
- cloud Azure
AI yang “cukup pintar tapi paham konteks kerja” sering lebih berguna daripada AI yang super pintar tapi generik.
Perang Dokumen: Word Masih Raja untuk Rumus, Tapi Google Docs Menang untuk Kerja Harian
Di level pengguna sehari-hari, banyak orang sudah bergeser.
Bahkan kamu sendiri lebih sering memakai Google Docs daripada Word. Itu wajar, karena Google Docs unggul dalam:
- kolaborasi real-time
- autosave
- akses cepat
- kerja berbasis cloud
Tapi begitu masuk ke dokumen penuh equation kompleks, Word masih unggul mutlak.
Equation editor Google Docs sering membuat rumus mengecil tiba-tiba, terutama pecahan bertingkat. Ini bukan salah user. Ini batasan desain Google Docs yang lebih memprioritaskan stabilitas layout teks daripada presisi matematika.
Add-on seperti MathType ada, tapi sering berbayar. Dan ya… lucu juga: ingin fitur rumus bagus, harus bayar lagi.
Pada akhirnya, banyak orang memakai workflow campuran: Docs untuk nulis dan kolaborasi, Word untuk finalisasi rumus, lalu export PDF.
Canva Docs dan Strategi “Biar Kamu Nggak Keluar dari Canva”
Canva sekarang bukan lagi sekadar aplikasi desain. Mereka mulai membangun ekosistem kerja.
Muncul Canva Docs, yang jelas-jelas bukan dibuat untuk menggantikan Word akademik, tapi untuk menggantikan “dokumen konten”.
Canva Docs kuat untuk:
- proposal visual
- pitch deck
- dokumen brand
- konten marketing
- laporan ringan yang estetik
Canva paham satu hal: banyak orang tidak butuh dokumen yang sempurna secara teknis. Mereka butuh dokumen yang komunikatif, menarik, dan enak dilihat.
Dan itu adalah celah yang Word dan Google Docs tidak fokus layani.
Tapi Canva Video Itu Nanggung… dan CapCut Makin Kurang Ajar
Masuk ke dunia kreator konten, cerita makin seru.
Canva video editor itu enak untuk mulai. Tapi untuk hasil akhir yang niat, banyak kreator merasa Canva itu nanggung:
- timeline terbatas
- audio editing seadanya
- pacing sulit presisi
- hasil terasa template
Maka pilihan paling waras untuk finishing adalah CapCut.
CapCut adalah editor video yang memang lahir dari budaya short video: TikTok, Reels, Shorts. Ia dibuat untuk hook, cut cepat, caption, beat, dan tren.
Dan yang bikin “kurang ajar”, CapCut sekarang tidak puas jadi editor video saja. Foto editor-nya juga makin kuat. Mereka ingin jadi alat produksi konten serba bisa.
Canva mulai terasa seperti “kantor desain”, sementara CapCut seperti “dapur produksi konten”.
Photoshop? Berat. Canva? Sudah Cukup. AI? Lebih Cepat Lagi.
Dulu, Photoshop adalah simbol “kelas atas” dalam dunia desain.
Tapi hari ini, untuk konten medsos sederhana seperti quote motivasi, Photoshop sering terlalu berat. Bukan karena Photoshop jelek, tapi karena kebutuhan konten sekarang lebih menuntut:
- cepat
- konsisten
- rutin
- relevan
Canva sudah cukup untuk mayoritas kebutuhan.
Dan bahkan kamu sekarang lebih sering memakai Nano Banana Pro untuk konten motivasi—karena AI image generator bisa menciptakan visual emosional dalam hitungan detik, lalu kamu tinggal pasang caption yang kuat.
Ini menunjukkan satu perubahan besar: kreator modern lebih fokus ke pesan dan emosi, bukan sekadar teknis desain.
Kesimpulan: Kita Sedang Hidup di Era “Tool Harus Nurut Sama Manusia”
Kalau dulu manusia harus belajar software berat, sekarang software yang dipaksa menyesuaikan manusia.
- Windows 11 menuntut hardware tinggi → orang mencari alternatif
- Google Docs menang di kolaborasi → Word bertahan di rumus dan presisi
- ChromeOS menang karena ringan → Linux gagal karena terlalu teknis
- Canva masuk ke dokumen → CapCut masuk ke foto
- AI membuat produksi konten makin cepat → workflow kreator makin pragmatis
Dan inti dari semuanya simpel:
Sekarang bukan lagi soal “tool paling hebat”.
Tapi soal “tool yang paling membantu hidup kita.”
Kalau satu tool bikin kamu ribet, kamu akan pindah.
Kalau satu tool bikin kamu produktif, kamu akan setia.
Dan itu adalah bentuk evolusi paling jujur dari dunia teknologi hari ini.




