Wow, hari ini tanggal 19 Januari 2025, saya menulis di hari di mana TikTok tidak bisa diakses lagi di Amerika. Udah resmi nih, 170 juta pengguna di sana udah gak bisa pakai TikTok. Banyak warga Amerika terpecah jadi tiga opini:
- Seharusnya TikTok enggak diban.
- Mereka pindah ke aplikasi Cina lain, namanya Red Note.
- Ada juga yang sebenarnya senang TikTok dibanned.
Kalau kalian warga Amerika, kalian tipe yang mana nih? Kubu yang mana? Walaupun sebenarnya, TikTok ban ini ada solusinya. Intinya, lu jual aja ke perusahaan Amerika. Tapi yang namanya perusahaan pasti mereka enggak mau main asal jual atau mungkin kalian jadi mengada-ngada. Gimana kalau Indonesia nge-ban TikTok juga? Kalau sampai Indonesia nge-ban TikTok, mereka bakal kehilangan dua pasar paling gede mereka di seluruh dunia. Sekarang, setelah AS nge-ban TikTok, Indonesia adalah pasar paling besar TikTok.
Jadi, kronologinya gimana sih sebenarnya? Dari Papa Joe Biden, ya, walaupun ada klip katanya Donald Trump pengen nyelamatin TikTok. Lucunya, dia terang-terangan bilang, “Iya, gua dapat banyak voters anak muda tuh gara-gara TikTok.” Terlalu jujur sih menurut gua. Tapi kronologinya dulu ya.
Di April 2024, Joe Biden nih tanda tangan yang namanya Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act. Gua harus baca karena gua enggak hafal namanya, singkatnya PAFACA. Nah, undang-undang ini ngejaga biar data-datanya warga Amerika itu enggak bocor ke negara lain. Kita tahu, Amerika sama China itu lagi “tanda kutip” perang dingin dari April tahun lalu. Jadi, ada sekitar 270 hari salah satu kriterianya adalah jual TikTok ke perusahaan Amerika kalau mau benar-benar aman.
Waktu itu, ByteDance, perusahaan induknya TikTok, enggak mau. Dia bilang ini melanggar amendment right-nya di Amerika. Menurut mereka, platform kayak TikTok yang free speech harusnya enggak apa-apa. Tapi tetap aja, di 17 Januari 2025, Mahkamah Agung Amerika dengan bulat menegakkan konstitusi PAFACA. Menurut kalian, ini hal yang bagus apa buruk? Apa TikTok harusnya jual ke perusahaan Amerika? Biarin aja? Atau harusnya enggak dibanned dari awal?
Kita ngomongin dampaknya dulu ya, karena ini bahkan masuk ke ranah Indonesia. Ini menurut gua dilemanya: 170 juta user udah enggak bisa akses TikTok di AS. Mereka pindah ke aplikasi Red Note, sama aja perusahaan Cina. Jadi sebenarnya, ini aturan PAFACA atau sekedar ada pihak-pihak tertentu yang enggak mau TikTok ada di Amerika? Kita kira, pas TikTok enggak ada, mereka bakal pindah ke Instagram atau YouTube. Ternyata enggak. Ada aplikasi Cina lain yang mereka download. Gara-gara ini sempat ramai, ya.
Ini udah masuk ke ranah influencer. MrBeast aja dengan terbuka bilang, “Gua aja deh yang beli TikTok.” Elon Musk juga udah bilang, “Oke deh gua beli TikTok.” Perplexity AI juga bilang, “Oke deh gua beli TikTok.” Banyak kok yang mau TikTok, tapi sampai sekarang itu enggak bisa tercapai. Jadi, mungkin negosiasinya yang belum clear, atau jangan-jangan memang tetap harus China yang pegang intinya.
Karena riwayat di Amerika, mau enggak mau sekarang TikTok harus fokus di Indonesia. Right now, Indonesia tuh jadi de facto negara yang paling berkontribusi terhadap aktivitas dan pendapatannya TikTok di seluruh dunia. Mungkin dampak paling simpel ya, kita bakal lihat TikTok lebih aktif di Indonesia. Kita bakal lihat lebih banyak konten di TikTok di Indonesia, lebih banyak event TikTok di Indonesia, dan mungkin kita bakal lihat TikTok lebih berusaha menjual sebuah produk ke kita di Indonesia. Atau mungkin malah makin hati-hati biar enggak kehilangan Indonesia juga.
