Mengungkap Pola Mentalitas Pejabat dan Pengaruhnya terhadap Pembangunan di Indonesia

Mengungkap Pola Mentalitas Pejabat dan Pengaruhnya terhadap Pembangunan di Indonesia

Pendahuluan

Assalamualaikum, BR! Selamat datang kembali di channel Penulis. Dalam tulisan kali ini, kita akan membahas soal kekecewaan yang disampaikan oleh Pak Dedi Mulyadi, Gubernur terpilih Jawa Barat, yang merasa terkejut dengan masalah anggaran yang ada di daerahnya. Setelah terpilih, beliau menghadapi kenyataan bahwa Jawa Barat memiliki utang yang sangat besar, salah satunya disebabkan oleh pembangunan Masjid Raya Aljabar yang menimbulkan utang hingga mencapai Rp500 miliar per tahun yang harus dibayar hingga 2029. Ini menjadi masalah besar, karena meskipun Pak Dedi belum mengeluarkan anggaran apapun, ia harus menanggung utang yang diwariskan oleh pejabat sebelumnya. Situasi ini menyoroti pola umum dalam pemerintahan Indonesia yang sering terjadi—pejabat baru dihadapkan dengan utang yang diwariskan oleh pemimpin sebelumnya.

Polarisasi dalam Pembangunan Fisik

Namun, masalah ini tidak berhenti pada soal anggaran saja. Di Indonesia, banyak pejabat yang menunjukkan pencapaian mereka melalui pembangunan fisik yang jelas dan konkret, seperti jembatan, jalan, dan masjid-masjid megah. Ini adalah fenomena yang tidak hanya terjadi pada Pak Dedi, tapi juga pada banyak pemimpin sebelumnya. Misalnya, Pak Jokowi yang membangun infrastruktur besar, atau bahkan Bung Karno yang membangun Monas. Begitu pula dengan Kang Emil yang membangun masjid yang menjadi ikon Jawa Barat.

Mengapa pembangunan fisik menjadi simbol prestasi? Hal ini berkaitan dengan psikologi manusia—terutama terkait bagaimana orang melihat dan menilai sesuatu. Banyak pejabat yang merasa perlu menunjukkan pencapaian mereka dalam bentuk yang dapat dilihat dan diraba oleh masyarakat. Ini bukan sekadar soal politik, tetapi lebih kepada masalah mentalitas, filsafat, dan psikologi.

Psikologi dan Pola Pikir Manusia dalam Menilai Pencapaian

Ketika kita masih kecil, kita belajar berhitung dengan contoh konkret seperti apel atau biskuit. Tujuannya adalah agar kita dapat memahami angka secara visual dan praktis, bukan hanya sebagai simbol abstrak. Ini mengacu pada teori psikologi bahwa orang dengan kemampuan bernalar rendah cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang konkret dan nyata, dibandingkan dengan hal-hal abstrak. Begitu pula dengan pejabat yang merasa perlu menunjukkan prestasi mereka melalui karya yang bisa dilihat, seperti bangunan besar.

Baca Juga  Crime unit breached legal procedure in Bambang’s arrest

Dalam hal ini, ada dua tipe pemikiran: pemikiran konkret dan pemikiran abstrak. Orang dengan pemikiran konkret cenderung lebih mengutamakan simbol-simbol fisik—seperti masjid besar, monumen, atau jalan tol—untuk menunjukkan keberhasilan. Sebaliknya, orang dengan pemikiran abstrak lebih fokus pada esensi atau tujuan yang lebih dalam, seperti mengatasi kemiskinan, memberikan pendidikan yang baik, atau meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Perbedaan antara Pemikiran Tinggi dan Rendah dalam Konteks Agama dan Hukum

Ini juga terlihat dalam pandangan agama. Orang yang bernalar tinggi cenderung mengedepankan esensi agama—berbuat baik, memberi manfaat, dan membantu sesama—tanpa perlu menunjukkan simbol-simbol fisik seperti masjid megah atau pakaian tertentu. Sebaliknya, orang dengan pemikiran rendah lebih fokus pada simbol-simbol fisik, seperti membangun masjid besar atau memakai atribut agama tertentu untuk menunjukkan religiositas.

Hal serupa juga berlaku dalam hukum. Misalnya, dalam kasus pembunuhan, orang dengan pemikiran rendah akan melihat teks hukum secara literal—bahwa membunuh adalah dosa. Namun, orang yang bernalar tinggi akan mempertimbangkan konteks lebih dalam, seperti siapa yang melakukan pembunuhan, mengapa itu terjadi, dan dalam situasi apa tindakan tersebut diambil. Ini menunjukkan bahwa pemikiran yang mendalam lebih menghargai konteks dan esensi, daripada hanya terfokus pada teks atau simbol yang tampak di permukaan.

Simbolisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Di Indonesia, fenomena ini bisa dilihat dalam banyak aspek kehidupan. Misalnya, dalam dunia pendidikan, banyak orang lebih mengutamakan simbol-simbol seperti gelar atau IPK tinggi, daripada kualitas pemikiran atau kemampuan nyata seseorang. Hal ini menjadi masalah ketika kita mengukur kualitas seseorang hanya berdasarkan simbol-simbol yang mudah terlihat, bukan pada substansi dan kemampuan sesungguhnya.

Fenomena ini juga terjadi dalam bidang agama. Misalnya, ada sekolah dengan label “Islam” yang tidak memperhatikan manajemen atau kebersihan, namun karena menggunakan simbol agama, banyak orang menganggapnya lebih baik dibandingkan sekolah-sekolah lain yang sebenarnya memiliki sistem manajemen yang lebih baik dan bersih. Ini menunjukkan bahwa banyak orang di Indonesia masih berpikir secara simbolis dan literal, tanpa memahami esensi yang sebenarnya.

Baca Juga  Bambang resigns from KPK, tells Budi to follow suit

Kesimpulan

Fenomena ini menggambarkan tantangan besar dalam masyarakat Indonesia—bagaimana banyak orang, termasuk pejabat dan masyarakat umum, lebih terfokus pada simbol-simbol fisik dan konkret daripada esensi dan substansi dari suatu hal. Hal ini terjadi dalam banyak aspek, mulai dari pembangunan fisik hingga pemikiran dalam agama dan hukum. Jika kita terus menerus terjebak dalam cara berpikir yang rendah dan terfokus pada simbol, maka peradaban kita akan terhenti pada hal-hal yang tampak di permukaan, tanpa mencapai perbaikan yang lebih mendalam dalam masyarakat.

Mari kita lebih berhati-hati dalam menilai suatu prestasi atau pencapaian, dengan lebih memperhatikan esensi dan konteks yang ada, daripada terjebak dalam simbolisme yang hanya menunjukkan gambaran luar tanpa substansi yang kuat.

Terima kasih telah menyimak tulisan ini. Semoga bermanfaat dan memberikan wawasan baru!

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x