Berdasarkan berbagai sumber, catatan, dan diskusi yang beredar di media sosial, berikut kisah mengenai agama Buddha dan sosok Siddhartha Gautama yang akan kita lihat dari sudut pandang yang berbeda—yakni perspektif peradaban Lemurian.
Tentu saja, perspektif ini merupakan bagian dari narasi alternatif yang masih menjadi bahan perdebatan dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan sejarah akademik. Karena itu, mari kita simak kisahnya sebagai sebuah sudut pandang yang menarik untuk dikaji, dibandingkan, dan direnungkan.
Asal-usul Nama dan Sosok
Siddhartha Gautama disebut bukan sebagai nama asli, melainkan sebagai sebuah panggilan yang berasal dari bahasa Lemuria. Dalam perspektif ini, kata SDARTHA dimaknai sebagai manusia yang baik, lurus, berbudi, dan berbakti. Sementara GAUTAMA diartikan sebagai sosok yang memiliki keutamaan.
Siddhartha juga disebut berasal dari kelompok Lemurian 2,5%, yaitu golongan manusia biasa yang diyakini memiliki semangat juang tinggi dalam menegakkan kebenaran dan menjalankan kehidupan berdasarkan nilai-nilai kebajikan.
Sementara itu, istilah Buddha dalam perspektif Lemurian dikaitkan dengan akar kata Budi atau Bodhi. BODHI dimaknai sebagai kebenaran yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata.
Sedangkan PANGARTI, yang kemudian dikaitkan dengan makna budi pekerti, dipahami sebagai kemampuan untuk mengerti, memahami, dan menghayati kebenaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, dalam perspektif ini, ajaran Buddha tidak hanya dipahami sebagai kumpulan ajaran atau keyakinan, tetapi juga sebagai jalan untuk memahami kebenaran, menghayatinya, lalu mewujudkannya melalui perbuatan yang baik dan berbudi pekerti.
Ajaran Utama (WISHNU)
Ajaran inti yang dicontohkan oleh Siddhartha disebut sebagai WISHNU, yang dalam pemaknaan sehari-hari diterjemahkan sebagai DHARMA—yaitu teladan kehidupan yang baik, benar, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Dalam perspektif ini, Dharma bukan sekadar pemahaman atau pengetahuan yang disimpan dalam pikiran. Dharma harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ajaran Siddhartha tidak dimaknai sebagai ajakan untuk sekadar berdiam diri atau hanya bersemedi di bawah pohon, melainkan sebagai dorongan untuk berbuat, berkarya, dan menebarkan kebaikan.
Prinsip sederhananya dapat dirangkum dalam sebuah ungkapan:
“Siapa menanam budi, akan menuai budi.”
Dengan kata lain, setiap kebaikan yang kita tanam melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan pada akhirnya akan memberikan buah bagi kehidupan kita maupun orang-orang di sekitar kita.
Hubungan dengan Bangsa Lemurian
Dalam perspektif peradaban Lemurian yang sedang kita bahas, Siddhartha Gautama disebut sebagai salah satu murid dari Arkhytirema, sosok yang dikenal sebagai Lemurian Super.
Dalam kisah ini, kemampuan sel mitokondria Siddhartha dikatakan mengalami peningkatan setelah mendapatkan pembinaan dari Arkhytirema. Peningkatan tersebut disebut mampu membawa kemampuan biologis Siddhartha hingga mencapai tingkat Lemurian 40%.
Dalam menjalankan misinya di Bumi, yang dalam istilah Lemurian disebut Ardh Grumma, Siddhartha juga dikisahkan tidak bekerja seorang diri. Ia mendapat dukungan dari beberapa tokoh Lemurian yang memiliki keahlian berbeda-beda, antara lain:
- Rhinggamana, sosok yang dikenal memiliki keahlian dalam bidang bela diri.
- Ghribadar, ahli dalam bidang ketatanegaraan dan tata pemerintahan.
- Glabhinara, yang berperan memberikan bantuan dalam situasi-situasi tertentu.
Jika kisah ini kita ikuti sebagai sebuah perspektif alternatif, maka perjalanan Siddhartha Gautama bukan hanya cerita tentang seorang tokoh spiritual, tetapi juga bagian dari sebuah misi yang lebih luas—melibatkan pengetahuan, pembinaan, dan dukungan dari para tokoh yang disebut berasal dari peradaban Lemurian.
Misi Perjuangan
Dalam perspektif peradaban Lemurian yang sedang kita bahas, Siddhartha Gautama dikisahkan tidak hanya menjalankan misi spiritual, tetapi juga menghadapi ancaman dari Empat Bangsa Besar, di antaranya Tarx dan Mosram.
Bangsa-bangsa tersebut disebut datang ke Bumi dengan membawa kekuatan dan pengaruh yang besar, bahkan menghendaki agar keberadaan mereka dipuja dan disembah sebagai Dewa. Dalam istilah aslinya, sebutan tersebut disebut DIPHA.
Siddhartha kemudian dikisahkan melakukan perjalanan panjang dari Timur hingga Barat, menyusuri berbagai wilayah di dunia untuk meluruskan berbagai penyimpangan yang diyakini telah ditimbulkan oleh bangsa-bangsa agresor tersebut.
Dalam kisah ini, perjalanan Siddhartha bukan sekadar perjalanan seorang guru spiritual, melainkan sebuah perjuangan untuk mengembalikan manusia kepada kebenaran, membangun kembali nilai-nilai kebajikan, dan melawan pengaruh kekuasaan yang menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang harus disembah.
Akhir Hayat dan Pengangkatan ke Planet Lemurian
Setelah melalui perjuangan selama ratusan tahun, tubuh fisik atau casing Siddhartha disebut mengalami kerusakan berat akibat pengerahan energi yang sangat besar dalam menjalankan misinya.
Dalam perspektif kisah Lemurian ini, Siddhartha kemudian menjalani proses yang disebut SIRNA SALIRA—sebuah proses pemusnahan atau pelepasan casing lama untuk kemudian digantikan dengan casing yang baru. Proses tersebut dikisahkan dilakukan melalui teknologi KLANOR.
Setelah proses itu selesai, perjalanan Siddhartha di Bumi disebut berakhir. Ia kemudian dikisahkan diangkat dan menjadi warga di Planet Lemurian, sebuah planet yang dipercaya berada di gugusan Orkadar.
Dengan demikian, dalam perspektif ini, kisah Siddhartha Gautama tidak berakhir dengan kematian dalam pengertian biasa, melainkan dengan sebuah proses pergantian casing dan perpindahan menuju lingkungan kehidupan yang baru.