Karena ini ujung-ujungnya, TikTok tuh perusahaan yang notabene selalu ada masalah sama pemerintah manapun. Kasus ini nyambung ke politik, dan ini kenapa dulu pas Donald Trump masih nyalon, dia sebenarnya udah bikin statement mau ngasih tambahan 90 hari pas dia dilantik. Tapi sampai sekarang belum ada kabarnya. Presiden dan pemerintah China, Tiongkok, itu ngekritik bahwa larangan ini bentuk pengekangan terhadap kebebasan internet dan overprotective, lah, yang bisa merugikan hubungan bilateral. Atau simpelnya, hubungan antara dua negara.
Nih, gara-gara satu perusahaan kelihatan kayak gengsi-gengsian, makin perang dingin lagi, walaupun kompleksitasnya tuh di luar politik. Indonesia pun pasti bakal cipin. Sebelum kasus US ini, kan sempet TikTok dipermasalahin soal TikTok Shop, yang dugaannya waktu itu ini platform yang bikin produk-produk Cina bisa banjir di Indonesia. Belum lagi soal TikTok menjadi sarana “tanda kutip” untuk membodohkan masyarakat.
Bedanya di Indonesia, mungkin yang menurut gua ya otaknya enggak terlalu nyampe buat mikirin data security, data sovereignty. Kalau di Eropa ada namanya Digital Service Act, Digital Market Act. Di beberapa negara udah nge-band sosial media di umur tertentu. Dan habis itu bercabang ke mana-mana lagi. Instagram, YouTube, Indonesia juga menurut gua sooner or later bakal kena, karena kita pelajarin bahkan dari kasus-eiciery ya, satu kasus itu enggak pernah satu kasus. Karena bisa bikin angkat eyebrow untuk kasus-kasus yang lain.
Kalau menurut gua, pelajaran yang paling penting yang bisa diambil itu sebenarnya kita sebagai pengguna. Kita masuk ke chapter terakhir ya. Toh, ini semua informasi yang gue share di YouTube itu “tanda kutip” enggak ada gunanya buat kalian. Cuma ya, for info aja, buat belajar aja. Tapi ini ngelink ke satu misi besar yang pengin gua capai. Karena banyak banget Gen Z, Gen Alpha, bahkan milenial yang udah sadar tentang kontribusinya sosial media ke kemampuan berpikir kita.
Ada yang bilang cognitive decline, ada yang bilang digital dementia. Tapi let’s admit it, akuin aja bahwa behavior kita di sosial media itu bikin kita “tanda kutip” makin bodoh. Doom scrolling bikin orang enggak bisa pay attention, jadi malas baca, jadi membandingkan realita yang sebenarnya dari apa yang mereka lihat di sosial media. Gua sih udah 100% ya, kalau gua punya anak, ini 100% yang gua mau lakuin: mereka enggak boleh bersosmed sampai umur tertentu. Gua berani ngomong kayak gini walaupun gua belum punya istri. Iya, gua tahu bakal dicengin di kolom komen, tapi intinya gua sendiri first hand ngelihat dampaknya sosial media ke generasi muda.
Apa yang harus dilakukan? Platform harus bertanggung jawab. Gua enggak bilang platform itu semuanya salah, tapi kalau Uncle Ben bilang, “With great power comes great responsibility.” Kalau ratusan juta warga di dunia udah matanya nempel ke platform lu, setidaknya kalian dengan sadar harusnya keluarinlah konten-konten edukasi, konten-konten yang bikin orang enggak malas baca. Jangan cuma semua yang receh dinaikin, jangan cewek-cewek joget seksi, drama, atau politik. Konten-konten yang gak bermutu itu bisa kok secara proaktif dikurangi.
Ya, ini melanggar prinsip free speech, harusnya semua orang boleh berkarya. Kita juga tahulah kalau karyanya itu drama dan konten-konten yang bikin orang makin bodoh. Bisalah kita secara proaktif ngurangin itu. Harapan yang kedua, semoga aja orang-orang kayak gua dan kreator edukasi-edukasi lain itu makin banyak, jadi memang secara natural konten edukasi lebih banyak dikonsumsi.
Itu sih soal kasus TikTok di-ban di US. Kalian lebih setuju atau enggak setuju? Kalian lebih setuju TikTok di Indonesia ikut di-ban juga atau enggak? Kalau gua, gua rela kok kehilangan follower gua 2 juta di TikTok, asal gua tahu dengan hasil apapun itu tujuannya untuk memajukan negara kita, bukan untuk mencari duit dengan harga kebodohan orang lain.
Video ini pendek aja, ranting biar kalian update sama story-nya. What you guys think? See you guys next video. Bye bye!




