Dalam konten kali ini saya ingin bercerita tentang manusia kloning. Bicara tentang manusia kloning kadang menjadi sensitif manakala ada pihak yang berusaha mencookannya dengan tafsir-tafsir dalam keagamaan. Ada yang mengatakan bahwa kloning tidak mungkin dilakukan karena bertentangan dengan sunatullah yang mengatakan bahwa perkembangbiakan manusia haruslah dilakukan dengan cara alami yang tidak bertentangan dengan aturan tuhan. By the way, memangnya tuhan melarang proses kloning? tidak ada satupun dalil yang mengatakan bahwa sang maha menjadikan melarang manusia melakukan kloning. Yang ada malah tantangan agar manusia berusaha maksimal untuk menembus segala penjuru langit dan bumi, yang bisa diartikan sebagai tantangan untuk segala menggali dan menelaah segala ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada juga yang berpendapat bahwa kloning itu pasti bisa dilakukan manusia, saat ini belum terjadi karena ilmu pengetahuan dan teknologinya saja yang belum sampai.
Kembali ke dongeng kloning. Bagi bapak besar manusia dengan penguasaan energi 100%, serta dilengkapi dengan pengetahuan dan teknologi yang sangat lengkap, apa susahnya melakukan kloning? Bukankah ibu besar manusia sendiri sebetulnya adalah kloning pertama yang pernah terjadi di semesta? bukankah beliau dikloning dari tulang rusuk bapak segala bapak?
Awal peradaban manusia di planet bumi, Dhamma dan Hawra beranak pinak, menghasilkan anak cucu dan keturunan generasi ke bawahnya, dengan penguasaan energi besar sebagaimana halnya ibu bapaknya. Penguasaan energi yang besar, ilmu pengetahuan dan teknologi canggih, tanpa disertai dengan pengendalian ego dan kebijaksanaan yang cukup, menghasilkan para manusia super berego tinggi. Bumi dan planet sekitarnaya dijadikan ajang unjuk kekuatan dan perebutan kekusaan, terjadi banyak pertempuran dahshyat diantara mereka, yang berakibat pada banyaknya kerusakan di bumi. Hingga akhirnya Adam mengusir anak keturunannya agar keluar dari planet bumi, menyebar ke segala penjuru semesta ke berbagai galaksi dan planet lain, untuk membangun peradaban di berbagai tempat.
Setelah itu, planet bumi mengalami fase kosong. Dhamma memutuskan untuk mengembankan manusia kloning. Penguasaan energi diturunkan hingga 2,5% saja, jauh lebih rendah dari manusia yang dihasilkan dengan hubungan pasutri langsung dari Dhamma dan Hawra. Meskipun dengan penguasaan energi serendah itu, itu sudah sangat cukup untuk menjaga dan memelihara planet bumi dengan segala isinya, tanpa mengakibatkan kerusakan yang luar biasa seperti yang dilakukan manusia berenergi tinggi sebelumnya.
Proses Kloning dan Alat ZEUS di OLLYMPH
Proses kloning yang dilakukan oleh ADHAMA menggunakan alat bernama ZEUS, yang dikenal juga sebagai ZANUURA ENYMPHEENA UREPHRATHA SYNCROONA. Nama-nama ini memiliki arti yang dalam, terkait dengan fungsi alat tersebut. ZANUURA berarti alat ini dapat menciptakan kehidupan baru. ENYMPHEENA mengacu pada kemampuan alat untuk mengubah yang belum jelas menjadi jelas, sementara UREPHRATHA menunjuk pada pembentukan sesuai kehendak kita, dan SYNCROONA berarti sinkronisasi, yang menggambarkan kemampuan alat untuk menciptakan ras, bahasa, perilaku, dan budaya baru yang sesuai dengan lingkungan mereka.
Alat ini digunakan untuk mengkloning berbagai bentuk kehidupan, termasuk manusia, dengan kemampuan untuk memodifikasi sejumlah aspek, seperti tingkat aktivitas sel otak, perilaku, dan cara berkomunikasi. ZEUS bekerja dengan menggunakan sampel DNA dari ADHAMA, yang kemudian diprogram dan diproduksi secara massal. Proses kloning yang dilakukan dengan alat ini di OLLYMPH (sebuah pesawat anti gravitasi atau VIMANA yang mengambang) memakan waktu yang cukup panjang, kurang lebih 10.000 tahun, dan menghasilkan berbagai ras yang ada di Bumi. Proses ini dimulai pada ORIGOM dan berlanjut hingga terciptanya bangsa-bangsa seperti LEMURIAN, ATLANTIS, RAMA, ARBHINA, KAINA, dan INDARRINA.
Proses kloning ini dimulai dengan LEMURIAN sebagai ras pertama yang dikloning dan menjadi role model bagi ras-ras berikutnya. Dengan pengaturan tingkat sel otak yang lebih aktif dan kecanggihan teknologi, LEMURIAN menjadi bangsa yang paling menonjol dan canggih. Setelah itu, alat ZEUS digunakan untuk melakukan kloning di planet lain, memperkenalkan ras-ras baru dengan kemampuan dan potensi yang lebih terkendali.
Kloning dan Pengaruh Teknologi LEMURIAN
LEMURIAN adalah bangsa pertama yang dikloning dengan kemampuan dan teknologi yang lebih maju, karena sejak awal diproyeksikan sebagai role model ras manusia yang sudah dikloning. LEMURIAN dibentuk dengan kemampuan otak yang lebih aktif dibandingkan dengan ras lainnya, dan diberikan teknologi yang lebih canggih, termasuk pengetahuan dari bangsa TARX, MOSRAM, dan bangsa-bangsa lain yang lebih maju. Mereka menjadi bangsa yang sangat maju, dengan kemampuan melebihi 2,5% yang umumnya dimiliki oleh manusia kloning. Keberhasilan mereka dalam teknologi dan pengelolaan sumber daya membuat mereka menjadi contoh yang diikuti oleh bangsa-bangsa lainnya, termasuk ATLANTIS, yang kemudian mengembangkan peradabannya dengan mengadaptasi teknologi LEMURIAN.
Proses Kloning dan Pengurangan Kemampuan
Proses kloning yang dilakukan dengan menggunakan ZEUS memprogram tubuh, bahasa, kode genetik, serta IQ manusia kloning, di mana kemampuan otak yang semula 100% diturunkan menjadi 2,5%. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh manusia dengan kemampuan penuh. Namun, kemampuan otak yang lebih rendah ini bukan berarti manusia kloning tidak dapat berkembang. Sebaliknya, apabila ada pihak-pihak tertentu yang mengubah atau “memodifikasi” otak manusia kloning ini, maka kemampuan mereka bisa lebih dari 2,5%, dan mereka dapat mengembangkan kecerdasan serta kekuatan luar biasa.
Salah satu contoh nyata adalah Siti Hawa, yang menurut legenda adalah manusia kloning pertama. Siti Hawa diciptakan dari rusuk ADHAMA, dan dalam konteks ini, penciptaannya dianggap sebagai bentuk kloning pertama dalam sejarah umat manusia. Dengan demikian, kloning manusia bukanlah hal yang asing, dan sudah ada dalam sejarah sejak zaman pertama.
Kloning dan Ruh
Terkait dengan masalah ruh, menurut pandangan agama, semuanya tetap dalam kendali Allah SWT. Ruh tidak diciptakan oleh proses kloning, tetapi merupakan urusan Sang Pencipta. Kloning manusia sendiri, meskipun telah dilakukan dalam proyek-proyek seperti Project Genome, tetap memunculkan perdebatan di kalangan umat beragama karena terkait dengan isu moral dan agama. Namun, jika kita melihat dari sisi ilmiah dan sejarah, kloning manusia tidaklah bertentangan dengan hukum alam atau sunatullah, seperti halnya dengan kloning domba bernama Dolly.
Pada akhirnya, DHAMA tetap menjalankan tugasnya dari Sang Pencipta dan Sang Maha Menjadikan untuk memelihara kehidupan dan memperhatikan Bumi. Namun, karena kerusakan yang begitu besar di planet ini, DHAMA lebih memilih untuk fokus pada proyek ZEUS di tatanan galaksi lain, yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan baru yang lebih terkontrol dan terjaga keseimbangannya.
Kesimpulan
Proses kloning manusia yang dilakukan oleh DHAMA dengan alat ZEUS melalui berbagai tahap kloning, dimulai dengan ras LEMURIAN, adalah upaya untuk memperlambat kerusakan yang disebabkan oleh manusia dengan kemampuan maksimal. LEMURIAN sendiri menjadi role model bagi ras-ras manusia lainnya karena kemampuan otaknya yang lebih aktif serta teknologi yang jauh lebih maju. Meskipun banyak kontroversi terkait dengan proses kloning ini, pada akhirnya, segala hal yang berkaitan dengan kehidupan dan ruh tetap menjadi wewenang Sang Pencipta.


